
Bimbingan Pernikahan Tangerang : Istri yang BPD | Tidak selalu konflik yang muncul dalam hubungan pernikahan itu adalah hasil kesalahan suami yang kurang memperlakukan istrinya dengan baik. Bisa jadi, ada kemungkinan yang lain yang menjadi faktor konflik diantara keduanya muncul. Salah satu kemungkinan nya adalah istri yang menginap BPD. Pasangan yang memiliki gangguan BPD memerlukan perlakuan dan penyikapan khusus, sehingga tidak bisa sembarangan untuk dihadapi. Dalam artikel ini akan membahas seputar tentang BPD, dan tips-tips untuk menghadapi pasangan yang memiliki BPD.
Tentang BPD (Borderline Personality Disorder)
Psikolog mendefinisikan BPD atau Borderline Personality Disorder, yang dalam Bahasa Indonesia disebut Gangguan Kepribadian Ambang, sebagai salah satu jenis gangguan kepribadian yang ditandai oleh ketidakstabilan emosi, hubungan interpersonal, citra diri, dan kontrol impuls. Menurut Marsha M. Linehan selaku pakar psikolog klinis, Para ahli menggambarkan BPD sebagai gangguan dalam regulasi emosi, di mana individu menunjukkan sensitivitas emosional ekstrem, bereaksi sangat kuat terhadap rangsangan emosional, dan kesulitan mengembalikan diri ke kondisi emosi yang stabil. Kondisi ini tidak sekadar mencerminkan kepribadian buruk, melainkan muncul dari kombinasi faktor biologis dan pengalaman lingkungan yang invalidatif seperti trauma masa kecil, pelecehan, atau pengabaian.
Menurut Paul T. Mason dan Randi Kranger, memiliki pasangan BPD bisa sangat membingungkan karena mereka seringkali menunjukkan :
- Perubahan suasana hati yang ekstrim
- Perilaku penuh kemarahan atau ledakan emosi yang tampak “tak masuk akal”
- Ketakutan intens akan ditinggalkan
- Tuduhan palsu atau menyudutkan pasangan secara emosional
Hal tersebut bukanlah hasil dari karakter buruk atau niat jahat, tetapi reaksi dari luka emosional mendalam dan ketidakstabilan emosi yang serius.
Dalam buku Loving Someone with Borderline Personality Disorder karya Shari Y. Maning juga menjelaskan secara rinci tentang Borderline Personality Disorder itu sendiri.
1. Pola Pikir penderita BPD
“They Feel Everything More Intensely“. Mereka tidak hanya mudah terluka, tetapi juga kesulitan memproses dan menenangkan emosi tersebut. Pasangan dengan BPD bisa menafsirkan hal kecil seperti nada suara, mimik wajah, atau sedikit penolakan sebagai ancaman besar terhadap hubungan. Mereka tidak bermaksud bersikap manipulatif, tetapi merasakan ketakutan mendalam bahwa pasangan tidak mencintai mereka atau akan meninggalkan mereka.
2. Perbedaan Antara Simpati, Empati, dan Validasi
Simpati, Empati, dan Validasi memiliki arti yang berbeda. Simpati lebih ke “Aku kasihan sama kamu.”, kalau empati yaitu “Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu.”. Kalau validasi contohnya adalah “Apa yang kamu rasakan masuk akal karena apa yang kamu alami.”. Validasi adalah kunci membangun komunikasi yang baik dengan pasangan BPD. Tetapi, tidak sama dengan menyetujui perilaku destruktif ya.
3. Menghindari Perilaku “Mengatur” atau “Memperbaiki”
Banyak orang kerap melakukan kesalahan terhadap pasangan dengan BPD, yaitu terlalu berusaha memperbaiki atau menyelamatkan mereka. Pada akhirnya ini dapat membuat hubungan terasa tidak setara, dan semakin memperparah ketergantungan emosional dari pasangan BPD. Berhantilah untuk menjadi terapis bagi pasangan. Sebaliknya, jadilah pasangan yang hadir, memahami, namun tetap memiliki batasan.
4. Mengelola Ledakan Emosi (Emotional Dysregulation)
Pasangan BPD sering sekali mengalami ledakan emosi (Emotional Dysregulation). yakni kesulitan mengatur dan mengelola emosi nya ketika sedang marah, sedih, atau takut. Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan menurut Manning antara lain :
- Tetap tenang, tidak ikut untuk meledak-ledak.
- Validasi emosi, bukan perilaku.
- Gunakan suara netral dan tenang.
- Tunda diskusi jika situasi terlalu panas.
- Beirkan waktu dan ruang untuk menenangkan diri.
5. Membangun dan Memelihara Batasan Yang Sehat
Batasan bukan berarti menjauh, tapi cara menjaga diri agar tetap sehat dalam hubungan. Ciri batasan yang sehat menurut Manning :
- Jelas dan konsisten
- Disampaikan dengan tenang dan penuh kasih
- Tidak bersifat ancaman, tapi konsekuensi
Tips-tips Yang Bisa Dilakukan Dalam Menghadapinya
1. Terapkan Komunikasi Yang Menenangkan
Terapkan komunikasi yang menenangkan. Tidak dengan nada suara yang keras dan dihentak-hentak, tetapi dengan nada suara yang lembut dan stabil. Hindari juga perdebatan ketika pasangan sedang merasakan emosional yang tinggi. Gunakan bahasa “Aku merasa”, bukan “Kamu selalu” agar pasangan tidak merasa disalahkan.
2. Validasi Perasaan, bukan Perilaku
Akui dan hargai perasaan pasangan, tetapi tidak setuju dengan perilaku atau tindakannya kalau memang tidak benar. Adanya validasi membuat pasangan merasa dihargai dan dipahami.
3. Tetapkan Batasan Yang Sehat
Tujuannya agar hubungan yang dibangun dengan pasangan tetap sehat dan berjalan baik. Contohnya, “Kalau kamu mulai berteriak, aku akan keluae sebentar dan kita bicara nanti.”
4. Dorong dan Dukung Pengobatan
Ajak pasangan untuk menjalankan terapi, seperti terapi DBT (Dialectical Behavior Therapy) yang terbukti efektif untuk penderita BPD. Pasangan bisa mendukung proses ini dengan mengikuti sesi konseling pernikahan atau keluarga bersama-sama.
5. Apresiasi Pasangan
Jangan lupa untuk turut memberikan apresiasi kepasa pasangan, karena pasangan yang menderita BPD seringkali merasa kurang cukup untuk dicintai. Apresiasi kecil yang diberikan dapat membantu menumbuhkan rasa aman dalam hubungan.
Mau tahu lebih banyak lagi tips-tips dalam menyelesaikan masalah-masalah pernikahan? Yuk langsung simak artikel kami yang lainnya.
Mau booking jadwal konsultasimu? Hubungi kami untuk booking slot jadwalmu segera ya, sebelum kehabisan slotnya!







