Diam Lebih Merusak Daripada Bertengkar

Diam Lebih Merusak Daripada Bertengkar

Diam Lebih Merusak Daripada Bertengkar

Diam Lebih Merusak Daripada Bertengkar | Banyak yang beranggapan bahwa bertengkar menandakan hubungan rumah tangga sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan jika pasangan jarang bertengkar, itu dinilai bahwa hubungan mereka merupakan hubungan yang harmonis. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Diam yang terlalu lama seringkali lebih merusak ketimbang pertengkaran yang terbuka dan sehat. Pada artikel kali ini akan membahas tentang alasan mengapa lebih baik bertengkar daripada diam, dan manfaat positif dalam hubungan pernikahan yang dijalani.

Mengapa Diam = Masalah?

Diam memang terlihat tidak berbicara. Tetapi bisa jadi, diam tersebut memiliki makna lain. Diam disini seringkali menjadi bentuk penarikan diri secara emosional, cara menghindar dari konflik, atau mekanisme perlindungan diri ketika seseorang merasa tidak didengar atau tidak aman. Menurut John Gottman, stonewalling (mendiamkan pasangan) termasuk dalam Four Horsemen of The Apocalypse (Empat perilaku komunikasi paling merusak hubungan). Saat seseorang memilih diam, ia tidak hanya menghentikan percakapan, tetapi juga memutus koneksi emosional.

Beberapa dampak yang sering muncul apabila diam menjadi pola komunikasi :

  • Masalah tidak benar-benar selesai, karena tidak dikomunikasikan untuk diketahui titik terangnya.
  • Muncul jarak emosional antara suami dan istri.
  • Perasaan tidak dianggap pada salah satu pihak.
  • Seringkali memunculkan asumsi negatif karena muncul dari persepsi sendiri.

Bertengkar Tidak Selalu Buruk

Bedanya dengan diam adalah adanya pertengkaran bisa jadi merupakan tanda bahwa masih ada kepedulian. Selama pasangan melakukannya tanpa kekerasan verbal atau emosional, pertengkaran justru membuka ruangan untuk :

  • Menjelaskan kebutuhan yang tidak terpenuhi
  • Menyampaikan perasaan dengan jujur
  • Memahami perbedaan sudut pandang

Konflik seringkali terjadi bukan karena tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang kebutuhan emosional yang tidak tersampaikan. Fokus utamanya adalah bukan adanya konflik atau tidak, tapi bagaimana pasangan mengelola konflik yang ada. Dalam arti :

  • Bertengkar dengan tujuan untuk saling memahami -> bisa memperkuat hubungan
  • Diam tanpa kejelasan dan komunikasi -> perlahan melemahkan komunikasi antar kedua belah pihak

Apabila diam sering menjadi pilihan karena takut menyakiti atau disakiti, maka yang dibutuhkan bukan menghindari konflik, tetapi bagaimana cara berkomunikasi yang aman dan lebih dewasa kepada pasangan.

Konsultasi Dengan Konselor Pernikahan dan Keluarga Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

Konsultasi Pernikahan Jakarta

Konsultasi Pernikahan Jakarta : Kesepian Dalam Pernikahan

Konsultasi Pernikahan Jakarta

Konsultasi Pernikahan Jakarta : Kesepian Dalam Pernikahan | Sebagian orang mengira bahwa seseorang tidak akan merasakan kesepian ketika mereka hidup bersama. Namun pada faktanya, meski seseorang sudah menikah, masih ada dari mereka yang merasa kesepian. Walaupun mereka berbagi rumah, rutinitas, bahkan tanggung jawab, tetapi mereka merasa kehilangan koneksi emosional yang seharusnya terhubung dengan pasangan. Seringkali perasaan ini hadir perlahan, walaupun sebelumnya tidak ada pertikaian besar. Artikel kali ini akan membahas secara detil tentang penyebab pasangan bisa merasa kesepian dalam pernikahan mereka, dan beberapa tips untuk mengatasinya.

Kesepian Bukan Hanya Sekedar Fisik

Psikolog bernama Dr Sue Johnson, penggagas Emotionally Focused Therapy (EFT)  menjelaskan bahwa kebutuhan terdalam manusia dalam hubungan adalah rasa aman secara emosional. Dalam arti, mereka merasa ada yang mendengarkan, melihat, atau merespon. Apabila pasangan tidak memenuhi rasa aman tersebut, kesepian bisa muncul walaupun keduanya hadir secara fisik. Bukan karena tidak ada keberadaan pasangan, tetapi putusnya koneksi emosional antar individu.

Komunikasi yang terlihat baik, tetapi tidak menghubungkan satu sama lain

Dr John Gottman berpendapat bahwa menghindari konflik bukanlah cara yang tepat jika ingin menciptakan hubungan yang sehat bersama pasangan. Komunikasi yang penuh defensif, menghindar, atau meremehkan secara halus akan dapat mengikis koneksi emosional bersama. Akibatnya, pasangan tidak lagi ingi untuk berbagi perasaan emosional secara mendalam dan memutuskan untuk menyimpannya sendiri. Disinilah kesepian mulai berakar

Tidak Merasa Diprioritaskan

Seseorang yang tidak memprioritaskan pasangannya juga akan memicu rasa sepi itu muncul. Mereka tidak lagi menganggap kehadiran pasangannya merupakan hal yang penting. Ini bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena perhatian emosional yang kalah karena pekerjaan, anak, atau tanggung jawab lainnya. Gary Chapman yang merupakan pencetus konsep Love Languages mengatakan bahwa cinta perlu untuk disampaikan kepada pasangan dengan cara yang bisa mereka rasakan. Karena jika tidak, cinta yang ada akan terasa kosong.

Konflik Lama Yang Tidak Pernah Disembuhkan

Praktisi pernikahan seringkali menekankan bahwa konflik yang tidak benar-benar selesai dan tuntas akan meninggalkan luka emosional. Luka emosional ini akan membuat seseorang jaga jarak sebagai bentuk perlindungan diri. Alih-alih jujur dengan perasaan atau rasa sakit yang mereka rasakan, mereka memilih diam. Diam yang terlalu lama berubah menjadi jarak, dan jarak yang ada memunculkan rasa sepi tersebut secara signifikan.

Kehilangan Diri Sendiri Dalam Pernikahan

Sebagian orang bisa merasakan kesepian bisa jadi karena mereka merasa kehilangan dirinya sendiri. Seperti terlalu sering mengalah, menyesuaikan diri, dan juga menekan kebutuhan pribadi demi menjaga keharmonisan, yang pada akhirnya menimbulkan kehampaan batin.

Cara Mengatasi Rasa Kesepian Dalam Pernikahan

Beberapa langkah-langkah kecil yang konsisten bisa pasangan lakukan antara lain sebagai berikut,

  • Mulai mengakui perasaan diri sendiri. Jujur dengan diri sendiri bukanlah hal yang buruk. Mengakui perasaan diri sendiri bukan berarti menandakan kegagalan, tetapi merupakan kebijaksanaan. Para pakar juga mengatakan bahwa emosi yang diakui akan lebih mudah diolah daripada emosi yang ditekan.
  • Bangun komunikasi emosional yang aman. Daripada menyalahkan pasangan, coba sampaikan dan utarakan sejujurnya. Contohnya, “Aku merasa sendirian akhir-akhir ini, dan aku kangen bisa ngobrol sama kamu dengan waktu yang lama.”. Dengan komunikasi yang seperti ini akan membantu pasangan untuk merespon, bukan bereaksi.
  • Ciptakan waktu yang berkualitas. Jadwalkan waktu berkualitas dengan pasangan tanpa dibarengi dengan kegiatan lainnya, seperti membahas pekerjaan, tanggung jawab rumah tangga, dan sebagainya. Koneksi tidak bisa untuk terbentuk secara spontan, tetapi perlu untuk diusahakan dan diupayakan.
  • Pelajari bahasa cinta satu sama lain. Dengan kita memahami bagaimana cara pasangan merasa dicintai, hal tersebut akan meminimalisir kesalahpahaman emosional yang sering terjadi. Setiap individu memiliki berbagai bahasa cinta yang berbeda-beda. Ada yang dengan lewat kata-kata, waktu, bantuan, atau dengan sentuhan.
  • Rawat koneksi emosional dan intimasi. Intimasi bukan hanya fisik, bisa juga dengan sentuhan ringan, perhatian kecil, atau mendengarkan tanpa menghakimi. Terapis keluarga juga menyebutkan bahwa hal-hal kecil seperti ini jika dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang positif daripada gestur besar yang jarang terjadi.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Perlukah Rekening Bersama Dalam Pernikahan?

Perlukah Rekening Bersama Dalam Pernikahan?

Perlukah Rekening Bersama Dalam Pernikahan? Perlukah Rekening Bersama Dalam Pernikahan? | Dalam menjalani hubungan pernikahan, transparansi merupakan hal yang penting untuk pasangan. Salah satunya adalah transparansi dalam hal keuangan. Namun, keputusan ini tentu saja bukan keputusan yang mudah dan sederhana. Tidak seserhana “harus” dan “tidak harus”. Para pakar pun menekankan bahwa setiap pasangan memiliki dinamika yang berbeda, dan perlu mempertimbangkan banyak hal. Pada artikel kali ini akan membahas secara detil terkait perlukah rekening bersama dalam pernikahan, dan bagaimana manfaat yang dapat pasangan rasakan.

Manfaat Memiliki Rekening Bersama

Transparansi Lebih Tinggi

Dr. Scott Stanley, peneliti hubungan dari University of Denve, menyatakan bahwa keterbukaan finansial dapat meningkatkan rasa aman dan emosional, dalam hubungan. Rekening bersama membuat pasangan jadi saling tahu satu sama lain alur keuangan secara jelas serta mengurangi kecurigaan satu sama lain.

Mempermudah Manajemen Rumah Tangga

Dave Ramsey yang merupakan pakar keuangan keluarga sering menyarankan pasangan untuk menyatukan sebagian dana mereka. Dengan begitu, hal ini akan mempermudah pasangan untuk mengelola keuangan rumah tangga mereka, sehingga pengaturan anggaran nya juga lebih mudah dan teratur.

Menumbuhkan Rasa Kebersamaan

Gottman juga menyebutkan bahwasannya teamwork merupakan hal yang penting dalam pernikahan. Adanya rekening bersama dapat membantu pasangan untuk bekerja sama sebagai satu tim untuk mengelola aset dan keuangan rumah tangga secara jangka panjang.

Kekurangan Yang Perlu Diperhatikan

Perbedaan Pola Pengeluaran

Psikolog klinis, Dr. Terri Orbuch menerangkan bahwa salah satu bentuk konflik yang terjadi dalam pernikahan adalah gaya belanja. Apabila keuangan antara pihak suami dan istri digabung, maka semakin terlihat perbedaan nya dan dapat memicu ketegangan satu sama lain.

Kehilangan Privasi Finansial

Sebagian individu merasa kurang nyaman ketika finansialnya dalam pengawasan penuh. Tidak ada privasi sama sekali, begitu transparan. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pasangan dengan kebutuhan kontrol yang tinggi bisa merasa tertekan ketika semua uang disatukan. Hal ini karena adanya rekening bersama ini menyebabkan hilangnya ruang pribadi dalam mengelola keuangan. Setiap orang umumnya memiliki keinginan pribadi yang bisa jadi tidak selalu mereka bahas dengan pasangan, seperti keinginan untuk merawat diri, memberikan hadiah rahasia untuk pasangan, menjalankan hobi, dsb. Adanya rekening bersama ini pada akhirnya hanya akan memicu rasa tertekan bahkan stres.

Berisiko Ketika Hubungan Yang Sedang Buruk

Ketika hubungan dengan pasangan buruk, rekening bersama yang dimiliki dapat menjadi tekanan tersendiri untuk masing-masing. Rekening bersama berarti :
  • Kedua belah pihak memiliki akses terhadap rekening tersebut. Karena bisa memiliki akses bersama, siapa pun bisa menarik dananya secara langsung.
  • Kedua belah pihak juga mengetahui secara detil alur keuangan bersama.
  • Tidak ada kontrol satu pihak terhadap penggunaan uang.
Dalam kondisi yang buruk, salah satunya akan merasa khawatir dan tidak aman, dana di dalam rekening bersama itu dapat ditarik secara langsung tanpa persetujuan bersama. Selain itu, ini juga bisa menjadi potensi kegiatan impulsif, seperti membekukan transaksi secara tiba-tiba, mengalihkan dana ke rekening pribadi, membayar pengeluaran tertentu tanpa persetujuan, dan masih banyak lainnya.

Lantas, Perlukah Pasangan Memiliki Rekening Bersama?

Rekening bersama merupakan pilihan opsional untuk masing-masing pasangan, bukan merupakan keharusan. Tetapi, rekening bersama bisa menjadi pilihan apabila pasangan ingin bersama-sama mengelola keuangan rumah tangga agar lebih transparan dan terarah. Beberapa pakar turut menyarankan pasangan untuk memiliki rekening ketiga apabila ingin memiliki rekening bersama untuk pengelolaan keuangan rumah tangga. Dengan begitu, privasi finansial tetap masih bisa terjaga, juga pasangan bisa tetap bersama-sama mengelola keuangan rumah tangga. Transpransi merupakan hal yang penting, akan tetapi sejatinya setiap orang juga perlu menyediakan ruang sendiri. Mau mendapatkan berbagai tips lainnya? Yuk simak artikel lainnya di Reda Konseling!
Konseling Pranikah

Konseling Pranikah : Red Flags Sebelum Menikah

 

Konseling Pranikah

 

Konseling Pranikah : Red Flags Sebelum Menikah | Menikah, merupakan hubungan yang tidak hanya mempertimbangkan aspek perasaan semata, tetapi juga kesiapan mental, emosional, dan nilai nilai/ideologi yang selaras. Maka dari itu, merupakan hal penting bagi pasangan untuk mempersiapkan secara matang  sebelum melangkah ke jenjang tersebut. Pasangan harus membuka mata secara lebar terhadap tanda-tanda peringatan (red flags) yang bisa menjadi indikator masalah serius di kemudian hari. Banyak pasangan yang terjebak dalam euforia cinta sehingga tidak peduli dengan hal-hal yang seharusnya mereka waspadai. Pada artikel kali ini akan membahas tanda-tanda peringatan/red flags yang sering muncul, alasan tanda-tanda ini penting, dan bagaimana cara untuk menanganinya secara sehat.

Beberapa Tanda-Tanda Peringatan/Red Flags

Menurut pandangan beberapa pakar dan ilmuwan, berikut tanda-tanda peringatan yang perlu para pasangan untuk perhatikan, antara lain sebagai berikut.

Komunikasi Yang Tidak Sehat/Konsisten

John Gottman yang merupakan psikolog terkenal menjelaskan bahwa komunikasi negatif seperti kritik kasar, defensif, meremehkan, dan menghindar (stonewalling) adalah prediktor terkuat hubungan yang tercipta menjadi tidak bahagia. Beberapa tanda-tanda yang cukup sering terjadi diantaranya :

  • menghilang ketika ada konflik
  • menghindar ketika sedang berbicara serius
  • menyalahkan tanpa dasar

Kualitas komunikasi adalah indikator utama hubungan pernikahan menjadi hubungan yang penuh harmonis dan kebahagiaan. Tanpa adanya komunikasi yang sehat, pasangan akan seringkali berselisih paham satu sama lain, yang kemudian melahirkan konflik konflik yang bisa jadi sebenarnya tidak perlu.

Ketidakstabilan Emosi dan Finansial

Menurut Dr Scott Stanley yang merupakan peneliti pernikahan dari University of Denver, stabilitas finansial dan emosional sangat berpengaruh terhadap kepuasan pernikahan jangka panjang. Padahal, pasangan yang terbuka dalam hal finansial disebutkan memiliki tingkat konflik yang lebih rendah. Ketidaksiapan dalam dua aspek ini seringkali menjadi akar konflik pasangan pada tahun-tahun berikutnya. Tanda-tandanya antara lain :

  • Ledakan emosi yang tidak terkontrol
  • Tidak transparan mengenai keuangan
  • Pola pengeluaran yang impulsif.

Perilaku Kontrol dan Cemburu Berlebihan

Pakar psikologi sosial Dr Leslie Morgan Steiner menyebut bahwa perilaku kontrol terhadap pasangan bisa muncul secara halus, bahkan tanpa disadari. Lambat laun perilaku tersebut kemudian meningkat yang akhirnya menjadi bentuk kekerasan secara psikologis. Tanda-tandanya :

  • Mengatur pergaulan
  • Meminta akses ke ponsel pribadi
  • Tidak memberi ruang pribadi

Ini merupakan tanda red flags yang harus diperhatikan, karena pada hakikatnya hubungan yang sehat melibatkan kepercayaan dan otonomi individu satu sama lain.

Perbedaan Nilai Hidup Yang Fundamental

Peneliti hubungan, Dr Terri Orbuch menemukan bahwa perbedaan nilai dasar/ideologi (agama, tujuan hidup, pola pengasuhan, komitmen jangka panjang) merupakan penyebab utama ketegangan emosional dalam pernikahan. Nilai dasar yang berbeda antar individu pada akhirnya hanya melahirkan kompromi yang sulit untuk dilakukan. Beberapa tanda-tandanya yaitu :

  • Tidak sepakat perihal anak dan karir
  • Sikap religius atau prinsip moral yang berbeda
  • Enggan berdiskusi tentang masa depan

Riwayat Kekerasan

WHO menyatakan bahwa kekerasan (physical, verbal, atau emotional abuse) sangat mungkin untuk berlanjut setelah menikah ketika tidak ditangani lewat terapi yang serius sejak awal. Ini menjadi penting karena kekerasan bukan “kecelakaan emosional”, melainkan pola. Dan pola hanya berubah dengan interverensi profesional. Beberapa tanda-tandanya yakni :

  • Melempar benda saat marah
  • Tindak kekerasan fisik kecil (mendorong, menjambak)
  • Penghinaan terus-menerus

Cinta Saja Tidak Cukup

Mungkin terasa sulit untuk melihat red flags, terutama ketika hubungan masih terasa hangat dan penuh dengan harapan. Tetapi, keberanian untuk melihat kenyataan merupakan bentuk cinta untuk diri sendiri, dan masa depan hubungan. Jika kamu menemukan beberapa tanda berikut, bukan berarti harus menyerah. Ini menjadi sinyual untuk :

  • berdiskusi
  • evaluasi
  • atau meminta bantuan profesional dengan konsultasi pernikahan

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Rumah Tangga Indonesia

Konsultasi Rumah Tangga Indonesia : Memulihkan Energi Emosional

Konsultasi Rumah Tangga Indonesia

Konsultasi Rumah Tangga Indonesia : Memulihkan Energi Emosional |  Menjalani pernikahan kerap kali juga merasakan lelah. Tidak hanya lelah fisik, tetapi juga bisa lelah secara mental. Rutinitas, tuntutan finansial, tugas rumah tangga yang tiada henti dapat memunculkan rasa “kosong” secara emosional. Apabila energi emosional menurun, hubungan pun terasa hambar : komunikasi menjadi singkat, jarang bersentuhan, dan kesalahpahaman jadi lebih mudah muncul. Memulihkan energi secara emosional bukan hanya berbicara tentang istirahat, tetapi bagaimana menciptakan ruang agar pasangan dapat saling terhubung satu sama lain. Pada artikel kali ini akan membahas tentang penyebab munculnya penurunan energi emosional serta beberapa tips yang bisa pasangann lakukan untuk memulihkan energi emosional yang turun, demi mempertahankan hubungan pernikahan yang harmonis.

Penyebab Menurun nya Energi Emosional

Ada beberapa faktor yang menjadi sebab energi emosional bisa turun. Antara lain :

  • Stres berkelanjutan (Chronic Stress). Muncul karena terus menerus merasa stress, bisa dari pekerjaan, finansial, kewajiban rumah tangga, atau masalah pribadi yang kemudian membuat tubuh berpikir ekstra. Tubuh yang terus waspada membuat hormon stres (kortisol) tinggi, sehingga :
    • Konsentrasi menurun
    • Emosi lebih mudah meledak
    • Tubuh terasa berat
  • Beban Mental yang Tak Terlihat (Mental Load). Pihak yang memikul lebih banyak beban mental biasanya mengalahi kelelahan emosional yang lebih cepat, walaupun secara fisik tidak mengerjakan banyak kegiatan. Dalam pernikahan, beban mental seringkali berasal dari hal-hal yang terus menumpuk. Seperti :
    • Mengingat kebutuhan keluarga
    • Mengatur jadwal
    • Mempersiapkan rencana
    • Memastikan semuanya berjalan
  • Minimnya Ruang Untuk Diri Sendiri. Tidak adanya waktu untuk menenangkan diri membuat batin tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan tenaga. Seseorang yang terus ‘siap’ sebagai pasangan, pekerja, orang tua, atau peran lainnya akan cepat kehabisan tenaga. Seseorang bisa merasa kehilangan jati diri, jenuh, atau tertekan tanpa tahu sebabnya jika kurang memiliki ruang untuk diri sendiri.
  • Komunikasi Yang Kurang Sehat. Komunikasi yang buruk dengan pasangan lambat laun dapat menurunkan kapasitas ‘batin’. Interaksi yang dilakukan sehari-hari penuh dengan kritik, sarkasme, dan bentuk bentuk lainnya yang mengandung muatan negatif. Hal ini mampu menurunkan energi emosional seseorang, karena :
    • kehangatan menurun
    • rasa aman hilang
    • hubungan terasa penuh tekanan
  • Konflik Yang Tidak Pernah Diselesaikan. Konflik yang ada tidak pernah benar-benar dibahas dan diselesaikan secara tuntas. Semakin lama menumpuk dan memunculkan rasa pasrah, padahal sebetulnya merasa lelah. Beberapa tanda-tandanya :
    • mudah tersinggung
    • mudah defensif
    • enggan membahas hal sensitif
    • merasa hubungan stagnan, tidak ada perbaikan
  • Tidak Adanya Dukungan Emosional Dari Pasangan. Ketika salah satunya merasa pasangan tidak mendengarkannya, tidak bisa memahami, bahkan dianggap berlebihan, ia akan merasa sendirian dalam hubungan. Merasa kesepian dalam pernikahan adalah salah satu faktor terbesar yang menjadi penyebab menurunnya energi emosional.

Tips Kembali Memulihkan Energi Emosional

Mengakui Perasaan Lelah Tanpa Menyalahkan

Ini merupakan hal yang penting. Tidak perlu menyalahkan siapapun, cukup akui bahwa diri kita merasa lelah. Cukup sampaikan kepada pasangan bahwa kamu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri sendiri. Contohnya, “Aku lagi capek banget secara mental. Aku butuh sedikit waktu untuk tenang supaya bisa ngobrol lebih baik.“. Mengakui perasaan akan membantu pasangan untuk memahami kondisi kita tanpa mereka harus menuduh terlebih dahulu.

Beri Ruang Untuk Diri Sendiri (Me-Time)

Banyak pasangan yang merasa bersalah ketika meminta waktu untuk diri sendiri. Faktanya, me-time merupakan kebutuhan emosional, dan perlu untuk dipenuhi. Me-time memberikan ruang kepada diri sendiri untuk :

  • Menata hati dan pikiran
  • Memproses emosi yang terasa saat itu
  • Menemukan kedamaian tanpa distraksi

Beberapa aktivitas yang bisa kita lakukan untuk me-time misalnya membaca buku, berolahraga, menulis jurnal, atau sekedar duduk tanpa melakukan apa-apa. Semakin seseorang mengenali diri sendirinya, semakin sehat ia hadir dalam hubungan.

Mengurangi Beban Mental yang Tak Terlihat

Diskusikan pembagian beban mental ini secara jujur dengan pasangan. Terkadang pasangan tidak sadar bahwa beban yang dipikul berat sebelah. Komunikasikan secara jujur, karena dengan membagi beban mental secara adil dapat mengurangi tekanan emosional secara signifikan. Misalnya, suami mengambil peran untuk memasak, istri mengambil peran untuk mengurus anak dan membersihkan rumah.

Mengembalikan Koneksi Lewat Interaksi Kecil

Tidak harus dengan liburan super mewah, membangun interaksi kecil juga dapat mengembalikan koneksi dengan pasangan agar lebih kuat. Misalnya :

  • Habiskan waktu bersama untuk mengobrol. Jauhkan gadget dan urusan lainnya terlebih dahulu
  • Saling memeluk sebelum tidur
  • Membuatkan minuman favorit pasangan
  • Memulai topik pembicaraan, “Gimana hari ini?”

Membangun Komunikasi Lebih Lanjut

Beberapa tips komunikasi yang bisa dilakukan dengan pasangan agar komunikasi yang tercipta menjadi lebih baik antara lain :

  • Menggunakan kata “aku” daripada “kamu” untuk menghindari kesan menyalahkan
  • Memberi validasi kepada pasangan
  • Mendengarkan hingga tuntas tanpa memotong
  • Menyampaikan kebutuhan atau keinginan dengna jelas

Komunikasi yang lembut menciptakan suasana emosional yang aman

Mencari Bantuan Profesional

Pasangan bisa meminta bantuan profesional untuk mendiskusikan masalah ini. Dengan melibatkan bantuan profesional, pasangan juga bisa mendapatkan insight lebih luas dan spesifik untuk kembali memulihkan energi emosional yang menurun.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan dan Rumah Tangga Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pasangan Bekasi

Konsultasi Pasangan Bekasi : Cara Laki-laki Berkomunikasi

Konsultasi Pasangan Bekasi

Konsultasi Pasangan Bekasi : Cara Laki-laki Berkomunikasi Menurut John Gray | Dalam hubungan pernikahan, komunikasi seringkali menjadi penyebab hubungan pernikahan tersebut tidak lagi harmonis. Banyak konflik yang sebenernya terjadi itu bukan karena masalah yang besar, tetapi karena cara komunikasi antara laki-laki dan perempuan yang berbeda. John Gray dalam bukunya yang berjudul Men Are From Mars, Women Are From Venus memberikan panduan yang lengkap untuk memahami bagaimana laki-laki berkomunikasi, sehingga istri memiliki penyesuaian pendekatan yang jelas, menciptakan hubungan yang lebih harmonis, dan terhindar dari konflik-konflik yang tidak perlu. Pada artikel ini akan membahas secara tuntas tentang panduan lengkap tersebut yang bisa menjadi referensi dalam menjalani rumah tangga bersama.

Laki-laki Butuh Untuk Merasa Diandalkan

Menurut John Gray, laki-laki memiliki psikologi komunikasi yaitu mereka ingin terlihat mampu dan dapat diandalkan. Mereka akan sangat sensitif pada hal-hal yang membuat mereka merasa gagal, tidak berguna, atau tidak dihargai. Ketika perempuan menyampaikan kritik secara langsung seperti mempertanyakan kemampuan, laki-laki secara reflek akan merasa defensif.

Maka dari itu, cobalah lakukan beberapa cara berikut :

  • Hindari nada menyalahkan atau membandingkan. Misalnya, ‘Kamu bisa nggak sih ambil baju yang rapi?’ atau, ‘Kalo emang nggak tahu jalan, mending aku tanya temenku aja deh yang lebih tau.’. Hindari kalimat-kalimat seperti itu karena akan sangat menyentuh titik sensitif laki-laki.
  • Mulai dengan apresiasi kecil sebelum memberi masukan. Misalnya, suami sedang mencoba memasakkan makanan untuk kita, tetapi ternyata rasanya kurang sesuai. Kita sebagai istri wajib untuk menghargai terlebih dahulu apa yang dilakukan suami. Berikan pujian, sebelum kita memberikan masukan masukan lainnya untuk masakan suami. Contohnya, ‘Mas, makasih loh kamu udah masakin ini buat aku. Tapi ini bisa lebih enak kalo ditambahin dikit lagi aja garamnya. Selebihnya udah enak banget, Mas. Makasih ya!’
  • Gunakan kalimat yang membuat suami merasa dipercaya. Contoh, ‘Aku tahu kamu bisa, aku cuma mau bantu supaya lebih gampang’

Kalimat-kalimat seperti ini jauh lebih mendukung dan membantu.

Laki-laki Cenderung Masuk ke “Gua” Karena Stress

Maksudnya adalah ketika menghadapi tekanan, laki-laki butuh waktu menyendiri untuk menenangkan diri. Permasalahannya bisa muncul karena bisa jadi ketika laki-laki demikian, istri menduga :

  • Suami cuek.
  • Suami tidak peduli
  • Suami marah
  • Suami tidak ingin bicara

Padahal, gua merupakan ‘mekanisme’ untuk laki-laki meredakan stres. Karena itu, beberapa cara yang bisa istri lakukan antara lain :

  • Berikan ruang 10-30 menit (atau lebih) untuk menenangkan diri.
  • Jangan memaksa suami untuk berbicara ketika ia belum siap
  • Tenangkan suami dengan beberapa kalimat positif, misalnya ‘Kasitau aku kalo kamu udah tenang ya. Aku ada disini.”

Laki-laki Berkomunikasi Secara Langsung dan Fokus Masalah

Bagi laki-laki, inti komunikasi adalah menyelesaikan masalah. Biasanya istri seringkali menceritakan perasaannya, dan keinginan sebenarnya adalah hanya untuk didengarkan. Tetapi bagi laki-laki, itu bisa menjadi sebuah masalah yang harus mereka selesaikan. Maka dari itu, agar tidak ada miskomunikasi pihak istri bisa melakukan beberapa hal berikut :

  • Jelaskan tujuan komunikasi sebelum memulai cerita. Contoh, ‘Aku cuma pengen kamu dengerin ya, jangan cari solusinya dulu.’ atau ‘Kamu dengerin aku dulu ya sampai aku selesai sebelum masuk ke solusinya.’. Berikan juga sinyal yang jelas kapan membutuhkan solusi, atau empati.

Hal seperti ini juga membantu untuk menghilangkan ‘salah langkah’ yang bisa jadi dirasakan suami.

Laki-laki Tidak Menangkap “Kode” Emosional

Perempuan seringkali berkomunikasi secara tidak langsung, seperti lewat nada suara, ekspresi, atau kode halus. Laki-laki tidak memahami itu, karena mereka memiliki cara berpikir yang berbeda. Oleh karena itu, sampaikan secara langsung maksud atau kebutuhan yang ingin diutarakan. Tidak dengan kode. Misalnya, ‘Aku mau ditemani. Temani aku ya?’

Laki-laki Akan Berbicara Ketika Merasa Aman

Apabila suasana yang tercipta dipenuhi tekanan, suami tidak akan mau untuk membuka diri. Semakin istri menekan suaminya untuk berbicara, maka suami akan semakin masuk gua. Agar suami mau berbicara, penting bagi istri untuk menciptakan rasa aman kepada suami. Dengan tidak memberikan tekanan, menyambut dengan hati yang lapang, dan menunggu momen yang tepat. Gunakan kalimat undangan yang positif, misalnya ‘Kamu mau cerita sekarang atau nanti? Kapan pun aku siap dengerin kamu ya.’

Dengan panduan yang telah dijabarkan di atas, istri bisa :

  • menurunkan kesalahpahaman
  • menghindari pertengkaran kecil yang tidak perlu
  • dan menciptakan hubungan yang lebih hangat dan menghargai

Kita tidak bisa untuk menuntut seseorang agar sama persis dengan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memahami cara mereka berpikir, dan menyesuaikan pendekatan komunikasi

Konsultasi dengan Reda Konseling, Konselor Pernikahan dan Rumah Tangga Berpengalaman

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!