Konseling Suami Istri

Konseling Suami Istri : Pasangan Sebagai Cermin Diri

Konseling Suami Istri

Konseling Suami Istri : Pasangan Sebagai Cermin Diri | Dalam hubungan pernikahan, pasangan kita kerap menjadi ‘cermin’ untuk diri kita sendiri. Bagaimana pasangan bersikap dan berperilaku terhadap kita, merespon atau menanggapi interaksinya dengan kita itu seringkali turut mencerminkan kondisi batin kita. Mulai dari cerminan nilai-nilai , pola perilaku, bahkan sampai pada ‘luka’ di masa lalu yang bisa jadi belum sepenuhnya sembuh. Kita merasa senang ketika menceritakan sesuatu, pasangan memiliki pemikiran dan penilaian yang sama dengan kita. Akan tetapi, jika sewaktu waktu kamu merasa pasanganmu egois dan kamu tidak menyukainya, bisa jadi kita sedang melihat diri kita yang pernah (atau sedang) seperti itu, tetapi kita belum menyadarinya. Maka pada kali ini, kita akan membahas tentang Mirror-Effect dalam pernikahan secara detail. Simak hingga tuntas ya!

Tentang Mirror-Effect

Dalam psikologi, Mirror-Effect diartikan sebagai fenomena pasangan yang ‘memantulkan’ diri kita sendiri, baik itu dari sisi positif atau dari sisi negatif. Contohnya, jika kita konsisten menunjukkan rasa hormat, kebajikan, dan dukungan kita kepada pasangan, maka pasangan kita juga akan cenderung menunjukkan sikap yang sama. Sebaliknya, jika kita memulai nada bicara kita dengan menuduh, defensif, atau marah, maka kemungkinan besar pasangan juga akan ‘mencerminkan’ energi negatif tersebut sama persis. Semua itu ditentukan dari bagaimana energi dan tindakan yang kita berikan kepada pasangan.

Mekanisme Psikologis Mirror Effect

1. Proyeksi (Projection)

Kita menolak atau tidak sadar dengan sifat tertentu dalam diri sendiri, lalu memproyeksikan nya ke orang lain. Contohnya ,”Aku nggak suka pasangan ku keras kepala!”. Padahal bisa jadi, kita juga punya sisi keras kepala dengan bentuk yang berbeda. Misalnya, menolak berubah, atau selalu ingin benar dengan cara yang halus. Pasangan menjadi cermin yang memantulkan bagian diri kita yang belum kita akui.

2. Pencerminan Emosi (Emotional Mirroring)

Manusia memiliki mirror neurons, yaitu sel otak yang secara otomatis “meniru” atau “merespons” emosi orang lain. Maknanya, kala kita datangan ke pasangan kita dengan nada marah, defensif, curiga, pasangan bisa ‘menangkap’ emosi tersebut dan balik memantulkannya.

3. Konfirmasi Konsep Diri (Self-Concept Confirmation)

Kita cenderung memberikan respon kepada pasangan ketika pasangan kita ‘mengonfirmasi’ gambaran diri kita sendiri. Misalnya, apabila kita memiliki citra diri yang positif, kita akan cenderung tertarik pada pasangan yang menghargai atau memperkuat itu. Atau semisal kita sedag merasa ‘tidak cukup berharga, maka memungkinkan kita tertarik pada pasangan yang mendukung kita untuk ‘membuktikan diri’. Pada akhirnya hubungan menjadi ‘cermin’ dari bagaimana kita memandang diri sendiri.

4. Bayangan (Shadows)

Menurut Carl Jung, setiap orang memiliki bayangann (shadow), yaitu bagian diri kita yang kita sembunyikan karena tidak sesuai dengan citra ideal kita. Pasangan seringkali menjadi pihak yang men-trigger sisi tersebut muncul ke permukaan, untuk kita belajar mengenalinya. Contohnya, selama ini kita membanggakan diri sendiri karena kita mampu bersikap sabar dan tenang, akan tetapi pasangan sering membuat kita merasa marah hingga meledak-ledak. Dari contoh tersebut ada kemungkinan bahwa terdapat kemarahan dalam diri kita yang selama ini tersembunyi (ditekan). Bayangan seperti ini bisa membuat kita mampu mengenali diri kita sendiri dengan lebih baik.

5. Resonasi Energi dan Pola Hubungan (Emotional Resonance)

Kita memiliki frekuensi emosional tertentu dengan pasangan yang bertujuan untuk saling ‘memanggil’ . Contohnya, ketika kita punya luka atau ketakutan untuk ditinggalkan, seringkali hal tersebut menarik pasangan yang cenderung menjauh. Umumnya, orang yang biasa ‘menyelamatkan’ orang lain cenderung tertarik pada seseorang yang butuk untuk ‘diselamatkan’. Ini terjadi karena adanya resonansi satu sama lain yang terhubung, agar masing-masing pasangan dapat belajar untuk tumbuh dan menjadi lebih baik.

Apakah Mirror-Effect  = Memperburuk Hubungan?

SebagaImana mata pisau, baik atau buruknya sesuatu tergantung pada siapa yang memaknainya dan menggunakan nya. Mirror effect memang dapat membangkitkan luka lama. Namun, apabila kita dapat berpikir bijak, Mirror-Effect sejatinya turut membantu kita untuk berkembang menjadi lebih baik. Luka lama yang muncul dapat membuat kita pun juga pasangan menjadi lebih memahami satu sama lain. Bagaimana cara mengatasinya, bagaimana cara menghadapinya, bagaimana kita bisa menghadapi diri satu sama lain untuk kedepan nya, dan sebagainya. Sisi positif atau negatif yang kita miliki pun juga pasangan menjadi perlu untuk kita pahami dengan baik, dan terima dengan lapang, demi terciptanya hubungan pernikahan yang abadi hingga akhir hayat.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pasangan

Konseling Pasangan : Forgiveness Dalam Pernikahan

Konseling Pasangan

Konseling Pasangan : Forgiveness Dalam Pernikahan | Dalam menjalani pernikahan, konflik merupakan hal yang tidak mungkin untuk dihindari oleh pasangan. Setiap individu memiliki latar belakang,nilai-nilai, keyakinan, dan idealisme yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, merupakan hal yang wajar jika pasangan mengalami konflik. Tetapi, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana pasangan menghadapi konflik yang ada. Cara pasangan menghadapi dan menyelesaikan konflik pernikahan dapat menentukan seberapa kuat tali hubungan yang mereka bangun bersama. Dalam psikologi positif, para ahli menjelaskan bahwa forgiveness memiliki peran penting dalam pernikahan, namun sering kali orang salah memahaminya. Maka, pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang definisi dari forgiveness itu sendiri, dan bagaimana dampaknya dalam sebuah hubungan pernikahan.

Arti Forgiveness 

Dalam psikologi positif, definisi forgiveness  tidak sekedar memaafkan berdasarkan tindakan moral atau keagaaman, tetapi merupakan kekuatan psikologis (character strength) yang berperan penting dalam membangun kesejahteraan emosional (well-being) dan hubungan yang sehat. Martin E.P. Seligman (2002 yang merupakan pencipta konsep psikologi positif menjelaskan bahwa forgiveness merupakan kemampuan untuk melepaskan perasaan marah dan dendam terhadap orang yang telah berbuat salah, kemudian menggantinya dengan emosi positif seperti pengertian, empati, dan kasih sayang. Dr. Everett L Worthington Jr. dalam penelitiannya juga menjelasakan bahwa forgiveness  adalah proses internal untuk mengurangi kebencian dan amarah, serta mengembangkan empati terhadap orang yang menyakiti kita.

Jika kita mengkorelasikannya dengan hubungan pernikahan, maka forgiveness  ini berarti kemampuan memaafkan pasangan atas kesalahan atau konflik yang terjadi, untuk menjaga keharmonisan hubungan bersama. Untuk lebih rinci, forgiveness disini merupakan kemampuan seseorang untuk mengolah luka, memahami kesalahan pasangannya dengan empati, dan memilih untuk melepaskan emosi negatif demi menjaga keberlangsungan hubungan yang sehat dan penuh kasih. Ini merupakan bentuk tindakan aktif untuk kembali membangun hubungan menjadi lebih baik.

Mengapa Penting Untuk Memaafkan Pasangan?

Sulit memaafkan pasangan adalah hal yang wajar. Secara emosional, seseorang cenderung menarik diri untuk melindungi dirinya setelah disakiti. Bahkan, ada pula orang yang memilih membalas perlakuan pasangannya dengan tindakan serupa. Forgiveness  juga tidak bisa terjadi begitu saja, karena memerlukan kesadaran diri (Self awareness) yang baik agar seseorang dapat melihat kesalahan pasangannya dari sudut pandang yang luas. Akan tetapi, memaafkan pasangan itu merupakan hal yang penting untuk dilakukan, karena forgiveness memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan emosional, kedekatan, dan ketahanan hubungan jangka panjang.

Memaafkan adalah dasar keberlanjutan hubungan

Merupakan hal yang tidak mungkin apabila sebuah pernikahan itu berisi kesempurnaan. Pasti ada konflik yang terjadi, dan itu lumrah. Adakalanya setiap pasangan melukai, entah melalui ucapan, tindakan, yang itu disengaja ataupun tidak disengaja. Jika salah satu pihak memilih untuk memaafkan, maka ia memberikan ruang untuk hubungannya terus tumbuh, bukan berhenti pada rasa sakit.

Memaafkan menyehatkan pikiran dan emosi

Memaafkan merupakan salah satu kekuatan karakter (character strenght) yang mampu membantu seorang individu mencapai emotional well-being, berdasarkan dengan persepktif psikologi positif. Apabila kita memaafkan pasangan, emosi negatif yang semula muncul seperti marah, kesal, kecewa, perlahan berkurang dan berganti menjadi perasaan damai dan tenang. Dengan memaafkan, kita tidak perlu memendam rasa sakit hati yang terlalu lama kepada pasangan. Rasa sakit hati yang dipendam terus menerus hanya akan menjadi penyakit hati.

Memaafkan membuka jalan untuk empati

Memaafkan juga dapat membuka jalan untuk seseorang agar dapat melihat pasangannya secara lebih manusiawi. Mereka dapat memahami dengan lebih baik ketidaksempurnaan pasangannya secara jelas. Mereka paham bahwa bisa saja pasangan mereka. Psikolog Robert Enright juga mengatakan bahwa memaafkan merupakan “hadiah kasih sayang” yang memperkuat hubungan interpersonal. Kalau dikontekskan ke dalam hubungan pernikahan, maknanya berarti meningkatkan bonding dengan pasangan serta rasa saling percaya satu sama lain.

Apakah Memaafkan = Membiarkan Kesalahan Pasangan Berulang?

Sama sekali tidak. Memaafkan lebih fokus kepada melepaskan emosi negatif, bukan berarti pasrah dan membenarkan perilaku pasangan yang salah. Emosi negatif yang dilepaskan akan mampu membuat seseorang berpikir jernih. Apabila pasangan mampu berpikir jernih ketika menghadapi sebuah konflik, mereka bisa merumuskan solusi yang solutif dan fokus pada pemecahan masalahnya. Bukan mendramatisir masalah tersebut. Maka dari itu, memaafkan bukanlah sikap yang melemahkan, tetapi justru menguatkan hati dan pikiran kita.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor berpengalaman dapat membantumu dan pasangan untuk memahami secara mendalam seputar hubungan pernikahan dan berbagai tips yang bisa diterapkan untuk meningkatkan keharmonisan pernikahan. Zaman saat ini telah banyak yang menyediakan layanan konsultasi pernikahan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!