Konseling Rumah Tangga

Konseling Rumah Tangga : Defense Mechanism

Konseling Rumah Tangga

Konseling Rumah Tangga : Defense Mechanism | Terkadang kita mendapati sebuah momen, pasangan kita melarikan diri ketika kita mencoba untuk membahas sesuatu yang cukup sensitif bersama sama. Caranya macam-macam, seperti mengalihkan topik, menyerang balik, meremehkan masalah atau sesuatu yang sedang kita bahas bersama, dan sebagainya. Bisa jadi itu merupakan bentuk Defense Mechanism, dan apabila tidak diatasi akan berdampak buruk pada proses komunikasi dengan pasangan lho. Pada artikel kali ini kita akan membahas secara detil tentang Defense Mechanism, bentuk-bentuk dan contohnya, serta cara yang bisa dilakukan untuk menembusnya.

Tentang Defense Mechanism

Menurut Sigmund Freud, Defense Mechanism merupakan strategi tak sadar “ego” untuk melindungi diri dari kecemasan, konflik internal, dan perasaan tidak menyenangkan. Ia menjelaskan bahwa konflik sering muncul antara tiga struktur kepribadian :

  • Id (dorongan Impulsif)
  • Superego (moral, aturan)
  • Ego (penengah antara keduanya)

Ketika ego kewalahan untuk menghadapi stres atau konflik, defense mechanism secara aktif akan muncul. Contohnya, seorang individu memiliki keinginan kuat yang tidak terpenuhi (id), akan tetapi terdapat norma atau moral yang melarang hal tersebut (superego). Untuk mengurangi konflik tersebut, maka ego secara otomatis menciptakan mekanisme pertahanan (Defense Mechanism) untuk menyeimbangkan id dan superego.

Mekanisme Defense Mechanism Menurut Freud

  1. Repression (Penekanan). Contohnya, seseorang mengalami pelecehan, tetapi ia tidak dapat mengingat itu sama sekali. Hal ini karena ego mendorong pikiran, trauma, atau dorongan yang tidak dapat diterima ke dalam alam bawah sadar. Orang tersebut tidak sadar bahwa dia menekan memori atau perasaan tersebut.
  2. Denial (Penyangkalan/Penolakan). Contohnya, menyangkal pasangan yang berselingkuh, meskipun terdapat bukti yang jelas menunjukkan bahwa pasangannya berselingkuh.
  3. Projection (Proyeksi). Artinya adalah mengatribusikan perasaan atau dorongan yang tidak diterima kepada orang lain. Misalnya, ia tidak terima ketika ada yang menyebutnya cemburu, dan kemudian menuduh pasangannya yang cemburu.
  4. Displacement (Pengalihan). Yaitu melampiaskan emosi atau dorongan ke objek atau orang yang lebih aman. Misalnya, kita merasa kesal dengan atasan di kantor tetapi kita justru memarahi pasangan kita.
  5. Sublimation (Sublimasi). Yakni mengalihkan dorongan negatif menjadi aktivitas positif atau kreatif. Seperti, seseorang mengalihkan persepsi kegiatan agresi yang berat menjadi kegiatan olahraga diri yang bermanfaat untuk membangun tubuh yang sehat.
  6. Regression (Regresi). Dimana seseorang berperilaku seperti anak-anak ketika menghadapi stres. Contohnya, orang dewasa yang menangis ketika menghadapi sebuah masalah.
  7. Reaction Formation (Formasi Reaksi). Contohnya, seorang pria yang menyukai teman sekelasnya, tetapi justru ia berperilaku kasar pada teman nya tersebut.

Defense Mechanism seringkali terjadi dalam alam bawah sadar. Karena itu, seseorang seringkali tidak menyadari mengapa mereka mudah marah, mengapa mereka sulit untuk jujur dengan diri sendiri, mengapa mereka sulit mengekspresikan diri kepada pasangan, atau mengapa hubungan dengan pasangan justru menjadi tegang.

Alasan Defense Mechanism Muncul

1. Luka masa kecil yang belum sembuh.

Seseorang yang pada masa lalunya sering sekali terabaikan, tidak pernah mendapatkan apresiasi atau penghargaan, atau sering mendapat balasan respon dengan emosi yang melunjak seperti marah, akan cepat merasa terserang ketika menghadapi sebuah konflik.

2. Takut gagal sebagai pasangan.

Sebagian orang akan merasa gagal menjadi pasangan yang ideal, ketika menyadari adanya kekurangan yang dimiliki. Seakan merasa tidak bisa memberikan yang terbaik untuk pasangannya, walaupun bisa jadi sebenarnya mereka sudah sangat memberikan yang terbaik.

3. Takut ditolak atau kehilangan.

Mengakui kesalahan atau membuka perasaan rentan terasa seperti membuka pintu pada penolakan.

4. Tidak terbiasa mengekspresikan emosi.

Sebagian orang memiliki riwayat tumbuh pada keluarga yang tidak mengajarkan “bahasa emosi”, seperti menunjukkan ekspresi bahagia ketika merasa senang, mengutarakan kekecewaan akan sesuatu hal, dan sebagainya.

5. Merasa tidak aman dalam hubungan.

Biasanya ini terjadi ketika pasangan seringkali merasa disalahkan, tidak didengarkan, atau dihakimi. Jika sudah seperti ini, maka otomatis defense mechanism akan muncul.

Cara-cara untuk menembusnya

Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan dalam hubungan pernikahan untuk menembus defense mechanism ini :

  1. Ciptakan ruang aman. Gunakan nada bicara yang tenang ketika berbicara, hindari bahasa menyalahkan, dan pilih waktu yang tepat (bukan saat lelah, marah, atau sibuk) apabila ingin membahas hal yang penting dan sensitif.
  2. Gunakan bahasa “Aku”, bukan “Kamu”. Jangan menggunakan bahasa “Kamu selalu mengabaikan aku.”, tapi gunakan bahasa “Aku merasa sendirian waktu kamu gak balas pesanku.”. Bahasa aku akan membuat pasangan merasa lebih membuka diri.
  3. Validasi emosi pasangan sebelum mengajak bicara. Ketika seseorang merasa ada yang memahaminya, pertahanan mereka yang tinggi perlahan akan turun. Misalnya, “Aku ngerti ini bikin kamu nggak nyaman.”, atau “Aku tahu kamu sedang berusaha.”. Validasi bukan berarti membenarkan perilaku pasangan, tapi menghargai dan mengerti perasaan yang pasangan rasakan.
  4. Ajukan pertanyaan lembut untuk memancing rasa aman. Misalnya, “Apa yang kamu butuhkan supaya merasa aman denganku?” atau, “Topik apa yang kamu rasa berat untuk kita bicarakan?”, atau dengan bentuk lainnya menyesuaikan dengan preferensi dan gaya masing-masing pasangan, selama cara yang diterapkan memberikan kesan lembut sehingga pasangan tidak meningkatkan defense mechanismnya.
  5. Hindari reaksi balik yang menggunakan pertahanan. Ketika pasangan menutup diri atau mulai meningkatkan defensif, kita jangan membalasnya dengan perlakuan yang sama. jangan meninggikan suara, jangan memborbadir, jangan memaki atau memarahi balik. Cara yang bisa kita terapkan adalah kita meyakinkan pasangan perlahan-lahan, bahwa kita disini. Misalnya, “Yuk kita bicara pelan-pelan, aku ada disini.”
  6. Beri waktu dan ritme. Defense Mechanism tidak bisa runtuh hanya dengan satu percakapan. Ini merupakan pola, kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Jadi pasangan perlu konsisten untuk menerapkannya secara bertahap. Bicara sedikit, berhenti ketika suasana mulai panas, dan lanjutkan saat suasana sudah lebih tenang.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Suami Istri

Konseling Suami Istri : Pasangan Sebagai Cermin Diri

Konseling Suami Istri

Konseling Suami Istri : Pasangan Sebagai Cermin Diri | Dalam hubungan pernikahan, pasangan kita kerap menjadi ‘cermin’ untuk diri kita sendiri. Bagaimana pasangan bersikap dan berperilaku terhadap kita, merespon atau menanggapi interaksinya dengan kita itu seringkali turut mencerminkan kondisi batin kita. Mulai dari cerminan nilai-nilai , pola perilaku, bahkan sampai pada ‘luka’ di masa lalu yang bisa jadi belum sepenuhnya sembuh. Kita merasa senang ketika menceritakan sesuatu, pasangan memiliki pemikiran dan penilaian yang sama dengan kita. Akan tetapi, jika sewaktu waktu kamu merasa pasanganmu egois dan kamu tidak menyukainya, bisa jadi kita sedang melihat diri kita yang pernah (atau sedang) seperti itu, tetapi kita belum menyadarinya. Maka pada kali ini, kita akan membahas tentang Mirror-Effect dalam pernikahan secara detail. Simak hingga tuntas ya!

Tentang Mirror-Effect

Dalam psikologi, Mirror-Effect diartikan sebagai fenomena pasangan yang ‘memantulkan’ diri kita sendiri, baik itu dari sisi positif atau dari sisi negatif. Contohnya, jika kita konsisten menunjukkan rasa hormat, kebajikan, dan dukungan kita kepada pasangan, maka pasangan kita juga akan cenderung menunjukkan sikap yang sama. Sebaliknya, jika kita memulai nada bicara kita dengan menuduh, defensif, atau marah, maka kemungkinan besar pasangan juga akan ‘mencerminkan’ energi negatif tersebut sama persis. Semua itu ditentukan dari bagaimana energi dan tindakan yang kita berikan kepada pasangan.

Mekanisme Psikologis Mirror Effect

1. Proyeksi (Projection)

Kita menolak atau tidak sadar dengan sifat tertentu dalam diri sendiri, lalu memproyeksikan nya ke orang lain. Contohnya ,”Aku nggak suka pasangan ku keras kepala!”. Padahal bisa jadi, kita juga punya sisi keras kepala dengan bentuk yang berbeda. Misalnya, menolak berubah, atau selalu ingin benar dengan cara yang halus. Pasangan menjadi cermin yang memantulkan bagian diri kita yang belum kita akui.

2. Pencerminan Emosi (Emotional Mirroring)

Manusia memiliki mirror neurons, yaitu sel otak yang secara otomatis “meniru” atau “merespons” emosi orang lain. Maknanya, kala kita datangan ke pasangan kita dengan nada marah, defensif, curiga, pasangan bisa ‘menangkap’ emosi tersebut dan balik memantulkannya.

3. Konfirmasi Konsep Diri (Self-Concept Confirmation)

Kita cenderung memberikan respon kepada pasangan ketika pasangan kita ‘mengonfirmasi’ gambaran diri kita sendiri. Misalnya, apabila kita memiliki citra diri yang positif, kita akan cenderung tertarik pada pasangan yang menghargai atau memperkuat itu. Atau semisal kita sedag merasa ‘tidak cukup berharga, maka memungkinkan kita tertarik pada pasangan yang mendukung kita untuk ‘membuktikan diri’. Pada akhirnya hubungan menjadi ‘cermin’ dari bagaimana kita memandang diri sendiri.

4. Bayangan (Shadows)

Menurut Carl Jung, setiap orang memiliki bayangann (shadow), yaitu bagian diri kita yang kita sembunyikan karena tidak sesuai dengan citra ideal kita. Pasangan seringkali menjadi pihak yang men-trigger sisi tersebut muncul ke permukaan, untuk kita belajar mengenalinya. Contohnya, selama ini kita membanggakan diri sendiri karena kita mampu bersikap sabar dan tenang, akan tetapi pasangan sering membuat kita merasa marah hingga meledak-ledak. Dari contoh tersebut ada kemungkinan bahwa terdapat kemarahan dalam diri kita yang selama ini tersembunyi (ditekan). Bayangan seperti ini bisa membuat kita mampu mengenali diri kita sendiri dengan lebih baik.

5. Resonasi Energi dan Pola Hubungan (Emotional Resonance)

Kita memiliki frekuensi emosional tertentu dengan pasangan yang bertujuan untuk saling ‘memanggil’ . Contohnya, ketika kita punya luka atau ketakutan untuk ditinggalkan, seringkali hal tersebut menarik pasangan yang cenderung menjauh. Umumnya, orang yang biasa ‘menyelamatkan’ orang lain cenderung tertarik pada seseorang yang butuk untuk ‘diselamatkan’. Ini terjadi karena adanya resonansi satu sama lain yang terhubung, agar masing-masing pasangan dapat belajar untuk tumbuh dan menjadi lebih baik.

Apakah Mirror-Effect  = Memperburuk Hubungan?

SebagaImana mata pisau, baik atau buruknya sesuatu tergantung pada siapa yang memaknainya dan menggunakan nya. Mirror effect memang dapat membangkitkan luka lama. Namun, apabila kita dapat berpikir bijak, Mirror-Effect sejatinya turut membantu kita untuk berkembang menjadi lebih baik. Luka lama yang muncul dapat membuat kita pun juga pasangan menjadi lebih memahami satu sama lain. Bagaimana cara mengatasinya, bagaimana cara menghadapinya, bagaimana kita bisa menghadapi diri satu sama lain untuk kedepan nya, dan sebagainya. Sisi positif atau negatif yang kita miliki pun juga pasangan menjadi perlu untuk kita pahami dengan baik, dan terima dengan lapang, demi terciptanya hubungan pernikahan yang abadi hingga akhir hayat.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Rumah Tangga Online

Konseling Rumah Tangga Online : Manajemen Konflik

 

Konsultasi Rumah Tangga Online

Konsultasi Rumah Tangga Online : Manajemen Konflik | Dalam menjalani hubungan pernikahan, bukan tidak mungkin pasangan tidak menghadapi konflik. Konflik merupakan sebuah keharusan, karena dengan konflik pasangan dapat tumbuh menjadi lebih baik. Akan tetapi, hal itu juga kembali pada bagaimana pasangan me-manage konflik yang ada. Apabila pasangan dapat mengelola konflik yang mereka miliki dengan tepat, maka konflik tersebut dapat menjadi sarana untuk bertumbuh agar pasangan dapat menjadi versi yang lebih baik. Sebaliknya, jika pasangan tidak bisa mengelola konfliknya dengan tepat, konflik tersebut pada akhirnya hanya akan memperburuk situasi rumah tangga mereka dan tidak menutup kemungkinan rumah tangga yang dibangun akan berada di ambang kehancuran. Artikel kali ini akan membahas tentang manajemen konflik pernikahan yang di canangkan oleh Gottman, yang tentunya bisa menjadi tips bagi para pasangan untuk mengelola hubungan pernikahannya menjadi lebih baik. Simak hingga selesai ya artikelnya!

Tentang Manajemen Konflik

Dr. John Gottman dalam penelitiannya menunjukkan bahwa yang membedakan pasangan bahagia atau tidak adalah bukan ada atau tidaknya konflik, tetapi dari cara mereka mengelola konflik. Konsep yang ditawarkan Gottman adalah tidak sekedar adanya solusi, karena itu hanya bisa menyelesaikan sebagian masalah. Yang menjadi fokus adalah bagaimana pasangan berinteraksi saat konflik, serta membangun hubungan fondasi yang kuat agar konflik tidak berujung merusak hubungan.

Cara Mengelola Konflik Menurut Gottman

Ciptakan Fondasi Hubungan Yang Kokoh (The Sound Relationship House)

Gottman berpandangan bahwa konflik yang efektif hanya mungkin terjadi apabila hubungan dibangun di atas fondasi yang kokoh. Jika fondasi ini lemah, konflik sekecil apapun bisa sangat mengancam.

Tingkatan yang mencegah konflik menjadi mengancam/merusak :

  • Love Maps (Peta Cinta). Konsepnya mengetahui dunia batin pasangan (harapan, mimpi, kekhawatiran, dan sejarahnya). Dengan pasangan mengetahui Love Maps pasangannya, maka mereka akan tahu alasan mengapa pasangannya memberikan reaksi tertentu. Jadi kita tidak menyerang karakter pasangan kita, tetapi fokus pada inti permasalahannya.
  • Turning Towards (Berbalik Mendekat). Artinya adalah merespon ‘tawaran” kecil (stimulus atau ajakan kecil) pasangan untuk terhubung. Misalnya, pasangan menunjukkan bunga yang indah ketika sedang melangkah bersama menikmati pemandangan, kemudian kita memberikan respon. Ini bertujuan untuk membangun Bank Emosi Positif. Ketika ada konflik, saldo positif inilah yang bisa menyelamatkan interaksi dari kepahitan.
  • Positive Perspective (Perspektif Positif). Yaitu memandang niat pasangan secara positif. Dengan kita bisa memandang niat pasangan secara positif, konflik yang muncul tidak semerta-merta memburuk, dan kita juga tidak dengan mudah menghina dan memberikan kritik pedas kepada pasangan walaupun saat itu tindakan pasangan terkesan menyakitkan.

Semakin kuat fondasi yang tercipta, maka konflik yang terjadi akan menjadi konflik yang efektif dan solutif.

Hindari Empat Pola Penghancur (The Four Horsemen)

Gottman menjelaskan bahwasannya terdapat empat jenis pola komunikasi yang bisa memperburuk konflik yang ada, sekaligus menjadi prediktor utama kegagalan hubungan (perpisahan atau perceraian). Empat pola tersebut antara lain :

  1. Criticism (Kritik). Kritik yang diberikan bertujuan menyerang identitas, karakter atau kepribadian pasangan, alih-alih mengeluhkan perilaku pasangan secara spesifik. Seperti mengatakan “Kamu egois! Kamu tidak pernah mau mengerti perasaanku!“. Ubahlah dengan cara yang lebih lembut (Gentle Start-Up) dengan lebih fokus pada perilaku pasangan secara spesifik, dan ungkapkan maksud dan keinginan kita kepada pasangan secara positif, seperti “Saya merasa kesepian ketika kamu pulang terlambat tanpa memberi kabar. Bisa kabarin gak kalo misalnya pulang terlambat?
  2. Defensiveness (Pembelaan Diri). Karena merasa diserang dengan pasangan, akhirnya serangan balasan diberikan dengan balik menyerang pasangan, membuat alasan seakan-akan menjadi korban. Kita bisa merubahnya dengan mengakui sebagian kesalahan kita terlebih dahulu dan menerimanya, walaupun mungkin kita tidak sepenuhnya salah.
  3. Contempt (Penghinaan). Artinya adalah memperlakukan pasangan secara jijik. Menurut Gottman ini adalah yang paling berbahaya dan merupakan indikator perceraian tertinggi karena kurangnya menunjukkan rasa hormat kepada pasangan. Seperti sarkasme, menunjukkan bahasa tubuh yang tidak terkesan baik seperti memutar kedua bola mata, mengejek, dan bahasa tubuh yang superior. Cobalah untuk menerapkan budaya menghargai, dengan mengucapkan terima kasih, kekaguman, dan hormat secara teratur dalam menjalani kehidupan sehar-hari.
  4. Stonewalling (Menghindar). Definisinya adalah menarik diri secara emosional dari fisik dan percakapan. Misalnya, diam, mengabaikan pasangan, bahkan hingga keluar dari ruangan ketika pembicaraan sedang berlangsung. Ini bisa terjadi karena salah satunya merasa pikiran penuh (floaded) . Opsinya bisa dengan Self-soothing atau mengambil jeda terlebih dahulu dengan kesepakatan bersama untuk menenangkan sistem saraf. Gunakan jeda tersebut untuk sesuatu yang menenangkan, bukan untuk memikirkan argumen. Janji bersama juga bisa disepakati agar ketika waktunya sudah tiba, pasangan fokus untuk berdiskusi.

Selesaikan Masalah Yang Bisa Diselesaikan (Solvable Problems)

Gottman mengungkap bahwa jenis masalah terbagi menjadi dua, yaitu Masalah Abadi (Perpetual Problems) dan Masalah Yang Bisa Diselesaikan (Solvable Problems). 

  • Perpetual Problems (Masalah Abadi)
    Sifatnya merupakan masalah yang tidak akan pernah hilang atau terpecahkan sepenuhnya karena bersumber pada kepribadian, nilai, kebutuhan, atau gaya hidup mendasar. Konflik ini berguna untuk mengelola dinamika atau masalah tersebut dengan humor, kasih sayang, dan mencegahnya menjadi konflik yang macet (gridlocked). Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengakui perbedaan karakter antara karakter kita dengan pasangan, tidak memaksa pasangan berubah total, dan kita dan pasangan bisa sama-sama menjadi pengingat satu sama lain. Contohnya, istri memiliki kebiasaan rapi dan suami memiliki kebiasaan cuek. Kita bisa saling mengingatkan dengan lembut untuk rapi, dan juga tidak menjadi pasangan yang terlalu cuek. Humor dan empati apabila kita terapkan pada pasangan juga akan mampu memberikan dampak untuk memperpanjang umur pernikahan.
  • Solvable Problems (Masalah Yang Bisa Diselesaikan)
    Masalah atau konflik yang ada merupakan konflik yang bisa selesai dengan kompromi dan negosiasi. Misalnya dalam membagikan tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah, baik suami dan istri sama sama negosiasi terhadap pekerjaan yang bisa dilakukan. Suami bertugas mencuci piring, istri bertugas menyapu dan mengepel rumah. Pada akhirnya masalah bisa diselesaikan dengan kompromi sama sama.

Konsultasi Pasangan Dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pasangan Online

Konseling Pasangan Online : Ladder Of Love

Konseling Pasangan Online

Konseling Pasangan Online : Ladder Of Love| Seorang filsuf Yunani, Plato, rupanya telah merumuskan sebuah konsep bernama “Ladder Of Love” yang menjelaskan tentang tahap atau jenjang perkembangan cinta. Meskipun konsep ini bersifat klasik, masih memiliki relevansi dan bisa diterapkan di masa kini lho, terutama dalam hubungan pernikahan. Lantas apa manfaatnya memahami Ladder Of Love ini? Pada artikel ini kita akan membahasnya secara tuntas. Simak artikel nya sampai selesai ya!

Tentang Ladder Of Love

Ladder of Love adalah tahapan atau jenjang perkembangan cinta manusia, dari cinta yang bersifat fisik menuju cinta yang bersifat intelektual dan spiritual. Konsep ini menggambarkan bagaimana cinta berkembang. Biasanya, cinta mulai tumbuh dari ketertarikan fisik seperti penampilan, suara, atau sikap yang memikat. Akan tetapi, Plato menjelaskan bahwa keindahan fisik merupakan titik permulaan. Dari cinta ketertarikan fisik, bisa berkembang menjadi cinta pada semua tubuh, cinta jiwa, cinta kebijaksanaan, hingga pada tahap cinta ketuhanan. Runtutan Ladder Of Love/Tangga Cinta berdasarkan penjelasan Plato yakni sebagai berikut.

Cinta Fisik/Tubuh

Pada umumnya, rasa cinta seseorang muncul dimulai dari ketertarikan mereka pada fisik seseorang. Misalnya dari postur tubuh, bentuk wajah, penampilan, gaya atau pesona tertentu. Cinta ini memunculkan ketertarikan hasrat dan romantika awal pada pasangan. Ini merupakan titik mula agar cinta sejati bisa tumbuh. Dalam pernikahan, apabila pasangan hanya menggunakan dasar cinta fisik/tubuh saja terhadap pasangannya, maka bukan tidak mungkin hubungan pernikahan itu akan mudah collapse atau banyak muncul konflik yang terjadi. Sehingga sebenarnya cinta bisa berkembang lebih jauh dan bermakna daripada sekedar cinta fisik/tubuh.

Cinta Semua Tubuh

Setelah fase cinta fisik/tubuh, fase berikutnya adalah cinta semua tubuh. Pada fase ini pasangan mencintai seluruhnya, berbeda dengan fase sebelumnya yang hanya mencintai bagian fisik/tubuh tertentu saja yang dianggap indah. Pada titik ini, pasangan menerima seluruh kelebihan dan kekurangan pasangannya secara fisik. Meskipun terdapat cacat, kecacatan tersebut tetap indah bagi pasangannya.

Cinta Jiwa

Fase selanjutnya adalah Cinta Jiwa, dimana pasangan mampu menghargai perbedaan, kepribadian, selera hobi, dan lainnya pada pasangannya. Cinta nya seseorang kepada pasangan bukan lagi karena ‘aku menyukaimu karena kamu menarik’, tetapi menjadi ‘aku mencintaimu karena siapa dirimu.’ . Fase ini merupakan titik yang penting karena cinta pada pasangan itu berdasarkan pada komitmen, persahabatan, dan saling menghargai satu sama lain.

Cinta Kebijaksanaan

Setelah Cinta Jiwa, fase berikutnya kemudian berkembang menjadi Cinta Kebijaksanaan, dimana cinta terhadap pasangan itu untuk bertumbuh bersama, mencari hikmah dalam perbedaan, memahami cara berpikir masing-masing dengan baik. Mereka mampu melihat konflik yang ada sebagai upaya agar lebih cocok satu sama lain. Mereka juga rela untuk saling berkorban dan saling menyesuaikan satu sama lain. Titik ini juga menjadi titik yang penting dalam pernikahan, karena pasangan yang mampu mendukung satu sama lain, sama-sama mau untuk tumbuh bersama, akan menunjang hubungan pernikahan yang dijalani menjadi lebih sehat.

Cinta Ketuhanan

Tangga yang terakhir adalah Cinta Ketuhanan, dimana cinta dalam pernikahan itu menjadi sarana untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Baik suami maupun istri melakukan kebaikan dengan ikhlas kepada pasangannya, bukan karena semata-mata rasa memiliki. Cinta nya menjadi bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan keburukan yang ada pasangan menjadi wadah untuk perbaiki diri menjadi lebih dewasa, serta wadah untuk mendatangkan pahala. Pada fase ini, cinta bukan lagi antara dua individu, tetapi tentang pembangunan makna hidup bersama, mencintai dengan kebajikan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ladder of Love Dalam Pernikahan

Pembahasan tentang Ladder Of Love memberikan pemahaman bahwa cinta itu bisa tumbuh dan berkembang. Konsep ini penting untuk diterapkan pasangan demi membangun hubungan pernikahan yang harmonis dengan landasan cinta yang kuat dan kokoh. Hanya menggunakan dasar fisik/tubuh seseorang dalam mencintai itu tidak bisa membuat sebuah hubungan pernikahan bertahan lama. Pasangan kita bisa jadi tidak lagi se tampan atau se cantik awal kali pertama bertemu. Pasangan kita bisa jadi tidak lagi memiliki pesona yang kita sukai ketika awal kali bertemu. Maka dari itu, menaiki tangga cinta kita kepada pasangan sampai kepada Cinta Ketuhanan bisa menjadi cara yang kita terapkan, demi memperkokoh janji suci yang telah diucap bersama-sama selamanya.

Konseling Pasangan Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman masa kini telah banyak yang menyediakan layanan konseling pernikahan untuk memediasi para pasangan sehingga hubungan pernikahan dapat kembali harmonis. Salah satunya ada di layanan Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

 

Konseling Pasangan

Konseling Pasangan : Forgiveness Dalam Pernikahan

Konseling Pasangan

Konseling Pasangan : Forgiveness Dalam Pernikahan | Dalam menjalani pernikahan, konflik merupakan hal yang tidak mungkin untuk dihindari oleh pasangan. Setiap individu memiliki latar belakang,nilai-nilai, keyakinan, dan idealisme yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, merupakan hal yang wajar jika pasangan mengalami konflik. Tetapi, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana pasangan menghadapi konflik yang ada. Cara pasangan menghadapi dan menyelesaikan konflik pernikahan dapat menentukan seberapa kuat tali hubungan yang mereka bangun bersama. Dalam psikologi positif, para ahli menjelaskan bahwa forgiveness memiliki peran penting dalam pernikahan, namun sering kali orang salah memahaminya. Maka, pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang definisi dari forgiveness itu sendiri, dan bagaimana dampaknya dalam sebuah hubungan pernikahan.

Arti Forgiveness 

Dalam psikologi positif, definisi forgiveness  tidak sekedar memaafkan berdasarkan tindakan moral atau keagaaman, tetapi merupakan kekuatan psikologis (character strength) yang berperan penting dalam membangun kesejahteraan emosional (well-being) dan hubungan yang sehat. Martin E.P. Seligman (2002 yang merupakan pencipta konsep psikologi positif menjelaskan bahwa forgiveness merupakan kemampuan untuk melepaskan perasaan marah dan dendam terhadap orang yang telah berbuat salah, kemudian menggantinya dengan emosi positif seperti pengertian, empati, dan kasih sayang. Dr. Everett L Worthington Jr. dalam penelitiannya juga menjelasakan bahwa forgiveness  adalah proses internal untuk mengurangi kebencian dan amarah, serta mengembangkan empati terhadap orang yang menyakiti kita.

Jika kita mengkorelasikannya dengan hubungan pernikahan, maka forgiveness  ini berarti kemampuan memaafkan pasangan atas kesalahan atau konflik yang terjadi, untuk menjaga keharmonisan hubungan bersama. Untuk lebih rinci, forgiveness disini merupakan kemampuan seseorang untuk mengolah luka, memahami kesalahan pasangannya dengan empati, dan memilih untuk melepaskan emosi negatif demi menjaga keberlangsungan hubungan yang sehat dan penuh kasih. Ini merupakan bentuk tindakan aktif untuk kembali membangun hubungan menjadi lebih baik.

Mengapa Penting Untuk Memaafkan Pasangan?

Sulit memaafkan pasangan adalah hal yang wajar. Secara emosional, seseorang cenderung menarik diri untuk melindungi dirinya setelah disakiti. Bahkan, ada pula orang yang memilih membalas perlakuan pasangannya dengan tindakan serupa. Forgiveness  juga tidak bisa terjadi begitu saja, karena memerlukan kesadaran diri (Self awareness) yang baik agar seseorang dapat melihat kesalahan pasangannya dari sudut pandang yang luas. Akan tetapi, memaafkan pasangan itu merupakan hal yang penting untuk dilakukan, karena forgiveness memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan emosional, kedekatan, dan ketahanan hubungan jangka panjang.

Memaafkan adalah dasar keberlanjutan hubungan

Merupakan hal yang tidak mungkin apabila sebuah pernikahan itu berisi kesempurnaan. Pasti ada konflik yang terjadi, dan itu lumrah. Adakalanya setiap pasangan melukai, entah melalui ucapan, tindakan, yang itu disengaja ataupun tidak disengaja. Jika salah satu pihak memilih untuk memaafkan, maka ia memberikan ruang untuk hubungannya terus tumbuh, bukan berhenti pada rasa sakit.

Memaafkan menyehatkan pikiran dan emosi

Memaafkan merupakan salah satu kekuatan karakter (character strenght) yang mampu membantu seorang individu mencapai emotional well-being, berdasarkan dengan persepktif psikologi positif. Apabila kita memaafkan pasangan, emosi negatif yang semula muncul seperti marah, kesal, kecewa, perlahan berkurang dan berganti menjadi perasaan damai dan tenang. Dengan memaafkan, kita tidak perlu memendam rasa sakit hati yang terlalu lama kepada pasangan. Rasa sakit hati yang dipendam terus menerus hanya akan menjadi penyakit hati.

Memaafkan membuka jalan untuk empati

Memaafkan juga dapat membuka jalan untuk seseorang agar dapat melihat pasangannya secara lebih manusiawi. Mereka dapat memahami dengan lebih baik ketidaksempurnaan pasangannya secara jelas. Mereka paham bahwa bisa saja pasangan mereka. Psikolog Robert Enright juga mengatakan bahwa memaafkan merupakan “hadiah kasih sayang” yang memperkuat hubungan interpersonal. Kalau dikontekskan ke dalam hubungan pernikahan, maknanya berarti meningkatkan bonding dengan pasangan serta rasa saling percaya satu sama lain.

Apakah Memaafkan = Membiarkan Kesalahan Pasangan Berulang?

Sama sekali tidak. Memaafkan lebih fokus kepada melepaskan emosi negatif, bukan berarti pasrah dan membenarkan perilaku pasangan yang salah. Emosi negatif yang dilepaskan akan mampu membuat seseorang berpikir jernih. Apabila pasangan mampu berpikir jernih ketika menghadapi sebuah konflik, mereka bisa merumuskan solusi yang solutif dan fokus pada pemecahan masalahnya. Bukan mendramatisir masalah tersebut. Maka dari itu, memaafkan bukanlah sikap yang melemahkan, tetapi justru menguatkan hati dan pikiran kita.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor berpengalaman dapat membantumu dan pasangan untuk memahami secara mendalam seputar hubungan pernikahan dan berbagai tips yang bisa diterapkan untuk meningkatkan keharmonisan pernikahan. Zaman saat ini telah banyak yang menyediakan layanan konsultasi pernikahan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pasangan

Konsultasi Pasangan : Attachment Theory

Konsultasi Pasangan

Konsultasi Pasangan : Attachment Theory | Dalam setiap hubungan pernikahan, merupakan hal yang normal apabila pasangan harus menghadapi konflik. Namun, bisa jadi konflik yang terjadi memiliki penyebab yang lebih mendasar dan filosofis. Seorang psikolog bernama John Bowlby mengembangkan sebuah konsep psikolog bernama Attachment Theory (Teori Ketertarikan), yang membahas tentang cara kita berhubungan atan menjalin relasi dengan seseorang di masa dewasa, termasuk dalam pernikahan. Lantas bagaimana hubungan konsep teori ketertarikan ini dengan seseorang yang sudah menjalani hubungan pernikahan? Pada artikel kali ini akan membahas tentang Teori Ketertarikan tersebut beserta korelasinya dengan hubungan pernikahan. Simak hingga tuntas ya!

Tentang Teori Ketertarikan

John Bowlby (1969) menjelaskan bahwa Teori Keterikatan adalah konsep yang membahas bagaimana individu membentuk ikatan emosional yang erat dengan pengasuh utama di masa kecil, dan bagaimana ikatan ini menjadi dasar bagi hubungan di kemudian hari dalam kehidupan mereka. Terdapat empat gaya ketertarikan yang umum ditemukan pada orang dewasa, yaitu :

  • Gaya Keterikatan Aman (Secure Attachment). Gaya ini merupakan gaya yang paling sehat. Individu yang memiliki gaya ketertarikan ini tumbuh dengan pola asuh yang responsif dan konsisten. Kalau kita korelasikan dengan hubungan pernikahan, mereka cenderung percaya pada pasangan, mampu berkomunikasi secara terbuka, serta tidak takut menghadapi konflk.
  • Gaya Keterikatan Cemas (Anxious-Preoccupied Attachment). Gaya ini datang dan berkembang dari pola asuh yang tidak konsisten. Terkadang kasih sayang diberikan, kadang tidak. Akibatnya, individu ini sering merasa cemas dan tidak aman dalam hubungan. Apabila dalam hubungan pernikahan, mereka mungkin menunjukkan perilaku “clingy” atau sangat bergantung dengan pasangan. Mereka kerap kali juga sering mencurigai motif pasangan dan merasa cemburu, yang akhirnya bisa memicu konflik secara terus menerus.
  • Gaya Keterikatan Menghindar (Dismissive-Avoidant Attachment). Gaya ketertarikan ini terbentuk dari pola asuh yang dingin dan tidak responsif. Seseorang yang memiliki gaya ini belajar untuk menekan kebutuhan emosional mereka dan menjadi sangat mandiri, bahkan cenderung menghindari keintiman. Kalau dalam pernikahan, biasanya mereka cenderung kesulitan membuka diri dan berbagi perasaan. Bisa jadi juga merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang terlalu berlebihan dan cenderung menarik diri saat ada masalah.
  • Gaya Ketertarikan Disorganisasi (Fearful-Avoidant Attachment). Individu dengan gaya ini biasanya seringkali memiliki perilaku yang tidak terduga. Mulai dari mendekat kemudian tiba-tiba menjauh. Biasanya mereka juga sulit untuk percaya kepada pasangan, sehingga dinamika hubungan yang tercipta dengan pasangan menjadi kacau dan membingungkan. Gaya ketertarikan ini tercipta dari pola asuh yang tidak menentu dan menakutkan, misalnya pelecehan, penelantaran. Mereka sebetulnya sangat menginginkan keintiman, tetapi juga takut untuk itu.

Manfaat Memahami Gaya Ketertarikan

Memahami gaya ketertarikan ini merupakan hal yang penting untuk membentuk hubungan pernikahan menjadi lebih harmonis. Bayangkan semisalnya saja jika dua individu memiliki gaya ketertarikan yang berbeda. Satu memiliki gaya ketertarikan cemas (Anxious), dan pasangannya memiliki gaya ketertarikan menghindar (Avoidant). Di satu sisi mereka membutuhkan kepastian dan kejelasan dari pasangan nya jika terdapat sebuah konflik, tapi si Avoidant menghindar, menarik diri dan mencari ruang untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya konflik yang terjadi semakin parah, si cemas merasa tidak dicintai, sedangkan si Avoidant merasa tercekik karena terus dikejar-kejar.

Apabila masing-masing pasangan memahami tipe-tipe gaya ketertarikan tersebut, meraka akan mampu membuat pencegahan akan konflik yang terjadi sekaligus juga memahami bagaimana konflik yang ada diantara keduanya bisa diselesaikan. Hubungan pernikahan tidak selalu berbicara tentang dekat secara emosional, tetapi bagaimana masing-masingnya mampu memahami pasangan dan dirinya sendiri dengan baik, sehingga mampu membuat keputusan yang bijak dalam menghadapi masalah-masalah tersebut secara bersama-sama. Dengan begitu, setiap konflik yang ada dapat dilalui secara sehat dan dengan jalan solusi yang benar dan tepat.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor berpengalaman dapat membantumu dan pasangan untuk memahami secara mendalam, perihal gaya ketertarikan itu sendiri dan contoh-contoh riil nya dalam kehidupan pernikahan. Zaman saat ini telah banyak yang menyediakan layanan konsultasi pernikahan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pernikahan Online

Konseling Pernikahan Online : Mindfulness Marriage

Konsultasi Pernikahan Online

Konseling Pernikahan Online : Mindfull Marriage | Pasangan yang telah menikah seringkali terjebak dalam rutinitas rumah tangga. Fokus pada pekerjaan atau karir, mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga, yang akhirnya membuat kedekatan dan keintiman emosional antara keduanya menjadi berkurang. Kurangnya kedekatan emosional antara kedua pihak akan rentan memicu konflik. Maka dari itu, menerapkan Mindfull Marriage akan memberikan manfaat yang besar untuk keharmonisan sebuah hubungan pernikahan. Banyak pakar pun telah mengulas dan melakukan penelitian tentang ini. Yuk simak pembahasan artikel ini hingga tuntas!

Tentang Mindful Marriage 

Germer, Siegel, dan Fulton (2005) menjelaskan bahwa mindfullness merupakan bentuk perhatian penuh pada kondisi saat ini, serta juga dengan penerimaan secara sadar. Jika dikorelasikan ke dalam hubungan pernikahan, maka Mindfull Marriage adalah menjalani hubungan pernikahan dengan perhatian penuh, dan penerimaan secara sadar terhadap pasangan di kondisi saat ini. Gottman menjelaskan bahwa mindfulness dalam hubungan pernikahan itu membangun kemampuan untuk :

  • Mindfulness of Feelings, yaitu kemampuan untuk sadar terhadap perasaan dan sensasi pribadi termasuk perasaan yang tidak nyaman. Pasangan perlu menyadari perasaan tersebut secara objektif tanpa adanya reaksi negatif.
  • Mindfulness of mind /conciusness, yaitu kemampuan memperhatikan pikiran dan pola mental sendiri tanpa menghakimi.

Sehingga, Gottman melihat bahwa mindfullness membantu pasangan ‘berada’, atau hadir secara emosional dan psikologis, agar hubungan tetap kuat walaupun menghadapi konflik atau tekanan.

Konsep ini sangat bisa untuk diterapkan pasangan dalam menjalani rumah tangga nya, terlebih untuk pasutri yang sudah menikah  cukup lama. Karena dengan pasangan yang ‘sadar’ secara penuh dalam hubungan pernikahannya akan mampu menghadapi konflik atau masalah pernikahan yang ada secara bijak dan kembali membuat rumah tangga menjadi harmonis. Dalam buku Mindfullness for Everyday Living, dijelaskan bahwasannya pernikahan yang telah lama dijalani cenderung mengalami drift atau jarak emosional ketika pasangan membiarkan rutinitas, kesibukan, dan stres mengambil alih. Mindfulness mengarahkan pada upaya :

  • Menghargai aspek unik pasangan. Yaitu menemukan hal baru atau keunikan pasangan agar kita apresiasi.
  • Mengamati pengalaman pasangan, menanyakan pengalaman pasangan agar timbul kedekatan emosional diantara keduanya.
  • Memelihara ritual kebersamaan atau kegiatan yang rutin dilakukan bersama demi meningkatkan rasa emosional diantara keduanya dan tidak terjadi pengabaian atau pemisahan hubungan.

Manfaat Mindful MCaraarriage

Terdapat beberapa manfaat positif yang bisa didapatkan pasangan ketika menerapkan mindfulness dalam pernikahan dan rumah tangganya, antara lain :

1. Komunikasi menjadi lebih efektif

Pasangan yang menerapkan mindfulness akan dapat membuat komunikasi dengan pasangan nya bisa menjadi lebih efektif. Pasangan akan berupaya untuk menjadi pendengar yang baik, dan tidak menanggapi pasangan yang bercerita secara terburu-buru. Percakapan dengan pasangan pun juga lebih sehat dan penuh pengertian.

2. Pengelolaan emosi menjadi lebih baik

Kesadaran penuh membantu seseorang untuk mengendalikan emosinya menjadi lebih baik, sehingga tidak mudah untuk memberikan reaksi secara impulsif. Ini akan sangat membantu untuk menghindari pertikaian yang tidak perlu, dan fokus pada sumber masalah serta solusi yang bisa diterapkan.

3. Lebih dekat dengan pasangan

Pasangan yang hadir sepenuhnya akan membuat ikatan emosional antara keduanya menjadi lebih kuat. Kehadiran yang dirasakan tidak hanya hadir secara fisik saja, tetapi juga secara emosional. Dengan Mindfulness, pasangan bisa lebih memberikan perhatian secara utuh, yang akhirnya turut juga meningkatkan emosional dan keintiman yang semakin kuat.

4. Kepuasan Pernikahan

Berdasarkan penelitian Delvia eka Ariana dan Ratih Eka Pratiwi, terdapat penemuan bahwa adanya korelasi positif yang signikan antara tingkat mindfulness individu dengan kepuasan pernikahan mereka. Semakin tinggi mindfulness, semakin tinggi kepuasan pernikahannya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah mindfulness, semakin rendah juga kepuasan pernikahan mereka. Hal ini juga diperjelas dalam penelitian terdahulu oleh Burpee dan Langer (2005), bahwa mindfulness menjadi salah satu faktor yang berperan secara langsung dalam meningkatkan kepuasan pernikahan. Keterikatan pasangan dalam melibatkan keterbukaan akan pengalaman baru dan sadar akan suatu konteks dapat menumbuhkan perasaan puas dan terpenuhinya kepuasan pernikahan.

Cara Menerapkan Mindfull Marriage

  • Latihan mendengarkan dengan empati. Ketika pasangan berbicara, arahkan fokus secara penuh untuk mendengarkan pasangan. Jangan diselingi dengan kegiatan lain, seperti bermain handphone atau dengan pikiran lain. Tunjukkan bahwa anda benar-benar mendengarkan nya dan peduli.
  • Sadari pola reaksi. Sadari bagaimana anda biasanya merespon sebuah konflik. Dengan begitu, kita mampu memilih cara yang lebih sehat dalam merespon nya.
  • Luangkan Waktu Berkualitas. Luangkan waktu khusus bersama pasangan tanpa diselingi dengan aktivitas lainnya, seperti menyelesaikan pekerjaan, dan sebagainya untuk menikmati kebersamaan.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Growth Mindset

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Growth Mindset | Hubungan pernikahan merupakan komitmen jangka panjang. Setiap saatnya tentu dipenuhi dengan proses penyesuaian dan pertumbuhan bersama menjadi versi yang lebih baik. Berbagai konflik dan rintangan yang ada setiap saatnya memberikan dua pilihan. Menyerah pada konflik yang ada, atau melihat itu sebagai peluang untuk bertumbuh atau berkembang. Disinilah growth mindset berperan. Lantas apa itu growth mindset? Apa peran nya dalam sebuah hubungan pernikahan? Dalam artikel ini akan dibahas secara tuntas te ntang growth mindset, dan pengaruhnya terhadap sebuah hubungan pernikahan. Simak hingga tuntas ya!

Fixed Mindset & Growth Mindset

Growth Mindset merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog dari Stanford University bernama Carol Dweck. Dalam bukunya yang berjudul “Mindset : The New Psychology of Success”, ia menjelaskan bahwa ada dua pola pikir dasar yang manusia miliki, yaitu fixed mindset  dan growth mindset. Pola pikir ini bukan hanya tentang seberapa pintar kita, tetapi juga tentang bagaiman kita yakin dengan kemampuan diri dalam menghadapi tantangan, kritik, ataupun kegagalan.

Fixed Mindset memiliki arti yaitu pola pikir yang mendefinisikan bahwa kemampuan, bakat, dan kecerdasan adalah kemampuan bawaan sejak lahir, dan tidak bisa diubah. Mereka yang memiliki pola pikir seperti ini cenderung takut menghadapi tantangan, menghindari atau bahkan menolak kritik, tidak menyukai tantangan baru, dan cenderung memilih untuk menyerah dalam menghadapi rintangan baru. Seringkali mereka juga sering membandingkan diri dengan orang lain secara negatif, karena merasa tidak memiliki bakat dan kemampuan yang hebat sejak lahir. Mereka juga melihat bahwa kesuksesan orang lain merupakan ancaman, tidak dilihat sebagai motivasi yang mendorong mereka untuk menjadi lebih baik lagi.

Sedangkan growth mindset  memiliki arti yaitu pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan, kualitas, dan hubungan dapat terus berkembang melalui usaha, pembelajaran, dan ketersediaan untuk berubah. Mereka yang memiliki growth mindset yakin bahwa bakat dan kemampuan dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras. Kegagalan bukanlah akhir, tetapi merupakan sebuah awal. Mereka yang memiliki growth mindset  cenderung menghadapi tantangan dengan berani, menerima kritik dengan hati yang lapang dan belajar darinya, dan pantang menyerah. Mereka seringkali juga terinspirasi dari kesuksesan orang lain, dan tidak merasa terancam akan hal tersebut.

Pentingnya Growth Mindset Dalam Pernikahan

Melihat definisi tersebut, kita memahami bahwa growth mindset  memberikan dampak positif apabila diterapkan oleh pasangan. Di masa kini banyak pasangan yang cenderung terjebak dalam fixed mindset. Kebanyakan memilih untuk pasrah dalam menghadapi konflik dengan pasangan, atau menilai bahwa pasangan tidak akan bisa berubah dan memutuskan untuk menerimanya saja, bahkan menyerah dan kemudian mengakhiri hubungan pernikahan nya. Konflik yang muncul tidak diselesaikan secara bijak, tapi malah menjadi saling menyalahkan satu sama lain.

Pasangan yang memiliki growth mindset  justru memiliki pandangan yang lebih baik dalam menghadapi konflik pernikahan. Pasangan yang memiliki growth mindset justru akan :

  • Melihat konflik sebagai peluang bertumbuh. Perselisihan yang ada dilihat sebagai kesempatan untuk saling belajar memahami lebih baik satu sama lain, dan memperbaiki diri agar menjadi versi yang lebih baik.
  • Lebih sabar dan terbuka. Perubahan pada pasangan membutuhkan waktu, tidak bisa secara instan.
  • Fokus pada solusi, bukan kesalahan. Tidak melihat pada siapa pihak yang salah, tetapi lebih kepada solusi untuk menyelesaikan masalah atau perselisihan yang ada.

Cara Menerapkan Growth Mindset Dalam Pernikahan

  1. Ubah cara pandang terhadap perbedaan. Perbedaan dengan pasangan bukanlah halangan untuk pasangan saling mencintai atau menyayangi, tetapi merupakan peluang untuk saling melengkapi satu sama lain.
  2. Hargai proses, tidak hanya hasil. Berikan apresiasi pada setiap upaya pasanganmu. Hargai usahanya saat ia mencoba menjadi pendengar yang lebih baik, memberimu waktu untuk hobi yang kamu suka, atau menunjukkan perhatian kecil seperti membuatkan makanan.
  3. Gunakan bahasa yang membangun. Gunakan kalimat yang mendorong untuk tumbuh bersama-sama. Tidak dengan “Kamu memang selalu begitu.”, tetapi “Aku hargai usahamu, terima kasih ya. Yuk kita coba cara lain bersama-sama.”
  4. Belajar dari kesalahan. Setiap kesalahan bisa menjadi pelajaran. Bukan sebuah bukti kegagalan. Jangan pernah takut untuk salah, karena dari kesalahan tersebut bisa menjadi pelajaran untuk bersama-sama menjadi versi diri yang lebih baik lagi.
  5. Rayakan pertumbuhan kecil. Apresiasi setiap pertumbuhan dan perubahan kecil yang ada pada pasangan. Sekecil apapun itu, akan memotivasi pasangan untuk terus bertumbuh.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pernikahan Indonesia

Konseling Pernikahan Indonesia : Memperbarui Janji Pernikahan

Konseling Pernikahan Indonesia

Konseling Pernikahan Indonesia : Memperbarui Janji Pernikahan | Ternyata, di beberapa negara memiliki tradisi untuk memperbarui janji pernikahan mereka dengan cara yang berbeda-beda. Ada pasangan yang membuat acara yang hanya diisi oleh anggota keluarga atau kerabat dekat, ada juga yang memilih berwisata dan menghabiskan waktu berdua saja. Beberapa selebriti dalam negeri juga telah melakukan ritual ini dengan cara dan keyakinan mereka sendiri. Konsep ini bisa bermanfaat untuk meningkatkan keharmonisan hubungan dengan pasangan kita, apabila melihat dari perspektif psikologi dan sosiolog, lho. Mengapa demikian? Simak pembahasan artikel berikut ini hingga tuntas ya!

Tentang Wedding Vows Renewal

Pasangan yang sudah menikah kembali mengucap janji pernikahan mereka, seolah memulai ulang perjalanan cinta mereka. Dari sudut pandang psikologi, para ahli menganggap perbaruan janji pernikahan sebagai intervensi terapeutik yang kuat dan simbolis untuk hubungan.

Perspektif Psikologi

Sebagian ahli memandang bahwa terdapat manfaat psikologis dari wedding vow renewal  ini, antara lain :

  • Penyegaran Komitmen. Perbaruan janji pernikahan bisa menjadi ‘tombol reset’ untuk pasangan yang telah membangun rumah tangga bersama dengan beragam tantangan dan rintangan, atau mungkin konflik. Hal ini sangat memungkinkan pasangan untuk secara sadar mengingat kembali alasan mereka memilih satu sama lain, serta kembali mempertegas komitmen tersebut di tengah kondisi kehidupan mereka saat ini.
  • Pengakuan dan penghargaan. Upacara atau perayaan ini merupakan wujud cara bagi pasangan untuk mengakui atau menghargai semua yang telah mereka lalui bersama. Ini bisa menjadi upaya untuk pasangan agar merasa dihargai atas upaya yang telah mereka berikan dalam hubungan.
  • Penguatan Identitas Pasangan. Identitas pasangan bisa memudar ketika masing-masingnya sibuk menjalani berbagai aktivitas dan rutinitas, seperti mengurus anak, tekanan pekerjaan dan karir, dan sebagainya. Maka dari itu, memperbarui janji pernikahan akan membantu pasangan kembali mengingatkan mereka sebagai sebuah tim dan menguatkan ikatan unik mereka.

Perspektif Sosiologi

Dalam perspektif sosiologi, para ahli melihat perbaruan janji pernikahan sebagai refleksi dari perubahan sosial yang lebih luas. Penilaian dari sebagaian sosiolog antara lain :

  • Pernikahan sebagai “Proyek” Yang Berkelanjutan. Pernikahan tidak lagi dilihat sebagai peristiwa satu kali statis, tetapi merupakan “proyek” yang membutuhkan investasi dan pemeliharaan terus-menerus. Perbaruan janji merupakan salah satu cara untuk mewujudkan investasi tersebut. Ini menunjukkan bahwa hubungan harus terus dikerjakan, bukan hanya dipertahankan.
  • Simbol Status dan Kesejahteraan. Orang-orang juga dapat melihat perbaruan janji pernikahan sebagai simbol status sosial. Pasangan yang sukses secara finansial menggunakan cara ini untuk menunjukkan pencapaian mereka dan merayakan hidup yang telah mereka bangun bersama di hadapan teman dan keluarga.

Dari penjelasan berikut dapat terpahami bahwa memperbarui janji pernikahan memiliki manfaat yang positif untuk kembali meningkatkan keharmonisan hubungan dengan pasangan. Ini bukan kembali mengulang pernikahan secara hukum, tetapi sebuah tindakan simbolis yang berharga untuk kesehatan dan kelanggengan hubungan. Cara-cara untuk memperbarui janji pernikahan tersebut bisa dengan berbagai macam. Pasangan bisa melakukan berbagai cara untuk memperbarui janji pernikahan, misalnya bertamasya bersama ke suatu tempat, membuat acara kecil bersama keluarga atau kerabat dekat, atau kembali menggelar resepsi pernikahan. Semua cara ini bisa menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Mau tau tips lainnya seputar pernikahan? Simak artikel kami lainnya ya. Jangan lupa untuk obrolin masalahmu ya, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan! Hubungi kami untuk booking jadwal konsultasimu segera ya!

 

Konseling Rumah Tangga

Konseling Rumah Tangga : LDR (Long Distance Relationship)

Konseling Rumah Tangga

Konseling Rumah Tangga : LDR | Meskipun sudah menikah, terkadang pasangan suami dan istri harus memenuhi tuntutan lainnya, sehingga keduanya terpaksa menjalani hubungan jarak jauh, atau seringkali orang-orang menyebutnya dengan Long Distance Relationship. Biasanya suami dan istri harus menjalani hubungan jarak jauh karena tuntutan pekerjaan. Lantas, apa yang dapat dilakukan keduanya untuk menjaga hubungan pernikahannya agar tetap baik? Simak penjelasannya di artikel ini sampai tuntas ya!

Hubungan Jarak Jauh

Hubungan jarak jauh sering kali menjadi tantangan berat bagi pasangan, terutama mereka yang sudah menikah. Keterpisahan ini bisa menimbulkan kesedihan, bahkan kekhawatiran bahwa pasangan sudah tidak lagi mencintai. Baik suami maupun istri membutuhkan dukungan kuat satu sama lain, terutama saat menghadapi beban pekerjaan dan rumah tangga.

Untuk menjaga keharmonisan, suami dan istri harus aktif berupaya mempertahankan ikatan mereka. Berikut adalah beberapa tips untuk menjaga hubungan pernikahan Anda tetap harmonis meskipun terpisah jarak.

Komunikasi Secara Rutin

Komunikasi merupakan kunci penting untuk pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh. Tanpa komunikasi yang terbuka, pasangan akan rentan miskomunikasi, emosi tidak lagi menguat satu sama lain, dan ikatan keduanya bisa menjadi renggang. Di zaman yang serba canggih ini, kita bisa berkomunikasi dengan mudah. Telfon pun tidak lagi sulit, bahkan saat ini bisa dengan video call. Pasangan bisa menyepakati jadwal bersama-sama untuk rutin berkomunikasi satu sama lain. Tidak perlu ragu untuk menceritakan keseharian yang dilalui, membicarakan hal-hal yang lucu, dan sebagainya.

Tingkatkan Spritualitas

Memiliki spiritualitas yang tinggi membuat pasangan memiliki paradigma yang kuat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Spritualitas membantu mereka melihat jarak bukan sekedar penderitaan, tetapi sebagai proses pengorbanan yang bermakna untuk tujuan yang lebih besar. Dalam sudut pandang psikologi agama, individu yang memiliki spritualitas yang tinggi juga cenderung lebih mampu mengelola stres dalam hubungan. Kesadaran akan kesetiaan sebagai tanggung jawab moral, bukan hanya janji kepada pasangan, juga tumbuh ketika seseorang memiliki spiritualitas yang tinggi.

Ketahanan/Regulasi Emosi

Menurut Dr. Sukriti Rex, pasangan perlu memiliki ketahanan emosional merupakan faktor penting untuk pasangan yang tengah menjalani hubungan pernikahan. Ketahanan emosional artinya adalah :

  • Kemampuan dalam mengatasi tekanan psikologis seperti rasa rindu, stres, karena berada jauh dari pasangan secara geografis,
  • Mampu mengendalikan atau menenangkan emosi yang intens tanpa marah, meledak-ledak, atau merasa terbebani.
  • Bangkit kembali setelah situasi emosional yang sulit, seperti salah paham atau konflik dimana pasangan tidak bisa menyelesaikannya secara langsung.

Pasangan yang mampu meregulasi emosinya dengan baik bisa menangkal emosi negatif, seperti overthinking berlebihan tentang ditinggalkan atau perselingkuhan. Selain itu, pasangan juga dapat lebih tenang, percaya diri, serta lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Tujuan dan Rencana Yang Jelas

Bangunlah timeline yang jelas agar hubungan ke depan nya memiliki arah yang jelas. Sampai kapan hubungan jarak jauh ini harus berjalan? Kalau seseorang harus terus menjalani kontrak kerja, lantas upaya apa yang bisa ia lakukan agar seluruh anggota keluarga bisa tinggal satu atap? Pasangan suami istri perlu menetapkan hal-hal seperti ini secara jelas dan konkret, agar tidak menimbulkan kebingungan.

Mau tau tips-tips lainnya menjalani hubungan pernikahan yang harmonis? Simak artikel kami selainnya ya! Yuk jangan ragu untuk Obrolin Masalahmu, karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan! Hubungi kami  untuk booking jadwal konsultasimu segera ya!