Konseling Pernikahan Online : Patriarki Yang Belum Lunas

Konseling Pernikahan Online

Konseling Pernikahan Online : Patriarki Yang Belum Lunas | Lagi-lagi kita dengar istilah mokondo. Atau kalau mau adil, ada juga sebutan buat perempuan yang dianggap cuma modal fisik buat “numpang hidup”. Istilah-istilah ini kasar, ya memang. Tapi jujur saja, kemunculannya adalah sinyal kalau ada yang nggak beres dengan cara kita memandang relasi hari ini. Kita sering ribut soal siapa yang “modal” dan siapa yang “numpang”, tapi lupa mempertanyakan: kenapa standar hubungan kita masih pakai kacamata abad pertengahan?

Konseling Pernikahan Online : Patriarki Yang Belum Lunas

Antara Modal Fisik dan Modal Materi

Sebenarnya, umpatan-umpatan itu muncul karena adanya benturan ekspektasi. Di satu sisi, banyak laki-laki yang masih pengin dianggap “bos” di rumah tangga tapi dompetnya nggak sanggup membiayai otoritasnya. Di sisi lain, ada tuntutan supaya perempuan jadi mitra finansial, tapi hak suaranya tetap dibungkam. Ini adalah jebakan Batman dari patriarki yang belum beres. Kita menuntut orang untuk berperan secara tradisional di dunia yang sudah berubah total secara ekonomi. Hasilnya? Saling tuding, saling labeli, dan akhirnya hubungan cuma jadi transaksi untung-rugi yang melelahkan.

Otoritas Itu Amanah, Bukan Warisan Jenis Kelamin

Sering kali, tameng “ajaran agama” dipakai buat melegitimasi dominasi laki-laki. “Suami itu pemimpin, titik.” Tapi mari kita bedah pelan-pelan: apakah otoritas itu memang harga mati dari Tuhan, atau cuma residu budaya Arab jahiliyah yang dulu coba dibenahi Islam tapi malah kita “awetkan” sampai sekarang?

Kalau kita baca sejarah dengan jujur, Islam datang justru untuk merombak struktur yang menindas. Masalahnya, banyak tafsir yang lahir dari tangan-tangan yang hidup di lingkungan yang sangat maskulin. Akhirnya, posisi “pemimpin” dipahami sebagai privilese untuk berkuasa, padahal aslinya itu adalah tanggung jawab fungsional.

Logikanya simpel: kalau dulu laki-laki punya otoritas karena dia satu-satunya yang bisa pegang pedang dan cari makan, lantas apa dasarnya otoritas itu tetap dipaksakan kalau sekarang istri juga ikut banting tulang bayar cicilan? Otoritas tanpa kontribusi nyata itu namanya bukan kepemimpinan, tapi pemaksaan kehendak.

Nafkah Bersama, Domestik Juga Bersama

Banyak yang bilang, “Kewajiban nafkah itu cuma di pundak laki-laki.” Oke, itu idealnya kalau kita hidup di zaman saat harga beras masih murah dan satu gaji cukup buat satu keluarga besar. Faktanya sekarang? Hampir mustahil.

Nafkah seharusnya jadi tanggung jawab bersama. Kecuali pas masa hamil dan menyusui—karena laki-laki jelas nggak bisa melakukan itu—membagi beban ekonomi adalah bentuk keadilan paling nyata. Tapi ingat, ada syarat dan ketentuannya. Kalau uang dicari bareng-bareng, ya urusan dapur, cucian, dan popok anak juga harus dibagi dua.

Nggak masuk akal kalau ada laki-laki yang minta istrinya bantu cari duit dengan alasan “zaman lagi susah”, tapi pas pulang ke rumah dia duduk manis nunggu kopi sementara istrinya lanjut “shift kedua” di dapur. Itu bukan kemitraan, itu eksploitasi yang dikasih label pernikahan.

Berhenti Jadi Robot Tradisi

Sudah saatnya kita berhenti jadi robot yang cuma menjalankan tradisi tanpa pernah bertanya “kenapa”. Relasi yang sehat itu nggak butuh hierarki vertikal ala atasan-bawahan. Yang kita butuh adalah kemitraan horizontal.

Kita harus berani bilang kalau otoritas itu bukan sesuatu yang otomatis didapat cuma karena seseorang lahir sebagai laki-laki. Otoritas itu harus diusahakan lewat rasa aman, tanggung jawab, dan keadilan.

Jadi, daripada sibuk melabeli orang dengan sebutan mokondo atau sejenisnya, mending kita bereskan dulu isi kepala kita. Hubungan itu tentang dua manusia merdeka yang sepakat buat jalan bareng. Kalau salah satu merasa lebih tinggi cuma karena jenis kelamin, jangan kaget kalau hubungan itu akhirnya cuma jadi arena konflik yang nggak pernah usai.

Konseling Pernikahan Online dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konseling pernikahan dan rumah tangga yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya

 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *