
Konseling Rumah Tangga : Defense Mechanism | Terkadang kita mendapati sebuah momen, pasangan kita melarikan diri ketika kita mencoba untuk membahas sesuatu yang cukup sensitif bersama sama. Caranya macam-macam, seperti mengalihkan topik, menyerang balik, meremehkan masalah atau sesuatu yang sedang kita bahas bersama, dan sebagainya. Bisa jadi itu merupakan bentuk Defense Mechanism, dan apabila tidak diatasi akan berdampak buruk pada proses komunikasi dengan pasangan lho. Pada artikel kali ini kita akan membahas secara detil tentang Defense Mechanism, bentuk-bentuk dan contohnya, serta cara yang bisa dilakukan untuk menembusnya.
Tentang Defense Mechanism
Menurut Sigmund Freud, Defense Mechanism merupakan strategi tak sadar “ego” untuk melindungi diri dari kecemasan, konflik internal, dan perasaan tidak menyenangkan. Ia menjelaskan bahwa konflik sering muncul antara tiga struktur kepribadian :
- Id (dorongan Impulsif)
- Superego (moral, aturan)
- Ego (penengah antara keduanya)
Ketika ego kewalahan untuk menghadapi stres atau konflik, defense mechanism secara aktif akan muncul. Contohnya, seorang individu memiliki keinginan kuat yang tidak terpenuhi (id), akan tetapi terdapat norma atau moral yang melarang hal tersebut (superego). Untuk mengurangi konflik tersebut, maka ego secara otomatis menciptakan mekanisme pertahanan (Defense Mechanism) untuk menyeimbangkan id dan superego.
Mekanisme Defense Mechanism Menurut Freud
- Repression (Penekanan). Contohnya, seseorang mengalami pelecehan, tetapi ia tidak dapat mengingat itu sama sekali. Hal ini karena ego mendorong pikiran, trauma, atau dorongan yang tidak dapat diterima ke dalam alam bawah sadar. Orang tersebut tidak sadar bahwa dia menekan memori atau perasaan tersebut.
- Denial (Penyangkalan/Penolakan). Contohnya, menyangkal pasangan yang berselingkuh, meskipun terdapat bukti yang jelas menunjukkan bahwa pasangannya berselingkuh.
- Projection (Proyeksi). Artinya adalah mengatribusikan perasaan atau dorongan yang tidak diterima kepada orang lain. Misalnya, ia tidak terima ketika ada yang menyebutnya cemburu, dan kemudian menuduh pasangannya yang cemburu.
- Displacement (Pengalihan). Yaitu melampiaskan emosi atau dorongan ke objek atau orang yang lebih aman. Misalnya, kita merasa kesal dengan atasan di kantor tetapi kita justru memarahi pasangan kita.
- Sublimation (Sublimasi). Yakni mengalihkan dorongan negatif menjadi aktivitas positif atau kreatif. Seperti, seseorang mengalihkan persepsi kegiatan agresi yang berat menjadi kegiatan olahraga diri yang bermanfaat untuk membangun tubuh yang sehat.
- Regression (Regresi). Dimana seseorang berperilaku seperti anak-anak ketika menghadapi stres. Contohnya, orang dewasa yang menangis ketika menghadapi sebuah masalah.
- Reaction Formation (Formasi Reaksi). Contohnya, seorang pria yang menyukai teman sekelasnya, tetapi justru ia berperilaku kasar pada teman nya tersebut.
Defense Mechanism seringkali terjadi dalam alam bawah sadar. Karena itu, seseorang seringkali tidak menyadari mengapa mereka mudah marah, mengapa mereka sulit untuk jujur dengan diri sendiri, mengapa mereka sulit mengekspresikan diri kepada pasangan, atau mengapa hubungan dengan pasangan justru menjadi tegang.
Alasan Defense Mechanism Muncul
1. Luka masa kecil yang belum sembuh.
Seseorang yang pada masa lalunya sering sekali terabaikan, tidak pernah mendapatkan apresiasi atau penghargaan, atau sering mendapat balasan respon dengan emosi yang melunjak seperti marah, akan cepat merasa terserang ketika menghadapi sebuah konflik.
2. Takut gagal sebagai pasangan.
Sebagian orang akan merasa gagal menjadi pasangan yang ideal, ketika menyadari adanya kekurangan yang dimiliki. Seakan merasa tidak bisa memberikan yang terbaik untuk pasangannya, walaupun bisa jadi sebenarnya mereka sudah sangat memberikan yang terbaik.
3. Takut ditolak atau kehilangan.
Mengakui kesalahan atau membuka perasaan rentan terasa seperti membuka pintu pada penolakan.
4. Tidak terbiasa mengekspresikan emosi.
Sebagian orang memiliki riwayat tumbuh pada keluarga yang tidak mengajarkan “bahasa emosi”, seperti menunjukkan ekspresi bahagia ketika merasa senang, mengutarakan kekecewaan akan sesuatu hal, dan sebagainya.
5. Merasa tidak aman dalam hubungan.
Biasanya ini terjadi ketika pasangan seringkali merasa disalahkan, tidak didengarkan, atau dihakimi. Jika sudah seperti ini, maka otomatis defense mechanism akan muncul.
Cara-cara untuk menembusnya
Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan dalam hubungan pernikahan untuk menembus defense mechanism ini :
- Ciptakan ruang aman. Gunakan nada bicara yang tenang ketika berbicara, hindari bahasa menyalahkan, dan pilih waktu yang tepat (bukan saat lelah, marah, atau sibuk) apabila ingin membahas hal yang penting dan sensitif.
- Gunakan bahasa “Aku”, bukan “Kamu”. Jangan menggunakan bahasa “Kamu selalu mengabaikan aku.”, tapi gunakan bahasa “Aku merasa sendirian waktu kamu gak balas pesanku.”. Bahasa aku akan membuat pasangan merasa lebih membuka diri.
- Validasi emosi pasangan sebelum mengajak bicara. Ketika seseorang merasa ada yang memahaminya, pertahanan mereka yang tinggi perlahan akan turun. Misalnya, “Aku ngerti ini bikin kamu nggak nyaman.”, atau “Aku tahu kamu sedang berusaha.”. Validasi bukan berarti membenarkan perilaku pasangan, tapi menghargai dan mengerti perasaan yang pasangan rasakan.
- Ajukan pertanyaan lembut untuk memancing rasa aman. Misalnya, “Apa yang kamu butuhkan supaya merasa aman denganku?” atau, “Topik apa yang kamu rasa berat untuk kita bicarakan?”, atau dengan bentuk lainnya menyesuaikan dengan preferensi dan gaya masing-masing pasangan, selama cara yang diterapkan memberikan kesan lembut sehingga pasangan tidak meningkatkan defense mechanismnya.
- Hindari reaksi balik yang menggunakan pertahanan. Ketika pasangan menutup diri atau mulai meningkatkan defensif, kita jangan membalasnya dengan perlakuan yang sama. jangan meninggikan suara, jangan memborbadir, jangan memaki atau memarahi balik. Cara yang bisa kita terapkan adalah kita meyakinkan pasangan perlahan-lahan, bahwa kita disini. Misalnya, “Yuk kita bicara pelan-pelan, aku ada disini.”
- Beri waktu dan ritme. Defense Mechanism tidak bisa runtuh hanya dengan satu percakapan. Ini merupakan pola, kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Jadi pasangan perlu konsisten untuk menerapkannya secara bertahap. Bicara sedikit, berhenti ketika suasana mulai panas, dan lanjutkan saat suasana sudah lebih tenang.
Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling
Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!
Jenis Layanan Konsultasi
Konsultasi Sendiri (Private)
Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.
Konsultasi Pasangan
Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.
Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Leave A Comment