Konsultasi Pasangan Bekasi

Konsultasi Pasangan Bekasi : Cara Laki-laki Berkomunikasi

Konsultasi Pasangan Bekasi

Konsultasi Pasangan Bekasi : Cara Laki-laki Berkomunikasi Menurut John Gray | Dalam hubungan pernikahan, komunikasi seringkali menjadi penyebab hubungan pernikahan tersebut tidak lagi harmonis. Banyak konflik yang sebenernya terjadi itu bukan karena masalah yang besar, tetapi karena cara komunikasi antara laki-laki dan perempuan yang berbeda. John Gray dalam bukunya yang berjudul Men Are From Mars, Women Are From Venus memberikan panduan yang lengkap untuk memahami bagaimana laki-laki berkomunikasi, sehingga istri memiliki penyesuaian pendekatan yang jelas, menciptakan hubungan yang lebih harmonis, dan terhindar dari konflik-konflik yang tidak perlu. Pada artikel ini akan membahas secara tuntas tentang panduan lengkap tersebut yang bisa menjadi referensi dalam menjalani rumah tangga bersama.

Laki-laki Butuh Untuk Merasa Diandalkan

Menurut John Gray, laki-laki memiliki psikologi komunikasi yaitu mereka ingin terlihat mampu dan dapat diandalkan. Mereka akan sangat sensitif pada hal-hal yang membuat mereka merasa gagal, tidak berguna, atau tidak dihargai. Ketika perempuan menyampaikan kritik secara langsung seperti mempertanyakan kemampuan, laki-laki secara reflek akan merasa defensif.

Maka dari itu, cobalah lakukan beberapa cara berikut :

  • Hindari nada menyalahkan atau membandingkan. Misalnya, ‘Kamu bisa nggak sih ambil baju yang rapi?’ atau, ‘Kalo emang nggak tahu jalan, mending aku tanya temenku aja deh yang lebih tau.’. Hindari kalimat-kalimat seperti itu karena akan sangat menyentuh titik sensitif laki-laki.
  • Mulai dengan apresiasi kecil sebelum memberi masukan. Misalnya, suami sedang mencoba memasakkan makanan untuk kita, tetapi ternyata rasanya kurang sesuai. Kita sebagai istri wajib untuk menghargai terlebih dahulu apa yang dilakukan suami. Berikan pujian, sebelum kita memberikan masukan masukan lainnya untuk masakan suami. Contohnya, ‘Mas, makasih loh kamu udah masakin ini buat aku. Tapi ini bisa lebih enak kalo ditambahin dikit lagi aja garamnya. Selebihnya udah enak banget, Mas. Makasih ya!’
  • Gunakan kalimat yang membuat suami merasa dipercaya. Contoh, ‘Aku tahu kamu bisa, aku cuma mau bantu supaya lebih gampang’

Kalimat-kalimat seperti ini jauh lebih mendukung dan membantu.

Laki-laki Cenderung Masuk ke “Gua” Karena Stress

Maksudnya adalah ketika menghadapi tekanan, laki-laki butuh waktu menyendiri untuk menenangkan diri. Permasalahannya bisa muncul karena bisa jadi ketika laki-laki demikian, istri menduga :

  • Suami cuek.
  • Suami tidak peduli
  • Suami marah
  • Suami tidak ingin bicara

Padahal, gua merupakan ‘mekanisme’ untuk laki-laki meredakan stres. Karena itu, beberapa cara yang bisa istri lakukan antara lain :

  • Berikan ruang 10-30 menit (atau lebih) untuk menenangkan diri.
  • Jangan memaksa suami untuk berbicara ketika ia belum siap
  • Tenangkan suami dengan beberapa kalimat positif, misalnya ‘Kasitau aku kalo kamu udah tenang ya. Aku ada disini.”

Laki-laki Berkomunikasi Secara Langsung dan Fokus Masalah

Bagi laki-laki, inti komunikasi adalah menyelesaikan masalah. Biasanya istri seringkali menceritakan perasaannya, dan keinginan sebenarnya adalah hanya untuk didengarkan. Tetapi bagi laki-laki, itu bisa menjadi sebuah masalah yang harus mereka selesaikan. Maka dari itu, agar tidak ada miskomunikasi pihak istri bisa melakukan beberapa hal berikut :

  • Jelaskan tujuan komunikasi sebelum memulai cerita. Contoh, ‘Aku cuma pengen kamu dengerin ya, jangan cari solusinya dulu.’ atau ‘Kamu dengerin aku dulu ya sampai aku selesai sebelum masuk ke solusinya.’. Berikan juga sinyal yang jelas kapan membutuhkan solusi, atau empati.

Hal seperti ini juga membantu untuk menghilangkan ‘salah langkah’ yang bisa jadi dirasakan suami.

Laki-laki Tidak Menangkap “Kode” Emosional

Perempuan seringkali berkomunikasi secara tidak langsung, seperti lewat nada suara, ekspresi, atau kode halus. Laki-laki tidak memahami itu, karena mereka memiliki cara berpikir yang berbeda. Oleh karena itu, sampaikan secara langsung maksud atau kebutuhan yang ingin diutarakan. Tidak dengan kode. Misalnya, ‘Aku mau ditemani. Temani aku ya?’

Laki-laki Akan Berbicara Ketika Merasa Aman

Apabila suasana yang tercipta dipenuhi tekanan, suami tidak akan mau untuk membuka diri. Semakin istri menekan suaminya untuk berbicara, maka suami akan semakin masuk gua. Agar suami mau berbicara, penting bagi istri untuk menciptakan rasa aman kepada suami. Dengan tidak memberikan tekanan, menyambut dengan hati yang lapang, dan menunggu momen yang tepat. Gunakan kalimat undangan yang positif, misalnya ‘Kamu mau cerita sekarang atau nanti? Kapan pun aku siap dengerin kamu ya.’

Dengan panduan yang telah dijabarkan di atas, istri bisa :

  • menurunkan kesalahpahaman
  • menghindari pertengkaran kecil yang tidak perlu
  • dan menciptakan hubungan yang lebih hangat dan menghargai

Kita tidak bisa untuk menuntut seseorang agar sama persis dengan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memahami cara mereka berpikir, dan menyesuaikan pendekatan komunikasi

Konsultasi dengan Reda Konseling, Konselor Pernikahan dan Rumah Tangga Berpengalaman

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pernikahan

Konseling Pernikahan Indonesia : Menghadapi Krisis Eksistensial

Konseling Pernikahan

Konseling Pernikahan Indonesia : Menghadapi Krisis Eksistensial | Hubungan pernikahan seringkali diartikan sebagai fase atau tingkat hubungan yang akan berisi dengan penuh kebahagiaan. Akan tetapi, pada faktanya beberapa hal tidak juga berjalan mulus. Salah satu nya yang sering terjadi adalah ketika muncul pertanyaan kepada diri sendiri, tentang eksistensi diri ketika sudah menjadi suami atau istri. Pertanyaan ini muncul bukan karena kurangnya rasa cinta yang diberikan dari pasangan, tetapi karena perubahan hidup yang terjadi. Fenomena ini disebut krisis eksistensial, dan pada artikel ini kita akan membahas secara detil seputar krisis eksistensial tersebut dan bagaimana cara menghadapinya.

Tentang Krisis Eksistensial

Menurut Esther Parel yang merupakan pakar hubungan internasional, krisis eksistensial merupakan fase ketika seseorang mempertanyakan identitas, kebebasan, dan makna dirinya di dalam hubungan. Ketika muncul perasaan “Aku kehilangan sebagian diriku ketika menikah.”, ini biasanya merupakan momen krisis eksistensial itu dirasakan. Ini bukan terjadi karena kurangnya cinta, tetapi karena pernikahan yang kerap kali membuat seseorang merasa identitas pribadinya menyusut.

Menurut Gottman, krisis eksistensial muncul ketika pasangan memiliki ketidaksesuaian antara kebutuhan pribadi dan dinamika hubungan. Krisis muncul ketika seseorang merasa :

  • Tidak lagi memiliki arah
  • Kehilangan kontrol atas hidupnya
  • Kehilangan makna dalam rutinitas pernikahan

Dari penjelasan tentang krisis eksistensial di atas, dapat kita pahami bahwa krisis eksistensial memiliki arti yaitu hilangnya kebermaknaan diri, tujuan, atau makna hidup ketika menjalani peran sebagai suami/istri. Hal ini karena adanya perubahan peran, rutinitas, atau kebutuhan batin yang tidak terpenuhi. Ini bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk pencarian diri secara alami dalam hubungan jangka panjang.

Penyebab Umum Krisis Eksistensial

Perubahan Peran Yang Mendadak

Menjadi suami atau istri, berarti seseorang memiliki peran baru. Beberapa orang merasa kehilangan jati diri ketika peran yang baru dijalani ini begitu melekat. Contohnya,

  • ‘Aku hanya suami yang harus bekerja keras demi keluarga’, atau
  • ‘Aku harus selalu ada untuk pasangan, sedangkan diriku nomor dua’.

Peran yang terlalu melekat itu lah yang akhirnya membuat seseorang perlahan-perlahan merasa kehilangan identitas, dan identitas yang lama tidak lagi terpakai.

  • Yang dulu bisa bebas hangout dengan teman-teman, tetapi sekarang harus mempertimbangkan pasangan
  • Yang dulu mandiri dan bisa mengambil keputusan sendiri, sekarang harus mengambil keputusan bersama-sama
  • Yang dulu fokus karir, kini harus membagi fokus seperti menjalani pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dsb

Rutinitas Yang Menggerus Diri Sendiri

Ketika seseorang menjalani rutinitas pernikahan tanpa benar-benar hadir, ia hanya menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri. Rutinitas memang membantu menata hidup, tetapi jika dilakukan terus-menerus tanpa keseimbangan, rutinitas itu perlahan akan mengikis identitas dirinya hingga lenyap. Tugas pernikahan sendiri merupakan tugas yang konsumtif. Pekerjaan, keuangan, mengurus rumah tangga, mengurus pasangan, semua itu menyita tenaga fisik dan mental. Apabila seseorang tidak memiliki ruang untuk ‘kembali kepada dirinya sendiri’, identitas pribadinya perlahan akan terkikis.

Ekspektasi dari Pasangan dan Keluarga

Tekanan dari pasangan untuk menjadi pasangan yang ideal sesekali dapat membuat seseorang merasa tidak bebas menjadi diri sendiri. Karena ingin memberikan yang terbaik dan mewujudkan ekspektasi tersebut, Hal seperti ini akan membuat munculnya konflik batin ‘Apakah aku ini benar-benar aku, atau hanya memenuhi peran untuk dia?’. Tekanan yang muncul terus menerus perlahan lahan akan mampu memunculkan krisis eksistensial pada pasangan, baik pihak suami maupun pihak istri.

Kurangnya Ruang Untuk Berkembang Secara Pribadi

Ketika kebutuhan personal seperti hobi, karir, atau waktu sendiri terbengkalai, muncul rasa hampa yang abstrak. Setiap individu memiliki kebutuhan personal tersendiri untuk dipenuhi. Ketika seseorang menjalankan hobinya, ia dapat merasakan berbagai dampak positif: ia bisa mengosongkan kepala sejenak, memicu relaksasi, dan menurunkan kadar hormon kortisol atau hormon stres. Namun, ketika ia tidak mewujudkan kebutuhan ini, rasa hampa dapat muncul dan menjadi indikasi bahwa ia sedang mengalami krisis eksistensial.

Tips-tips Menghadapi Krisis Eksistensial

Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis eksistensial untuk pasangan antara lain sebagai berikut :

  • Pisahkan ‘Diri Individu’ dan ‘Diri Pasangan’. Pernikahan tidak boleh menghapus identitas pribadi. Buatlah ruang pribadi untuk diri sendiri, dengan mengejar passion yang kita inginkan. Ciptakan kehidupan sosial yang sehat, untuk memberi napas baru pada identitas sehingga tidak merasa tenggelam dalam peran rumah tangga.
  • Lihat Krisis Sebagai ‘Undangan’ untuk Berevolusi. Tanyakan pada diri sendiri ‘apa yang dulu hidup namun kini redup’, atau dengan ‘bagaimana aku ingin berkembang sebagai individu?’ sebagai pemantik untuk berkembang dan berevolusi.
  • Komunikasi Yang Vulnerable, Bukan Menyalahkan. Gunakan komunikasi yang lebih terbuka dan tidak menyudutkan pasangan. Seperti ‘Aku sedang mencari diriku kembali’, jangan dengan ‘Aku tidak bahagia denganmu’. Komunikasi yang lebih terbuka dan bijak akan menciptakan nuansa yang lebih mendukung dan suportif satu sama lain.
  • Bangun Fondness Admiration.  Seringkali pasangan hanya fokus pada kekurangan masing-masing. Gottman menyarankan agar para pasangan membangun penghargaan, kata-kata afirmasi, atau mengenang kenangan-kenangan indah dengan pasangan untuk memulihkan ikatan emosional bersama.
  • Melibatkan pihak ketiga/konselor pernikahan. Melibatkan konselor pernikahan akan membantu pasangan untuk memahami lebih dalam seputar krisis ekstensial dan cara cara untuk menghadapinya dengan lebih spesifik.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

Bimbingan Pranikah Online

Bimbingan Pranikah Online : Wedding Blues

Bimbingan Pranikah Online

Bimbingan Pranikah Online : Wedding Blues | Tidak jarang beberapa orang yang hendak menghadapi fase selanjutnya dalam hubungan, yaitu pernikahan, akan mengalami berbagai macam dinamika perasaan dalam dirinya. Sebagian orang melihat mereka sedang berbahagia, tetapi bisa jadi yang mereka rasakan sebenarnya berbagai macam. Mulai dari rasa takut, cemas, hingga sedih yang berlebihan, sampai pada terlintas dalam pikiran untuk membatalkan semuanya. Fenomena ini bisa disebut sebagai Wedding Blues. Pada artikel kali ini kita akan membahas lebih detil tentang Wedding Blues, penyebab munculnya, dan cara-cara yang bisa dilakukan calon pasangan untuk mengatasinya.

Tentang Wedding Blues

Menurut Lauren AueR, ia menjelaskan bahwa Post-Wedding Blues merupakan titik terendah emosional yang bisa dialami individu atau pasangan setelah mengalami kegembiraan dan antusiasme yang tinggi menjelang upacara pernikahan. Wedding Blues sendiri lebih berakar pada perubahan besar dalam  hidup dan hilangnya identitas lama. Beberapa tanda yang menunjukkan seseorang mengalami Wedding Blues antara lain :

  • Rasa ragu yang mendominasi. Mereka mendadak berpikir dan mempertanyakan keputusan menikah dengan pasangan, walaupun hubungan keduanya sebelumnya sudah berjalan dengan baik.
  • Perubahan Mood drastis. Seseorang bisa menjadi mudah marah, tersinggung, atau menangis tanpa alasan yang jelas.
  • Insomnia. Individu tersebut mengalami perubahan pola tidur yang drastis, karena overthinking akan masa depan yang dihadapi nantinya bersama dengan pasangan setelah menikah.
  • Kehilangan minat. Mereka menjadi merasa tidak bersemangat terhadap upaya upaya untuk mempersiapkan pernikahan, yang mana seharusnya mereka bersemangat untuk itu.

Penyebab Munculnya Wedding Blues 

1. Ketakutan terhadap Komitmen dan Perubahan identitas

Salah satu ketakutan terbesar seseorang pada fase transisi menuju pernikahan adalah rasa takut menjalani komitmen ke depannya, karena merasa hilangnya otonomi dan kebebasan mengambil keputusan sendiri yang bisa dilakukan ketika masih lajang. Perasaan tersebut kemudian juga mendorong ketakutan yang muncul akan perubahan identitas yang terjadi nantinya setelah menikah, karena masih meratapi identitas sebelumnya yang masih lajang dan cenderung bebas memilih sendiri dengan keputusan sendiri. Pernikahan pada akhirnya dimaknai sebagai ‘ikatan’ yang tertutup.

2. Tekanan Ekspektasi yang Tidak Realistis

Pernikahan adalah momen sakral satu kali seumur hidup. Tidak sedikit pasangan ingin mempersembahkan yang terbaik dalam merayakannya. Karena itu, banyak pasangan yang mencoba mewujudkan ekspektasi mereka yang terkadang sebetulnya tidak realistis. Ada beberapa faktor hal ini bisa terjadi. Bisa karena faktor keluarga yang memiliki harapan atau keinginan tertentu, terpengaruh budaya media sosial yang menciptakan standar yang tinggi, takut mengecewakan tamu undangan yang datang, dan lainnya.

3. Kelelahan Emosional dan Fisik

Biasanya ini bisa terjadi ketika calon pengantin merencanakan proses pernikahan yang memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika calon pasangan pengantin ini sama sama bekerja. Hal ini kemudian menjadi sebab keduanya burnout (kelelahan akut). Stres yang berkepanjangan ini membuat emosi menjadi tidak stabil. Stres akan persiapan pernikahan yang dijalani ini dapat ‘meledakkan’ konflik-konflik kecil yang sebelumnya diabaikan.

Tips Menghadapi Wedding Blues 

  1. Komunikasi terbuka dengan pasangan. Buatlah keputusan atau momen bersama untuk berbicara satu sama lain dengan terbuka. Gunakan kalimat yang fokus pada diri sendiri dibandingkan dengan menuduh.
  2. Ambil Jeda Total. Gunakan satu hari penuh dengan pasangan untuk tidak membahas persiapan pernikahan (seperti catering, dekorasi, fitting baju, dll). Gunakan untuk menghabiskan waktu berdua dengan kegiatan lain, seperti liburan, hiking, dan lain-lainnya.
  3. Batasi Informasi dan Saran. Saran-saran dari keluarga atau kerabat dekat boleh menjadi pertimbangan, akan tetapi calon pasangan tetap perlu untuk mem-filternya. Tetapkan batasan agar tidak terasa berat untuk menanggung semuanya.
  4. Melibatkan pihak ketiga/konselor berpengalaman. Melibatkan konselor pernikahan juga dapat menjadi opsi untuk calon pasangan dalam mempersiapkan pernikahan. Calon pasangan bisa memahami seputar pernikahan secara mendalam, bagaimana menghadapi dinamika masalah pernikahan yang muncul dengan cara-cara yang benar.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Rumah Tangga

Konseling Rumah Tangga : Defense Mechanism

Konseling Rumah Tangga

Konseling Rumah Tangga : Defense Mechanism | Terkadang kita mendapati sebuah momen, pasangan kita melarikan diri ketika kita mencoba untuk membahas sesuatu yang cukup sensitif bersama sama. Caranya macam-macam, seperti mengalihkan topik, menyerang balik, meremehkan masalah atau sesuatu yang sedang kita bahas bersama, dan sebagainya. Bisa jadi itu merupakan bentuk Defense Mechanism, dan apabila tidak diatasi akan berdampak buruk pada proses komunikasi dengan pasangan lho. Pada artikel kali ini kita akan membahas secara detil tentang Defense Mechanism, bentuk-bentuk dan contohnya, serta cara yang bisa dilakukan untuk menembusnya.

Tentang Defense Mechanism

Menurut Sigmund Freud, Defense Mechanism merupakan strategi tak sadar “ego” untuk melindungi diri dari kecemasan, konflik internal, dan perasaan tidak menyenangkan. Ia menjelaskan bahwa konflik sering muncul antara tiga struktur kepribadian :

  • Id (dorongan Impulsif)
  • Superego (moral, aturan)
  • Ego (penengah antara keduanya)

Ketika ego kewalahan untuk menghadapi stres atau konflik, defense mechanism secara aktif akan muncul. Contohnya, seorang individu memiliki keinginan kuat yang tidak terpenuhi (id), akan tetapi terdapat norma atau moral yang melarang hal tersebut (superego). Untuk mengurangi konflik tersebut, maka ego secara otomatis menciptakan mekanisme pertahanan (Defense Mechanism) untuk menyeimbangkan id dan superego.

Mekanisme Defense Mechanism Menurut Freud

  1. Repression (Penekanan). Contohnya, seseorang mengalami pelecehan, tetapi ia tidak dapat mengingat itu sama sekali. Hal ini karena ego mendorong pikiran, trauma, atau dorongan yang tidak dapat diterima ke dalam alam bawah sadar. Orang tersebut tidak sadar bahwa dia menekan memori atau perasaan tersebut.
  2. Denial (Penyangkalan/Penolakan). Contohnya, menyangkal pasangan yang berselingkuh, meskipun terdapat bukti yang jelas menunjukkan bahwa pasangannya berselingkuh.
  3. Projection (Proyeksi). Artinya adalah mengatribusikan perasaan atau dorongan yang tidak diterima kepada orang lain. Misalnya, ia tidak terima ketika ada yang menyebutnya cemburu, dan kemudian menuduh pasangannya yang cemburu.
  4. Displacement (Pengalihan). Yaitu melampiaskan emosi atau dorongan ke objek atau orang yang lebih aman. Misalnya, kita merasa kesal dengan atasan di kantor tetapi kita justru memarahi pasangan kita.
  5. Sublimation (Sublimasi). Yakni mengalihkan dorongan negatif menjadi aktivitas positif atau kreatif. Seperti, seseorang mengalihkan persepsi kegiatan agresi yang berat menjadi kegiatan olahraga diri yang bermanfaat untuk membangun tubuh yang sehat.
  6. Regression (Regresi). Dimana seseorang berperilaku seperti anak-anak ketika menghadapi stres. Contohnya, orang dewasa yang menangis ketika menghadapi sebuah masalah.
  7. Reaction Formation (Formasi Reaksi). Contohnya, seorang pria yang menyukai teman sekelasnya, tetapi justru ia berperilaku kasar pada teman nya tersebut.

Defense Mechanism seringkali terjadi dalam alam bawah sadar. Karena itu, seseorang seringkali tidak menyadari mengapa mereka mudah marah, mengapa mereka sulit untuk jujur dengan diri sendiri, mengapa mereka sulit mengekspresikan diri kepada pasangan, atau mengapa hubungan dengan pasangan justru menjadi tegang.

Alasan Defense Mechanism Muncul

1. Luka masa kecil yang belum sembuh.

Seseorang yang pada masa lalunya sering sekali terabaikan, tidak pernah mendapatkan apresiasi atau penghargaan, atau sering mendapat balasan respon dengan emosi yang melunjak seperti marah, akan cepat merasa terserang ketika menghadapi sebuah konflik.

2. Takut gagal sebagai pasangan.

Sebagian orang akan merasa gagal menjadi pasangan yang ideal, ketika menyadari adanya kekurangan yang dimiliki. Seakan merasa tidak bisa memberikan yang terbaik untuk pasangannya, walaupun bisa jadi sebenarnya mereka sudah sangat memberikan yang terbaik.

3. Takut ditolak atau kehilangan.

Mengakui kesalahan atau membuka perasaan rentan terasa seperti membuka pintu pada penolakan.

4. Tidak terbiasa mengekspresikan emosi.

Sebagian orang memiliki riwayat tumbuh pada keluarga yang tidak mengajarkan “bahasa emosi”, seperti menunjukkan ekspresi bahagia ketika merasa senang, mengutarakan kekecewaan akan sesuatu hal, dan sebagainya.

5. Merasa tidak aman dalam hubungan.

Biasanya ini terjadi ketika pasangan seringkali merasa disalahkan, tidak didengarkan, atau dihakimi. Jika sudah seperti ini, maka otomatis defense mechanism akan muncul.

Cara-cara untuk menembusnya

Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan dalam hubungan pernikahan untuk menembus defense mechanism ini :

  1. Ciptakan ruang aman. Gunakan nada bicara yang tenang ketika berbicara, hindari bahasa menyalahkan, dan pilih waktu yang tepat (bukan saat lelah, marah, atau sibuk) apabila ingin membahas hal yang penting dan sensitif.
  2. Gunakan bahasa “Aku”, bukan “Kamu”. Jangan menggunakan bahasa “Kamu selalu mengabaikan aku.”, tapi gunakan bahasa “Aku merasa sendirian waktu kamu gak balas pesanku.”. Bahasa aku akan membuat pasangan merasa lebih membuka diri.
  3. Validasi emosi pasangan sebelum mengajak bicara. Ketika seseorang merasa ada yang memahaminya, pertahanan mereka yang tinggi perlahan akan turun. Misalnya, “Aku ngerti ini bikin kamu nggak nyaman.”, atau “Aku tahu kamu sedang berusaha.”. Validasi bukan berarti membenarkan perilaku pasangan, tapi menghargai dan mengerti perasaan yang pasangan rasakan.
  4. Ajukan pertanyaan lembut untuk memancing rasa aman. Misalnya, “Apa yang kamu butuhkan supaya merasa aman denganku?” atau, “Topik apa yang kamu rasa berat untuk kita bicarakan?”, atau dengan bentuk lainnya menyesuaikan dengan preferensi dan gaya masing-masing pasangan, selama cara yang diterapkan memberikan kesan lembut sehingga pasangan tidak meningkatkan defense mechanismnya.
  5. Hindari reaksi balik yang menggunakan pertahanan. Ketika pasangan menutup diri atau mulai meningkatkan defensif, kita jangan membalasnya dengan perlakuan yang sama. jangan meninggikan suara, jangan memborbadir, jangan memaki atau memarahi balik. Cara yang bisa kita terapkan adalah kita meyakinkan pasangan perlahan-lahan, bahwa kita disini. Misalnya, “Yuk kita bicara pelan-pelan, aku ada disini.”
  6. Beri waktu dan ritme. Defense Mechanism tidak bisa runtuh hanya dengan satu percakapan. Ini merupakan pola, kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Jadi pasangan perlu konsisten untuk menerapkannya secara bertahap. Bicara sedikit, berhenti ketika suasana mulai panas, dan lanjutkan saat suasana sudah lebih tenang.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Suami Istri

Konseling Suami Istri : Pasangan Sebagai Cermin Diri

Konseling Suami Istri

Konseling Suami Istri : Pasangan Sebagai Cermin Diri | Dalam hubungan pernikahan, pasangan kita kerap menjadi ‘cermin’ untuk diri kita sendiri. Bagaimana pasangan bersikap dan berperilaku terhadap kita, merespon atau menanggapi interaksinya dengan kita itu seringkali turut mencerminkan kondisi batin kita. Mulai dari cerminan nilai-nilai , pola perilaku, bahkan sampai pada ‘luka’ di masa lalu yang bisa jadi belum sepenuhnya sembuh. Kita merasa senang ketika menceritakan sesuatu, pasangan memiliki pemikiran dan penilaian yang sama dengan kita. Akan tetapi, jika sewaktu waktu kamu merasa pasanganmu egois dan kamu tidak menyukainya, bisa jadi kita sedang melihat diri kita yang pernah (atau sedang) seperti itu, tetapi kita belum menyadarinya. Maka pada kali ini, kita akan membahas tentang Mirror-Effect dalam pernikahan secara detail. Simak hingga tuntas ya!

Tentang Mirror-Effect

Dalam psikologi, Mirror-Effect diartikan sebagai fenomena pasangan yang ‘memantulkan’ diri kita sendiri, baik itu dari sisi positif atau dari sisi negatif. Contohnya, jika kita konsisten menunjukkan rasa hormat, kebajikan, dan dukungan kita kepada pasangan, maka pasangan kita juga akan cenderung menunjukkan sikap yang sama. Sebaliknya, jika kita memulai nada bicara kita dengan menuduh, defensif, atau marah, maka kemungkinan besar pasangan juga akan ‘mencerminkan’ energi negatif tersebut sama persis. Semua itu ditentukan dari bagaimana energi dan tindakan yang kita berikan kepada pasangan.

Mekanisme Psikologis Mirror Effect

1. Proyeksi (Projection)

Kita menolak atau tidak sadar dengan sifat tertentu dalam diri sendiri, lalu memproyeksikan nya ke orang lain. Contohnya ,”Aku nggak suka pasangan ku keras kepala!”. Padahal bisa jadi, kita juga punya sisi keras kepala dengan bentuk yang berbeda. Misalnya, menolak berubah, atau selalu ingin benar dengan cara yang halus. Pasangan menjadi cermin yang memantulkan bagian diri kita yang belum kita akui.

2. Pencerminan Emosi (Emotional Mirroring)

Manusia memiliki mirror neurons, yaitu sel otak yang secara otomatis “meniru” atau “merespons” emosi orang lain. Maknanya, kala kita datangan ke pasangan kita dengan nada marah, defensif, curiga, pasangan bisa ‘menangkap’ emosi tersebut dan balik memantulkannya.

3. Konfirmasi Konsep Diri (Self-Concept Confirmation)

Kita cenderung memberikan respon kepada pasangan ketika pasangan kita ‘mengonfirmasi’ gambaran diri kita sendiri. Misalnya, apabila kita memiliki citra diri yang positif, kita akan cenderung tertarik pada pasangan yang menghargai atau memperkuat itu. Atau semisal kita sedag merasa ‘tidak cukup berharga, maka memungkinkan kita tertarik pada pasangan yang mendukung kita untuk ‘membuktikan diri’. Pada akhirnya hubungan menjadi ‘cermin’ dari bagaimana kita memandang diri sendiri.

4. Bayangan (Shadows)

Menurut Carl Jung, setiap orang memiliki bayangann (shadow), yaitu bagian diri kita yang kita sembunyikan karena tidak sesuai dengan citra ideal kita. Pasangan seringkali menjadi pihak yang men-trigger sisi tersebut muncul ke permukaan, untuk kita belajar mengenalinya. Contohnya, selama ini kita membanggakan diri sendiri karena kita mampu bersikap sabar dan tenang, akan tetapi pasangan sering membuat kita merasa marah hingga meledak-ledak. Dari contoh tersebut ada kemungkinan bahwa terdapat kemarahan dalam diri kita yang selama ini tersembunyi (ditekan). Bayangan seperti ini bisa membuat kita mampu mengenali diri kita sendiri dengan lebih baik.

5. Resonasi Energi dan Pola Hubungan (Emotional Resonance)

Kita memiliki frekuensi emosional tertentu dengan pasangan yang bertujuan untuk saling ‘memanggil’ . Contohnya, ketika kita punya luka atau ketakutan untuk ditinggalkan, seringkali hal tersebut menarik pasangan yang cenderung menjauh. Umumnya, orang yang biasa ‘menyelamatkan’ orang lain cenderung tertarik pada seseorang yang butuk untuk ‘diselamatkan’. Ini terjadi karena adanya resonansi satu sama lain yang terhubung, agar masing-masing pasangan dapat belajar untuk tumbuh dan menjadi lebih baik.

Apakah Mirror-Effect  = Memperburuk Hubungan?

SebagaImana mata pisau, baik atau buruknya sesuatu tergantung pada siapa yang memaknainya dan menggunakan nya. Mirror effect memang dapat membangkitkan luka lama. Namun, apabila kita dapat berpikir bijak, Mirror-Effect sejatinya turut membantu kita untuk berkembang menjadi lebih baik. Luka lama yang muncul dapat membuat kita pun juga pasangan menjadi lebih memahami satu sama lain. Bagaimana cara mengatasinya, bagaimana cara menghadapinya, bagaimana kita bisa menghadapi diri satu sama lain untuk kedepan nya, dan sebagainya. Sisi positif atau negatif yang kita miliki pun juga pasangan menjadi perlu untuk kita pahami dengan baik, dan terima dengan lapang, demi terciptanya hubungan pernikahan yang abadi hingga akhir hayat.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Rumah Tangga Online

Konseling Rumah Tangga Online : Manajemen Konflik

 

Konsultasi Rumah Tangga Online

Konsultasi Rumah Tangga Online : Manajemen Konflik | Dalam menjalani hubungan pernikahan, bukan tidak mungkin pasangan tidak menghadapi konflik. Konflik merupakan sebuah keharusan, karena dengan konflik pasangan dapat tumbuh menjadi lebih baik. Akan tetapi, hal itu juga kembali pada bagaimana pasangan me-manage konflik yang ada. Apabila pasangan dapat mengelola konflik yang mereka miliki dengan tepat, maka konflik tersebut dapat menjadi sarana untuk bertumbuh agar pasangan dapat menjadi versi yang lebih baik. Sebaliknya, jika pasangan tidak bisa mengelola konfliknya dengan tepat, konflik tersebut pada akhirnya hanya akan memperburuk situasi rumah tangga mereka dan tidak menutup kemungkinan rumah tangga yang dibangun akan berada di ambang kehancuran. Artikel kali ini akan membahas tentang manajemen konflik pernikahan yang di canangkan oleh Gottman, yang tentunya bisa menjadi tips bagi para pasangan untuk mengelola hubungan pernikahannya menjadi lebih baik. Simak hingga selesai ya artikelnya!

Tentang Manajemen Konflik

Dr. John Gottman dalam penelitiannya menunjukkan bahwa yang membedakan pasangan bahagia atau tidak adalah bukan ada atau tidaknya konflik, tetapi dari cara mereka mengelola konflik. Konsep yang ditawarkan Gottman adalah tidak sekedar adanya solusi, karena itu hanya bisa menyelesaikan sebagian masalah. Yang menjadi fokus adalah bagaimana pasangan berinteraksi saat konflik, serta membangun hubungan fondasi yang kuat agar konflik tidak berujung merusak hubungan.

Cara Mengelola Konflik Menurut Gottman

Ciptakan Fondasi Hubungan Yang Kokoh (The Sound Relationship House)

Gottman berpandangan bahwa konflik yang efektif hanya mungkin terjadi apabila hubungan dibangun di atas fondasi yang kokoh. Jika fondasi ini lemah, konflik sekecil apapun bisa sangat mengancam.

Tingkatan yang mencegah konflik menjadi mengancam/merusak :

  • Love Maps (Peta Cinta). Konsepnya mengetahui dunia batin pasangan (harapan, mimpi, kekhawatiran, dan sejarahnya). Dengan pasangan mengetahui Love Maps pasangannya, maka mereka akan tahu alasan mengapa pasangannya memberikan reaksi tertentu. Jadi kita tidak menyerang karakter pasangan kita, tetapi fokus pada inti permasalahannya.
  • Turning Towards (Berbalik Mendekat). Artinya adalah merespon ‘tawaran” kecil (stimulus atau ajakan kecil) pasangan untuk terhubung. Misalnya, pasangan menunjukkan bunga yang indah ketika sedang melangkah bersama menikmati pemandangan, kemudian kita memberikan respon. Ini bertujuan untuk membangun Bank Emosi Positif. Ketika ada konflik, saldo positif inilah yang bisa menyelamatkan interaksi dari kepahitan.
  • Positive Perspective (Perspektif Positif). Yaitu memandang niat pasangan secara positif. Dengan kita bisa memandang niat pasangan secara positif, konflik yang muncul tidak semerta-merta memburuk, dan kita juga tidak dengan mudah menghina dan memberikan kritik pedas kepada pasangan walaupun saat itu tindakan pasangan terkesan menyakitkan.

Semakin kuat fondasi yang tercipta, maka konflik yang terjadi akan menjadi konflik yang efektif dan solutif.

Hindari Empat Pola Penghancur (The Four Horsemen)

Gottman menjelaskan bahwasannya terdapat empat jenis pola komunikasi yang bisa memperburuk konflik yang ada, sekaligus menjadi prediktor utama kegagalan hubungan (perpisahan atau perceraian). Empat pola tersebut antara lain :

  1. Criticism (Kritik). Kritik yang diberikan bertujuan menyerang identitas, karakter atau kepribadian pasangan, alih-alih mengeluhkan perilaku pasangan secara spesifik. Seperti mengatakan “Kamu egois! Kamu tidak pernah mau mengerti perasaanku!“. Ubahlah dengan cara yang lebih lembut (Gentle Start-Up) dengan lebih fokus pada perilaku pasangan secara spesifik, dan ungkapkan maksud dan keinginan kita kepada pasangan secara positif, seperti “Saya merasa kesepian ketika kamu pulang terlambat tanpa memberi kabar. Bisa kabarin gak kalo misalnya pulang terlambat?
  2. Defensiveness (Pembelaan Diri). Karena merasa diserang dengan pasangan, akhirnya serangan balasan diberikan dengan balik menyerang pasangan, membuat alasan seakan-akan menjadi korban. Kita bisa merubahnya dengan mengakui sebagian kesalahan kita terlebih dahulu dan menerimanya, walaupun mungkin kita tidak sepenuhnya salah.
  3. Contempt (Penghinaan). Artinya adalah memperlakukan pasangan secara jijik. Menurut Gottman ini adalah yang paling berbahaya dan merupakan indikator perceraian tertinggi karena kurangnya menunjukkan rasa hormat kepada pasangan. Seperti sarkasme, menunjukkan bahasa tubuh yang tidak terkesan baik seperti memutar kedua bola mata, mengejek, dan bahasa tubuh yang superior. Cobalah untuk menerapkan budaya menghargai, dengan mengucapkan terima kasih, kekaguman, dan hormat secara teratur dalam menjalani kehidupan sehar-hari.
  4. Stonewalling (Menghindar). Definisinya adalah menarik diri secara emosional dari fisik dan percakapan. Misalnya, diam, mengabaikan pasangan, bahkan hingga keluar dari ruangan ketika pembicaraan sedang berlangsung. Ini bisa terjadi karena salah satunya merasa pikiran penuh (floaded) . Opsinya bisa dengan Self-soothing atau mengambil jeda terlebih dahulu dengan kesepakatan bersama untuk menenangkan sistem saraf. Gunakan jeda tersebut untuk sesuatu yang menenangkan, bukan untuk memikirkan argumen. Janji bersama juga bisa disepakati agar ketika waktunya sudah tiba, pasangan fokus untuk berdiskusi.

Selesaikan Masalah Yang Bisa Diselesaikan (Solvable Problems)

Gottman mengungkap bahwa jenis masalah terbagi menjadi dua, yaitu Masalah Abadi (Perpetual Problems) dan Masalah Yang Bisa Diselesaikan (Solvable Problems). 

  • Perpetual Problems (Masalah Abadi)
    Sifatnya merupakan masalah yang tidak akan pernah hilang atau terpecahkan sepenuhnya karena bersumber pada kepribadian, nilai, kebutuhan, atau gaya hidup mendasar. Konflik ini berguna untuk mengelola dinamika atau masalah tersebut dengan humor, kasih sayang, dan mencegahnya menjadi konflik yang macet (gridlocked). Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengakui perbedaan karakter antara karakter kita dengan pasangan, tidak memaksa pasangan berubah total, dan kita dan pasangan bisa sama-sama menjadi pengingat satu sama lain. Contohnya, istri memiliki kebiasaan rapi dan suami memiliki kebiasaan cuek. Kita bisa saling mengingatkan dengan lembut untuk rapi, dan juga tidak menjadi pasangan yang terlalu cuek. Humor dan empati apabila kita terapkan pada pasangan juga akan mampu memberikan dampak untuk memperpanjang umur pernikahan.
  • Solvable Problems (Masalah Yang Bisa Diselesaikan)
    Masalah atau konflik yang ada merupakan konflik yang bisa selesai dengan kompromi dan negosiasi. Misalnya dalam membagikan tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah, baik suami dan istri sama sama negosiasi terhadap pekerjaan yang bisa dilakukan. Suami bertugas mencuci piring, istri bertugas menyapu dan mengepel rumah. Pada akhirnya masalah bisa diselesaikan dengan kompromi sama sama.

Konsultasi Pasangan Dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pasangan Online

Konseling Pasangan Online : Ladder Of Love

Konseling Pasangan Online

Konseling Pasangan Online : Ladder Of Love| Seorang filsuf Yunani, Plato, rupanya telah merumuskan sebuah konsep bernama “Ladder Of Love” yang menjelaskan tentang tahap atau jenjang perkembangan cinta. Meskipun konsep ini bersifat klasik, masih memiliki relevansi dan bisa diterapkan di masa kini lho, terutama dalam hubungan pernikahan. Lantas apa manfaatnya memahami Ladder Of Love ini? Pada artikel ini kita akan membahasnya secara tuntas. Simak artikel nya sampai selesai ya!

Tentang Ladder Of Love

Ladder of Love adalah tahapan atau jenjang perkembangan cinta manusia, dari cinta yang bersifat fisik menuju cinta yang bersifat intelektual dan spiritual. Konsep ini menggambarkan bagaimana cinta berkembang. Biasanya, cinta mulai tumbuh dari ketertarikan fisik seperti penampilan, suara, atau sikap yang memikat. Akan tetapi, Plato menjelaskan bahwa keindahan fisik merupakan titik permulaan. Dari cinta ketertarikan fisik, bisa berkembang menjadi cinta pada semua tubuh, cinta jiwa, cinta kebijaksanaan, hingga pada tahap cinta ketuhanan. Runtutan Ladder Of Love/Tangga Cinta berdasarkan penjelasan Plato yakni sebagai berikut.

Cinta Fisik/Tubuh

Pada umumnya, rasa cinta seseorang muncul dimulai dari ketertarikan mereka pada fisik seseorang. Misalnya dari postur tubuh, bentuk wajah, penampilan, gaya atau pesona tertentu. Cinta ini memunculkan ketertarikan hasrat dan romantika awal pada pasangan. Ini merupakan titik mula agar cinta sejati bisa tumbuh. Dalam pernikahan, apabila pasangan hanya menggunakan dasar cinta fisik/tubuh saja terhadap pasangannya, maka bukan tidak mungkin hubungan pernikahan itu akan mudah collapse atau banyak muncul konflik yang terjadi. Sehingga sebenarnya cinta bisa berkembang lebih jauh dan bermakna daripada sekedar cinta fisik/tubuh.

Cinta Semua Tubuh

Setelah fase cinta fisik/tubuh, fase berikutnya adalah cinta semua tubuh. Pada fase ini pasangan mencintai seluruhnya, berbeda dengan fase sebelumnya yang hanya mencintai bagian fisik/tubuh tertentu saja yang dianggap indah. Pada titik ini, pasangan menerima seluruh kelebihan dan kekurangan pasangannya secara fisik. Meskipun terdapat cacat, kecacatan tersebut tetap indah bagi pasangannya.

Cinta Jiwa

Fase selanjutnya adalah Cinta Jiwa, dimana pasangan mampu menghargai perbedaan, kepribadian, selera hobi, dan lainnya pada pasangannya. Cinta nya seseorang kepada pasangan bukan lagi karena ‘aku menyukaimu karena kamu menarik’, tetapi menjadi ‘aku mencintaimu karena siapa dirimu.’ . Fase ini merupakan titik yang penting karena cinta pada pasangan itu berdasarkan pada komitmen, persahabatan, dan saling menghargai satu sama lain.

Cinta Kebijaksanaan

Setelah Cinta Jiwa, fase berikutnya kemudian berkembang menjadi Cinta Kebijaksanaan, dimana cinta terhadap pasangan itu untuk bertumbuh bersama, mencari hikmah dalam perbedaan, memahami cara berpikir masing-masing dengan baik. Mereka mampu melihat konflik yang ada sebagai upaya agar lebih cocok satu sama lain. Mereka juga rela untuk saling berkorban dan saling menyesuaikan satu sama lain. Titik ini juga menjadi titik yang penting dalam pernikahan, karena pasangan yang mampu mendukung satu sama lain, sama-sama mau untuk tumbuh bersama, akan menunjang hubungan pernikahan yang dijalani menjadi lebih sehat.

Cinta Ketuhanan

Tangga yang terakhir adalah Cinta Ketuhanan, dimana cinta dalam pernikahan itu menjadi sarana untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Baik suami maupun istri melakukan kebaikan dengan ikhlas kepada pasangannya, bukan karena semata-mata rasa memiliki. Cinta nya menjadi bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan keburukan yang ada pasangan menjadi wadah untuk perbaiki diri menjadi lebih dewasa, serta wadah untuk mendatangkan pahala. Pada fase ini, cinta bukan lagi antara dua individu, tetapi tentang pembangunan makna hidup bersama, mencintai dengan kebajikan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ladder of Love Dalam Pernikahan

Pembahasan tentang Ladder Of Love memberikan pemahaman bahwa cinta itu bisa tumbuh dan berkembang. Konsep ini penting untuk diterapkan pasangan demi membangun hubungan pernikahan yang harmonis dengan landasan cinta yang kuat dan kokoh. Hanya menggunakan dasar fisik/tubuh seseorang dalam mencintai itu tidak bisa membuat sebuah hubungan pernikahan bertahan lama. Pasangan kita bisa jadi tidak lagi se tampan atau se cantik awal kali pertama bertemu. Pasangan kita bisa jadi tidak lagi memiliki pesona yang kita sukai ketika awal kali bertemu. Maka dari itu, menaiki tangga cinta kita kepada pasangan sampai kepada Cinta Ketuhanan bisa menjadi cara yang kita terapkan, demi memperkokoh janji suci yang telah diucap bersama-sama selamanya.

Konseling Pasangan Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman masa kini telah banyak yang menyediakan layanan konseling pernikahan untuk memediasi para pasangan sehingga hubungan pernikahan dapat kembali harmonis. Salah satunya ada di layanan Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

 

Konseling Pasangan

Konseling Pasangan : Forgiveness Dalam Pernikahan

Konseling Pasangan

Konseling Pasangan : Forgiveness Dalam Pernikahan | Dalam menjalani pernikahan, konflik merupakan hal yang tidak mungkin untuk dihindari oleh pasangan. Setiap individu memiliki latar belakang,nilai-nilai, keyakinan, dan idealisme yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, merupakan hal yang wajar jika pasangan mengalami konflik. Tetapi, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana pasangan menghadapi konflik yang ada. Cara pasangan menghadapi dan menyelesaikan konflik pernikahan dapat menentukan seberapa kuat tali hubungan yang mereka bangun bersama. Dalam psikologi positif, para ahli menjelaskan bahwa forgiveness memiliki peran penting dalam pernikahan, namun sering kali orang salah memahaminya. Maka, pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang definisi dari forgiveness itu sendiri, dan bagaimana dampaknya dalam sebuah hubungan pernikahan.

Arti Forgiveness 

Dalam psikologi positif, definisi forgiveness  tidak sekedar memaafkan berdasarkan tindakan moral atau keagaaman, tetapi merupakan kekuatan psikologis (character strength) yang berperan penting dalam membangun kesejahteraan emosional (well-being) dan hubungan yang sehat. Martin E.P. Seligman (2002 yang merupakan pencipta konsep psikologi positif menjelaskan bahwa forgiveness merupakan kemampuan untuk melepaskan perasaan marah dan dendam terhadap orang yang telah berbuat salah, kemudian menggantinya dengan emosi positif seperti pengertian, empati, dan kasih sayang. Dr. Everett L Worthington Jr. dalam penelitiannya juga menjelasakan bahwa forgiveness  adalah proses internal untuk mengurangi kebencian dan amarah, serta mengembangkan empati terhadap orang yang menyakiti kita.

Jika kita mengkorelasikannya dengan hubungan pernikahan, maka forgiveness  ini berarti kemampuan memaafkan pasangan atas kesalahan atau konflik yang terjadi, untuk menjaga keharmonisan hubungan bersama. Untuk lebih rinci, forgiveness disini merupakan kemampuan seseorang untuk mengolah luka, memahami kesalahan pasangannya dengan empati, dan memilih untuk melepaskan emosi negatif demi menjaga keberlangsungan hubungan yang sehat dan penuh kasih. Ini merupakan bentuk tindakan aktif untuk kembali membangun hubungan menjadi lebih baik.

Mengapa Penting Untuk Memaafkan Pasangan?

Sulit memaafkan pasangan adalah hal yang wajar. Secara emosional, seseorang cenderung menarik diri untuk melindungi dirinya setelah disakiti. Bahkan, ada pula orang yang memilih membalas perlakuan pasangannya dengan tindakan serupa. Forgiveness  juga tidak bisa terjadi begitu saja, karena memerlukan kesadaran diri (Self awareness) yang baik agar seseorang dapat melihat kesalahan pasangannya dari sudut pandang yang luas. Akan tetapi, memaafkan pasangan itu merupakan hal yang penting untuk dilakukan, karena forgiveness memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan emosional, kedekatan, dan ketahanan hubungan jangka panjang.

Memaafkan adalah dasar keberlanjutan hubungan

Merupakan hal yang tidak mungkin apabila sebuah pernikahan itu berisi kesempurnaan. Pasti ada konflik yang terjadi, dan itu lumrah. Adakalanya setiap pasangan melukai, entah melalui ucapan, tindakan, yang itu disengaja ataupun tidak disengaja. Jika salah satu pihak memilih untuk memaafkan, maka ia memberikan ruang untuk hubungannya terus tumbuh, bukan berhenti pada rasa sakit.

Memaafkan menyehatkan pikiran dan emosi

Memaafkan merupakan salah satu kekuatan karakter (character strenght) yang mampu membantu seorang individu mencapai emotional well-being, berdasarkan dengan persepktif psikologi positif. Apabila kita memaafkan pasangan, emosi negatif yang semula muncul seperti marah, kesal, kecewa, perlahan berkurang dan berganti menjadi perasaan damai dan tenang. Dengan memaafkan, kita tidak perlu memendam rasa sakit hati yang terlalu lama kepada pasangan. Rasa sakit hati yang dipendam terus menerus hanya akan menjadi penyakit hati.

Memaafkan membuka jalan untuk empati

Memaafkan juga dapat membuka jalan untuk seseorang agar dapat melihat pasangannya secara lebih manusiawi. Mereka dapat memahami dengan lebih baik ketidaksempurnaan pasangannya secara jelas. Mereka paham bahwa bisa saja pasangan mereka. Psikolog Robert Enright juga mengatakan bahwa memaafkan merupakan “hadiah kasih sayang” yang memperkuat hubungan interpersonal. Kalau dikontekskan ke dalam hubungan pernikahan, maknanya berarti meningkatkan bonding dengan pasangan serta rasa saling percaya satu sama lain.

Apakah Memaafkan = Membiarkan Kesalahan Pasangan Berulang?

Sama sekali tidak. Memaafkan lebih fokus kepada melepaskan emosi negatif, bukan berarti pasrah dan membenarkan perilaku pasangan yang salah. Emosi negatif yang dilepaskan akan mampu membuat seseorang berpikir jernih. Apabila pasangan mampu berpikir jernih ketika menghadapi sebuah konflik, mereka bisa merumuskan solusi yang solutif dan fokus pada pemecahan masalahnya. Bukan mendramatisir masalah tersebut. Maka dari itu, memaafkan bukanlah sikap yang melemahkan, tetapi justru menguatkan hati dan pikiran kita.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor berpengalaman dapat membantumu dan pasangan untuk memahami secara mendalam seputar hubungan pernikahan dan berbagai tips yang bisa diterapkan untuk meningkatkan keharmonisan pernikahan. Zaman saat ini telah banyak yang menyediakan layanan konsultasi pernikahan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pasangan

Konsultasi Pasangan : Attachment Theory

Konsultasi Pasangan

Konsultasi Pasangan : Attachment Theory | Dalam setiap hubungan pernikahan, merupakan hal yang normal apabila pasangan harus menghadapi konflik. Namun, bisa jadi konflik yang terjadi memiliki penyebab yang lebih mendasar dan filosofis. Seorang psikolog bernama John Bowlby mengembangkan sebuah konsep psikolog bernama Attachment Theory (Teori Ketertarikan), yang membahas tentang cara kita berhubungan atan menjalin relasi dengan seseorang di masa dewasa, termasuk dalam pernikahan. Lantas bagaimana hubungan konsep teori ketertarikan ini dengan seseorang yang sudah menjalani hubungan pernikahan? Pada artikel kali ini akan membahas tentang Teori Ketertarikan tersebut beserta korelasinya dengan hubungan pernikahan. Simak hingga tuntas ya!

Tentang Teori Ketertarikan

John Bowlby (1969) menjelaskan bahwa Teori Keterikatan adalah konsep yang membahas bagaimana individu membentuk ikatan emosional yang erat dengan pengasuh utama di masa kecil, dan bagaimana ikatan ini menjadi dasar bagi hubungan di kemudian hari dalam kehidupan mereka. Terdapat empat gaya ketertarikan yang umum ditemukan pada orang dewasa, yaitu :

  • Gaya Keterikatan Aman (Secure Attachment). Gaya ini merupakan gaya yang paling sehat. Individu yang memiliki gaya ketertarikan ini tumbuh dengan pola asuh yang responsif dan konsisten. Kalau kita korelasikan dengan hubungan pernikahan, mereka cenderung percaya pada pasangan, mampu berkomunikasi secara terbuka, serta tidak takut menghadapi konflk.
  • Gaya Keterikatan Cemas (Anxious-Preoccupied Attachment). Gaya ini datang dan berkembang dari pola asuh yang tidak konsisten. Terkadang kasih sayang diberikan, kadang tidak. Akibatnya, individu ini sering merasa cemas dan tidak aman dalam hubungan. Apabila dalam hubungan pernikahan, mereka mungkin menunjukkan perilaku “clingy” atau sangat bergantung dengan pasangan. Mereka kerap kali juga sering mencurigai motif pasangan dan merasa cemburu, yang akhirnya bisa memicu konflik secara terus menerus.
  • Gaya Keterikatan Menghindar (Dismissive-Avoidant Attachment). Gaya ketertarikan ini terbentuk dari pola asuh yang dingin dan tidak responsif. Seseorang yang memiliki gaya ini belajar untuk menekan kebutuhan emosional mereka dan menjadi sangat mandiri, bahkan cenderung menghindari keintiman. Kalau dalam pernikahan, biasanya mereka cenderung kesulitan membuka diri dan berbagi perasaan. Bisa jadi juga merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang terlalu berlebihan dan cenderung menarik diri saat ada masalah.
  • Gaya Ketertarikan Disorganisasi (Fearful-Avoidant Attachment). Individu dengan gaya ini biasanya seringkali memiliki perilaku yang tidak terduga. Mulai dari mendekat kemudian tiba-tiba menjauh. Biasanya mereka juga sulit untuk percaya kepada pasangan, sehingga dinamika hubungan yang tercipta dengan pasangan menjadi kacau dan membingungkan. Gaya ketertarikan ini tercipta dari pola asuh yang tidak menentu dan menakutkan, misalnya pelecehan, penelantaran. Mereka sebetulnya sangat menginginkan keintiman, tetapi juga takut untuk itu.

Manfaat Memahami Gaya Ketertarikan

Memahami gaya ketertarikan ini merupakan hal yang penting untuk membentuk hubungan pernikahan menjadi lebih harmonis. Bayangkan semisalnya saja jika dua individu memiliki gaya ketertarikan yang berbeda. Satu memiliki gaya ketertarikan cemas (Anxious), dan pasangannya memiliki gaya ketertarikan menghindar (Avoidant). Di satu sisi mereka membutuhkan kepastian dan kejelasan dari pasangan nya jika terdapat sebuah konflik, tapi si Avoidant menghindar, menarik diri dan mencari ruang untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya konflik yang terjadi semakin parah, si cemas merasa tidak dicintai, sedangkan si Avoidant merasa tercekik karena terus dikejar-kejar.

Apabila masing-masing pasangan memahami tipe-tipe gaya ketertarikan tersebut, meraka akan mampu membuat pencegahan akan konflik yang terjadi sekaligus juga memahami bagaimana konflik yang ada diantara keduanya bisa diselesaikan. Hubungan pernikahan tidak selalu berbicara tentang dekat secara emosional, tetapi bagaimana masing-masingnya mampu memahami pasangan dan dirinya sendiri dengan baik, sehingga mampu membuat keputusan yang bijak dalam menghadapi masalah-masalah tersebut secara bersama-sama. Dengan begitu, setiap konflik yang ada dapat dilalui secara sehat dan dengan jalan solusi yang benar dan tepat.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor berpengalaman dapat membantumu dan pasangan untuk memahami secara mendalam, perihal gaya ketertarikan itu sendiri dan contoh-contoh riil nya dalam kehidupan pernikahan. Zaman saat ini telah banyak yang menyediakan layanan konsultasi pernikahan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pernikahan Online

Konseling Pernikahan Online : Mindfulness Marriage

Konsultasi Pernikahan Online

Konseling Pernikahan Online : Mindfull Marriage | Pasangan yang telah menikah seringkali terjebak dalam rutinitas rumah tangga. Fokus pada pekerjaan atau karir, mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga, yang akhirnya membuat kedekatan dan keintiman emosional antara keduanya menjadi berkurang. Kurangnya kedekatan emosional antara kedua pihak akan rentan memicu konflik. Maka dari itu, menerapkan Mindfull Marriage akan memberikan manfaat yang besar untuk keharmonisan sebuah hubungan pernikahan. Banyak pakar pun telah mengulas dan melakukan penelitian tentang ini. Yuk simak pembahasan artikel ini hingga tuntas!

Tentang Mindful Marriage 

Germer, Siegel, dan Fulton (2005) menjelaskan bahwa mindfullness merupakan bentuk perhatian penuh pada kondisi saat ini, serta juga dengan penerimaan secara sadar. Jika dikorelasikan ke dalam hubungan pernikahan, maka Mindfull Marriage adalah menjalani hubungan pernikahan dengan perhatian penuh, dan penerimaan secara sadar terhadap pasangan di kondisi saat ini. Gottman menjelaskan bahwa mindfulness dalam hubungan pernikahan itu membangun kemampuan untuk :

  • Mindfulness of Feelings, yaitu kemampuan untuk sadar terhadap perasaan dan sensasi pribadi termasuk perasaan yang tidak nyaman. Pasangan perlu menyadari perasaan tersebut secara objektif tanpa adanya reaksi negatif.
  • Mindfulness of mind /conciusness, yaitu kemampuan memperhatikan pikiran dan pola mental sendiri tanpa menghakimi.

Sehingga, Gottman melihat bahwa mindfullness membantu pasangan ‘berada’, atau hadir secara emosional dan psikologis, agar hubungan tetap kuat walaupun menghadapi konflik atau tekanan.

Konsep ini sangat bisa untuk diterapkan pasangan dalam menjalani rumah tangga nya, terlebih untuk pasutri yang sudah menikah  cukup lama. Karena dengan pasangan yang ‘sadar’ secara penuh dalam hubungan pernikahannya akan mampu menghadapi konflik atau masalah pernikahan yang ada secara bijak dan kembali membuat rumah tangga menjadi harmonis. Dalam buku Mindfullness for Everyday Living, dijelaskan bahwasannya pernikahan yang telah lama dijalani cenderung mengalami drift atau jarak emosional ketika pasangan membiarkan rutinitas, kesibukan, dan stres mengambil alih. Mindfulness mengarahkan pada upaya :

  • Menghargai aspek unik pasangan. Yaitu menemukan hal baru atau keunikan pasangan agar kita apresiasi.
  • Mengamati pengalaman pasangan, menanyakan pengalaman pasangan agar timbul kedekatan emosional diantara keduanya.
  • Memelihara ritual kebersamaan atau kegiatan yang rutin dilakukan bersama demi meningkatkan rasa emosional diantara keduanya dan tidak terjadi pengabaian atau pemisahan hubungan.

Manfaat Mindful MCaraarriage

Terdapat beberapa manfaat positif yang bisa didapatkan pasangan ketika menerapkan mindfulness dalam pernikahan dan rumah tangganya, antara lain :

1. Komunikasi menjadi lebih efektif

Pasangan yang menerapkan mindfulness akan dapat membuat komunikasi dengan pasangan nya bisa menjadi lebih efektif. Pasangan akan berupaya untuk menjadi pendengar yang baik, dan tidak menanggapi pasangan yang bercerita secara terburu-buru. Percakapan dengan pasangan pun juga lebih sehat dan penuh pengertian.

2. Pengelolaan emosi menjadi lebih baik

Kesadaran penuh membantu seseorang untuk mengendalikan emosinya menjadi lebih baik, sehingga tidak mudah untuk memberikan reaksi secara impulsif. Ini akan sangat membantu untuk menghindari pertikaian yang tidak perlu, dan fokus pada sumber masalah serta solusi yang bisa diterapkan.

3. Lebih dekat dengan pasangan

Pasangan yang hadir sepenuhnya akan membuat ikatan emosional antara keduanya menjadi lebih kuat. Kehadiran yang dirasakan tidak hanya hadir secara fisik saja, tetapi juga secara emosional. Dengan Mindfulness, pasangan bisa lebih memberikan perhatian secara utuh, yang akhirnya turut juga meningkatkan emosional dan keintiman yang semakin kuat.

4. Kepuasan Pernikahan

Berdasarkan penelitian Delvia eka Ariana dan Ratih Eka Pratiwi, terdapat penemuan bahwa adanya korelasi positif yang signikan antara tingkat mindfulness individu dengan kepuasan pernikahan mereka. Semakin tinggi mindfulness, semakin tinggi kepuasan pernikahannya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah mindfulness, semakin rendah juga kepuasan pernikahan mereka. Hal ini juga diperjelas dalam penelitian terdahulu oleh Burpee dan Langer (2005), bahwa mindfulness menjadi salah satu faktor yang berperan secara langsung dalam meningkatkan kepuasan pernikahan. Keterikatan pasangan dalam melibatkan keterbukaan akan pengalaman baru dan sadar akan suatu konteks dapat menumbuhkan perasaan puas dan terpenuhinya kepuasan pernikahan.

Cara Menerapkan Mindfull Marriage

  • Latihan mendengarkan dengan empati. Ketika pasangan berbicara, arahkan fokus secara penuh untuk mendengarkan pasangan. Jangan diselingi dengan kegiatan lain, seperti bermain handphone atau dengan pikiran lain. Tunjukkan bahwa anda benar-benar mendengarkan nya dan peduli.
  • Sadari pola reaksi. Sadari bagaimana anda biasanya merespon sebuah konflik. Dengan begitu, kita mampu memilih cara yang lebih sehat dalam merespon nya.
  • Luangkan Waktu Berkualitas. Luangkan waktu khusus bersama pasangan tanpa diselingi dengan aktivitas lainnya, seperti menyelesaikan pekerjaan, dan sebagainya untuk menikmati kebersamaan.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!