Bimbingan Pernikahan Online

Bimbingan Pernikahan Online : Punya Suami Autis

Bimbingan Pernikahan Online

Bimbingan Pernikahan Online : Punya Suami Autis, Pertahankan Atau Tinggalkan? | Perlu diketahui, terkadang kita tidak sadar dan tidak tahu bahwa terdapat makna dari perilaku-perilaku tertentu yang pasangan kita lakukan. Apalagi, perilaku tersebut terlihat aneh dan bahkan berulang diterapkan. Tidak hanya itu, pasangan kita sulit sekali untuk diajak berkomunikasi atau mengobrol santai meskipun kita telah melakukan berbagai cara dan upaya. Kurangnya respons pasangan kita, bahkan keengganan mereka untuk menanggapi sama sekali, membuat kita sakit hati dan merasa tidak dihargai. Hal-hal seperti ini bisa jadi bukan karena pasangan kita tidak lagi peduli dengan kita, tetapi karena pasangan kita memiliki sindrom autisme. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita harus meninggalkannya? Pada kali ini kita akan membahasnya secara tuntas.

Apa Itu Autisme? Fakta Ilmiah yang Harus Pasangan Ketahui

Autisme, atau Autism Spectrum Disorder (ASD), adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. Menurut American Psychiatric Association (DSM-5, 2013), spektrum autisme sangat luas: dari yang sangat ringan (high-functioning autism) hingga yang memerlukan dukungan intensif.

Bertahan atau Melepaskan?

Argumen untuk Bertahan

  1. Islam Mendorong Kesabaran dalam Rumah Tangga

Allah SWT berfirman:

 “Dan bergaullah dengan mereka secara patut…”

(QS. An-Nisa: 19)

Jika suami tidak melakukan kekerasan dan tetap menjaga tanggung jawabnya, istri didorong untuk mendampingi dan mendukung, karena sejatinya pernikahan adalah tentang saling menanggung beban.

  1. Autisme Bukan Dosa atau Aib

Dalam Islam, manusia diuji dengan berbagai cara. Allah berfirman:

 “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 155)

Suami yang autis bisa jadi merupakan ujian yang mengangkat derajat, bukan hukuman. Dalam konteks ini, mendampinginya adalah ladang pahala.

  1. Bisa Menjadi Ladang Pahala dan Penghapus Dosa

Rasulullah SAW bersabda:

 “Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, atau kegelisahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Mendampingi suami dalam keterbatasan, dengan niat ikhlas dan ibadah, termasuk dalam kategori ini.

Argumen untuk Melepaskan

Namun, tidak semua situasi bisa terlewati dengan sabar. Jika:

  • Suami melakukan kekerasan fisik atau emosional,
  • Tidak ada komunikasi yang mungkin dibangun,
  • Tidak ada niat baik dari pihak suami atau keluarga untuk memperbaiki hubungan,

Maka demikian, Islam memberikan jalan keluar yang terhormat, yakni perceraian (khulu’ atau talak). Allah berfirman:

“Jika kamu khawatir terjadi perselisihan antara keduanya (suami-istri), maka kirimlah seorang hakam (penengah) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan…”

(QS. An-Nisa: 35)

Perceraian bukan dosa, tapi jalan syar’i untuk mengakhiri bahaya jika mempertahankan hubungan justru menghancurkan jiwa.

Autisme bukanlah akhir dari cinta, tapi bentuk cinta yang menuntut kesabaran dan pemahaman lebih dalam. Jika suami dengan autisme tetap menjaga akhlaknya dan berusaha membina rumah tangga, maka istri yang bertahan dalam kebaikan sedang meniti jalan surga. Namun jika kondisi telah membahayakan secara fisik dan mental, Islam tidak memaksa seseorang tinggal dalam pernikahan yang merusak. Kunci utamanya adalah: niat, ilmu, dan pertimbangan maslahat.

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

(QS. At-Talaq: 2-3)

Menjalani Pernikahan dengan Pasangan Autisme

Pahami Bahwa Autisme Bukan Masalah Kepribadian!

Autisme bukanlah masalah kepribadian. Menurut Dr Cindy dalam bukunya yang berjudul “Loving Someone with Aspenger’s Syndrome : Understanding and Connecting with Your Partner”, pasangan dengan Aspenger (Autisme) tidak bermaksud menyakiti atau mengabaikan. Mereka hanya berpikir dan memproses emosi dan informasi dengan cara yang berbeda. jangan anggap mereka “tidak peduli” karena kurang ekspresif secara emosional. Itu lebih kepada perbedaan neurologis daripada kurang cinta.

Menerima Perbedaan Gaya atau Cara Komunikasi

Pasangan dengan sindrom autis mungkin akan sulit memahami atau membaca bahasa tubuh atau isyarat sosial yang mengandung makna tertentu. Maka dari itu, penting untuk mengkomunikasikan secara langsung dan jelas terkait apa yang ingin disampaikan. Dengan demikian, hindari ekspektasi atau asumsi bahwa pasangan akan mengetahui dengan sendirinya apa yang kita butuhkan. Sebaliknya, komunikasikan dengan jelas, spesifik, dan tidak ambigu.

Validasi Perasaan Masing-Masing

Bagi Dr. Cindy, merupakan hal yang penting bagi pasangan yang mengidap sindrom autisme untuk mengakui rasa frustasi, kesepian, atau kebingungan mereka sendiri tanpa menyalahkan. Jangan ragu untuk saling mengungkapkan perasaan satu sama lain tanpa saling menyudutkan, misalnya : “Aku merasa tidak terlihat ketika kamu tidak menyapaku” daripada “Kamu tidak pernah peduli”

Ciptakan Pola Kehidupan Yang Jelas Dan Terstruktur

Individu dengan sindrom autisme cenderung nyaman dengan kegiatan yang terstruktur. Contohnya seperti membuat jadwal harian, kesepakatan tanggung jawab, dan aturan komunikasi yang membantu mengurangi konflik.

Jaga Harapan Realistis

Penting untuk menekankan bahwa kita harus menyesuaikan perubahan besar pada pasangan dengan sindrom autisme dengan kemampuan neurologis mereka, bukan dengan tekanan emosional. Dengan kata lain, jangan berharap pasangan akan berubah sepenuhnya menjadi seperti “pasangan normal”, tetapi mereka bisa untuk beradaptasi perlahan.

Temukan Keseimbangan Empati dan Batasan

Empati secara berlebihan pada pasangan dengan sindrom autisme akan membuat pasangan justru kehilangan identitas dan kebutuhan pribadinya. Oleh karena itu, buatlah ketentuan dan batasan yang sehat. Contohnya, “Aku butuh 30 menit untuk didengarkan setiap harinya.” dan pastikan kegiatan itu menjadi rutinitas.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Keluarga Indonesia

Konseling Keluarga Indonesia : Orang Tua Yang Sempurna

Konseling Keluarga Indonesia

Konseling Keluarga Indonesia : Orang Tua Yang Sempurna | Tidak jarang bagi para orang tua baru memiliki keinginan untuk menjadi orang tua yang sempurna. Keinginan tersebut dapat didasari karena berbagai faktor, seperti faktor trauma masa lalu, nilai-nilai yang tertanam, faktor lingkungan, dan berbagai faktor lainnya. Mereka tidak ingin agar anak mereka melalui hal yang sama dengan yang mereka lalui sebelumnya. Pula terdapat keinginan dari para orang tua untuk mengubah tradisi yang bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka miliki. Meski memiliki keinginan yang baik, lantas apakah sebagai orang tua harus selalu tampil sempurna di depan anak-anaknya? Dalam artikel ini akan membahasnya secara tuntas. Simak sampai akhir ya!

Makna Kesempurnaan

Dalam ilmu sosial, kesempurnaan adalah konstruksi sosial atau idealisasi. Carl Rogers mendefinisikan bahwa mengejar kesempurnaan seringkali menjadi sumber ketidakbahagiaan. Kesempurnaan adalah standar yang tidak realistis bagi manusia. Tidak ada manusia yang luput dari kekurangan—baik secara emosional, mental, maupun spiritual. Yang lebih penting dari menjadi “sempurna” adalah menjadi autentik, terbuka untuk belajar, dan mampu mengakui kesalahan serta menghargai keberhasilan anak. Memahami definisi sempurna, kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, baik sebagai orang tua saat ini maupun calon orang tua kelak. Kesempurnaan adalah mitos dalam pengasuhan.

Menurut Donald Winnicott, seorang psikoanalis terkenal, yang dibutuhkan anak bukanlah “perfect mother”, melainkan “good enough mother.” Artinya, orang tua yang cukup baik—yang hadir secara emosional, merespons kebutuhan anak, dan tidak harus selalu benar.

Konsep ini sejalan dengan pandangan Diana Baumrind, tokoh sentral dalam teori parenting, yang membagi pola asuh menjadi 4 jenis:

  1. Authoritative (Demokratis) – Hangat namun tegas.
  2. Authoritarian (Otoriter) – Kaku dan menuntut.
  3. Permissive (Serba membolehkan) – Hangat tapi tidak menetapkan batasan.
  4. Neglectful (Abai) – Tidak peduli secara emosional maupun struktural.

Penelitian menunjukkan bahwa authoritative parenting adalah gaya yang paling sehat untuk perkembangan anak. Pola ini menekankan komunikasi dua arah, kasih sayang, dan juga batasan yang jelas—tanpa menuntut kesempurnaan dari kedua belah pihak.

Dua Kesalahan Umum Orang Tua: Sumber Luka Batin Anak

Berdasarkan pengalaman lapangan dan psikologi perkembangan anak, dua hal ini seringkali menjadi sumber luka mendalam pada anak:

Tidak Pernah Minta Maaf

Banyak orang tua merasa bahwa meminta maaf akan menurunkan wibawa. Padahal, dalam perspektif psikologis, momen ketika orang tua mengakui kesalahan adalah momen yang sangat kuat dalam membentuk keamanan emosional anak. Anak belajar bahwa kerendahan hati adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Tidak Pernah Mengapresiasi Anak

Menurut teori Self-Determination dari Deci dan Ryan, pengakuan terhadap kompetensi anak adalah salah satu kunci motivasi dan pertumbuhan pribadi. Anak yang tidak diapresiasi cenderung memiliki harga diri rendah dan mencari pengakuan dari luar secara tidak sehat.

Pandangan Islam: Manusia Diciptakan Tidak Sempurna

Dalam Islam, Allah SWT menegaskan bahwa kesempurnaan hanya milik-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

  • “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjadi orang tua yang baik bukan tentang tidak pernah salah, melainkan tentang berusaha semampu mungkin, dengan niat yang lurus dan hati yang terbuka. Nabi Muhammad SAW, sebagai teladan umat, juga mengajarkan pentingnya mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda:

  • “Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Meminta maaf kepada anak bukan berarti kehilangan wibawa. Justru, hal itu menunjukkan kedewasaan spiritual dan mengajarkan nilai kerendahan hati.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua? Jadilah orang tua yang manusiawi, bukan sempurna. Tunjukkan bahwa Anda pun bisa belajar dari kesalahan. Ucapkan “maaf” jika melakukan kesalahan pada anak. Berikan apresiasi tulus, bahkan untuk usaha kecil anak. Bangun komunikasi yang jujur dan empatik.

Menjadi orang tua bukanlah tentang membentuk anak dalam cetakan sempurna, tapi tentang membimbing mereka dengan cinta, kesadaran, dan ketulusan. Anak tidak butuh orang tua yang sempurna—mereka butuh orang tua yang hadir, mau belajar, dan bersedia mengasihi tanpa syarat.

Reda Konseling, Layanan Konseling Keluarga Indonesia Berpengalaman

Di zaman digital ini telah banyak layanan konseling keluarga profesonal dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Bimbingan Pernikahan Tangerang

Bimbingan Pernikahan Tangerang : Pentingnya Mendengarkan Pasangan

Bimbingan Pernikahan Tangerang

Bimbingan Pernikahan Tangerang : Pentingnya Mendengarkan Pasangan | Dalam sebuah hubungan pernikahan, komunikasi menjadi kunci utama untuk membangun hubungan pernikahan menjadi harmonis. Komunikasi secara terbuka dapat meminimalisir munculnya perselisihan dan konflik, karena dari suami dan istri memiliki pemahaman yang sama, isi hati dan perasaan yang sama, atau maksud dan tujuan yang sama. Jika komunikasi dengan pasangan tidak berjalan dengan baik dan terbuka, maka perselisihan dan konflik sering kali akan muncul. Agar komunikasi dapat berjalan dengan baik, terdapat beberapa cara yang harus pasangan lakukan, yaitu dengan mendengarkan. Mendengarkan adalah seni, karena mendengarkan bukan hanya sekedar diam dan tidak memberikan respon apapun. Mendengarkan adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya, menyimak dengan empati, dan menerima lawan bicara tanpa ada judging atau menghakimi. Pada artikel kali ini akan membahas tentang pentingnya mendengarkan pasangan, dan cara-cara yang bisa pasangan lakukan bersama-sama untuk hubungan pernikahan yang penuh harmonis.

Pentingnya Mendengarkan Pasangan

Menurut David Richo dalam bukunya yang berjudul How to Be an Adult in Relationships, Hubungan yang sehat terbentuk dengan dasar kehadiran penuh dan penerimaan tanpa syarat. Sebuah hubungan akan membutuhkan lima bentuk cinta utama :

  1. Perhatian (Attention)
  2. Penerimaan (Acceptance)
  3. Penghargaan (Appreciaton)
  4. Kasih Sayang (Affection)
  5. Kebebasan Menjadi Diri Sendiri (Allowance)

Dari kelima nya ini, perhatian penuh (Attention) adalah pintu pertama, dan sangat berkaitan langsung dengan kemampuan mendengarkan. Alasan mengapa mendengarkan merupakan hal yang penting antara lain sebagai berikut.

Memberi Rasa Aman

Seseorang yang didengarkan akan merasa bahwa keberadaannya dianggap ada oleh orang lain. Rasa aman yang tercipta terhadap pasangan merupakan hal yang penting untuk dijaga. Semakin rasa aman itu dijaga, maka emosionalitas seseorang dengan pasangannya juga akan semakin terjaga dengan baik.

Membangun Keintiman

Mendengarkan pasangan dengan sepenuh hati akan turut membuka ruang untuk keterhubungan emosional dengan pasangan. Hal ini lantas menjadi fondasi yang amat penting.

Mengurangi Konflik

Konflik dengan pasangan seringkali terjadi karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Salah satu penyebab kebutuhan emosional tidak terpenuhi adalah karena kurangnya seseorang untuk mendengarkan pasangannya. Ketika seseorang benar-benar mendengarkan, maka mereka akan merespon dengan penuh kasih, bukan hanya dengan reaksi.

Cara Mendengarkan Yang Baik

Menurut John Gray, laki-laki dan perempuan memiliki caranya masing-masing dalam berpikir dan berperasaan. Konflik dengan pasangan seringkali terjadi karena salah paham ketika berkomunikasi. Laki-laki dan perempuan memiliki bahasanya tersendiri, maka cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik tersebut adalah mendengarkan pasangan dengan cara yang sesuai dengan ‘bahasa planet’ mereka.  Laki-laki cenderung ingin memperbaiki masalah secara langsung. Ketika wanita menceritakan masalahnya, laki-laki seringkali langsung menawarkan solusi. Tetapi, hal tersebut justru membuat wanita tidak merasa didengarkan, karena wanita ingin didengarkan dan dipahami dulu.

Yang dibutuhkan wanita adalah didengarkan tanpa interupsi. Tidak hanya dipahami ceritanya, tapi juga dengan emosinya. Bagi wanita, didengarkan dengan sabar menandakan dirinya penting untuk pasangan. Sedangkan pria, pria juga ingin didengarkan. Tetapi seringkali mereka menujukkan emosinya dengan diam atau menyendiri. Ketika pria sedang menyendiri, sebaiknya wanita tidak memaksanya untuk berbicara, tetapi memberikan mereka ruang. Menghargai keheningan pria juga bisa berarti dengan mendengarkan. Bagi John Gray, mendengarkan pasangan bukan berarti menyetujui semuanya, tetapi tentang hadir untuk memahami dari sudut pandangnya.

Konsultasi Pernikahan Indonesia, Reda Konseling

Zaman saat ini telah banyak layanan yang menyediakan jasa konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman. Salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

Konsultasi Pernikahan Indonesia

Konsultasi Pernikahan Indonesia : Mengelola Harga Diri

Konsultasi Pernikahan Indonesia

Konsultasi Pernikahan Indonesia : Mengelola Harga Diri | Harga diri merupakan salah satu variabel penting yang mampu memengaruhi kemajuan atau kemunduran sebuah pernikahan. Jika tidak mengelola harga diri dengan baik, pasangan bisa mengalami kemunduran dalam hubungan pernikahan. Artikel ini membahas pentingnya menjaga harga diri dalam pernikahan, yang akan menjadi fondasi kuat dalam sebuah hubungan pernikahan.

Pentingnya Mengelola Harga Diri

Dalam buku Love & Low Self-Esteem : How to Help and Support a Partner Struggling with Self-Esteem in a Relationship, harga diri memiliki pengaruh yang kuat terhadap kelanggengan sebuah hubungan pernikahan. Hal-hal yang berpengaruh dalam aktivitas pernikahan sebuah pasangan antara lain :

Menentukan Seseorang Mencintai dan Dicintai

Bagaimana seseorang mengelola harga dirinya akan berpengaruh dengan bagaimana ia mencintai pasangannya. Seseorang dengan harga diri yang rendah seringkali meragukan pasangannya, selalu mencoba mencari validasi dari pasangannya, atau seringkali merasa takut dikhianati atau ditinggal oleh pasangannya, meskipun ketakutan tersebut tidaklah nyata atau benar terjadi. Orang tersebut pada akhirnya mudah merasa cemburu, defensif, memiliki ketergantungan emosional yang tinggi dengan pasangan yang akan menjadi sangat melelahkan untuk kedepannya.

Menghambat Komunikasi Yang Sehat

Seseorang dengan harga diri yang rencah cenderung sulit untuk menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan yang terasa, karena takut akan memicu konflik. Mereka cenderung menyimpan dan memendam rasanya sendiri, yang lama kemudian meledak dalam bentuk kemarahan pasif atau frustasi. Seseorang dengan harga diri yang rendah seringkali juga menilai bahwa kritik merupakan serangan terhadap nilai diri mereka.

Mempengaruhi Keintiman dan Kedekatan

Seseorang dengan harga diri yang rendah akan merasa tidak pantas mendapatkan cinta atau kasih sayang. Karena merasa begitu justru mereka hendak menjaga diri secara emosional dari pasangan karena takut disakiti, cenderung menolak pujian atau kasih sayang, bahkan dalam beberapa kasus mereka menggunakan seks untuk mencari validasi, bukan sebagai ekspresi cinta.

Harga Diri Membentuk Dinamika Kekuatan dalam Hubungan

Seseorang dengan harga diri yang rendah bisa menjadi terlalu penakut, sehingga selalu menuruti pasangannya, karena ia takut pasangannya akan meninggalkannya. Atau bisa juga sebaliknya, ia akan sangat mengontrol pasangannya untuk menutupi rasa tidak aman yang ia rasakan. Tentunya kedua-keduanya akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam hubungan, sehingga memicu ketegangan jangka panjang.

Membangun Harga Diri = Membangun Fondasi Pernikahan

Penulis menjelaskan bahwa kunci dalam hubungan pernikahan kuat dengan pasangan adalah pengelolaan harga diri yang baik. Pengelolaan harga diri yang baik akan mampu meminimalisir konflik-konflik pernikahan yang seringkali terjadi, yaitu komunikasi. Pengelolaan harga diri yang baik tidak akan membuat komunikasi antara satu dengan yang lainnya menjadi terhambat. Pasangan bisa menyampaikan semua pikiran dan perasaannya tanpa hambatan. Saat mereka mengelola harga diri dengan baik, kualitas hubungan pun tumbuh. Keduanya jadi lebih mengenal diri sendiri dan pasangannya karena membangun komunikasi yang terbuka tanpa menyembunyikan apa pun. Mereka juga mampu mengelola rasa sungkan atau perasaan inferior dengan lebih sehat. Pengelolaan harga diri yang benar juga mampu menumbuhkan rasa saling menghargai satu sama lain tanpa saling bergantung, atau rasa aman tanpa harus membuktikan cinta setiap saat.

Konsultasi Pernikahan Indonesia, Reda Konseling

Di Indonesia telah banyak layanan konsultasi pernikahan dengan konselor profesional dan berpengalaman. Salah satunya adalah Reda Konseling yang merupakan layanan konsultasi pernikahan dan keluarga berpengalaman. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

 

Konseling Pernikahan Depok

Bimbingan Pernikahan Depok : Mengelola Emosi Diri

Konseling Pernikahan Depok

Bimbingan Pernikahan Depok : Mengelola Emosi Diri | Pernikahan sering melibatkan emosi karena merupakan ikatan intim dua individu dengan latar belakang emosional berbeda. Interaksi, keputusan, tantangan, dan kebahagiaan memunculkan beragam emosi (positif: waktu bersama, hobi, pencapaian, kejutan; negatif: kehilangan, kecewa, cemas). Lumrah terjadi, namun penting bagi pasangan mengelola emosi agar tidak berdampak buruk (contoh: suami marah berlebihan membuat istri takut/tidak dihargai; suami terlalu gembira hingga abai istri). Pada arrtikel kali ini membahas pentingnya dan cara mengelola emosi dalam hubungan.

Pentingnya Mengelola Emosi Diri

Dalam buku The Seven Principles for Making Marriage Work karya John M Gottman dan Nan Silver, pengelolaan emosi diri merupakan kemampuan setiap individu untuk beberapa hal berikut ini.

Mengidentifikasi dan Menyadari Emosi Diri.

Maksudnya adalah mengenali emosi apa yang terasa, apakah emosi positif atau emosi negatif, serta juga memahami pemicu emosi tersebut muncul ketika berinteraksi dengan pasangan.

Mengatur Reaksi Emosional.

Belajar untuk tidak berlebihan atau impulsif dalam merespon emosi yang muncul. Dalam hal ini, kemampuan pengendalian diri sangat berperan penting, terlebih ketika situasinya sedang menghadapi konflik dengan pasangan.

Bertanggung Jawab Atas Emosi.

Artinya adalah mengakui emosi tersebut adalah emosi milik diri sendiri dan tidak menyalahkan pasangan yang memicu emosi tersebut muncul.

Merespon Dengan Cara Yang Konstruktif.

Yakni, pasangan mengekspresikan emosi yang mereka rasakan dengan cara yang sehat, seperti menggunakan komunikasi yang asertif dan menghindari empat Penunggang Kuda (menahan diri, kritik, penghinaan, dan defensif).

Hendrix (“Getting The Love You Want”/IRT) menekankan pengelolaan emosi sebagai respons interaktif pasangan yang membangun koneksi dan menyembuhkan, bukan memecah belah Ini melibatkan :

  • Kesadaran Diri (Self-Awareness) : Memahami emosi diri sendiri dengan baik, seperti pemicu nya ketika berinteraksi dengan pasangan, dan bagaimana emosi tersebut dapat memengaruhi respon diri. Ini juga mencakup mengenali luka masa kecil (Childhood Wounds) yang mungkin saja tidak sadar terpancar.
  • Empati dan Validasi : Pasangan menghargai dan memahami emosi masing-masing, meskipun adakalanya salah satu pihak tidak setuju dengan perspektif yang dimiliki pasangannya. Validasi artinya mengakui bahwa perasaan pasangan itu penting dan nyata.
  • Regulasi Emosi Diri (Self-Regulation) : Belajar untuk mengelola reaksi emosional diri, terutama ketika sedang terjadi konflik dengan pasangan. Yang dimaksud adalah bukan menekan atau menahan emosi, tetapi merespon dengan cara yang konstruktif dan tidak merusak hubungan.
  • Komunikasi Yang Aman dan Terhubung : Mengungkapkan emosi dengan cara yang jelas, jujur, dan tidak menyerang, serta mendengarkan emosi pasangan dengan empati dan tanpa menghakimi.
  • Menggunakan Konflik Sebagai Peluang Pertumbuhan : Melihat konflik sebagai sarana atau kesempatan untuk lebih memahami pasangan, seperti kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, luka masa kecilnya, sehingga dapat bekerja sama untuk menyembuhkannya bersama-sama.

Dari penjabaran di atas, kita dapat memahami bersama bahwa pengelolaan emosi diri memiliki arti penting untuk melanggengkan hubungan dengan pasangan. Suami dan istri yang mampu mengelola emosi dengan baik akan meminimalisir keretakan dan kehancuran pernikahan mereka. Suami dan istri dapat menyelesaikan dengan baik emosi-emosi negatif yang muncul jika keduanya memiliki pengendalian emosi yang baik. Begitu pula dengan emosi positif, jika suami dan istri mampu mengendalikan emosi mereka dengan baik, masing-masing tetap bisa berempati terhadap kondisi dan perasaan pasangan saat itu, dan tidak mengabaikan situasi dan kondisi yang terjadi kala itu.

Penerapan Pengendalian Emosi Diri Dalam Keseharian

Menurut Gottman dan Silver, beberapa bentuk penerapan pengendalian emosi diri dalam keseharian antara lain :

  1. Memelihara Kehangatan dan Kekaguman (Nurture Your Fondness and Admiration). Seseorang yang mengelola emosinya mampu mengarahkan perhatian pada hal-hal yang disukai dan dihargai dari pasangan, bahkan saat ada masalah atau konflik. Dengan begitu emosi positif dapat menjadi penyangga terhadap emosi negatif.
  2. Berbalik Ke Arah Pasangan, Bukan Menjauh (Turn Toward Each Other Instead Of Away). Pengelolaan emosi diri memungkinkan seseorang merespons secara positif, alih-alih mengabaikan atau merespons negatif karena suasana hati yang buruk.
  3. Untuk menyelesaikan masalah yang dapat diselesaikan (Solve Your Solvable Problems), pasangan suami istri perlu memulai komunikasi secara terbuka dengan lembut dan tidak saling menyalahkan. Kemudian, mereka mempertimbangkan perspektif dan perasaan masing-masing. Selanjutnya, setiap pihak memperbaiki diri agar memahami kapan emosi mulai memanas dan mengidentifikasi tindakan yang dapat mereka lakukan untuk mengatasinya. Selain itu, suami dan istri perlu memahami langkah-langkah untuk meminimalisir stres dan ketegangan emosional saat konflik agar tetap berpikir jernih.
  4. Menghindari “Empat Penunggang Kuda”. Jangan biarkan diri untuk menghindar. Kendalikan kritik, tahan diri dari penghinaan, hindari untuk menarik diri, dan tidak bersikap defensif.Agar seperti itu, maka biasakan diri sendiri untuk dapat meregulasi emosi dengan baik.

Konsultasi Dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Pasangan dapat memilih berkonsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman agar lebih memahami cara-cara spesifik untuk mengendalikan emosi dalam hubungan pernikahan. Di zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah dengan Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Bimbingan Pernikahan Bogor

Bimbingan Pernikahan Bogor : Konflik Tidaklah Selalu Negatif!

Bimbingan Pernikahan Bogor

Bimbingan Pernikahan Bogor : Konflik Tidaklah Selalu Negatif! | Dalam sebuah hubungan pernikahan, tidak sedikit orang menganggap konflik adalah hal yang buruk. Sebagian orang berpandangan bahwa apabila muncul konflik dengan pasangan hanya akan mengurangi keharmonisan dan kerukunan hubungan dengan pasangan. Pada faktanya, tidak sedikit kasus perceraian terjadi karena konflik diantara keduanya. Macam-macam konfliknya yakni komunikasi yang buruk, perselingkuhan, kurangnya peran dan tanggung jawab pasangan dalam rumah tangga, dan sebagainya. Karena seperti itu, banyak dari mereka yang memilih untuk menghindari adanya konflik dengan pasangan, agar tidak terjadi hal buruk dalam pernikahannya di kemudian hari. Lantas, apakah dengan tidak berkonflik menandakan hubungan pernikahan tersebut harmonis dan rukun? Dan apakah hal itu mungkin untuk pihak suami dan istri dengan segenap perbedaan, kelebihan, kekurangan yang dimiliki untuk tidak cekcok atau berkonflik sama sekali? Dalam artikel ini akan membahas pandangan tentang konflik itu sendiri, dan bagaimana cara mengelola konflik untuk produktivitas hubungan pernikahan.

Pandangan Tentang Konflik

Konflik dalam sebuah hubungan pernikahan merupakan hal yang wajar. Konflik dalam pernikahan merupakan hal yang normal terjadi dan tidak dapat terelakkan. Justru apabila tidak ada konflik dalam sebuah hubungan pernikahan dapat menjadi pertanda buruk untuk hubungan pernikahan tersebut, karena pasangan bisa jadi menekan emosinya, menghindari komunikasi, atau tidak jujur dengan perasaannya sendiri agar tidak memunculkan konflik. Pada akhirnya, pasangan dapat menilai pernikahan secara negatif dan menganggapnya hanya membawa penderitaan dan kesedihan. Padahal, mereka tidak seharusnya menyimpulkan hal tersebut dengan cara yang mudah dan tergesa-gesa.

Menurut buku Fighting For Your Marriage karya Howard J. Markman, Scott M. Stanley, dan Susan L. Blumberg, konflik bukanlah masalah itu sendiri. melainkan bagaimana pasangan menangani nya, yang mana konflik tersebut tentunya akan menentukan arah hubungan mereka kedepannya.

Konflik Tidak Perlu Dihindari, Tapi Perlu Untuk Dikelola

Kesalahan umum yang sering dilakukan pasangan adalah menghindari konflik, seperti menghindari komunikasi, memendam perasaan, atau berpura-pura tidak ada apapun yang terjadi. Menghindari konflik pada akhirnya hanya akan menumpuk masalah, yang suatu saat bisa meledak menjadi lebih besar, tinggal menunggu waktu. Oleh karena itu, kedua pasangan perlu mengelola konflik yang muncul dengan benar. Ketika pasangan mengelola konflik dengan tepat, mereka dapat menggunakannya sebagai alat untuk bertumbuh secara emosional, memperkuat keintiman, dan membangun saling percaya.

Cara Berkonflik Lebih Penting Daripada Isi Konflik

Maksudnya, bukan masalah atau konfliknya yang membuat hubungan pernikahan menjadi buruk atau hancur, melainkan cara pasangan menyelesaikan konflik itulah yang menentukan. Pasanganlah yang menentukan arah hubungan melalui cara mereka berkomunikasi, berdebat, dan mengatasi perbedaan yang muncul di antara mereka. Adanya perbedaan tidak menghalangi pihak suami maupun pihak istri untuk saling menghormati dan menghargai. Pasangan yang saling menghormati satu sama lain akan memiliki kemungkinan kuat untuk membangun hubungan pernikahan yang stabil dan harmonis.

Konflik Sebagai Jalan Kejelasan dan Kompromi

Howard dkk menjelaskan bahwa konflik yang tercipta diantara keduanya dapat menjadi sarana untuk menciptakan kejelasan diantara kedua pasangan. Tidak hanya sekedar perdebatan, tetapi konflik bisa menjadi ruang dialog emosional untuk pasangan. Suami dan istri dapat berdialog secara langsung untuk mencapai tujuan bersama, seperti membangun kesepakatan baru, membuat kompromi, menentukan prioritas dalam urusan rumah tangga, serta memahami keinginan satu sama lain secara lebih mendalam.

Cara Mengelola Konflik Agar Produktif

Howard dkk menjelaskan cara-cara yang bisa dilakukan pasangan untuk mengelola konflik dengan baik. Cara-cara tersebut antara lain :

  1. Tunda percakapan ketika emosi memuncak. Ketika emosi tidak terkendali, pasangan sebaiknya tidak melanjutkan percakapan karena hal itu hanya akan memperburuk situasi. Pasangan dapat menghentikan diskusi untuk sementara dan memberi waktu kepada diri masing-masing untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Namun, penting untuk memberitahu pasangan bahwa langkah ini bertujuan untuk menenangkan diri, bukan untuk menghindar.
  2. Hindari gaya komunikasi destruktif. Howard menjelaskan tanda-tanda gaya komunikasi yang masuk ke dalam tanda bahaya (Danger Sign) antara lain : Withdrawal  (Menarik Diri/Diam), Escalation  (Pertengkaran Makin Memanas), Invalidation  (Meremehkan atau Merendahkan), Negative Interpretations  (Mengasumsikan Niat Buruk).
  3. Terapkan teknik “Speaker-Listener”. Teknik ini merupakan teknik komunikasi yang dirancang untuk membantu pasangan mendengarkan dengan penuh empati. Teknisnya :
    • Satu orang berbicara, satu orang mendengarkan
    • Pendengar tidak boleh menyela, hanya merangkum apa yang ia pahami
    • Tujuan utama adalah memastikan pasangan merasa didengar dan dipahami, bukan sekedar menang argumen.
  4. Fokus pada masalah, bukan karakter pasangan.  Terkadang, tanpa sadar, seseorang justru menyinggung karakter pasangannya saat sedang bertengkar, bukan membahas masalah yang sebenarnya. Contohnya, ucapan yang keluar adalah “Kamu terlalu egois”, bukan “Aku kesal karena kamu tidak melibatkan aku dalam keputusan ini.”. Masing-masing pasangan perlu lebih menyadari pentingnya untuk membedakan dan melihat secara objektif terkait masalah atau konfliknya.
  5. Membangun Komitmen Yang Kuat. Dalam bukunya juga menjelaskan bahwa membangun komitmen dengan pasangan merupakan hal yang penting, terutama ketika konflik besar muncul. Komitmen yang kuat dapat membantu pasangan untuk tetap bertahan dan mencari solusi jangka panjang untuk hubungan mereka kedepannya.

Reda Konseling, Konsultasi Pernikahan dan Keluarga Berpengalaman

Di masa kini cukup banyak penyedia layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Konsultasi dengan konselor berpengalaman juga dapat menjadi cara untuk pasangan untuk memahami masalah atau konflik pernikahan yang ada serta solusi yang bisa diterapkan dalam keseharian untuk menyelesaikannya. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pranikah Jakarta

Konseling Pranikah Jakarta : Pentingnya Kelola Ekspektasi

Konseling Pranikah Jakarta

Konseling Pranikah Jakarta : Pentingnya Kelola Ekspektasi | Dalam pernikahan, wajar jika kita memiliki ekspektasi terhadap pasangan—mulai dari kebutuhan emosional, keuangan, hingga rasa aman. Tak jarang, pasangan menikah dengan harapan bisa mewujudkan ekspektasi-ekspektasi tersebut. Namun, ketika ekspektasi tidak terpenuhi, kekecewaan pun muncul dan bisa memicu konflik, bahkan perceraian.
Karena itu, penting bagi setiap pasangan untuk mengelola ekspektasi demi menciptakan hubungan yang nyaman dan harmonis. Artikel ini akan membahas tentang ekspektasi dalam pernikahan, dampak dari ekspektasi yang tidak sehat, serta cara mengelolanya secara bijak.

Pengertian Ekspektasi

Menurut buku Boundaries In Marriage, ekspektasi adalah harapan atau asumsi yang kita miliki terhadap pasangan, baik secara sadar atau tidak sadar, tentang bagaimana seharusnya pasangan kita bersikap atau berperilaku. Harapan-harapan tersebut bisa berkaitan dengan berbagai hal, seperti peran suami/istri, cara menyelesaikan konflik, quality time, keintiman fisik dan emosional, dan sebagainya. Contoh spesifiknya :

  1. Harapan bahwa pasangan akan berubah setelah menikah
  2. Harapan bahwa cinta saja cukup tanpa adanya usaha
  3. Harapan bahwa pasangan akan mengerti secara langsung apa yang kita rasakan

Berekspektasi dengan pasangan bukanlah hal yang salah. Akan tetapi, jika kita salah berekpektasi justru akan melahirkan konflik dengan pasangan. Beberapa jenis masalah atau konflik yang bisa timbul karena ekspektasi yang salah menurut Dra Titiek Rachmania :

  1. Kekecewaan Kronis. Pasangan akan merasa sangat kecewa ketika mereka memiliki harapan yang besar dan dalam, namun harapan itu tidak sesuai kenyataan—terutama jika harapan tersebut keliru sejak awal. Misalnya, suami atau istri berharap bahwa pernikahan selalu terisi dengan kebahagiaan. Ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi dan muncul masalah, mereka pun merasa kecewa dan mulai menganggap pernikahan adalah sebuah kesalahan.
  2. Saling Menyalahkan. Karena ekspektasi nya salah dan tidak terpenuhi, pada akhirnya baik dari pihak suami atau pun pihak istri akan saling menyalahkan satu sama lain. Perilaku saling menyalahkan itu biasanya juga disertai dengan membandingkan-bandingkan ketika masa pacaran atau masa sebelum menikah.
  3. Komunikasi Yang Buruk. Komunikasi merupakan fondasi penting dalam menjalani hubungan pernikahan. Pasangan harus berkomunikasi secara terbuka dan tidak menyembunyikan apa pun, termasuk tentang ekspektasi mereka masing-masing. Ketika mereka tidak membicarakan ekspektasi dengan jelas, komunikasi yang buruk pun muncul dan akhirnya memicu kesalahpahaman. Salah satu dari mereka bisa saja diam-diam berharap, sementara pasangannya tidak menyadari harapan tersebut.
  4. Perasaan Tidak Dicintai Atau Dihargai. Ekspektasi atau harapan yang terus menerus terpendam dan tidak ada upaya dari pasangan untuk mengkomunikasikannya, hanya akan membuat mereka tidak lagi merasa penting untuk pasangannya sendiri. Pada akhirnya muncul mispersepsi atau salah pemahaman terhadap pasangan.
  5. Munculnya Fantasi atau Pelarian Emosional. Karena rasa kecewa muncul terus menerus, hal tersebut dapat memicu pasangan untuk berfantasi tentang orang lain, tentang standar hidup yang lebih ideal, dan membuat mereka jadi menghindari pasangan.

Beberapa contoh ekspektasi yang salah, menurut Dra Titiek Rachmania dalam bukunya yang berjudul Perkawinan Bahagia : Antara Mitos dan Realita :

  • “Setelah menikah, semua masalah akan selesai.” Padahal faktanya, pernikahan itu melahirkan tantangan dan permasalahan baru yang harus dihadapi bersama-sama.
  • “Pasangan yang baik adalah pasangan yang selalu mengerti tanpa perlu penjelasan.” Padahal dalam menjalani sebuah hubungan, komunikasi terbuka merupakan akar atau fondasi utamanya. Tanpa komunikasi, mispersepsi antara keduanya akan terus terjadi.
  • “Bila kita saling mencintai, kita tidak perlu bertengkar.” Yang mana dalam pernikahan, pertengkaran sangat wajar terjadi. Yang penting adalah bagaimana cara pasangan menyelesaikan pertengkaran tersebut.

Mengelola Ekspektasi Dalam Pernikahan

Kita bisa menerapkan beberapa solusi untuk membantu mengelola ekspektasi dalam pernikahan, antara lain:

Bangun Komunikasi Yang Jujur dan Terbuka

Tips yang diberikan Dra Titiek untuk mengelola ekspektasi adalah dengan membangun komunikasi yang jujur dan terbuka dengan pasangan. Buatlah jadwal khusus dengan pasangan untuk mengobrol dari hati ke hati tanpa adanya gangguan. Sampaikan isi hati dan pikiran dengan jujur kepada pasangan. jangan ragu untuk menyampaikan seluruhnya.

Belajar Menerima Pasangan Secara Utuh

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menjadi penting untuk kita agar mampu mengelola ekspektasi yang kita miliki sesuai dengan kelebihan dan kekurangan yang pasangan kita miliki. Kekecewaan akan ekspektasi yang muncul biasanya karena tidak adanya pertimbangan utuh tentang bagaimana pasangan kita. Syukuri hal-hal positif yang pasangan kita miliki, dan jangan pernah untuk mempermalukan pasangan atas kekurangannya. Pasangan kita adalah manusia yang sama seperti kita.

Kenali dan Evaluasi Ekspektasimu

Menjadi hal penting untuk kita agar memahami dengan baik ekspektasi kita terhadap pasangan. Kita perlu sekali untuk memahami, apakah ekspektasi yang kita munculkan ini hanyalah keinginan belaka, atau idealisasi yang muncul dari pengaruh lingkungan atau orang terdekat. Hal ini perlu dilakukan agar kita dapat mengukur dan memahami, apakah ekspektasi yang kita munculkan kepada pasangan adalah ekspektasi yang realistis, tepat, atau bukan.

Bangun Batasan Yang Sehat

Batasan yang dimaksud adalah batasan emosional kita dengan pasangan kita. Walaupun kita telah berpasangan, kebahagiaan kita tetap menjadi tanggung jawab diri kita sendiri, bukan pasangan kita. Bukan berarti ketika pasangan kita tidak bisa berubah sesuai keinginan kita, kita tetap memaksanya, menuntutnya sampai membuat pasangan kita tidak nyaman. Kita tidak menuntutnya tetapi kita menyampaikan kepada pasangan, apa yang kita butuhkan dan apa yang kita rasakan terhadap pasangan.

Beri Ruang Untuk Pertumbuhan

Melanjut pada pembahasan sebelumnya, kita tidak menuntut pasangan tetapi memberikan ruang untuk pasangan untuk bertumbuh, untuk berubah. Kita tidak bisa memaksa cinta dan kedewasaan, tetapi kita dapat menciptakan kondisi dan lingkungan untuk pasangan bertumbuh, berkembang, berubah menjadi lebih baik. Salah satu tokoh inspiratif yang dapat kita jadikan inspirasi bersama adalah Pak Habibie dan Ibu Ainun, yang saling support satu sama lain dan menjadi rumah, hingga maut memisahkan.

Reda Konseling, Layanan Konseling Pernikahan Berpengalaman

Untuk mempersiapkan diri menuju hubungan pernikahan, tidak salah untuk mengikuti konseling pranikah dengan konselor berpengalaman dan profesional. Salah satunya adalah dengan Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pernikahan

Konseling Pernikahan : Alasan Tidak Nyambung Dengan Pasangan

Konseling Pernikahan

Konseling Pernikahan : Alasan Tidak Nyambung Dengan Pasangan | Mengapa pasangan itu berubah sebelum menikah dan setelah menikah?

Jawabannya adalah karena manusia setiap hari berubah. Setiap harinya kita memperoleh informasi dari berbagai sumber, seperti televisi, surat kabar, media sosial, juga dari orang-orang yang baru dan lingkungan yang baru, Darisana kita juga turut menghadapi berbagai masalah yang baru secara langsung, dan secara signifikan merubah persepsi, pikiranm dan perilaku kita bersamaan. Kita berubah menjadi manusia yang baru, begitu juga dengan pasangan kita.

Kadang kita tidak sadar bahwa manusia akan terus berubah, baik itu ke arah yang lebih baik atau ke arah yang lebih buruk, Namun terlepas dari  itu semua, pada akhirnya kebanyakan orang yang berumah tangga merasa hidup dengan orang asing, karena pasangan yang dicintainya dulu sebelum menikah kemudian menjadi orang yang berbeda setelah menikah. Perubahan ini kemudian merubah dinamika hubungan dalam pernikahan, ada kalanya ini menjadi kejutan yang bernilai positif dan ada pula menjadi kejutan yang negatif.

Tidak banyak orang yang siap dengan perubahan, apalagi  yang berubah adalah pasangan hidup kita, orang yang kita cintai. Jika tidak di antisipasi maka kita bisa merasa sangat asing dengan pasangan kita sendiri, sampai muncul rasa bahwa kita tidak kenal lagi dengan pasangan dan pada akhirnya di masa munculnya konflik akan sulit untuk di mediasi karena merasa tidak lagi sefrekuensi.

Nah, agar pondasi rumah tangga kuat dari dinamika perubahan yang terjadi dengan pasangan, dibutuhkan 7 prinsip yang dikemukakan oleh Dr. John Gottman dalam bukunya yangg berjudul “THE SEVEN PRINCIPLES FOR MAKING MARRIAGE WORK“, yaitu LOVE MAP, yang menjadi prinsip pertama dalam membangun pondasi rumah tangga yang kuat. Pada artikel ini akan membahas tentang apa itu Love Map, alasan Love Map merupakan hal yang penting, dan contoh Love Map yang kuat dengan Love Map yang lemah.

Baca Juga : Bimbingan Pernikahan Jakarta : Membangun Kepercayaan Pasca Perselingkuhan

APA ITU LOVE MAP?

Love map atau peta cinta adalah istilah yang digunakan oleh Dr. John Gottman untuk menggambarkan peta mental tentang dunia  pasangan, yaitu seberapa banyak kamu tahu tahu tentang kehidupan batin, keseharian, dan dunia emosional pasanganmu.

  • Apa yang pasanganmu suka?
  • Apa yang dia takuti?
  • Siapa sahabat terdekatnya?
  • Apa yang dia bikin stress minggu ini?
  • Apa mimpinya yang belum tercapai?
  • Nilai hidup apa yang dia pegang?
  • Hal kecil apa yang bisa bikin dia senang atau kesal?

Semakin detail pertanyaan, maka semakin kita mengetahui dan mengenal pasangan kita, baik dari bagaimana mindset yang dimiliki dan emosinya. Hal ini akan memudahkan kita untuk terkoneksi atau nyambung dengan pasangan.

MENGAPA LOVE MAP PENTING?

Dunia seseorang selalu  berubah. Bisa karena stress kerja, fase hidup, atau juga karena prioritas baru. Jika kita tidak memperbaharui love map atau peta cinta pasangan kita, akan ada perasaan dimana kita merasa asing dengan pasangan. Sedangkan love map atau peta cinta sangat penting dalam suatu hubungan, dalam fase kehidupan rumah tangga untuk terud di upgrade oleh masing-masing pasangan, baik pihak suami ataupun pihak istri. Semisal ada konflik, karena love maps nya selalu update maka pasangan tidak akan mudah berpisah. Love maps yang selalu di upgrade akan membuat kedua pasangan memiiki  kelekatan secara emosional, juga merasa terhubung secara emosional.

Jika kondisi jalan raya yang menghubungkan rumah kita ke kantor terus berubah setiap hari karena perbaikan jalan, kemacetan, kecelakaan, atau perubahan rute, maka kita akan mencari dan meng-update informasi terbaru tentang rute tercepat yang bisa kita lewati agar bisa sampai di kantor tepat waktu. Pun sama dengan Love Map, kita perlu untuk tetap update love map atau peta cinta pasangan kita agar kita tahu, ada kemacetan apa dalam rute persepsi pasangan kita, perbaikan sirkuit persepsi atau cara berpikirnya yang telah berubah karena sesuatu, atau apa ada kecelakaan dalam sirkuit perasaannya sehingga memengaruhi kondisi emosional pasangan, agar kita peka terhadap sisi-sisi sensitif pasangan dan mampu menempatkan diri dengan baik. Tanpa upaya ini, mungkin pasangan merasa kecewa dengan sikap, reaksi dan ekspresi yang kita sajikan untuknya.

CONTOH LOVE MAP YANG KUAT VS LEMAH?

  • PASANGAN A (KUAT)
    Suami memberikan uang belanja yang kurang dari bulan sebelumnya, karena suami mengalami penurunan karir sehingga insentif atau gajinya pun turun. Mengetahui hal tersebut istri menerima uang belanja dari suami penuh dengan rasa syukur, kemudian memberikan dukungan kepada suami baik secara moral dan finansial, dengan membuka ide bisnis kecil-kecilan bersama ibu-ibu rumah tangga yang lain untuk menutupi kekurangan uang belanja rumah tangga. Kemudian suami pun memuji upaya yang istri lakukan, lalu usaha rumahan tersebut semakin bagus dan ini berimplikasi pekerjaan rumah tangga banyak terbengkalai. Tetapi suami mengerti dan kemudian membantu tugas-tugas rumah tangga tersebut seperti mencuci baju, menyapu dan mengepel rumah dll.
  • PASANGAN B (LEMAH)
    Ketika uang belanja yang suami berikan kurang dari bulan sebelumnya, istri marah-marah dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan dan membandingkan dengan suami yang lain. Bahkan performa melayani suami juga turun kualitasnya seperti tidak menyiapkan makan malam, dan menolak ajakan berhubungan seksual. Tidak hanya itu, istri juga membuat status di media sosial tentang suami yang kurang nafkahnya, sampai mengikuti tren untuk membuat konten suami mokondo sebagaimana yang viral di media sosial. Hal ini tentunya membuat perasaan suami sangat sedih dan kecewa, pun harga diri nya sebagai suami juga terluka.

Baca Juga : Konseling Pranikah Online : Mengelola Konflik Dengan Pasangan

KIAT-KIAT KOMONIKASI MENGUPDATE LOVE MAP ATAU PETA CINTA PASANGAN

1. Komunikasi Asertif

Seseorang menggunakan komunikasi asertif untuk menyampaikan pendapatnya secara lugas tanpa menyinggung orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal. Kita dapat menjadikan teknik komunikasi ini sebagai kiat yang berguna untuk mengupdate love map atau peta cinta pasangan, karena kita menyampaikan hal-hal yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Beberapa contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari bersama pasangan antara lain:

  • Menyatakan Kebutuhan,
    “Kenapa kamu lupa cuci piring?”
    Bisa diganti dengan :
    “Aku merasa kecapekan dengan pekerjaan rumah. Bisa kamu bantuin aku untuk cuci piring setelah makan?”
  • Mengungkapkan Emosi.
    “Kamu terus mengabaikan aku!”
    Dapat diganti dengan :
    “Aku merasa tidak dihargai ketika kamu tidak mendengarku hingga selesai. Aku ingin kamu tahu kalau aku membutuhkan perhatianmu.”
  • Memuji Secara Jujur
    Daripada diam, bisa diungkapkan dengan :
    “Aku bersyukur kamu bisa membuatku senang. Terima kasih.”
  • Meminta Perubahan
    “Kamu terus aja begini!”
    Dapat diubah dengan :
    “Aku merasa tidak nyaman kalau kamu berbicara dengan nada seperti itu. Bisa berbicara dengan nada yang lebih lembu

2. Ngobrol Tiap Hari

Aktivitas mengobrol yang dilakukan setiap harinya tidak harus lama. Dilakukan dengan waktu singkat juga tidak masalah, asalkan keduanya berniat untuk saling mendengarkan juga memahami. Bukan hanya sekedar mendengarkan tetapi tidak memahami.

Berikut contoh instrumen pertanyaan yang bisa dipraktikan sebagai pembuka :

  • “Hari ini apa yang paling menyenangkan buatmu?”
  • “Apa yang kamu khawatirkan minggu ini?”
  • “Apa yang sedang kamu pikirkan belakangan ini?”
  • “Apa impian yang belum kamu ceritakan ke aku?”

Konsultasi Dengan Konselor Pernikahan dan Keluarga Berpengalaman

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pernikahan Bogor

Konseling Pernikahan Bogor : Pasangan Dengan Gangguan Mental

Konseling Pernikahan Bogor

Konseling Pernikahan Bogor : Pasangan Dengan Gangguan Mental | Menikah adalah keputusan seumur hidup. Sebuah hubungan pernikahan bukanlah hubungan yang dapat diakhiri dengan mudahnya jika terdapat rasa ketidaknyamanan. Pernikahan merupakan hubungan yang sakral, memuat komitmen kuat untuk bersama selamanya, hingga maut memisahkan. Namun, apabila diketahui terdapat pasangan yang memiliki gangguan mental, tantangan pernikahan mungkin akan sedikit lebih kompleks. Karena gangguan mental itu sendiri berpengaruh terhadap cara seseorang dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan pasangan dan orang terdekat, cara merespon atau memberikan tanggapan, kebiasaan dalam menjalani rutinitas sehari-hari, cara memaknai atau mengelola emosi dalam menghadapi masalah dan tantangan pernikahan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan membahas tentang gangguan mental itu sendiri serta cara mengelola pernikahan dengan pasangan yang memiliki gangguan mental.

Arti dari Gangguan Mental

Menurut APA (American Psychiatric Association) mendefinisikan gangguan mental sebagai suatu sindrom yang menunjukkan gangguan klinis yang signifikan dalam kognisi, regulasi emosi, atau perilaku, yang mencerminkan disfungsi dalam proses psikologis, biologis, atau perkembangan yang mendasari fungsi mental. Artinya, gangguan mental tidak hanya membahas tentang merasa sedih atau cemas. Kondisi tersebut serius dan tidak bisa kita anggap sepele, karena dapat menganggu kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan orang lain secara sehat.

WHO (World Health Organization) mendefinisikan gangguan mental sebagai kondisi kesehatan yang menunjukkan adanya gangguan signifikan dalam pikiran, emosi, atau perilaku, yang berkaitan dengan gangguan fungsi psikologis, biologis, atau perkembangan. WHO juga menegaskan bahwa gangguan mental tidak berasal dari kelemahan pribadi, melainkan muncul akibat kombinasi berbagai faktor, seperti faktor genetik, biologis, lingkungan, dan psikososial.

Dari dua referensi tersebut, dapat kita pahami bahwa gangguan mental merupakan kondisi yang serius, nyata, dan kompleks sehingga memengaruhi fungsi kognitif, emosional, dan sosial seseorang. Pun juga dalam pernikahan, kita tidak bisa menangani pasangan yang memiliki gangguan mental secara sembarangan.. Pasangan harus menerapkan cara-cara tertentu agar hubungannya dengan pasangan tidak berangsur memburuk.

Cara Mengelola Pernikahan Dengan Pasangan Gangguan Mental

Menurut Rebecca Woolis dalam bukunya yang berjudul “When Someone You Love Has A Mental Illness”, beberapa cara dalam mengelola pernikahan dengan pasangan yang memiliki gangguan mental antara lain sebagai berikut :

  1. Menerima Kenyataan dan Meningkatkan Pemahaman.Kita perlu menerima bahwa pasangan kita memiliki gangguan mental tertentu dan secara aktif menambah wawasan tentang gangguan mental yang mereka alami. Dengan memahami hal tersebut, kita dapat menghindari definisi yang keliru terhadap perilaku pasangan dan menyadari bahwa mereka tidak melakukannya karena kemauan buruk, melainkan karena kondisi medis yang mereka alami.
  2. Menjaga Komunikasi Yang Realistis dan Terbuka. Dalam berkomunikasi, gunakan bahasa yang tenang dan jelas, tanpa adanya indikasi untuk menyudutkan pasangan, bahkan membuat mereka tertekan. Jika pasangan dalam keadaan tidak stabil, kita tidak memaksa untuk diskusi emosional demi kondisi pasangan agar tetap baik. Kita juga perlu untuk menyusun pola komunikasi yang sesuai dengan kondisi mental pasangan kita.
  3. Membuat Rencana Perawatan dan Kontingensi. Pasangan dengan gangguan mental juga perlu untuk memiliki rencana perawatan jangka panjang untuk kedepannya. Bisa dengan membuat jadwal yang terstruktur dan konsisten untuk konsultasi dan terapi pada tenaga profesional dan berpengalaman.
  4. Menjaga Hubungan Emosional dan Intim. Woolis menekankan bahwa gangguan mental bukanlah akhir dari segalanya. Kita bisa menjaga keintiman pernikahan dengan menciptakan momen positif, menghindari konflik tidak produktif, dan konsisten menunjukkan kasih sayang serta penghargaan setiap hari.
  5. Membangun Sistem Dukungan Sosial. Tidak perlu sungkan untuk membuka diri terhadap bantuan, baik dari segi emosional maupun logistik seperti bantuan mengurus anak ketika pasangan dalam keadaan tidak stabil, melibatkan orang-orang terdekat dan tenaga profesional sebagai sistem dukungan dari eksternal. Pasangan dapat bergabung dalam komunitas untuk memperluas pengetahuan tentang gangguan mental dan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Konsultan Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Melibatkan konsultan pernikahan berpengalaman merupakan pilihan strategi yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan hubungan pernikahan tersebut selamanya. Pada masa kini telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah dengan Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Bimbingan Pernikahan Jakarta

Bimbingan Pernikahan Jakarta : Membangun Kepercayaan Pasca Perselingkuhan

Bimbingan Pernikahan Jakarta

Bimbingan Pernikahan Jakarta : Membangun Kepercayaan Pasca Perselingkuhan | Perselingkuhan menjadi salah satu konflik pernikahan yang terjadi. Pada tahun 2023 sampai 2024, tidak sedikit media sosial membahas kasus perselingkuhan yang menimpa para artis-artis ternama, yang kemudian berujung dengan perceraian. Tetapi sebagian orang tetap memillih untuk kembali berbaikan dengan pasangannya, meski tentunya hal tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Hal tersebut karena berbagai faktor, baik itu dari faktor internal maupun faktor eksternal. Lantas, bagaimana caranya untuk membangun kembai kepercayaan pasca perselingkuhan? Pada artikel ini akan membahas faktor-faktor seseorang memutuskan untuk tetap bertahan, dan cara-cara yang dapat dilakukan untuk membangun kembali kepercayaan dengan pasangan pasca perselingkuhan.

Penyebab Mereka Memilih Untuk Bertahan

Ada beberapa alasan mengapa sebagian dari mereka memutuskan untuk tetap bertahan setelah dikhianati oleh pasangan. Menurut beberapa ilmuwan dan pakar hubungan, beberapa pertimbangan yang menjadi dasar atas pilihan tersebut antara lain :

Faktor Emosi Dan Ikatan Yang Kuat

Menurut John Bowlby, manusia memiliki kebutuhan untuk membangun ikatan emosional yang kuat dengan orang lain. Pasangan yang sudah lama bersama-sama cenderung telah memiliki keterikatan emosional yang mendalam, sehingga sulit untuk memutuskan berpisah meski telah dikhianati.

Harapan Untuk Memperbaiki Hubungan

Dalam penelitiannya tentang pernikahan, Dr. John Gottman menemukan bahwa pasangan tetap bertahan karena mereka berharap dapat memperbaiki hubungan yang telah rusak. Jika pasangan yang berselingkuh menyesali perbuatannya dan berupaya memperbaiki kesalahannya, pihak yang dikhianati sangat mungkin memilih untuk bertahan dengan harapan hubungan mereka kembali membaik.

Anak Dan Keluarga

Studi dari American Psychological  Association (APA) menjelaskan bahwa banyak orang tua yang memutuskan untuk bertahan meski telah dikhianati, karena perceraian akan memberikan dampak psikologis dan emosional untuk anak mereka. Dengan bertahan, stabilitas keluarga pada akhirnya tetap terjaga.

Sosial dan Budaya

Sebagian orang atau kelompok menganggap perceraIan merupakan hal yang tabu. Tekanan sosial dan budaya dari keluarga membuat seseorang memutuskan untuk tetap bertahan meski telah dikhianati oleh pasangan mereka, demi memenuhi ekspektasi.keluarga besar.

Ketergantungan Finansial

Menurut peneliatan dari Journal Of Marriage and Family, faktor ekonomi turut menjadi alasan seseorang memutuskan untuk tetap bertahan dalam pernikahan. Adanya ketergantungan dalam hal finansial dengan pasangan membuat mereka sulit memutuskan untuk meninggalkan pasangan, meski telah dikhianati.

Rasa Takut Akan Perubahan dan Ketidakpastian

Psikolog Dr. Helen Fisher menyampaikan bahwa otak manusia cenderung takut akan perubahan besar, termasuk perceraian.  Masa depan yang tidak pasti, seperti harus hidup sendiri atau mencari pasangan baru, seringkali membuat seseorang tetap bertahan meski hubungan pernikahan sudah tak lagi sehat.

Cara Kembali Membangun Kepercayaan Dengan Pasangan

1. Bangun Peta Cinta (Love Maps)

Dr. Gottman dalam bukunya berjudul The Seven Principal Of Marriage Work  menyampaikan bahwa mengenal pasangan secara mendalam merupakan hal yang penting. Mulai dari impian, harapan, ketakutan, juga nilai-nilai yang mereka miliki. Memahami pasangan dapat memberikan pemahaman kepada kita untuk kemudian memberikan perhatian yang lebih besar, untuk memperkuat rasa percaya satu sama lain.

2. Pelihara Rasa Sayang dan Kagum

Menjaga rasa hormat dan saling menghargai satu sama lain, baik istri kepada suami atau pun istri kepada suami merupakan hal yang sangat penting. Mengingat kembali momen-momen indah yang telah tercipta bersama-sama serta kualitas positif pasangan dapat membantu membangun kepercayaan kepada pasangan serta menghindari prasangka negatif.

3. Pecahkan Konflik Dengan Cara Yang Sehat

Pada faktanya sebuah konflik pernikahan tidak mampu untuk dihindari. Akan tetapi, cara konflik tersebut untuk diselesaikan dapat berpengaruh besar terhadap kepercayaan. Dr. Gottman menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan konflik yang muncul tersebut dapat dengan percakapan yang lembut sebagai langkah awal, menggunakan humor, serta hindari kritik yang menyakitkan agar kepercayaan tidak rusak.

4. Biarkan Pasangan Memengaruhi Mu (Let Your Couple Influence You)

Saling menghargai pendapat dan keputusan satu sama lain adalah tanda bahwa ada kepercayaan dalam hubungan. Dr. Gottman menjelaskan bahwa pasangan yang bersedia terpengaruh oleh pasangan dapat membantu mereka untuk memiliki ikatan hubungan yang lebih sehat.

5. Membangun Dialog Yang Jujur dan Terbuka

Dr, Johnsonn dalam bukunya menjelaskan, bahwa berbicara dengan jujur dan terbuka mengenai perasaan, kebutuhan, dan ketakutan masing-masing pasangan merupakan hal yang penting. Percakapan mendalam tentang emosi dengan pasangan dapat membantu masing-masing untuk memahami satu sama lain dengan lebih baik.

6. Menjadikan Hubungan Sebagai Tempat Yang Aman

Dr. Johnson menekankan bahwa setiap pasangan harus berusaha mendukung satu sama lain, karena mereka membangun kepercayaan dengan menciptakan hubungan yang aman untuk berbagi emosi terdalam.

7. Konsultasi Dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman

Melibatkan orang ketiga, seperti konselor pernikahan yang berpengalaman dapat menjadi pilihan untuk mewujudkan upaya membangun kembali kepercayaan dengan pasangan. Dengan begitu, suami dan istri dapat lebih memahami arti ikatan pernikahan secara mendalam serta mempelajari cara-cara spesifik untuk membangun kembali kepercayaan dengan pasangan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing..

Reda Konseling, Layanan Konsultasi Pernikahan dan Keluarga Berpengalaman

Salah satu konsultan pernikahan yang dapat menjadi opsi adalah Reda Konseling. Kami merupakan layanan konsultasi pernikahan dan keluarga berpengalaman, yang telah melayani puluhan klien secara profesional. Layanan konsultasi kami menggunakan berbagai sudut pandang secara terbuka dan pengetahuan terkini untuk penyelesaian akar masalah yang menyeluruh dan mendalam. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!