Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Cinta Dewasa

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Cinta Dewasa | Dalam hubungan pernikahan, pasangan seringkali salah dalam memaknai cinta. Misalnya ketika istri mendapati suaminya yang menekuni hobi nya untuk berolahraga, istrinya dengan cepat menilai bahwa suaminya tidak lagi mencintainya. Terkadang juga pasangan masih salah memaknai perbedaan antara simpati dan empati, sehingga tidak bisa mencintai secara sehat dan dewasa. Makna cinta tidak sesederhana itu. Cinta memiliki pengertian yang lebih luas dan mendalam, dan bukan hanya berhubungan dengan perasaan romansa dengan lawan jenis. Artikel kali ini akan membahas tentang seputar cinta dan mencintai pasangan secara dewasa. Simak sampai habis ya!

Cinta Menurut Eric Fromm

Eric Fromm dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving  memandang cinta bukan sekedar perasaan spontan atau emosi belaka, melainkan sesuatu yang harus dipelajari dan dilatih. Sama seperti seni lainnya, seperti bermain musik, melukis, dan sebagainya. Cinta bukan hanya terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan disiplin, konsentrasi, kesabaran, dan dedikasi agar terus menerus berkembang dan hubungan menjadi terawat.

Terdapat empat elemen dasar dalam mencintai, antara lain :

  • Perhatian (Care). Cinta sejati berarti peduli secara aktif terhadap kehidupan dan perkembangan orang yang dicintai
  • Tanggung jawab (Responsibility). Cinta berarti memiliki rasa tanggung jawab terhadap kebutuhan orang lain.
  • Respek (Respect). Menghargai orang lain apa adanya dan tidak ingin mengubahnya sesuai keinginan kita,
  • Pengetahuan (Knowledge). Mengenal orang yang dicintai secara mendalam, bukan hanya sekedar permukaannya saja. tetapi sampai memahami perasaan, keinginan, dan ketakutannya.

Cinta yang Dewasa

Fromm mengklasifikan cinta dengan beberapa macam jenis, antara lain :

  • Cinta persaudaraan (Brotherly Love), Bentuk cinta yang paling mendasar – rasa kasih terhadap sesama manusia.
  • Cinta ibu (Motherly Love), Cinta yang bersifat tanpa syarat dan memberi, biasanya dari ibu ke anak.
  • Cinta erotik (Erotic Love), Cinta romantis antara dua individu, yang melibatkan hasrat dan keintiman, tapi perlu dengan elemen-elemen cinta lainnya agar tidak dangkal.
  • Cinta terhadap diri sendiri (Self-Love), yakni bentuk cinta terhadap diri sendiri dengan cara yang sehat, sebagai dasar untuk mencintai orang lain. Bukan berarti egois ya.
  • Cinta terhadap Tuhan (Love God), Cinta spiritual dan transendental, tergantung pada orientasi religius atau filosofis seseorang.

Menurut Fromm, seseorang bisa mencintai secara dewasa apabila orang tersebut mampu mengintegrasikan seluruhnya. Misalnya, suami/istri cinta dengan pasangan nya tapi ia juga menghargai nya dan menghormatinya sebagai seorang suami/istri. Selain bisa menghargai dan menghormatinya, ia juga bisa memberikan sesuatu kepada pasangannya tanpa merasa keberatan. Ia bisa memberikan waktu, energi, tenaganya, tanpa merasa berat, selayaknya seorang ibu yang menyayangi anaknya dengan tulus dan rela mengorbankan tenaga, waktu, dan pikiran nya untuk anaknya. Ia juga memiliki keintiman yang kuat terhadap pasangannya, namun juga tidak lupa untuk menghargai diri sendiri, sehingga bisa mencintai pasangannya secara sehat. Meski mencintai pasangannya, ia juga tidak lupa untuk menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa.

Cinta yang dewasa bukan sekedar perasaan romantis atau gairah sesaat, tetapi merupakan perpaduan antara kasih sayang, tanggung jawab, komitmen, rasa hormat, dan kestabilan emosional. Itu tumbuh melalui kesadaran, pilihan, dan usaha aktif untuk membentuk hubungan yang sehat.

Bagaimana Dengan Cinta Bersyarat?

Beberapa orang menganggap memberikan syarat kepada pasangan merupakan cara untuk menjamin pasangan agar tetap mencintainya. Contohnya, suami mengatakan kepada istrinya bahwa ia akan mencintai istrinya apabila istri menuruti perkataan suami. Masih banyak individu memberlakukan cara ini kepada pasangannya, dan hal tersebut bukanlah bentuk cinta yang dewasa. Ini bisa terjadi karena beberapa faktor, misalnya faktor trauma masa lalu, kekhawatiran kepada pasangan yang tidak lagi cinta atau akan meninggalkannya, faktor ego yang terlalu tinggi , budaya/tekanan sosial, dan masih banyak lagi.

Cinta yang bersyarat bukanlah cinta yang dewasa. Menurut Eric Fromm, cinta bersyarat merupakan cinta yang egois, karena pasangan harus memenuhi syarat tertentu untuk mendapatkan balasan cinta. Bagi Eric Fromm, cinta dewasa itu adalah menerima pasangan secara utuh, bukan menerima pasangan dengan syarat. Jika seseorang harus memenuhi syarat tertentu untuk mendapatkan cinta dari pasangannya, maka itu lebih seperti hubungan transaksi daripada hubungan romansa. John Gottman, pakar pernikahan, menemukan melalui risetnya bahwa pasangan yang menuntut cinta dengan syarat kaku lebih rentan mengalami konflik dan perceraian. Cinta semacam ini bukan tentang membangun hubungan, melainkan tentang “mengendalikan pasangan”.

Lalu, Bagaimana Cara Mencintai Dengan Dewasa?

Maka dari itu, terdapat cara lain agar kita bisa mencintai pasangan secara dewasa. Salah satu caranya adalah dengan membuat kesepakatan bersama. Baik pihak suami dan istri sama-sama bersepakat terhadap keputusan tertentu, atas dasar kesadaran satu sama lain. Bukan karena tuntutan, atau keterpaksaan agar pasangan membalas cintanya. Landasannya adalah :

  • Eric Fromm menekankan cinta dewasa adalah tanggung jawab aktif untuk kesejahteraan pasangan. Artinya, dalam mencintai secara dewasa ada kepedulian dan tanggung jawab. Membuat kesepakatan merupakan bagian dari tanggung jawab, supaya tidak ada salah satu pihak yang tersakiti.
  • Robert Sternberg turut menjelaskan bahwa komitmen (commitment) membutuhkan aturan bersama dan pasangan juga melakukannya bersama-sama. Membuat kesepakatan itu sendiri merupakan jalan untuk membentuk komitmen itu sendiri. Misalnya, terdapat kesepakatan dalam pembagian tugas rumah tangga. Suami bagian memasak dan mencuci piring, istri bagian membersihkan rumah dan menjaga anak. Suami dan istri yang sama-sama melakukan kesepakatan pembagian tugas rumah tangga tersebut pada akhirnya mampu memperkuat komitmen satu sama lain dalam menjalani rumah tangga bersama-sama, Tanpa kesepakatan bersama-sama, komitmen bisa menjadi kabur dan mudah dilanggar.
  • Menurut John Bowbly, dalam konsep Attachment, terdapat penjelasan tentang secure attachment, yang artinya pasangan merasa nyaman karena adanya batasan sehat. Kesepakatan membentuk rasa aman satu sama lain, karena masing-masingnya mengetahui apa yang bisa mereka harapkan, dan apa yang bisa mereka toleransikan kepada pasangannya.

Cinta yang dewasa memiliki manfaat yang baik apabila diterapkan dalam sebuah hubungan, terlebih hubungan pernikahan. Cinta yang dewasa dapat membuat pasangan baik pihak suami maupun istri tumbuh bersama-sama secara sehat, belajar bersama secara dewasa menjalani rumah tangga yang dibangun, menuju rumah tangga yang penuh rahmat dan kebajikan.

Mau mengetahui berbagai tips menjalani hubungan pernikahan? Simak artikel  kami selainnya di blog kami ya! Jangan takut juga ya untuk tuntaskan masalah pernikahanmu segera, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan! Hubungi kami  untuk booking jadwal konsultasimu ya!

 

Bimbingan Pernikahan Online

Bimbingan Pernikahan Tangerang : Pasangan yang BPD

Bimbingan Pernikahan Online

Bimbingan Pernikahan Tangerang : Istri yang BPD | Tidak selalu konflik yang muncul dalam hubungan pernikahan itu adalah hasil kesalahan suami yang kurang memperlakukan istrinya dengan baik. Bisa jadi, ada kemungkinan yang lain yang menjadi faktor konflik diantara keduanya muncul. Salah satu kemungkinan nya adalah istri yang menginap BPD. Pasangan yang memiliki gangguan BPD memerlukan perlakuan dan penyikapan khusus, sehingga tidak bisa sembarangan untuk dihadapi. Dalam artikel ini akan membahas seputar tentang BPD, dan tips-tips untuk menghadapi pasangan yang memiliki BPD.

Tentang BPD (Borderline Personality Disorder)

Psikolog mendefinisikan BPD atau Borderline Personality Disorder, yang dalam Bahasa Indonesia disebut Gangguan Kepribadian Ambang, sebagai salah satu jenis gangguan kepribadian yang ditandai oleh ketidakstabilan emosi, hubungan interpersonal, citra diri, dan kontrol impuls. Menurut Marsha M. Linehan selaku pakar psikolog klinis, Para ahli menggambarkan BPD sebagai gangguan dalam regulasi emosi, di mana individu menunjukkan sensitivitas emosional ekstrem, bereaksi sangat kuat terhadap rangsangan emosional, dan kesulitan mengembalikan diri ke kondisi emosi yang stabil. Kondisi ini tidak sekadar mencerminkan kepribadian buruk, melainkan muncul dari kombinasi faktor biologis dan pengalaman lingkungan yang invalidatif seperti trauma masa kecil, pelecehan, atau pengabaian.

Menurut Paul T. Mason dan Randi Kranger, memiliki pasangan BPD bisa sangat membingungkan karena mereka seringkali menunjukkan :

  • Perubahan suasana hati yang ekstrim
  • Perilaku penuh kemarahan atau ledakan emosi yang tampak “tak masuk akal”
  • Ketakutan intens akan ditinggalkan
  • Tuduhan palsu atau menyudutkan pasangan secara emosional

Hal tersebut bukanlah hasil dari karakter buruk atau niat jahat, tetapi reaksi dari luka emosional mendalam dan ketidakstabilan emosi yang serius.

Dalam buku Loving Someone with Borderline Personality Disorder karya Shari Y. Maning juga menjelaskan secara rinci tentang Borderline Personality Disorder itu sendiri.

1.  Pola Pikir penderita BPD

They Feel Everything More Intensely“. Mereka tidak hanya mudah terluka, tetapi juga kesulitan memproses dan menenangkan emosi tersebut. Pasangan dengan BPD bisa menafsirkan hal kecil seperti nada suara, mimik wajah, atau sedikit penolakan sebagai ancaman besar terhadap hubungan. Mereka tidak bermaksud bersikap manipulatif, tetapi merasakan ketakutan mendalam bahwa pasangan tidak mencintai mereka atau akan meninggalkan mereka.

2. Perbedaan Antara Simpati, Empati, dan Validasi

Simpati, Empati, dan Validasi memiliki arti yang berbeda. Simpati lebih ke “Aku kasihan sama kamu.”, kalau empati yaitu “Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu.”. Kalau validasi contohnya adalah “Apa yang kamu rasakan masuk akal karena apa yang kamu alami.”. Validasi adalah kunci membangun komunikasi yang baik dengan pasangan BPD. Tetapi, tidak sama dengan menyetujui perilaku destruktif ya.

3. Menghindari Perilaku “Mengatur” atau “Memperbaiki”

Banyak orang kerap melakukan kesalahan terhadap pasangan dengan BPD, yaitu terlalu berusaha memperbaiki atau menyelamatkan mereka. Pada akhirnya ini dapat membuat hubungan terasa tidak setara, dan semakin memperparah ketergantungan emosional dari pasangan BPD. Berhantilah untuk menjadi terapis bagi pasangan. Sebaliknya, jadilah pasangan yang hadir, memahami, namun tetap memiliki batasan.

4. Mengelola Ledakan Emosi (Emotional Dysregulation)

Pasangan BPD sering sekali mengalami ledakan emosi (Emotional Dysregulation). yakni kesulitan mengatur dan mengelola emosi nya ketika sedang marah, sedih, atau takut. Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan menurut Manning antara lain :

  • Tetap tenang, tidak ikut untuk meledak-ledak.
  • Validasi emosi, bukan perilaku.
  • Gunakan suara netral dan tenang.
  • Tunda diskusi jika situasi terlalu panas.
  • Beirkan waktu dan ruang untuk menenangkan diri.

5. Membangun dan Memelihara Batasan Yang Sehat

Batasan bukan berarti menjauh, tapi cara menjaga diri agar tetap sehat dalam hubungan. Ciri batasan yang sehat menurut Manning :

  • Jelas dan konsisten
  • Disampaikan dengan tenang dan penuh kasih
  • Tidak bersifat ancaman, tapi konsekuensi

Tips-tips Yang Bisa Dilakukan Dalam Menghadapinya

1. Terapkan Komunikasi Yang Menenangkan

Terapkan komunikasi yang menenangkan. Tidak dengan nada suara yang keras dan dihentak-hentak, tetapi dengan nada suara yang lembut dan stabil. Hindari juga perdebatan ketika pasangan sedang merasakan emosional yang tinggi. Gunakan bahasa “Aku merasa”, bukan “Kamu selalu” agar pasangan tidak merasa disalahkan.

2. Validasi Perasaan, bukan Perilaku

Akui dan hargai perasaan pasangan, tetapi tidak setuju dengan perilaku atau tindakannya kalau memang tidak benar. Adanya validasi membuat pasangan merasa dihargai dan dipahami.

3. Tetapkan Batasan Yang Sehat

Tujuannya agar hubungan yang dibangun dengan pasangan tetap sehat dan berjalan baik. Contohnya, “Kalau kamu mulai berteriak, aku akan keluae sebentar dan kita bicara nanti.”

4. Dorong dan Dukung Pengobatan

Ajak pasangan untuk menjalankan terapi, seperti terapi DBT (Dialectical Behavior Therapy) yang terbukti efektif untuk penderita BPD. Pasangan bisa mendukung proses ini dengan mengikuti sesi konseling pernikahan atau keluarga bersama-sama.

5. Apresiasi Pasangan

Jangan lupa untuk turut memberikan apresiasi kepasa pasangan, karena pasangan yang menderita BPD seringkali merasa kurang cukup untuk dicintai. Apresiasi kecil yang diberikan dapat membantu menumbuhkan rasa aman dalam hubungan.

Mau tahu lebih banyak lagi tips-tips dalam menyelesaikan masalah-masalah pernikahan? Yuk langsung simak artikel kami yang lainnya.

Mau booking jadwal konsultasimu? Hubungi kami untuk booking slot jadwalmu segera ya, sebelum kehabisan slotnya!