Konsultasi Pernikahan Online : Apakah Cinta Itu Seni?

Konsultasi Pernikahan Online

Konsultasi Pernikahan Online : Apakah Cinta Itu Seni? | Pernah gak sih kamu mikir, kenapa ya banyak orang yang tadinya bucin setengah mati pas pacaran, tapi begitu udah nikah atau jalani hubungan lama, rasanya malah hambar dan penuh konflik?

​Banyak dari kita yang menganggap kalau cinta itu cuma soal nasib. Kalau beruntung, kita bakal ketemu orang yang pas lalu hidup bahagia selamanya. Tapi, pernah gak kamu nanya ke diri sendiri: “Sebenarnya cinta itu cuma kebetulan, atau emang sebuah keterampilan yang harus kita pelajari?” ​Pertanyaan besar inilah yang dibahas sama filsuf dan psikolog Erich Fromm di Bab 1 bukunya yang super legendaris, The Art of Loving. Di bagian pembuka ini, Fromm langsung ngasih pertanyaan menohok: Apakah cinta itu suatu seni?

​Kalau cinta adalah seni, berarti logikanya sama kayak kita belajar main gitar, melukis, atau masak. Ada teori yang harus dipahami dan ada latihan konsisten yang wajib dijalani. Tapi sayangnya, menurut Fromm, kebanyakan orang modern malah menganggap cinta itu kejadian alamiah yang bakal jalan gitu aja tanpa perlu belajar. Gara-gara pola pikir ini, banyak dari kita yang kejebak dalam tiga asumsi keliru soal cinta.

Konsultasi Pernikahan Online : Apakah Cinta Itu Seni?

3 Kelirumut Soal Cinta Yang Sering Bikin Terjebak

​Fromm membongkar tiga prasangka utama yang bikin orang sering gagal pas nyoba buat membangun hubungan yang bermakna:

​1. Fokusnya Cuma Pengen “Dicintai”, Bukan “Mencintai”

​Coba deh perhatiin sekitar kita. Banyak orang sibuk nyari cara gimana caranya biar di-notice, disukai, atau dicintai sama orang lain. Cowok-cowok sibuk ngejar karier, nyari duit yang banyak, beli mobil bagus, atau latihan fisik biar kelihatan keren. Sementara cewek-cewek sibuk perawatan, dandan, ngatur penampilan, dan melatih cara ngobrol yang ramah biar kelihatan menarik.

​Secara gak sadar, fokus utama kita cuma gimana cara bikin diri kita layak untuk diterima. Padahal, Fromm bilang, fokus ke keinginan buat dicintai itu sifatnya pasif dan menuntut. Kita jadi sibuk nunggu dan ngukur apa yang kita dapat dari orang lain. Padahal, cinta sejati itu tindakan aktif: gimana kemampuan diri kita sendiri buat mencintai dan memberi (giving).

​2. Menganggap Masalahnya Ada di “Orang Lain”, Bukan “Kemampuan Diri”

​Asumsi kedua ini sering banget bikin hubungan ambruladul. Banyak orang mikir gini: “Mencintai itu gampang kok. Yang susah itu nyari orang yang tepat!”

​Fromm ngejelasin kenapa pola pikir ini makin parah di zaman modern. Dulu, hubungan kan banyak diatur lewat perjodohan. Sekarang, semua orang bebas nyari pasangannya sendiri. Ditambah lagi budaya pasar yang bikin kita ngeliat hubungan kayak transaksi belanja. Kita nyari pasangan yang “paketnya lengkap”—yang cakep, mapan, dan nyambung—seolah-olah lagi nyari barang terbaik di katalog shop.

​Kita mikir, kalau udah nemu “orang yang pas”, urusan cinta bakal otomatis beres. Padahal, Fromm ngingetin kalau mencintai itu adalah sebuah kapasitas diri. Kalau kita gak punya keterampilan buat berempati, bersabar, dan menurunkan ego, mau gonta-ganti pasangan ratusan kali pun, pola konfliknya bakal tetap sama. Masalahnya bukan di kanvasnya, tapi di kemampuan melukisnya.

​3. Nyamain “Jatuh Cinta” Sama “Kondisi Mencintai”

​Siapa sih yang gak suka sama sensasi awal falling in love? Jantung berdebar-debar, kangen tiap detik, dan ngerasa dunia cuma milik berdua.

​Fromm bilang, momen awal ketika dua orang asing mendadak meruntuhkan tembok pemisah mereka itu emang rasanya intens banget. Tapi, itu cuma sensasi jatuh cinta (falling in love). Intensitas gila-gilaan di awal itu sebenarnya cuma nunjukin seberapa sepi atau terasingnya kita sebelum ketemu dia.

​Masalah timbul ketika sensasi berdebar itu mulai memudar—karena emang pasti bakal hilang seiring berjalannya waktu. Orang yang menyamakan jatuh cinta dengan mencintai bakal langsung ngambil kesimpulan: “Oh, kita udah gak ada rasa lagi, cintanya udah habis.” Padahal, menurut Fromm, kondisi mencintai yang beneran itu justru baru dimulai pas sensasi mabuk kepayang itu udah menguap.

​Gimana Cara Menguasai Seni Mencintai?

​Kalau cinta emang sebuah seni, terus dari mana kita harus mulai belajar? Fromm ngasih panduan simpel. Sama kayak kamu mau jago main musik, ada tiga hal yang wajib dimiliki:

  1. ​Menguasai Teori (Theory): Kita harus mau belajar memahami gimana psikologi emosi bekerja, gimana cara memahami sudut pandang orang lain, dan apa arti dari perhatian serta tanggung jawab yang tulus.
  2. ​Menguasai Praktik (Practice): Teori gak ada gunanya kalau cuma dihafal. Kita harus melatih kesabaran, kedisiplinan, dan empati dalam tindakan nyata sehari-hari sampai jadi kebiasaan.
  3. ​Menjadikannya Fokus Utama (Supreme Concern): Ini yang paling sering dilupakan. Kalau mau jago main musik, kita pasti nyediain waktu khusus buat latihan. Tapi untuk cinta, kebanyakan orang cuma nyediain sisa-sisa waktu dan energi di akhir hari. Padahal, kalau mau berhasil, kemampuan mencintai harus dijadiin salah satu prioritas penting dalam hidup.

​Pada akhirnya, Bab 1 buku ini ninggalin pesan yang cukup dalam buat kita semua: cinta bukanlah hadiah gratisan yang jatuh dari langit.

​Selama kita masih mikir kalau cinta itu cuma soal keberuntungan ketemu orang yang pas, atau selama kita masih nempatin urusan karier dan materi jauh di atas keterampilan membangun relasi, kita bakal terus kejebak dalam kegagalan hubungan yang sama. Cinta itu seni, dan kayak seni lainnya, ia cuma bakal ngasih keindahan buat orang-orang yang mau belajar dan berlatih melatih kapasitas dirinya.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami dan istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis. Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *