Diam Lebih Merusak Daripada Bertengkar

Diam Lebih Merusak Daripada Bertengkar

Diam Lebih Merusak Daripada Bertengkar

Diam Lebih Merusak Daripada Bertengkar | Banyak yang beranggapan bahwa bertengkar menandakan hubungan rumah tangga sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan jika pasangan jarang bertengkar, itu dinilai bahwa hubungan mereka merupakan hubungan yang harmonis. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Diam yang terlalu lama seringkali lebih merusak ketimbang pertengkaran yang terbuka dan sehat. Pada artikel kali ini akan membahas tentang alasan mengapa lebih baik bertengkar daripada diam, dan manfaat positif dalam hubungan pernikahan yang dijalani.

Mengapa Diam = Masalah?

Diam memang terlihat tidak berbicara. Tetapi bisa jadi, diam tersebut memiliki makna lain. Diam disini seringkali menjadi bentuk penarikan diri secara emosional, cara menghindar dari konflik, atau mekanisme perlindungan diri ketika seseorang merasa tidak didengar atau tidak aman. Menurut John Gottman, stonewalling (mendiamkan pasangan) termasuk dalam Four Horsemen of The Apocalypse (Empat perilaku komunikasi paling merusak hubungan). Saat seseorang memilih diam, ia tidak hanya menghentikan percakapan, tetapi juga memutus koneksi emosional.

Beberapa dampak yang sering muncul apabila diam menjadi pola komunikasi :

  • Masalah tidak benar-benar selesai, karena tidak dikomunikasikan untuk diketahui titik terangnya.
  • Muncul jarak emosional antara suami dan istri.
  • Perasaan tidak dianggap pada salah satu pihak.
  • Seringkali memunculkan asumsi negatif karena muncul dari persepsi sendiri.

Bertengkar Tidak Selalu Buruk

Bedanya dengan diam adalah adanya pertengkaran bisa jadi merupakan tanda bahwa masih ada kepedulian. Selama pasangan melakukannya tanpa kekerasan verbal atau emosional, pertengkaran justru membuka ruangan untuk :

  • Menjelaskan kebutuhan yang tidak terpenuhi
  • Menyampaikan perasaan dengan jujur
  • Memahami perbedaan sudut pandang

Konflik seringkali terjadi bukan karena tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang kebutuhan emosional yang tidak tersampaikan. Fokus utamanya adalah bukan adanya konflik atau tidak, tapi bagaimana pasangan mengelola konflik yang ada. Dalam arti :

  • Bertengkar dengan tujuan untuk saling memahami -> bisa memperkuat hubungan
  • Diam tanpa kejelasan dan komunikasi -> perlahan melemahkan komunikasi antar kedua belah pihak

Apabila diam sering menjadi pilihan karena takut menyakiti atau disakiti, maka yang dibutuhkan bukan menghindari konflik, tetapi bagaimana cara berkomunikasi yang aman dan lebih dewasa kepada pasangan.

Konsultasi Dengan Konselor Pernikahan dan Keluarga Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

Konsultasi Pernikahan Jakarta

Konsultasi Pernikahan Jakarta : Kesepian Dalam Pernikahan

Konsultasi Pernikahan Jakarta

Konsultasi Pernikahan Jakarta : Kesepian Dalam Pernikahan | Sebagian orang mengira bahwa seseorang tidak akan merasakan kesepian ketika mereka hidup bersama. Namun pada faktanya, meski seseorang sudah menikah, masih ada dari mereka yang merasa kesepian. Walaupun mereka berbagi rumah, rutinitas, bahkan tanggung jawab, tetapi mereka merasa kehilangan koneksi emosional yang seharusnya terhubung dengan pasangan. Seringkali perasaan ini hadir perlahan, walaupun sebelumnya tidak ada pertikaian besar. Artikel kali ini akan membahas secara detil tentang penyebab pasangan bisa merasa kesepian dalam pernikahan mereka, dan beberapa tips untuk mengatasinya.

Kesepian Bukan Hanya Sekedar Fisik

Psikolog bernama Dr Sue Johnson, penggagas Emotionally Focused Therapy (EFT)  menjelaskan bahwa kebutuhan terdalam manusia dalam hubungan adalah rasa aman secara emosional. Dalam arti, mereka merasa ada yang mendengarkan, melihat, atau merespon. Apabila pasangan tidak memenuhi rasa aman tersebut, kesepian bisa muncul walaupun keduanya hadir secara fisik. Bukan karena tidak ada keberadaan pasangan, tetapi putusnya koneksi emosional antar individu.

Komunikasi yang terlihat baik, tetapi tidak menghubungkan satu sama lain

Dr John Gottman berpendapat bahwa menghindari konflik bukanlah cara yang tepat jika ingin menciptakan hubungan yang sehat bersama pasangan. Komunikasi yang penuh defensif, menghindar, atau meremehkan secara halus akan dapat mengikis koneksi emosional bersama. Akibatnya, pasangan tidak lagi ingi untuk berbagi perasaan emosional secara mendalam dan memutuskan untuk menyimpannya sendiri. Disinilah kesepian mulai berakar

Tidak Merasa Diprioritaskan

Seseorang yang tidak memprioritaskan pasangannya juga akan memicu rasa sepi itu muncul. Mereka tidak lagi menganggap kehadiran pasangannya merupakan hal yang penting. Ini bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena perhatian emosional yang kalah karena pekerjaan, anak, atau tanggung jawab lainnya. Gary Chapman yang merupakan pencetus konsep Love Languages mengatakan bahwa cinta perlu untuk disampaikan kepada pasangan dengan cara yang bisa mereka rasakan. Karena jika tidak, cinta yang ada akan terasa kosong.

Konflik Lama Yang Tidak Pernah Disembuhkan

Praktisi pernikahan seringkali menekankan bahwa konflik yang tidak benar-benar selesai dan tuntas akan meninggalkan luka emosional. Luka emosional ini akan membuat seseorang jaga jarak sebagai bentuk perlindungan diri. Alih-alih jujur dengan perasaan atau rasa sakit yang mereka rasakan, mereka memilih diam. Diam yang terlalu lama berubah menjadi jarak, dan jarak yang ada memunculkan rasa sepi tersebut secara signifikan.

Kehilangan Diri Sendiri Dalam Pernikahan

Sebagian orang bisa merasakan kesepian bisa jadi karena mereka merasa kehilangan dirinya sendiri. Seperti terlalu sering mengalah, menyesuaikan diri, dan juga menekan kebutuhan pribadi demi menjaga keharmonisan, yang pada akhirnya menimbulkan kehampaan batin.

Cara Mengatasi Rasa Kesepian Dalam Pernikahan

Beberapa langkah-langkah kecil yang konsisten bisa pasangan lakukan antara lain sebagai berikut,

  • Mulai mengakui perasaan diri sendiri. Jujur dengan diri sendiri bukanlah hal yang buruk. Mengakui perasaan diri sendiri bukan berarti menandakan kegagalan, tetapi merupakan kebijaksanaan. Para pakar juga mengatakan bahwa emosi yang diakui akan lebih mudah diolah daripada emosi yang ditekan.
  • Bangun komunikasi emosional yang aman. Daripada menyalahkan pasangan, coba sampaikan dan utarakan sejujurnya. Contohnya, “Aku merasa sendirian akhir-akhir ini, dan aku kangen bisa ngobrol sama kamu dengan waktu yang lama.”. Dengan komunikasi yang seperti ini akan membantu pasangan untuk merespon, bukan bereaksi.
  • Ciptakan waktu yang berkualitas. Jadwalkan waktu berkualitas dengan pasangan tanpa dibarengi dengan kegiatan lainnya, seperti membahas pekerjaan, tanggung jawab rumah tangga, dan sebagainya. Koneksi tidak bisa untuk terbentuk secara spontan, tetapi perlu untuk diusahakan dan diupayakan.
  • Pelajari bahasa cinta satu sama lain. Dengan kita memahami bagaimana cara pasangan merasa dicintai, hal tersebut akan meminimalisir kesalahpahaman emosional yang sering terjadi. Setiap individu memiliki berbagai bahasa cinta yang berbeda-beda. Ada yang dengan lewat kata-kata, waktu, bantuan, atau dengan sentuhan.
  • Rawat koneksi emosional dan intimasi. Intimasi bukan hanya fisik, bisa juga dengan sentuhan ringan, perhatian kecil, atau mendengarkan tanpa menghakimi. Terapis keluarga juga menyebutkan bahwa hal-hal kecil seperti ini jika dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang positif daripada gestur besar yang jarang terjadi.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Perlukah Rekening Bersama Dalam Pernikahan?

Perlukah Rekening Bersama Dalam Pernikahan?

Perlukah Rekening Bersama Dalam Pernikahan? Perlukah Rekening Bersama Dalam Pernikahan? | Dalam menjalani hubungan pernikahan, transparansi merupakan hal yang penting untuk pasangan. Salah satunya adalah transparansi dalam hal keuangan. Namun, keputusan ini tentu saja bukan keputusan yang mudah dan sederhana. Tidak seserhana “harus” dan “tidak harus”. Para pakar pun menekankan bahwa setiap pasangan memiliki dinamika yang berbeda, dan perlu mempertimbangkan banyak hal. Pada artikel kali ini akan membahas secara detil terkait perlukah rekening bersama dalam pernikahan, dan bagaimana manfaat yang dapat pasangan rasakan.

Manfaat Memiliki Rekening Bersama

Transparansi Lebih Tinggi

Dr. Scott Stanley, peneliti hubungan dari University of Denve, menyatakan bahwa keterbukaan finansial dapat meningkatkan rasa aman dan emosional, dalam hubungan. Rekening bersama membuat pasangan jadi saling tahu satu sama lain alur keuangan secara jelas serta mengurangi kecurigaan satu sama lain.

Mempermudah Manajemen Rumah Tangga

Dave Ramsey yang merupakan pakar keuangan keluarga sering menyarankan pasangan untuk menyatukan sebagian dana mereka. Dengan begitu, hal ini akan mempermudah pasangan untuk mengelola keuangan rumah tangga mereka, sehingga pengaturan anggaran nya juga lebih mudah dan teratur.

Menumbuhkan Rasa Kebersamaan

Gottman juga menyebutkan bahwasannya teamwork merupakan hal yang penting dalam pernikahan. Adanya rekening bersama dapat membantu pasangan untuk bekerja sama sebagai satu tim untuk mengelola aset dan keuangan rumah tangga secara jangka panjang.

Kekurangan Yang Perlu Diperhatikan

Perbedaan Pola Pengeluaran

Psikolog klinis, Dr. Terri Orbuch menerangkan bahwa salah satu bentuk konflik yang terjadi dalam pernikahan adalah gaya belanja. Apabila keuangan antara pihak suami dan istri digabung, maka semakin terlihat perbedaan nya dan dapat memicu ketegangan satu sama lain.

Kehilangan Privasi Finansial

Sebagian individu merasa kurang nyaman ketika finansialnya dalam pengawasan penuh. Tidak ada privasi sama sekali, begitu transparan. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pasangan dengan kebutuhan kontrol yang tinggi bisa merasa tertekan ketika semua uang disatukan. Hal ini karena adanya rekening bersama ini menyebabkan hilangnya ruang pribadi dalam mengelola keuangan. Setiap orang umumnya memiliki keinginan pribadi yang bisa jadi tidak selalu mereka bahas dengan pasangan, seperti keinginan untuk merawat diri, memberikan hadiah rahasia untuk pasangan, menjalankan hobi, dsb. Adanya rekening bersama ini pada akhirnya hanya akan memicu rasa tertekan bahkan stres.

Berisiko Ketika Hubungan Yang Sedang Buruk

Ketika hubungan dengan pasangan buruk, rekening bersama yang dimiliki dapat menjadi tekanan tersendiri untuk masing-masing. Rekening bersama berarti :
  • Kedua belah pihak memiliki akses terhadap rekening tersebut. Karena bisa memiliki akses bersama, siapa pun bisa menarik dananya secara langsung.
  • Kedua belah pihak juga mengetahui secara detil alur keuangan bersama.
  • Tidak ada kontrol satu pihak terhadap penggunaan uang.
Dalam kondisi yang buruk, salah satunya akan merasa khawatir dan tidak aman, dana di dalam rekening bersama itu dapat ditarik secara langsung tanpa persetujuan bersama. Selain itu, ini juga bisa menjadi potensi kegiatan impulsif, seperti membekukan transaksi secara tiba-tiba, mengalihkan dana ke rekening pribadi, membayar pengeluaran tertentu tanpa persetujuan, dan masih banyak lainnya.

Lantas, Perlukah Pasangan Memiliki Rekening Bersama?

Rekening bersama merupakan pilihan opsional untuk masing-masing pasangan, bukan merupakan keharusan. Tetapi, rekening bersama bisa menjadi pilihan apabila pasangan ingin bersama-sama mengelola keuangan rumah tangga agar lebih transparan dan terarah. Beberapa pakar turut menyarankan pasangan untuk memiliki rekening ketiga apabila ingin memiliki rekening bersama untuk pengelolaan keuangan rumah tangga. Dengan begitu, privasi finansial tetap masih bisa terjaga, juga pasangan bisa tetap bersama-sama mengelola keuangan rumah tangga. Transpransi merupakan hal yang penting, akan tetapi sejatinya setiap orang juga perlu menyediakan ruang sendiri. Mau mendapatkan berbagai tips lainnya? Yuk simak artikel lainnya di Reda Konseling!
Konseling Pranikah

Konseling Pranikah : Red Flags Sebelum Menikah

 

Konseling Pranikah

 

Konseling Pranikah : Red Flags Sebelum Menikah | Menikah, merupakan hubungan yang tidak hanya mempertimbangkan aspek perasaan semata, tetapi juga kesiapan mental, emosional, dan nilai nilai/ideologi yang selaras. Maka dari itu, merupakan hal penting bagi pasangan untuk mempersiapkan secara matang  sebelum melangkah ke jenjang tersebut. Pasangan harus membuka mata secara lebar terhadap tanda-tanda peringatan (red flags) yang bisa menjadi indikator masalah serius di kemudian hari. Banyak pasangan yang terjebak dalam euforia cinta sehingga tidak peduli dengan hal-hal yang seharusnya mereka waspadai. Pada artikel kali ini akan membahas tanda-tanda peringatan/red flags yang sering muncul, alasan tanda-tanda ini penting, dan bagaimana cara untuk menanganinya secara sehat.

Beberapa Tanda-Tanda Peringatan/Red Flags

Menurut pandangan beberapa pakar dan ilmuwan, berikut tanda-tanda peringatan yang perlu para pasangan untuk perhatikan, antara lain sebagai berikut.

Komunikasi Yang Tidak Sehat/Konsisten

John Gottman yang merupakan psikolog terkenal menjelaskan bahwa komunikasi negatif seperti kritik kasar, defensif, meremehkan, dan menghindar (stonewalling) adalah prediktor terkuat hubungan yang tercipta menjadi tidak bahagia. Beberapa tanda-tanda yang cukup sering terjadi diantaranya :

  • menghilang ketika ada konflik
  • menghindar ketika sedang berbicara serius
  • menyalahkan tanpa dasar

Kualitas komunikasi adalah indikator utama hubungan pernikahan menjadi hubungan yang penuh harmonis dan kebahagiaan. Tanpa adanya komunikasi yang sehat, pasangan akan seringkali berselisih paham satu sama lain, yang kemudian melahirkan konflik konflik yang bisa jadi sebenarnya tidak perlu.

Ketidakstabilan Emosi dan Finansial

Menurut Dr Scott Stanley yang merupakan peneliti pernikahan dari University of Denver, stabilitas finansial dan emosional sangat berpengaruh terhadap kepuasan pernikahan jangka panjang. Padahal, pasangan yang terbuka dalam hal finansial disebutkan memiliki tingkat konflik yang lebih rendah. Ketidaksiapan dalam dua aspek ini seringkali menjadi akar konflik pasangan pada tahun-tahun berikutnya. Tanda-tandanya antara lain :

  • Ledakan emosi yang tidak terkontrol
  • Tidak transparan mengenai keuangan
  • Pola pengeluaran yang impulsif.

Perilaku Kontrol dan Cemburu Berlebihan

Pakar psikologi sosial Dr Leslie Morgan Steiner menyebut bahwa perilaku kontrol terhadap pasangan bisa muncul secara halus, bahkan tanpa disadari. Lambat laun perilaku tersebut kemudian meningkat yang akhirnya menjadi bentuk kekerasan secara psikologis. Tanda-tandanya :

  • Mengatur pergaulan
  • Meminta akses ke ponsel pribadi
  • Tidak memberi ruang pribadi

Ini merupakan tanda red flags yang harus diperhatikan, karena pada hakikatnya hubungan yang sehat melibatkan kepercayaan dan otonomi individu satu sama lain.

Perbedaan Nilai Hidup Yang Fundamental

Peneliti hubungan, Dr Terri Orbuch menemukan bahwa perbedaan nilai dasar/ideologi (agama, tujuan hidup, pola pengasuhan, komitmen jangka panjang) merupakan penyebab utama ketegangan emosional dalam pernikahan. Nilai dasar yang berbeda antar individu pada akhirnya hanya melahirkan kompromi yang sulit untuk dilakukan. Beberapa tanda-tandanya yaitu :

  • Tidak sepakat perihal anak dan karir
  • Sikap religius atau prinsip moral yang berbeda
  • Enggan berdiskusi tentang masa depan

Riwayat Kekerasan

WHO menyatakan bahwa kekerasan (physical, verbal, atau emotional abuse) sangat mungkin untuk berlanjut setelah menikah ketika tidak ditangani lewat terapi yang serius sejak awal. Ini menjadi penting karena kekerasan bukan “kecelakaan emosional”, melainkan pola. Dan pola hanya berubah dengan interverensi profesional. Beberapa tanda-tandanya yakni :

  • Melempar benda saat marah
  • Tindak kekerasan fisik kecil (mendorong, menjambak)
  • Penghinaan terus-menerus

Cinta Saja Tidak Cukup

Mungkin terasa sulit untuk melihat red flags, terutama ketika hubungan masih terasa hangat dan penuh dengan harapan. Tetapi, keberanian untuk melihat kenyataan merupakan bentuk cinta untuk diri sendiri, dan masa depan hubungan. Jika kamu menemukan beberapa tanda berikut, bukan berarti harus menyerah. Ini menjadi sinyual untuk :

  • berdiskusi
  • evaluasi
  • atau meminta bantuan profesional dengan konsultasi pernikahan

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Rumah Tangga Indonesia

Konsultasi Rumah Tangga Indonesia : Memulihkan Energi Emosional

Konsultasi Rumah Tangga Indonesia

Konsultasi Rumah Tangga Indonesia : Memulihkan Energi Emosional |  Menjalani pernikahan kerap kali juga merasakan lelah. Tidak hanya lelah fisik, tetapi juga bisa lelah secara mental. Rutinitas, tuntutan finansial, tugas rumah tangga yang tiada henti dapat memunculkan rasa “kosong” secara emosional. Apabila energi emosional menurun, hubungan pun terasa hambar : komunikasi menjadi singkat, jarang bersentuhan, dan kesalahpahaman jadi lebih mudah muncul. Memulihkan energi secara emosional bukan hanya berbicara tentang istirahat, tetapi bagaimana menciptakan ruang agar pasangan dapat saling terhubung satu sama lain. Pada artikel kali ini akan membahas tentang penyebab munculnya penurunan energi emosional serta beberapa tips yang bisa pasangann lakukan untuk memulihkan energi emosional yang turun, demi mempertahankan hubungan pernikahan yang harmonis.

Penyebab Menurun nya Energi Emosional

Ada beberapa faktor yang menjadi sebab energi emosional bisa turun. Antara lain :

  • Stres berkelanjutan (Chronic Stress). Muncul karena terus menerus merasa stress, bisa dari pekerjaan, finansial, kewajiban rumah tangga, atau masalah pribadi yang kemudian membuat tubuh berpikir ekstra. Tubuh yang terus waspada membuat hormon stres (kortisol) tinggi, sehingga :
    • Konsentrasi menurun
    • Emosi lebih mudah meledak
    • Tubuh terasa berat
  • Beban Mental yang Tak Terlihat (Mental Load). Pihak yang memikul lebih banyak beban mental biasanya mengalahi kelelahan emosional yang lebih cepat, walaupun secara fisik tidak mengerjakan banyak kegiatan. Dalam pernikahan, beban mental seringkali berasal dari hal-hal yang terus menumpuk. Seperti :
    • Mengingat kebutuhan keluarga
    • Mengatur jadwal
    • Mempersiapkan rencana
    • Memastikan semuanya berjalan
  • Minimnya Ruang Untuk Diri Sendiri. Tidak adanya waktu untuk menenangkan diri membuat batin tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan tenaga. Seseorang yang terus ‘siap’ sebagai pasangan, pekerja, orang tua, atau peran lainnya akan cepat kehabisan tenaga. Seseorang bisa merasa kehilangan jati diri, jenuh, atau tertekan tanpa tahu sebabnya jika kurang memiliki ruang untuk diri sendiri.
  • Komunikasi Yang Kurang Sehat. Komunikasi yang buruk dengan pasangan lambat laun dapat menurunkan kapasitas ‘batin’. Interaksi yang dilakukan sehari-hari penuh dengan kritik, sarkasme, dan bentuk bentuk lainnya yang mengandung muatan negatif. Hal ini mampu menurunkan energi emosional seseorang, karena :
    • kehangatan menurun
    • rasa aman hilang
    • hubungan terasa penuh tekanan
  • Konflik Yang Tidak Pernah Diselesaikan. Konflik yang ada tidak pernah benar-benar dibahas dan diselesaikan secara tuntas. Semakin lama menumpuk dan memunculkan rasa pasrah, padahal sebetulnya merasa lelah. Beberapa tanda-tandanya :
    • mudah tersinggung
    • mudah defensif
    • enggan membahas hal sensitif
    • merasa hubungan stagnan, tidak ada perbaikan
  • Tidak Adanya Dukungan Emosional Dari Pasangan. Ketika salah satunya merasa pasangan tidak mendengarkannya, tidak bisa memahami, bahkan dianggap berlebihan, ia akan merasa sendirian dalam hubungan. Merasa kesepian dalam pernikahan adalah salah satu faktor terbesar yang menjadi penyebab menurunnya energi emosional.

Tips Kembali Memulihkan Energi Emosional

Mengakui Perasaan Lelah Tanpa Menyalahkan

Ini merupakan hal yang penting. Tidak perlu menyalahkan siapapun, cukup akui bahwa diri kita merasa lelah. Cukup sampaikan kepada pasangan bahwa kamu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri sendiri. Contohnya, “Aku lagi capek banget secara mental. Aku butuh sedikit waktu untuk tenang supaya bisa ngobrol lebih baik.“. Mengakui perasaan akan membantu pasangan untuk memahami kondisi kita tanpa mereka harus menuduh terlebih dahulu.

Beri Ruang Untuk Diri Sendiri (Me-Time)

Banyak pasangan yang merasa bersalah ketika meminta waktu untuk diri sendiri. Faktanya, me-time merupakan kebutuhan emosional, dan perlu untuk dipenuhi. Me-time memberikan ruang kepada diri sendiri untuk :

  • Menata hati dan pikiran
  • Memproses emosi yang terasa saat itu
  • Menemukan kedamaian tanpa distraksi

Beberapa aktivitas yang bisa kita lakukan untuk me-time misalnya membaca buku, berolahraga, menulis jurnal, atau sekedar duduk tanpa melakukan apa-apa. Semakin seseorang mengenali diri sendirinya, semakin sehat ia hadir dalam hubungan.

Mengurangi Beban Mental yang Tak Terlihat

Diskusikan pembagian beban mental ini secara jujur dengan pasangan. Terkadang pasangan tidak sadar bahwa beban yang dipikul berat sebelah. Komunikasikan secara jujur, karena dengan membagi beban mental secara adil dapat mengurangi tekanan emosional secara signifikan. Misalnya, suami mengambil peran untuk memasak, istri mengambil peran untuk mengurus anak dan membersihkan rumah.

Mengembalikan Koneksi Lewat Interaksi Kecil

Tidak harus dengan liburan super mewah, membangun interaksi kecil juga dapat mengembalikan koneksi dengan pasangan agar lebih kuat. Misalnya :

  • Habiskan waktu bersama untuk mengobrol. Jauhkan gadget dan urusan lainnya terlebih dahulu
  • Saling memeluk sebelum tidur
  • Membuatkan minuman favorit pasangan
  • Memulai topik pembicaraan, “Gimana hari ini?”

Membangun Komunikasi Lebih Lanjut

Beberapa tips komunikasi yang bisa dilakukan dengan pasangan agar komunikasi yang tercipta menjadi lebih baik antara lain :

  • Menggunakan kata “aku” daripada “kamu” untuk menghindari kesan menyalahkan
  • Memberi validasi kepada pasangan
  • Mendengarkan hingga tuntas tanpa memotong
  • Menyampaikan kebutuhan atau keinginan dengna jelas

Komunikasi yang lembut menciptakan suasana emosional yang aman

Mencari Bantuan Profesional

Pasangan bisa meminta bantuan profesional untuk mendiskusikan masalah ini. Dengan melibatkan bantuan profesional, pasangan juga bisa mendapatkan insight lebih luas dan spesifik untuk kembali memulihkan energi emosional yang menurun.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan dan Rumah Tangga Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pasangan Bekasi

Konsultasi Pasangan Bekasi : Cara Laki-laki Berkomunikasi

Konsultasi Pasangan Bekasi

Konsultasi Pasangan Bekasi : Cara Laki-laki Berkomunikasi Menurut John Gray | Dalam hubungan pernikahan, komunikasi seringkali menjadi penyebab hubungan pernikahan tersebut tidak lagi harmonis. Banyak konflik yang sebenernya terjadi itu bukan karena masalah yang besar, tetapi karena cara komunikasi antara laki-laki dan perempuan yang berbeda. John Gray dalam bukunya yang berjudul Men Are From Mars, Women Are From Venus memberikan panduan yang lengkap untuk memahami bagaimana laki-laki berkomunikasi, sehingga istri memiliki penyesuaian pendekatan yang jelas, menciptakan hubungan yang lebih harmonis, dan terhindar dari konflik-konflik yang tidak perlu. Pada artikel ini akan membahas secara tuntas tentang panduan lengkap tersebut yang bisa menjadi referensi dalam menjalani rumah tangga bersama.

Laki-laki Butuh Untuk Merasa Diandalkan

Menurut John Gray, laki-laki memiliki psikologi komunikasi yaitu mereka ingin terlihat mampu dan dapat diandalkan. Mereka akan sangat sensitif pada hal-hal yang membuat mereka merasa gagal, tidak berguna, atau tidak dihargai. Ketika perempuan menyampaikan kritik secara langsung seperti mempertanyakan kemampuan, laki-laki secara reflek akan merasa defensif.

Maka dari itu, cobalah lakukan beberapa cara berikut :

  • Hindari nada menyalahkan atau membandingkan. Misalnya, ‘Kamu bisa nggak sih ambil baju yang rapi?’ atau, ‘Kalo emang nggak tahu jalan, mending aku tanya temenku aja deh yang lebih tau.’. Hindari kalimat-kalimat seperti itu karena akan sangat menyentuh titik sensitif laki-laki.
  • Mulai dengan apresiasi kecil sebelum memberi masukan. Misalnya, suami sedang mencoba memasakkan makanan untuk kita, tetapi ternyata rasanya kurang sesuai. Kita sebagai istri wajib untuk menghargai terlebih dahulu apa yang dilakukan suami. Berikan pujian, sebelum kita memberikan masukan masukan lainnya untuk masakan suami. Contohnya, ‘Mas, makasih loh kamu udah masakin ini buat aku. Tapi ini bisa lebih enak kalo ditambahin dikit lagi aja garamnya. Selebihnya udah enak banget, Mas. Makasih ya!’
  • Gunakan kalimat yang membuat suami merasa dipercaya. Contoh, ‘Aku tahu kamu bisa, aku cuma mau bantu supaya lebih gampang’

Kalimat-kalimat seperti ini jauh lebih mendukung dan membantu.

Laki-laki Cenderung Masuk ke “Gua” Karena Stress

Maksudnya adalah ketika menghadapi tekanan, laki-laki butuh waktu menyendiri untuk menenangkan diri. Permasalahannya bisa muncul karena bisa jadi ketika laki-laki demikian, istri menduga :

  • Suami cuek.
  • Suami tidak peduli
  • Suami marah
  • Suami tidak ingin bicara

Padahal, gua merupakan ‘mekanisme’ untuk laki-laki meredakan stres. Karena itu, beberapa cara yang bisa istri lakukan antara lain :

  • Berikan ruang 10-30 menit (atau lebih) untuk menenangkan diri.
  • Jangan memaksa suami untuk berbicara ketika ia belum siap
  • Tenangkan suami dengan beberapa kalimat positif, misalnya ‘Kasitau aku kalo kamu udah tenang ya. Aku ada disini.”

Laki-laki Berkomunikasi Secara Langsung dan Fokus Masalah

Bagi laki-laki, inti komunikasi adalah menyelesaikan masalah. Biasanya istri seringkali menceritakan perasaannya, dan keinginan sebenarnya adalah hanya untuk didengarkan. Tetapi bagi laki-laki, itu bisa menjadi sebuah masalah yang harus mereka selesaikan. Maka dari itu, agar tidak ada miskomunikasi pihak istri bisa melakukan beberapa hal berikut :

  • Jelaskan tujuan komunikasi sebelum memulai cerita. Contoh, ‘Aku cuma pengen kamu dengerin ya, jangan cari solusinya dulu.’ atau ‘Kamu dengerin aku dulu ya sampai aku selesai sebelum masuk ke solusinya.’. Berikan juga sinyal yang jelas kapan membutuhkan solusi, atau empati.

Hal seperti ini juga membantu untuk menghilangkan ‘salah langkah’ yang bisa jadi dirasakan suami.

Laki-laki Tidak Menangkap “Kode” Emosional

Perempuan seringkali berkomunikasi secara tidak langsung, seperti lewat nada suara, ekspresi, atau kode halus. Laki-laki tidak memahami itu, karena mereka memiliki cara berpikir yang berbeda. Oleh karena itu, sampaikan secara langsung maksud atau kebutuhan yang ingin diutarakan. Tidak dengan kode. Misalnya, ‘Aku mau ditemani. Temani aku ya?’

Laki-laki Akan Berbicara Ketika Merasa Aman

Apabila suasana yang tercipta dipenuhi tekanan, suami tidak akan mau untuk membuka diri. Semakin istri menekan suaminya untuk berbicara, maka suami akan semakin masuk gua. Agar suami mau berbicara, penting bagi istri untuk menciptakan rasa aman kepada suami. Dengan tidak memberikan tekanan, menyambut dengan hati yang lapang, dan menunggu momen yang tepat. Gunakan kalimat undangan yang positif, misalnya ‘Kamu mau cerita sekarang atau nanti? Kapan pun aku siap dengerin kamu ya.’

Dengan panduan yang telah dijabarkan di atas, istri bisa :

  • menurunkan kesalahpahaman
  • menghindari pertengkaran kecil yang tidak perlu
  • dan menciptakan hubungan yang lebih hangat dan menghargai

Kita tidak bisa untuk menuntut seseorang agar sama persis dengan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memahami cara mereka berpikir, dan menyesuaikan pendekatan komunikasi

Konsultasi dengan Reda Konseling, Konselor Pernikahan dan Rumah Tangga Berpengalaman

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pernikahan

Konseling Pernikahan Indonesia : Menghadapi Krisis Eksistensial

Konseling Pernikahan

Konseling Pernikahan Indonesia : Menghadapi Krisis Eksistensial | Hubungan pernikahan seringkali diartikan sebagai fase atau tingkat hubungan yang akan berisi dengan penuh kebahagiaan. Akan tetapi, pada faktanya beberapa hal tidak juga berjalan mulus. Salah satu nya yang sering terjadi adalah ketika muncul pertanyaan kepada diri sendiri, tentang eksistensi diri ketika sudah menjadi suami atau istri. Pertanyaan ini muncul bukan karena kurangnya rasa cinta yang diberikan dari pasangan, tetapi karena perubahan hidup yang terjadi. Fenomena ini disebut krisis eksistensial, dan pada artikel ini kita akan membahas secara detil seputar krisis eksistensial tersebut dan bagaimana cara menghadapinya.

Tentang Krisis Eksistensial

Menurut Esther Parel yang merupakan pakar hubungan internasional, krisis eksistensial merupakan fase ketika seseorang mempertanyakan identitas, kebebasan, dan makna dirinya di dalam hubungan. Ketika muncul perasaan “Aku kehilangan sebagian diriku ketika menikah.”, ini biasanya merupakan momen krisis eksistensial itu dirasakan. Ini bukan terjadi karena kurangnya cinta, tetapi karena pernikahan yang kerap kali membuat seseorang merasa identitas pribadinya menyusut.

Menurut Gottman, krisis eksistensial muncul ketika pasangan memiliki ketidaksesuaian antara kebutuhan pribadi dan dinamika hubungan. Krisis muncul ketika seseorang merasa :

  • Tidak lagi memiliki arah
  • Kehilangan kontrol atas hidupnya
  • Kehilangan makna dalam rutinitas pernikahan

Dari penjelasan tentang krisis eksistensial di atas, dapat kita pahami bahwa krisis eksistensial memiliki arti yaitu hilangnya kebermaknaan diri, tujuan, atau makna hidup ketika menjalani peran sebagai suami/istri. Hal ini karena adanya perubahan peran, rutinitas, atau kebutuhan batin yang tidak terpenuhi. Ini bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk pencarian diri secara alami dalam hubungan jangka panjang.

Penyebab Umum Krisis Eksistensial

Perubahan Peran Yang Mendadak

Menjadi suami atau istri, berarti seseorang memiliki peran baru. Beberapa orang merasa kehilangan jati diri ketika peran yang baru dijalani ini begitu melekat. Contohnya,

  • ‘Aku hanya suami yang harus bekerja keras demi keluarga’, atau
  • ‘Aku harus selalu ada untuk pasangan, sedangkan diriku nomor dua’.

Peran yang terlalu melekat itu lah yang akhirnya membuat seseorang perlahan-perlahan merasa kehilangan identitas, dan identitas yang lama tidak lagi terpakai.

  • Yang dulu bisa bebas hangout dengan teman-teman, tetapi sekarang harus mempertimbangkan pasangan
  • Yang dulu mandiri dan bisa mengambil keputusan sendiri, sekarang harus mengambil keputusan bersama-sama
  • Yang dulu fokus karir, kini harus membagi fokus seperti menjalani pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dsb

Rutinitas Yang Menggerus Diri Sendiri

Ketika seseorang menjalani rutinitas pernikahan tanpa benar-benar hadir, ia hanya menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri. Rutinitas memang membantu menata hidup, tetapi jika dilakukan terus-menerus tanpa keseimbangan, rutinitas itu perlahan akan mengikis identitas dirinya hingga lenyap. Tugas pernikahan sendiri merupakan tugas yang konsumtif. Pekerjaan, keuangan, mengurus rumah tangga, mengurus pasangan, semua itu menyita tenaga fisik dan mental. Apabila seseorang tidak memiliki ruang untuk ‘kembali kepada dirinya sendiri’, identitas pribadinya perlahan akan terkikis.

Ekspektasi dari Pasangan dan Keluarga

Tekanan dari pasangan untuk menjadi pasangan yang ideal sesekali dapat membuat seseorang merasa tidak bebas menjadi diri sendiri. Karena ingin memberikan yang terbaik dan mewujudkan ekspektasi tersebut, Hal seperti ini akan membuat munculnya konflik batin ‘Apakah aku ini benar-benar aku, atau hanya memenuhi peran untuk dia?’. Tekanan yang muncul terus menerus perlahan lahan akan mampu memunculkan krisis eksistensial pada pasangan, baik pihak suami maupun pihak istri.

Kurangnya Ruang Untuk Berkembang Secara Pribadi

Ketika kebutuhan personal seperti hobi, karir, atau waktu sendiri terbengkalai, muncul rasa hampa yang abstrak. Setiap individu memiliki kebutuhan personal tersendiri untuk dipenuhi. Ketika seseorang menjalankan hobinya, ia dapat merasakan berbagai dampak positif: ia bisa mengosongkan kepala sejenak, memicu relaksasi, dan menurunkan kadar hormon kortisol atau hormon stres. Namun, ketika ia tidak mewujudkan kebutuhan ini, rasa hampa dapat muncul dan menjadi indikasi bahwa ia sedang mengalami krisis eksistensial.

Tips-tips Menghadapi Krisis Eksistensial

Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis eksistensial untuk pasangan antara lain sebagai berikut :

  • Pisahkan ‘Diri Individu’ dan ‘Diri Pasangan’. Pernikahan tidak boleh menghapus identitas pribadi. Buatlah ruang pribadi untuk diri sendiri, dengan mengejar passion yang kita inginkan. Ciptakan kehidupan sosial yang sehat, untuk memberi napas baru pada identitas sehingga tidak merasa tenggelam dalam peran rumah tangga.
  • Lihat Krisis Sebagai ‘Undangan’ untuk Berevolusi. Tanyakan pada diri sendiri ‘apa yang dulu hidup namun kini redup’, atau dengan ‘bagaimana aku ingin berkembang sebagai individu?’ sebagai pemantik untuk berkembang dan berevolusi.
  • Komunikasi Yang Vulnerable, Bukan Menyalahkan. Gunakan komunikasi yang lebih terbuka dan tidak menyudutkan pasangan. Seperti ‘Aku sedang mencari diriku kembali’, jangan dengan ‘Aku tidak bahagia denganmu’. Komunikasi yang lebih terbuka dan bijak akan menciptakan nuansa yang lebih mendukung dan suportif satu sama lain.
  • Bangun Fondness Admiration.  Seringkali pasangan hanya fokus pada kekurangan masing-masing. Gottman menyarankan agar para pasangan membangun penghargaan, kata-kata afirmasi, atau mengenang kenangan-kenangan indah dengan pasangan untuk memulihkan ikatan emosional bersama.
  • Melibatkan pihak ketiga/konselor pernikahan. Melibatkan konselor pernikahan akan membantu pasangan untuk memahami lebih dalam seputar krisis ekstensial dan cara cara untuk menghadapinya dengan lebih spesifik.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

Bimbingan Pranikah Online

Bimbingan Pranikah Online : Wedding Blues

Bimbingan Pranikah Online

Bimbingan Pranikah Online : Wedding Blues | Tidak jarang beberapa orang yang hendak menghadapi fase selanjutnya dalam hubungan, yaitu pernikahan, akan mengalami berbagai macam dinamika perasaan dalam dirinya. Sebagian orang melihat mereka sedang berbahagia, tetapi bisa jadi yang mereka rasakan sebenarnya berbagai macam. Mulai dari rasa takut, cemas, hingga sedih yang berlebihan, sampai pada terlintas dalam pikiran untuk membatalkan semuanya. Fenomena ini bisa disebut sebagai Wedding Blues. Pada artikel kali ini kita akan membahas lebih detil tentang Wedding Blues, penyebab munculnya, dan cara-cara yang bisa dilakukan calon pasangan untuk mengatasinya.

Tentang Wedding Blues

Menurut Lauren AueR, ia menjelaskan bahwa Post-Wedding Blues merupakan titik terendah emosional yang bisa dialami individu atau pasangan setelah mengalami kegembiraan dan antusiasme yang tinggi menjelang upacara pernikahan. Wedding Blues sendiri lebih berakar pada perubahan besar dalam  hidup dan hilangnya identitas lama. Beberapa tanda yang menunjukkan seseorang mengalami Wedding Blues antara lain :

  • Rasa ragu yang mendominasi. Mereka mendadak berpikir dan mempertanyakan keputusan menikah dengan pasangan, walaupun hubungan keduanya sebelumnya sudah berjalan dengan baik.
  • Perubahan Mood drastis. Seseorang bisa menjadi mudah marah, tersinggung, atau menangis tanpa alasan yang jelas.
  • Insomnia. Individu tersebut mengalami perubahan pola tidur yang drastis, karena overthinking akan masa depan yang dihadapi nantinya bersama dengan pasangan setelah menikah.
  • Kehilangan minat. Mereka menjadi merasa tidak bersemangat terhadap upaya upaya untuk mempersiapkan pernikahan, yang mana seharusnya mereka bersemangat untuk itu.

Penyebab Munculnya Wedding Blues 

1. Ketakutan terhadap Komitmen dan Perubahan identitas

Salah satu ketakutan terbesar seseorang pada fase transisi menuju pernikahan adalah rasa takut menjalani komitmen ke depannya, karena merasa hilangnya otonomi dan kebebasan mengambil keputusan sendiri yang bisa dilakukan ketika masih lajang. Perasaan tersebut kemudian juga mendorong ketakutan yang muncul akan perubahan identitas yang terjadi nantinya setelah menikah, karena masih meratapi identitas sebelumnya yang masih lajang dan cenderung bebas memilih sendiri dengan keputusan sendiri. Pernikahan pada akhirnya dimaknai sebagai ‘ikatan’ yang tertutup.

2. Tekanan Ekspektasi yang Tidak Realistis

Pernikahan adalah momen sakral satu kali seumur hidup. Tidak sedikit pasangan ingin mempersembahkan yang terbaik dalam merayakannya. Karena itu, banyak pasangan yang mencoba mewujudkan ekspektasi mereka yang terkadang sebetulnya tidak realistis. Ada beberapa faktor hal ini bisa terjadi. Bisa karena faktor keluarga yang memiliki harapan atau keinginan tertentu, terpengaruh budaya media sosial yang menciptakan standar yang tinggi, takut mengecewakan tamu undangan yang datang, dan lainnya.

3. Kelelahan Emosional dan Fisik

Biasanya ini bisa terjadi ketika calon pengantin merencanakan proses pernikahan yang memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika calon pasangan pengantin ini sama sama bekerja. Hal ini kemudian menjadi sebab keduanya burnout (kelelahan akut). Stres yang berkepanjangan ini membuat emosi menjadi tidak stabil. Stres akan persiapan pernikahan yang dijalani ini dapat ‘meledakkan’ konflik-konflik kecil yang sebelumnya diabaikan.

Tips Menghadapi Wedding Blues 

  1. Komunikasi terbuka dengan pasangan. Buatlah keputusan atau momen bersama untuk berbicara satu sama lain dengan terbuka. Gunakan kalimat yang fokus pada diri sendiri dibandingkan dengan menuduh.
  2. Ambil Jeda Total. Gunakan satu hari penuh dengan pasangan untuk tidak membahas persiapan pernikahan (seperti catering, dekorasi, fitting baju, dll). Gunakan untuk menghabiskan waktu berdua dengan kegiatan lain, seperti liburan, hiking, dan lain-lainnya.
  3. Batasi Informasi dan Saran. Saran-saran dari keluarga atau kerabat dekat boleh menjadi pertimbangan, akan tetapi calon pasangan tetap perlu untuk mem-filternya. Tetapkan batasan agar tidak terasa berat untuk menanggung semuanya.
  4. Melibatkan pihak ketiga/konselor berpengalaman. Melibatkan konselor pernikahan juga dapat menjadi opsi untuk calon pasangan dalam mempersiapkan pernikahan. Calon pasangan bisa memahami seputar pernikahan secara mendalam, bagaimana menghadapi dinamika masalah pernikahan yang muncul dengan cara-cara yang benar.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Rumah Tangga

Konseling Rumah Tangga : Defense Mechanism

Konseling Rumah Tangga

Konseling Rumah Tangga : Defense Mechanism | Terkadang kita mendapati sebuah momen, pasangan kita melarikan diri ketika kita mencoba untuk membahas sesuatu yang cukup sensitif bersama sama. Caranya macam-macam, seperti mengalihkan topik, menyerang balik, meremehkan masalah atau sesuatu yang sedang kita bahas bersama, dan sebagainya. Bisa jadi itu merupakan bentuk Defense Mechanism, dan apabila tidak diatasi akan berdampak buruk pada proses komunikasi dengan pasangan lho. Pada artikel kali ini kita akan membahas secara detil tentang Defense Mechanism, bentuk-bentuk dan contohnya, serta cara yang bisa dilakukan untuk menembusnya.

Tentang Defense Mechanism

Menurut Sigmund Freud, Defense Mechanism merupakan strategi tak sadar “ego” untuk melindungi diri dari kecemasan, konflik internal, dan perasaan tidak menyenangkan. Ia menjelaskan bahwa konflik sering muncul antara tiga struktur kepribadian :

  • Id (dorongan Impulsif)
  • Superego (moral, aturan)
  • Ego (penengah antara keduanya)

Ketika ego kewalahan untuk menghadapi stres atau konflik, defense mechanism secara aktif akan muncul. Contohnya, seorang individu memiliki keinginan kuat yang tidak terpenuhi (id), akan tetapi terdapat norma atau moral yang melarang hal tersebut (superego). Untuk mengurangi konflik tersebut, maka ego secara otomatis menciptakan mekanisme pertahanan (Defense Mechanism) untuk menyeimbangkan id dan superego.

Mekanisme Defense Mechanism Menurut Freud

  1. Repression (Penekanan). Contohnya, seseorang mengalami pelecehan, tetapi ia tidak dapat mengingat itu sama sekali. Hal ini karena ego mendorong pikiran, trauma, atau dorongan yang tidak dapat diterima ke dalam alam bawah sadar. Orang tersebut tidak sadar bahwa dia menekan memori atau perasaan tersebut.
  2. Denial (Penyangkalan/Penolakan). Contohnya, menyangkal pasangan yang berselingkuh, meskipun terdapat bukti yang jelas menunjukkan bahwa pasangannya berselingkuh.
  3. Projection (Proyeksi). Artinya adalah mengatribusikan perasaan atau dorongan yang tidak diterima kepada orang lain. Misalnya, ia tidak terima ketika ada yang menyebutnya cemburu, dan kemudian menuduh pasangannya yang cemburu.
  4. Displacement (Pengalihan). Yaitu melampiaskan emosi atau dorongan ke objek atau orang yang lebih aman. Misalnya, kita merasa kesal dengan atasan di kantor tetapi kita justru memarahi pasangan kita.
  5. Sublimation (Sublimasi). Yakni mengalihkan dorongan negatif menjadi aktivitas positif atau kreatif. Seperti, seseorang mengalihkan persepsi kegiatan agresi yang berat menjadi kegiatan olahraga diri yang bermanfaat untuk membangun tubuh yang sehat.
  6. Regression (Regresi). Dimana seseorang berperilaku seperti anak-anak ketika menghadapi stres. Contohnya, orang dewasa yang menangis ketika menghadapi sebuah masalah.
  7. Reaction Formation (Formasi Reaksi). Contohnya, seorang pria yang menyukai teman sekelasnya, tetapi justru ia berperilaku kasar pada teman nya tersebut.

Defense Mechanism seringkali terjadi dalam alam bawah sadar. Karena itu, seseorang seringkali tidak menyadari mengapa mereka mudah marah, mengapa mereka sulit untuk jujur dengan diri sendiri, mengapa mereka sulit mengekspresikan diri kepada pasangan, atau mengapa hubungan dengan pasangan justru menjadi tegang.

Alasan Defense Mechanism Muncul

1. Luka masa kecil yang belum sembuh.

Seseorang yang pada masa lalunya sering sekali terabaikan, tidak pernah mendapatkan apresiasi atau penghargaan, atau sering mendapat balasan respon dengan emosi yang melunjak seperti marah, akan cepat merasa terserang ketika menghadapi sebuah konflik.

2. Takut gagal sebagai pasangan.

Sebagian orang akan merasa gagal menjadi pasangan yang ideal, ketika menyadari adanya kekurangan yang dimiliki. Seakan merasa tidak bisa memberikan yang terbaik untuk pasangannya, walaupun bisa jadi sebenarnya mereka sudah sangat memberikan yang terbaik.

3. Takut ditolak atau kehilangan.

Mengakui kesalahan atau membuka perasaan rentan terasa seperti membuka pintu pada penolakan.

4. Tidak terbiasa mengekspresikan emosi.

Sebagian orang memiliki riwayat tumbuh pada keluarga yang tidak mengajarkan “bahasa emosi”, seperti menunjukkan ekspresi bahagia ketika merasa senang, mengutarakan kekecewaan akan sesuatu hal, dan sebagainya.

5. Merasa tidak aman dalam hubungan.

Biasanya ini terjadi ketika pasangan seringkali merasa disalahkan, tidak didengarkan, atau dihakimi. Jika sudah seperti ini, maka otomatis defense mechanism akan muncul.

Cara-cara untuk menembusnya

Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan dalam hubungan pernikahan untuk menembus defense mechanism ini :

  1. Ciptakan ruang aman. Gunakan nada bicara yang tenang ketika berbicara, hindari bahasa menyalahkan, dan pilih waktu yang tepat (bukan saat lelah, marah, atau sibuk) apabila ingin membahas hal yang penting dan sensitif.
  2. Gunakan bahasa “Aku”, bukan “Kamu”. Jangan menggunakan bahasa “Kamu selalu mengabaikan aku.”, tapi gunakan bahasa “Aku merasa sendirian waktu kamu gak balas pesanku.”. Bahasa aku akan membuat pasangan merasa lebih membuka diri.
  3. Validasi emosi pasangan sebelum mengajak bicara. Ketika seseorang merasa ada yang memahaminya, pertahanan mereka yang tinggi perlahan akan turun. Misalnya, “Aku ngerti ini bikin kamu nggak nyaman.”, atau “Aku tahu kamu sedang berusaha.”. Validasi bukan berarti membenarkan perilaku pasangan, tapi menghargai dan mengerti perasaan yang pasangan rasakan.
  4. Ajukan pertanyaan lembut untuk memancing rasa aman. Misalnya, “Apa yang kamu butuhkan supaya merasa aman denganku?” atau, “Topik apa yang kamu rasa berat untuk kita bicarakan?”, atau dengan bentuk lainnya menyesuaikan dengan preferensi dan gaya masing-masing pasangan, selama cara yang diterapkan memberikan kesan lembut sehingga pasangan tidak meningkatkan defense mechanismnya.
  5. Hindari reaksi balik yang menggunakan pertahanan. Ketika pasangan menutup diri atau mulai meningkatkan defensif, kita jangan membalasnya dengan perlakuan yang sama. jangan meninggikan suara, jangan memborbadir, jangan memaki atau memarahi balik. Cara yang bisa kita terapkan adalah kita meyakinkan pasangan perlahan-lahan, bahwa kita disini. Misalnya, “Yuk kita bicara pelan-pelan, aku ada disini.”
  6. Beri waktu dan ritme. Defense Mechanism tidak bisa runtuh hanya dengan satu percakapan. Ini merupakan pola, kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Jadi pasangan perlu konsisten untuk menerapkannya secara bertahap. Bicara sedikit, berhenti ketika suasana mulai panas, dan lanjutkan saat suasana sudah lebih tenang.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Suami Istri

Konseling Suami Istri : Pasangan Sebagai Cermin Diri

Konseling Suami Istri

Konseling Suami Istri : Pasangan Sebagai Cermin Diri | Dalam hubungan pernikahan, pasangan kita kerap menjadi ‘cermin’ untuk diri kita sendiri. Bagaimana pasangan bersikap dan berperilaku terhadap kita, merespon atau menanggapi interaksinya dengan kita itu seringkali turut mencerminkan kondisi batin kita. Mulai dari cerminan nilai-nilai , pola perilaku, bahkan sampai pada ‘luka’ di masa lalu yang bisa jadi belum sepenuhnya sembuh. Kita merasa senang ketika menceritakan sesuatu, pasangan memiliki pemikiran dan penilaian yang sama dengan kita. Akan tetapi, jika sewaktu waktu kamu merasa pasanganmu egois dan kamu tidak menyukainya, bisa jadi kita sedang melihat diri kita yang pernah (atau sedang) seperti itu, tetapi kita belum menyadarinya. Maka pada kali ini, kita akan membahas tentang Mirror-Effect dalam pernikahan secara detail. Simak hingga tuntas ya!

Tentang Mirror-Effect

Dalam psikologi, Mirror-Effect diartikan sebagai fenomena pasangan yang ‘memantulkan’ diri kita sendiri, baik itu dari sisi positif atau dari sisi negatif. Contohnya, jika kita konsisten menunjukkan rasa hormat, kebajikan, dan dukungan kita kepada pasangan, maka pasangan kita juga akan cenderung menunjukkan sikap yang sama. Sebaliknya, jika kita memulai nada bicara kita dengan menuduh, defensif, atau marah, maka kemungkinan besar pasangan juga akan ‘mencerminkan’ energi negatif tersebut sama persis. Semua itu ditentukan dari bagaimana energi dan tindakan yang kita berikan kepada pasangan.

Mekanisme Psikologis Mirror Effect

1. Proyeksi (Projection)

Kita menolak atau tidak sadar dengan sifat tertentu dalam diri sendiri, lalu memproyeksikan nya ke orang lain. Contohnya ,”Aku nggak suka pasangan ku keras kepala!”. Padahal bisa jadi, kita juga punya sisi keras kepala dengan bentuk yang berbeda. Misalnya, menolak berubah, atau selalu ingin benar dengan cara yang halus. Pasangan menjadi cermin yang memantulkan bagian diri kita yang belum kita akui.

2. Pencerminan Emosi (Emotional Mirroring)

Manusia memiliki mirror neurons, yaitu sel otak yang secara otomatis “meniru” atau “merespons” emosi orang lain. Maknanya, kala kita datangan ke pasangan kita dengan nada marah, defensif, curiga, pasangan bisa ‘menangkap’ emosi tersebut dan balik memantulkannya.

3. Konfirmasi Konsep Diri (Self-Concept Confirmation)

Kita cenderung memberikan respon kepada pasangan ketika pasangan kita ‘mengonfirmasi’ gambaran diri kita sendiri. Misalnya, apabila kita memiliki citra diri yang positif, kita akan cenderung tertarik pada pasangan yang menghargai atau memperkuat itu. Atau semisal kita sedag merasa ‘tidak cukup berharga, maka memungkinkan kita tertarik pada pasangan yang mendukung kita untuk ‘membuktikan diri’. Pada akhirnya hubungan menjadi ‘cermin’ dari bagaimana kita memandang diri sendiri.

4. Bayangan (Shadows)

Menurut Carl Jung, setiap orang memiliki bayangann (shadow), yaitu bagian diri kita yang kita sembunyikan karena tidak sesuai dengan citra ideal kita. Pasangan seringkali menjadi pihak yang men-trigger sisi tersebut muncul ke permukaan, untuk kita belajar mengenalinya. Contohnya, selama ini kita membanggakan diri sendiri karena kita mampu bersikap sabar dan tenang, akan tetapi pasangan sering membuat kita merasa marah hingga meledak-ledak. Dari contoh tersebut ada kemungkinan bahwa terdapat kemarahan dalam diri kita yang selama ini tersembunyi (ditekan). Bayangan seperti ini bisa membuat kita mampu mengenali diri kita sendiri dengan lebih baik.

5. Resonasi Energi dan Pola Hubungan (Emotional Resonance)

Kita memiliki frekuensi emosional tertentu dengan pasangan yang bertujuan untuk saling ‘memanggil’ . Contohnya, ketika kita punya luka atau ketakutan untuk ditinggalkan, seringkali hal tersebut menarik pasangan yang cenderung menjauh. Umumnya, orang yang biasa ‘menyelamatkan’ orang lain cenderung tertarik pada seseorang yang butuk untuk ‘diselamatkan’. Ini terjadi karena adanya resonansi satu sama lain yang terhubung, agar masing-masing pasangan dapat belajar untuk tumbuh dan menjadi lebih baik.

Apakah Mirror-Effect  = Memperburuk Hubungan?

SebagaImana mata pisau, baik atau buruknya sesuatu tergantung pada siapa yang memaknainya dan menggunakan nya. Mirror effect memang dapat membangkitkan luka lama. Namun, apabila kita dapat berpikir bijak, Mirror-Effect sejatinya turut membantu kita untuk berkembang menjadi lebih baik. Luka lama yang muncul dapat membuat kita pun juga pasangan menjadi lebih memahami satu sama lain. Bagaimana cara mengatasinya, bagaimana cara menghadapinya, bagaimana kita bisa menghadapi diri satu sama lain untuk kedepan nya, dan sebagainya. Sisi positif atau negatif yang kita miliki pun juga pasangan menjadi perlu untuk kita pahami dengan baik, dan terima dengan lapang, demi terciptanya hubungan pernikahan yang abadi hingga akhir hayat.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!