
Konsultasi Keluarga Online : Siapa Yang Pegang Kendali | Kalau kita bicara soal relasi kuasa dalam Islam, biasanya satu ayat langsung jadi “senjata” pamungkas: An-Nisa ayat 34. Di sana tertulis laki-laki adalah Qowwam atas perempuan. Masalahnya, bagaimana cara kita membaca kata itu menentukan apakah rumah tangga kita bakal jadi kemitraan yang sehat atau justru berubah jadi sistem otoriter.
Konsultasi Keluarga Online : Siapa Yang Pegang Kendali
Kubu Tekstual : “Sudah Aturannya Begitu”
Kelompok tekstualis biasanya memahami ayat ini sebagai ketetapan Tuhan yang absolut dan berlaku selamanya, tanpa kompromi. Logikanya sederhana: karena teksnya bilang laki-laki itu pemimpin, ya sudah, itu hak paten.
Dalam pandangan ini, otoritas laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang given (pemberian dari sananya). Efek sampingnya? Sering kali muncul pola pikir bahwa ketaatan istri adalah harga mati, dan suami punya hak veto dalam segala hal. Sayangnya, pemahaman ini sering kali mengabaikan kalimat selanjutnya dalam ayat yang sama, yaitu tentang kewajiban memberi nafkah. Akibatnya, banyak yang menuntut “hak berkuasa” tapi melupakan “kewajiban melayani”
Kubu Kontekstual : “Liat Dulu Sebabnya”
Di sisi lain, ada pendekatan kontekstual. Kubu ini berargumen bahwa ayat tersebut turun bukan untuk memberikan privilege biologis bagi laki-laki, melainkan sebagai respons terhadap realitas sosial abad ke-7.
Secara kontekstual, laki-laki jadi pemimpin karena saat itu hanya mereka yang punya akses ekonomi dan keamanan. Artinya, status Qowwam itu adalah status fungsional, bukan status kemuliaan jenis kelamin. Para pemikir kontekstualis bertanya: “Kalau sekarang istri juga ikut kerja, ikut ambil keputusan, dan ikut melindungi keluarga, apakah otoritas tunggal itu masih relevan?”
Bagi mereka, Islam punya semangat pembebasan. Otoritas laki-laki di masa lalu adalah langkah transisi menuju kesetaraan yang lebih hakiki di masa depan
Masalahnya : Budaya Arab yang “Dibungkus” Agama
Jujur saja, banyak yang sulit membedakan mana yang murni ajaran Islam dan mana yang cuma budaya patriarki Arab masa lalu. Selama berabad-abad, tafsir agama ditulis oleh laki-laki yang hidup dalam budaya yang sangat maskulin. Wajar kalau akhirnya tafsir yang lahir cenderung menempatkan laki-laki di puncak hierarki.
Nilai-nilai patriarki yang belum dibereskan inilah yang sering kali membuat relasi kuasa jadi timpang. Kita sering menganggap budaya abad ke-7 sebagai “kesalehan”, padahal bisa jadi itu hanyalah bungkus sosial yang seharusnya bisa berkembang seiring kemajuan zaman.
Menuju Relasi yang Manusiawi
Lantas, mana yang benar? Kalau kita kembali ke prinsip Tauhid, sebenarnya tidak boleh ada manusia yang merasa memiliki kuasa mutlak atas manusia lainnya. Di hadapan Tuhan, derajat laki-laki dan perempuan itu setara.
Dalam konteks modern, relasi kuasa seharusnya tidak lagi berbentuk vertikal (atasan-bawahan). Pernikahan yang ideal dalam Islam itu berbasis Mu’asyarah bil Ma’ruf (pergaulan yang baik) dan musyawarah. Artinya, nakhodanya mungkin satu, tapi keputusan diambil bareng-bareng.
Kepemimpinan dalam Islam itu bukan soal siapa yang lebih berhak memerintah, tapi siapa yang paling besar tanggung jawabnya untuk memastikan keadilan dan rasa aman di dalam rumah.
Kesimpulan
Memahami relasi kuasa dengan cara tekstual tanpa melihat konteks hanya akan melanggengkan penindasan yang dibungkus bahasa agama. Sebaliknya, memahami konteks tanpa menghargai teks bisa membuat kita kehilangan pegangan.
Titik tengahnya adalah menyadari bahwa otoritas laki-laki dalam Islam bukanlah cek kosong untuk berbuat semena-mena. Itu adalah amanah berat yang landasannya adalah keadilan. Jika keadilan itu hilang karena adanya dominasi sepihak, maka sebenarnya kita sedang menjauh dari nilai-nilai Islam yang sesungguhnya.
Konsultasi Keluarga dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling
Zaman saat ini tersedia layanan konseling pernikahan dan keluarga yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!
Jenis Layanan Konsultasi
Konsultasi Sendiri (Private)
Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.
Konsultasi Pasangan
Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.
Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu yai

Leave A Comment