
Konseling Pernikahan Indonesia : Menghadapi Krisis Eksistensial | Hubungan pernikahan seringkali diartikan sebagai fase atau tingkat hubungan yang akan berisi dengan penuh kebahagiaan. Akan tetapi, pada faktanya beberapa hal tidak juga berjalan mulus. Salah satu nya yang sering terjadi adalah ketika muncul pertanyaan kepada diri sendiri, tentang eksistensi diri ketika sudah menjadi suami atau istri. Pertanyaan ini muncul bukan karena kurangnya rasa cinta yang diberikan dari pasangan, tetapi karena perubahan hidup yang terjadi. Fenomena ini disebut krisis eksistensial, dan pada artikel ini kita akan membahas secara detil seputar krisis eksistensial tersebut dan bagaimana cara menghadapinya.
Tentang Krisis Eksistensial
Menurut Esther Parel yang merupakan pakar hubungan internasional, krisis eksistensial merupakan fase ketika seseorang mempertanyakan identitas, kebebasan, dan makna dirinya di dalam hubungan. Ketika muncul perasaan “Aku kehilangan sebagian diriku ketika menikah.”, ini biasanya merupakan momen krisis eksistensial itu dirasakan. Ini bukan terjadi karena kurangnya cinta, tetapi karena pernikahan yang kerap kali membuat seseorang merasa identitas pribadinya menyusut.
Menurut Gottman, krisis eksistensial muncul ketika pasangan memiliki ketidaksesuaian antara kebutuhan pribadi dan dinamika hubungan. Krisis muncul ketika seseorang merasa :
- Tidak lagi memiliki arah
- Kehilangan kontrol atas hidupnya
- Kehilangan makna dalam rutinitas pernikahan
Dari penjelasan tentang krisis eksistensial di atas, dapat kita pahami bahwa krisis eksistensial memiliki arti yaitu hilangnya kebermaknaan diri, tujuan, atau makna hidup ketika menjalani peran sebagai suami/istri. Hal ini karena adanya perubahan peran, rutinitas, atau kebutuhan batin yang tidak terpenuhi. Ini bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk pencarian diri secara alami dalam hubungan jangka panjang.
Penyebab Umum Krisis Eksistensial
Perubahan Peran Yang Mendadak
Menjadi suami atau istri, berarti seseorang memiliki peran baru. Beberapa orang merasa kehilangan jati diri ketika peran yang baru dijalani ini begitu melekat. Contohnya,
- ‘Aku hanya suami yang harus bekerja keras demi keluarga’, atau
- ‘Aku harus selalu ada untuk pasangan, sedangkan diriku nomor dua’.
Peran yang terlalu melekat itu lah yang akhirnya membuat seseorang perlahan-perlahan merasa kehilangan identitas, dan identitas yang lama tidak lagi terpakai.
- Yang dulu bisa bebas hangout dengan teman-teman, tetapi sekarang harus mempertimbangkan pasangan
- Yang dulu mandiri dan bisa mengambil keputusan sendiri, sekarang harus mengambil keputusan bersama-sama
- Yang dulu fokus karir, kini harus membagi fokus seperti menjalani pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dsb
Rutinitas Yang Menggerus Diri Sendiri
Ketika seseorang menjalani rutinitas pernikahan tanpa benar-benar hadir, ia hanya menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri. Rutinitas memang membantu menata hidup, tetapi jika dilakukan terus-menerus tanpa keseimbangan, rutinitas itu perlahan akan mengikis identitas dirinya hingga lenyap. Tugas pernikahan sendiri merupakan tugas yang konsumtif. Pekerjaan, keuangan, mengurus rumah tangga, mengurus pasangan, semua itu menyita tenaga fisik dan mental. Apabila seseorang tidak memiliki ruang untuk ‘kembali kepada dirinya sendiri’, identitas pribadinya perlahan akan terkikis.
Ekspektasi dari Pasangan dan Keluarga
Tekanan dari pasangan untuk menjadi pasangan yang ideal sesekali dapat membuat seseorang merasa tidak bebas menjadi diri sendiri. Karena ingin memberikan yang terbaik dan mewujudkan ekspektasi tersebut, Hal seperti ini akan membuat munculnya konflik batin ‘Apakah aku ini benar-benar aku, atau hanya memenuhi peran untuk dia?’. Tekanan yang muncul terus menerus perlahan lahan akan mampu memunculkan krisis eksistensial pada pasangan, baik pihak suami maupun pihak istri.
Kurangnya Ruang Untuk Berkembang Secara Pribadi
Ketika kebutuhan personal seperti hobi, karir, atau waktu sendiri terbengkalai, muncul rasa hampa yang abstrak. Setiap individu memiliki kebutuhan personal tersendiri untuk dipenuhi. Ketika seseorang menjalankan hobinya, ia dapat merasakan berbagai dampak positif: ia bisa mengosongkan kepala sejenak, memicu relaksasi, dan menurunkan kadar hormon kortisol atau hormon stres. Namun, ketika ia tidak mewujudkan kebutuhan ini, rasa hampa dapat muncul dan menjadi indikasi bahwa ia sedang mengalami krisis eksistensial.
Tips-tips Menghadapi Krisis Eksistensial
Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis eksistensial untuk pasangan antara lain sebagai berikut :
- Pisahkan ‘Diri Individu’ dan ‘Diri Pasangan’. Pernikahan tidak boleh menghapus identitas pribadi. Buatlah ruang pribadi untuk diri sendiri, dengan mengejar passion yang kita inginkan. Ciptakan kehidupan sosial yang sehat, untuk memberi napas baru pada identitas sehingga tidak merasa tenggelam dalam peran rumah tangga.
- Lihat Krisis Sebagai ‘Undangan’ untuk Berevolusi. Tanyakan pada diri sendiri ‘apa yang dulu hidup namun kini redup’, atau dengan ‘bagaimana aku ingin berkembang sebagai individu?’ sebagai pemantik untuk berkembang dan berevolusi.
- Komunikasi Yang Vulnerable, Bukan Menyalahkan. Gunakan komunikasi yang lebih terbuka dan tidak menyudutkan pasangan. Seperti ‘Aku sedang mencari diriku kembali’, jangan dengan ‘Aku tidak bahagia denganmu’. Komunikasi yang lebih terbuka dan bijak akan menciptakan nuansa yang lebih mendukung dan suportif satu sama lain.
- Bangun Fondness & Admiration. Seringkali pasangan hanya fokus pada kekurangan masing-masing. Gottman menyarankan agar para pasangan membangun penghargaan, kata-kata afirmasi, atau mengenang kenangan-kenangan indah dengan pasangan untuk memulihkan ikatan emosional bersama.
- Melibatkan pihak ketiga/konselor pernikahan. Melibatkan konselor pernikahan akan membantu pasangan untuk memahami lebih dalam seputar krisis ekstensial dan cara cara untuk menghadapinya dengan lebih spesifik.
Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling
Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!
Jenis Layanan Konsultasi
Konsultasi Sendiri (Private)
Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.
Konsultasi Pasangan
Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.
Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!









