Konsultasi Rumah Tangga Online

Konseling Rumah Tangga Online : Manajemen Konflik

 

Konsultasi Rumah Tangga Online

Konsultasi Rumah Tangga Online : Manajemen Konflik | Dalam menjalani hubungan pernikahan, bukan tidak mungkin pasangan tidak menghadapi konflik. Konflik merupakan sebuah keharusan, karena dengan konflik pasangan dapat tumbuh menjadi lebih baik. Akan tetapi, hal itu juga kembali pada bagaimana pasangan me-manage konflik yang ada. Apabila pasangan dapat mengelola konflik yang mereka miliki dengan tepat, maka konflik tersebut dapat menjadi sarana untuk bertumbuh agar pasangan dapat menjadi versi yang lebih baik. Sebaliknya, jika pasangan tidak bisa mengelola konfliknya dengan tepat, konflik tersebut pada akhirnya hanya akan memperburuk situasi rumah tangga mereka dan tidak menutup kemungkinan rumah tangga yang dibangun akan berada di ambang kehancuran. Artikel kali ini akan membahas tentang manajemen konflik pernikahan yang di canangkan oleh Gottman, yang tentunya bisa menjadi tips bagi para pasangan untuk mengelola hubungan pernikahannya menjadi lebih baik. Simak hingga selesai ya artikelnya!

Tentang Manajemen Konflik

Dr. John Gottman dalam penelitiannya menunjukkan bahwa yang membedakan pasangan bahagia atau tidak adalah bukan ada atau tidaknya konflik, tetapi dari cara mereka mengelola konflik. Konsep yang ditawarkan Gottman adalah tidak sekedar adanya solusi, karena itu hanya bisa menyelesaikan sebagian masalah. Yang menjadi fokus adalah bagaimana pasangan berinteraksi saat konflik, serta membangun hubungan fondasi yang kuat agar konflik tidak berujung merusak hubungan.

Cara Mengelola Konflik Menurut Gottman

Ciptakan Fondasi Hubungan Yang Kokoh (The Sound Relationship House)

Gottman berpandangan bahwa konflik yang efektif hanya mungkin terjadi apabila hubungan dibangun di atas fondasi yang kokoh. Jika fondasi ini lemah, konflik sekecil apapun bisa sangat mengancam.

Tingkatan yang mencegah konflik menjadi mengancam/merusak :

  • Love Maps (Peta Cinta). Konsepnya mengetahui dunia batin pasangan (harapan, mimpi, kekhawatiran, dan sejarahnya). Dengan pasangan mengetahui Love Maps pasangannya, maka mereka akan tahu alasan mengapa pasangannya memberikan reaksi tertentu. Jadi kita tidak menyerang karakter pasangan kita, tetapi fokus pada inti permasalahannya.
  • Turning Towards (Berbalik Mendekat). Artinya adalah merespon ‘tawaran” kecil (stimulus atau ajakan kecil) pasangan untuk terhubung. Misalnya, pasangan menunjukkan bunga yang indah ketika sedang melangkah bersama menikmati pemandangan, kemudian kita memberikan respon. Ini bertujuan untuk membangun Bank Emosi Positif. Ketika ada konflik, saldo positif inilah yang bisa menyelamatkan interaksi dari kepahitan.
  • Positive Perspective (Perspektif Positif). Yaitu memandang niat pasangan secara positif. Dengan kita bisa memandang niat pasangan secara positif, konflik yang muncul tidak semerta-merta memburuk, dan kita juga tidak dengan mudah menghina dan memberikan kritik pedas kepada pasangan walaupun saat itu tindakan pasangan terkesan menyakitkan.

Semakin kuat fondasi yang tercipta, maka konflik yang terjadi akan menjadi konflik yang efektif dan solutif.

Hindari Empat Pola Penghancur (The Four Horsemen)

Gottman menjelaskan bahwasannya terdapat empat jenis pola komunikasi yang bisa memperburuk konflik yang ada, sekaligus menjadi prediktor utama kegagalan hubungan (perpisahan atau perceraian). Empat pola tersebut antara lain :

  1. Criticism (Kritik). Kritik yang diberikan bertujuan menyerang identitas, karakter atau kepribadian pasangan, alih-alih mengeluhkan perilaku pasangan secara spesifik. Seperti mengatakan “Kamu egois! Kamu tidak pernah mau mengerti perasaanku!“. Ubahlah dengan cara yang lebih lembut (Gentle Start-Up) dengan lebih fokus pada perilaku pasangan secara spesifik, dan ungkapkan maksud dan keinginan kita kepada pasangan secara positif, seperti “Saya merasa kesepian ketika kamu pulang terlambat tanpa memberi kabar. Bisa kabarin gak kalo misalnya pulang terlambat?
  2. Defensiveness (Pembelaan Diri). Karena merasa diserang dengan pasangan, akhirnya serangan balasan diberikan dengan balik menyerang pasangan, membuat alasan seakan-akan menjadi korban. Kita bisa merubahnya dengan mengakui sebagian kesalahan kita terlebih dahulu dan menerimanya, walaupun mungkin kita tidak sepenuhnya salah.
  3. Contempt (Penghinaan). Artinya adalah memperlakukan pasangan secara jijik. Menurut Gottman ini adalah yang paling berbahaya dan merupakan indikator perceraian tertinggi karena kurangnya menunjukkan rasa hormat kepada pasangan. Seperti sarkasme, menunjukkan bahasa tubuh yang tidak terkesan baik seperti memutar kedua bola mata, mengejek, dan bahasa tubuh yang superior. Cobalah untuk menerapkan budaya menghargai, dengan mengucapkan terima kasih, kekaguman, dan hormat secara teratur dalam menjalani kehidupan sehar-hari.
  4. Stonewalling (Menghindar). Definisinya adalah menarik diri secara emosional dari fisik dan percakapan. Misalnya, diam, mengabaikan pasangan, bahkan hingga keluar dari ruangan ketika pembicaraan sedang berlangsung. Ini bisa terjadi karena salah satunya merasa pikiran penuh (floaded) . Opsinya bisa dengan Self-soothing atau mengambil jeda terlebih dahulu dengan kesepakatan bersama untuk menenangkan sistem saraf. Gunakan jeda tersebut untuk sesuatu yang menenangkan, bukan untuk memikirkan argumen. Janji bersama juga bisa disepakati agar ketika waktunya sudah tiba, pasangan fokus untuk berdiskusi.

Selesaikan Masalah Yang Bisa Diselesaikan (Solvable Problems)

Gottman mengungkap bahwa jenis masalah terbagi menjadi dua, yaitu Masalah Abadi (Perpetual Problems) dan Masalah Yang Bisa Diselesaikan (Solvable Problems). 

  • Perpetual Problems (Masalah Abadi)
    Sifatnya merupakan masalah yang tidak akan pernah hilang atau terpecahkan sepenuhnya karena bersumber pada kepribadian, nilai, kebutuhan, atau gaya hidup mendasar. Konflik ini berguna untuk mengelola dinamika atau masalah tersebut dengan humor, kasih sayang, dan mencegahnya menjadi konflik yang macet (gridlocked). Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengakui perbedaan karakter antara karakter kita dengan pasangan, tidak memaksa pasangan berubah total, dan kita dan pasangan bisa sama-sama menjadi pengingat satu sama lain. Contohnya, istri memiliki kebiasaan rapi dan suami memiliki kebiasaan cuek. Kita bisa saling mengingatkan dengan lembut untuk rapi, dan juga tidak menjadi pasangan yang terlalu cuek. Humor dan empati apabila kita terapkan pada pasangan juga akan mampu memberikan dampak untuk memperpanjang umur pernikahan.
  • Solvable Problems (Masalah Yang Bisa Diselesaikan)
    Masalah atau konflik yang ada merupakan konflik yang bisa selesai dengan kompromi dan negosiasi. Misalnya dalam membagikan tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah, baik suami dan istri sama sama negosiasi terhadap pekerjaan yang bisa dilakukan. Suami bertugas mencuci piring, istri bertugas menyapu dan mengepel rumah. Pada akhirnya masalah bisa diselesaikan dengan kompromi sama sama.

Konsultasi Pasangan Dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pasangan Online

Konseling Pasangan Online : Ladder Of Love

Konseling Pasangan Online

Konseling Pasangan Online : Ladder Of Love| Seorang filsuf Yunani, Plato, rupanya telah merumuskan sebuah konsep bernama “Ladder Of Love” yang menjelaskan tentang tahap atau jenjang perkembangan cinta. Meskipun konsep ini bersifat klasik, masih memiliki relevansi dan bisa diterapkan di masa kini lho, terutama dalam hubungan pernikahan. Lantas apa manfaatnya memahami Ladder Of Love ini? Pada artikel ini kita akan membahasnya secara tuntas. Simak artikel nya sampai selesai ya!

Tentang Ladder Of Love

Ladder of Love adalah tahapan atau jenjang perkembangan cinta manusia, dari cinta yang bersifat fisik menuju cinta yang bersifat intelektual dan spiritual. Konsep ini menggambarkan bagaimana cinta berkembang. Biasanya, cinta mulai tumbuh dari ketertarikan fisik seperti penampilan, suara, atau sikap yang memikat. Akan tetapi, Plato menjelaskan bahwa keindahan fisik merupakan titik permulaan. Dari cinta ketertarikan fisik, bisa berkembang menjadi cinta pada semua tubuh, cinta jiwa, cinta kebijaksanaan, hingga pada tahap cinta ketuhanan. Runtutan Ladder Of Love/Tangga Cinta berdasarkan penjelasan Plato yakni sebagai berikut.

Cinta Fisik/Tubuh

Pada umumnya, rasa cinta seseorang muncul dimulai dari ketertarikan mereka pada fisik seseorang. Misalnya dari postur tubuh, bentuk wajah, penampilan, gaya atau pesona tertentu. Cinta ini memunculkan ketertarikan hasrat dan romantika awal pada pasangan. Ini merupakan titik mula agar cinta sejati bisa tumbuh. Dalam pernikahan, apabila pasangan hanya menggunakan dasar cinta fisik/tubuh saja terhadap pasangannya, maka bukan tidak mungkin hubungan pernikahan itu akan mudah collapse atau banyak muncul konflik yang terjadi. Sehingga sebenarnya cinta bisa berkembang lebih jauh dan bermakna daripada sekedar cinta fisik/tubuh.

Cinta Semua Tubuh

Setelah fase cinta fisik/tubuh, fase berikutnya adalah cinta semua tubuh. Pada fase ini pasangan mencintai seluruhnya, berbeda dengan fase sebelumnya yang hanya mencintai bagian fisik/tubuh tertentu saja yang dianggap indah. Pada titik ini, pasangan menerima seluruh kelebihan dan kekurangan pasangannya secara fisik. Meskipun terdapat cacat, kecacatan tersebut tetap indah bagi pasangannya.

Cinta Jiwa

Fase selanjutnya adalah Cinta Jiwa, dimana pasangan mampu menghargai perbedaan, kepribadian, selera hobi, dan lainnya pada pasangannya. Cinta nya seseorang kepada pasangan bukan lagi karena ‘aku menyukaimu karena kamu menarik’, tetapi menjadi ‘aku mencintaimu karena siapa dirimu.’ . Fase ini merupakan titik yang penting karena cinta pada pasangan itu berdasarkan pada komitmen, persahabatan, dan saling menghargai satu sama lain.

Cinta Kebijaksanaan

Setelah Cinta Jiwa, fase berikutnya kemudian berkembang menjadi Cinta Kebijaksanaan, dimana cinta terhadap pasangan itu untuk bertumbuh bersama, mencari hikmah dalam perbedaan, memahami cara berpikir masing-masing dengan baik. Mereka mampu melihat konflik yang ada sebagai upaya agar lebih cocok satu sama lain. Mereka juga rela untuk saling berkorban dan saling menyesuaikan satu sama lain. Titik ini juga menjadi titik yang penting dalam pernikahan, karena pasangan yang mampu mendukung satu sama lain, sama-sama mau untuk tumbuh bersama, akan menunjang hubungan pernikahan yang dijalani menjadi lebih sehat.

Cinta Ketuhanan

Tangga yang terakhir adalah Cinta Ketuhanan, dimana cinta dalam pernikahan itu menjadi sarana untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Baik suami maupun istri melakukan kebaikan dengan ikhlas kepada pasangannya, bukan karena semata-mata rasa memiliki. Cinta nya menjadi bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan keburukan yang ada pasangan menjadi wadah untuk perbaiki diri menjadi lebih dewasa, serta wadah untuk mendatangkan pahala. Pada fase ini, cinta bukan lagi antara dua individu, tetapi tentang pembangunan makna hidup bersama, mencintai dengan kebajikan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ladder of Love Dalam Pernikahan

Pembahasan tentang Ladder Of Love memberikan pemahaman bahwa cinta itu bisa tumbuh dan berkembang. Konsep ini penting untuk diterapkan pasangan demi membangun hubungan pernikahan yang harmonis dengan landasan cinta yang kuat dan kokoh. Hanya menggunakan dasar fisik/tubuh seseorang dalam mencintai itu tidak bisa membuat sebuah hubungan pernikahan bertahan lama. Pasangan kita bisa jadi tidak lagi se tampan atau se cantik awal kali pertama bertemu. Pasangan kita bisa jadi tidak lagi memiliki pesona yang kita sukai ketika awal kali bertemu. Maka dari itu, menaiki tangga cinta kita kepada pasangan sampai kepada Cinta Ketuhanan bisa menjadi cara yang kita terapkan, demi memperkokoh janji suci yang telah diucap bersama-sama selamanya.

Konseling Pasangan Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman masa kini telah banyak yang menyediakan layanan konseling pernikahan untuk memediasi para pasangan sehingga hubungan pernikahan dapat kembali harmonis. Salah satunya ada di layanan Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

 

Konseling Pasangan

Konseling Pasangan : Forgiveness Dalam Pernikahan

Konseling Pasangan

Konseling Pasangan : Forgiveness Dalam Pernikahan | Dalam menjalani pernikahan, konflik merupakan hal yang tidak mungkin untuk dihindari oleh pasangan. Setiap individu memiliki latar belakang,nilai-nilai, keyakinan, dan idealisme yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, merupakan hal yang wajar jika pasangan mengalami konflik. Tetapi, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana pasangan menghadapi konflik yang ada. Cara pasangan menghadapi dan menyelesaikan konflik pernikahan dapat menentukan seberapa kuat tali hubungan yang mereka bangun bersama. Dalam psikologi positif, para ahli menjelaskan bahwa forgiveness memiliki peran penting dalam pernikahan, namun sering kali orang salah memahaminya. Maka, pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang definisi dari forgiveness itu sendiri, dan bagaimana dampaknya dalam sebuah hubungan pernikahan.

Arti Forgiveness 

Dalam psikologi positif, definisi forgiveness  tidak sekedar memaafkan berdasarkan tindakan moral atau keagaaman, tetapi merupakan kekuatan psikologis (character strength) yang berperan penting dalam membangun kesejahteraan emosional (well-being) dan hubungan yang sehat. Martin E.P. Seligman (2002 yang merupakan pencipta konsep psikologi positif menjelaskan bahwa forgiveness merupakan kemampuan untuk melepaskan perasaan marah dan dendam terhadap orang yang telah berbuat salah, kemudian menggantinya dengan emosi positif seperti pengertian, empati, dan kasih sayang. Dr. Everett L Worthington Jr. dalam penelitiannya juga menjelasakan bahwa forgiveness  adalah proses internal untuk mengurangi kebencian dan amarah, serta mengembangkan empati terhadap orang yang menyakiti kita.

Jika kita mengkorelasikannya dengan hubungan pernikahan, maka forgiveness  ini berarti kemampuan memaafkan pasangan atas kesalahan atau konflik yang terjadi, untuk menjaga keharmonisan hubungan bersama. Untuk lebih rinci, forgiveness disini merupakan kemampuan seseorang untuk mengolah luka, memahami kesalahan pasangannya dengan empati, dan memilih untuk melepaskan emosi negatif demi menjaga keberlangsungan hubungan yang sehat dan penuh kasih. Ini merupakan bentuk tindakan aktif untuk kembali membangun hubungan menjadi lebih baik.

Mengapa Penting Untuk Memaafkan Pasangan?

Sulit memaafkan pasangan adalah hal yang wajar. Secara emosional, seseorang cenderung menarik diri untuk melindungi dirinya setelah disakiti. Bahkan, ada pula orang yang memilih membalas perlakuan pasangannya dengan tindakan serupa. Forgiveness  juga tidak bisa terjadi begitu saja, karena memerlukan kesadaran diri (Self awareness) yang baik agar seseorang dapat melihat kesalahan pasangannya dari sudut pandang yang luas. Akan tetapi, memaafkan pasangan itu merupakan hal yang penting untuk dilakukan, karena forgiveness memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan emosional, kedekatan, dan ketahanan hubungan jangka panjang.

Memaafkan adalah dasar keberlanjutan hubungan

Merupakan hal yang tidak mungkin apabila sebuah pernikahan itu berisi kesempurnaan. Pasti ada konflik yang terjadi, dan itu lumrah. Adakalanya setiap pasangan melukai, entah melalui ucapan, tindakan, yang itu disengaja ataupun tidak disengaja. Jika salah satu pihak memilih untuk memaafkan, maka ia memberikan ruang untuk hubungannya terus tumbuh, bukan berhenti pada rasa sakit.

Memaafkan menyehatkan pikiran dan emosi

Memaafkan merupakan salah satu kekuatan karakter (character strenght) yang mampu membantu seorang individu mencapai emotional well-being, berdasarkan dengan persepktif psikologi positif. Apabila kita memaafkan pasangan, emosi negatif yang semula muncul seperti marah, kesal, kecewa, perlahan berkurang dan berganti menjadi perasaan damai dan tenang. Dengan memaafkan, kita tidak perlu memendam rasa sakit hati yang terlalu lama kepada pasangan. Rasa sakit hati yang dipendam terus menerus hanya akan menjadi penyakit hati.

Memaafkan membuka jalan untuk empati

Memaafkan juga dapat membuka jalan untuk seseorang agar dapat melihat pasangannya secara lebih manusiawi. Mereka dapat memahami dengan lebih baik ketidaksempurnaan pasangannya secara jelas. Mereka paham bahwa bisa saja pasangan mereka. Psikolog Robert Enright juga mengatakan bahwa memaafkan merupakan “hadiah kasih sayang” yang memperkuat hubungan interpersonal. Kalau dikontekskan ke dalam hubungan pernikahan, maknanya berarti meningkatkan bonding dengan pasangan serta rasa saling percaya satu sama lain.

Apakah Memaafkan = Membiarkan Kesalahan Pasangan Berulang?

Sama sekali tidak. Memaafkan lebih fokus kepada melepaskan emosi negatif, bukan berarti pasrah dan membenarkan perilaku pasangan yang salah. Emosi negatif yang dilepaskan akan mampu membuat seseorang berpikir jernih. Apabila pasangan mampu berpikir jernih ketika menghadapi sebuah konflik, mereka bisa merumuskan solusi yang solutif dan fokus pada pemecahan masalahnya. Bukan mendramatisir masalah tersebut. Maka dari itu, memaafkan bukanlah sikap yang melemahkan, tetapi justru menguatkan hati dan pikiran kita.

Konsultasi dengan Konselor Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor berpengalaman dapat membantumu dan pasangan untuk memahami secara mendalam seputar hubungan pernikahan dan berbagai tips yang bisa diterapkan untuk meningkatkan keharmonisan pernikahan. Zaman saat ini telah banyak yang menyediakan layanan konsultasi pernikahan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pasangan

Konsultasi Pasangan : Attachment Theory

Konsultasi Pasangan

Konsultasi Pasangan : Attachment Theory | Dalam setiap hubungan pernikahan, merupakan hal yang normal apabila pasangan harus menghadapi konflik. Namun, bisa jadi konflik yang terjadi memiliki penyebab yang lebih mendasar dan filosofis. Seorang psikolog bernama John Bowlby mengembangkan sebuah konsep psikolog bernama Attachment Theory (Teori Ketertarikan), yang membahas tentang cara kita berhubungan atan menjalin relasi dengan seseorang di masa dewasa, termasuk dalam pernikahan. Lantas bagaimana hubungan konsep teori ketertarikan ini dengan seseorang yang sudah menjalani hubungan pernikahan? Pada artikel kali ini akan membahas tentang Teori Ketertarikan tersebut beserta korelasinya dengan hubungan pernikahan. Simak hingga tuntas ya!

Tentang Teori Ketertarikan

John Bowlby (1969) menjelaskan bahwa Teori Keterikatan adalah konsep yang membahas bagaimana individu membentuk ikatan emosional yang erat dengan pengasuh utama di masa kecil, dan bagaimana ikatan ini menjadi dasar bagi hubungan di kemudian hari dalam kehidupan mereka. Terdapat empat gaya ketertarikan yang umum ditemukan pada orang dewasa, yaitu :

  • Gaya Keterikatan Aman (Secure Attachment). Gaya ini merupakan gaya yang paling sehat. Individu yang memiliki gaya ketertarikan ini tumbuh dengan pola asuh yang responsif dan konsisten. Kalau kita korelasikan dengan hubungan pernikahan, mereka cenderung percaya pada pasangan, mampu berkomunikasi secara terbuka, serta tidak takut menghadapi konflk.
  • Gaya Keterikatan Cemas (Anxious-Preoccupied Attachment). Gaya ini datang dan berkembang dari pola asuh yang tidak konsisten. Terkadang kasih sayang diberikan, kadang tidak. Akibatnya, individu ini sering merasa cemas dan tidak aman dalam hubungan. Apabila dalam hubungan pernikahan, mereka mungkin menunjukkan perilaku “clingy” atau sangat bergantung dengan pasangan. Mereka kerap kali juga sering mencurigai motif pasangan dan merasa cemburu, yang akhirnya bisa memicu konflik secara terus menerus.
  • Gaya Keterikatan Menghindar (Dismissive-Avoidant Attachment). Gaya ketertarikan ini terbentuk dari pola asuh yang dingin dan tidak responsif. Seseorang yang memiliki gaya ini belajar untuk menekan kebutuhan emosional mereka dan menjadi sangat mandiri, bahkan cenderung menghindari keintiman. Kalau dalam pernikahan, biasanya mereka cenderung kesulitan membuka diri dan berbagi perasaan. Bisa jadi juga merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang terlalu berlebihan dan cenderung menarik diri saat ada masalah.
  • Gaya Ketertarikan Disorganisasi (Fearful-Avoidant Attachment). Individu dengan gaya ini biasanya seringkali memiliki perilaku yang tidak terduga. Mulai dari mendekat kemudian tiba-tiba menjauh. Biasanya mereka juga sulit untuk percaya kepada pasangan, sehingga dinamika hubungan yang tercipta dengan pasangan menjadi kacau dan membingungkan. Gaya ketertarikan ini tercipta dari pola asuh yang tidak menentu dan menakutkan, misalnya pelecehan, penelantaran. Mereka sebetulnya sangat menginginkan keintiman, tetapi juga takut untuk itu.

Manfaat Memahami Gaya Ketertarikan

Memahami gaya ketertarikan ini merupakan hal yang penting untuk membentuk hubungan pernikahan menjadi lebih harmonis. Bayangkan semisalnya saja jika dua individu memiliki gaya ketertarikan yang berbeda. Satu memiliki gaya ketertarikan cemas (Anxious), dan pasangannya memiliki gaya ketertarikan menghindar (Avoidant). Di satu sisi mereka membutuhkan kepastian dan kejelasan dari pasangan nya jika terdapat sebuah konflik, tapi si Avoidant menghindar, menarik diri dan mencari ruang untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya konflik yang terjadi semakin parah, si cemas merasa tidak dicintai, sedangkan si Avoidant merasa tercekik karena terus dikejar-kejar.

Apabila masing-masing pasangan memahami tipe-tipe gaya ketertarikan tersebut, meraka akan mampu membuat pencegahan akan konflik yang terjadi sekaligus juga memahami bagaimana konflik yang ada diantara keduanya bisa diselesaikan. Hubungan pernikahan tidak selalu berbicara tentang dekat secara emosional, tetapi bagaimana masing-masingnya mampu memahami pasangan dan dirinya sendiri dengan baik, sehingga mampu membuat keputusan yang bijak dalam menghadapi masalah-masalah tersebut secara bersama-sama. Dengan begitu, setiap konflik yang ada dapat dilalui secara sehat dan dengan jalan solusi yang benar dan tepat.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor berpengalaman dapat membantumu dan pasangan untuk memahami secara mendalam, perihal gaya ketertarikan itu sendiri dan contoh-contoh riil nya dalam kehidupan pernikahan. Zaman saat ini telah banyak yang menyediakan layanan konsultasi pernikahan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pernikahan Online

Konseling Pernikahan Online : Mindfulness Marriage

Konsultasi Pernikahan Online

Konseling Pernikahan Online : Mindfull Marriage | Pasangan yang telah menikah seringkali terjebak dalam rutinitas rumah tangga. Fokus pada pekerjaan atau karir, mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga, yang akhirnya membuat kedekatan dan keintiman emosional antara keduanya menjadi berkurang. Kurangnya kedekatan emosional antara kedua pihak akan rentan memicu konflik. Maka dari itu, menerapkan Mindfull Marriage akan memberikan manfaat yang besar untuk keharmonisan sebuah hubungan pernikahan. Banyak pakar pun telah mengulas dan melakukan penelitian tentang ini. Yuk simak pembahasan artikel ini hingga tuntas!

Tentang Mindful Marriage 

Germer, Siegel, dan Fulton (2005) menjelaskan bahwa mindfullness merupakan bentuk perhatian penuh pada kondisi saat ini, serta juga dengan penerimaan secara sadar. Jika dikorelasikan ke dalam hubungan pernikahan, maka Mindfull Marriage adalah menjalani hubungan pernikahan dengan perhatian penuh, dan penerimaan secara sadar terhadap pasangan di kondisi saat ini. Gottman menjelaskan bahwa mindfulness dalam hubungan pernikahan itu membangun kemampuan untuk :

  • Mindfulness of Feelings, yaitu kemampuan untuk sadar terhadap perasaan dan sensasi pribadi termasuk perasaan yang tidak nyaman. Pasangan perlu menyadari perasaan tersebut secara objektif tanpa adanya reaksi negatif.
  • Mindfulness of mind /conciusness, yaitu kemampuan memperhatikan pikiran dan pola mental sendiri tanpa menghakimi.

Sehingga, Gottman melihat bahwa mindfullness membantu pasangan ‘berada’, atau hadir secara emosional dan psikologis, agar hubungan tetap kuat walaupun menghadapi konflik atau tekanan.

Konsep ini sangat bisa untuk diterapkan pasangan dalam menjalani rumah tangga nya, terlebih untuk pasutri yang sudah menikah  cukup lama. Karena dengan pasangan yang ‘sadar’ secara penuh dalam hubungan pernikahannya akan mampu menghadapi konflik atau masalah pernikahan yang ada secara bijak dan kembali membuat rumah tangga menjadi harmonis. Dalam buku Mindfullness for Everyday Living, dijelaskan bahwasannya pernikahan yang telah lama dijalani cenderung mengalami drift atau jarak emosional ketika pasangan membiarkan rutinitas, kesibukan, dan stres mengambil alih. Mindfulness mengarahkan pada upaya :

  • Menghargai aspek unik pasangan. Yaitu menemukan hal baru atau keunikan pasangan agar kita apresiasi.
  • Mengamati pengalaman pasangan, menanyakan pengalaman pasangan agar timbul kedekatan emosional diantara keduanya.
  • Memelihara ritual kebersamaan atau kegiatan yang rutin dilakukan bersama demi meningkatkan rasa emosional diantara keduanya dan tidak terjadi pengabaian atau pemisahan hubungan.

Manfaat Mindful MCaraarriage

Terdapat beberapa manfaat positif yang bisa didapatkan pasangan ketika menerapkan mindfulness dalam pernikahan dan rumah tangganya, antara lain :

1. Komunikasi menjadi lebih efektif

Pasangan yang menerapkan mindfulness akan dapat membuat komunikasi dengan pasangan nya bisa menjadi lebih efektif. Pasangan akan berupaya untuk menjadi pendengar yang baik, dan tidak menanggapi pasangan yang bercerita secara terburu-buru. Percakapan dengan pasangan pun juga lebih sehat dan penuh pengertian.

2. Pengelolaan emosi menjadi lebih baik

Kesadaran penuh membantu seseorang untuk mengendalikan emosinya menjadi lebih baik, sehingga tidak mudah untuk memberikan reaksi secara impulsif. Ini akan sangat membantu untuk menghindari pertikaian yang tidak perlu, dan fokus pada sumber masalah serta solusi yang bisa diterapkan.

3. Lebih dekat dengan pasangan

Pasangan yang hadir sepenuhnya akan membuat ikatan emosional antara keduanya menjadi lebih kuat. Kehadiran yang dirasakan tidak hanya hadir secara fisik saja, tetapi juga secara emosional. Dengan Mindfulness, pasangan bisa lebih memberikan perhatian secara utuh, yang akhirnya turut juga meningkatkan emosional dan keintiman yang semakin kuat.

4. Kepuasan Pernikahan

Berdasarkan penelitian Delvia eka Ariana dan Ratih Eka Pratiwi, terdapat penemuan bahwa adanya korelasi positif yang signikan antara tingkat mindfulness individu dengan kepuasan pernikahan mereka. Semakin tinggi mindfulness, semakin tinggi kepuasan pernikahannya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah mindfulness, semakin rendah juga kepuasan pernikahan mereka. Hal ini juga diperjelas dalam penelitian terdahulu oleh Burpee dan Langer (2005), bahwa mindfulness menjadi salah satu faktor yang berperan secara langsung dalam meningkatkan kepuasan pernikahan. Keterikatan pasangan dalam melibatkan keterbukaan akan pengalaman baru dan sadar akan suatu konteks dapat menumbuhkan perasaan puas dan terpenuhinya kepuasan pernikahan.

Cara Menerapkan Mindfull Marriage

  • Latihan mendengarkan dengan empati. Ketika pasangan berbicara, arahkan fokus secara penuh untuk mendengarkan pasangan. Jangan diselingi dengan kegiatan lain, seperti bermain handphone atau dengan pikiran lain. Tunjukkan bahwa anda benar-benar mendengarkan nya dan peduli.
  • Sadari pola reaksi. Sadari bagaimana anda biasanya merespon sebuah konflik. Dengan begitu, kita mampu memilih cara yang lebih sehat dalam merespon nya.
  • Luangkan Waktu Berkualitas. Luangkan waktu khusus bersama pasangan tanpa diselingi dengan aktivitas lainnya, seperti menyelesaikan pekerjaan, dan sebagainya untuk menikmati kebersamaan.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Growth Mindset

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Growth Mindset | Hubungan pernikahan merupakan komitmen jangka panjang. Setiap saatnya tentu dipenuhi dengan proses penyesuaian dan pertumbuhan bersama menjadi versi yang lebih baik. Berbagai konflik dan rintangan yang ada setiap saatnya memberikan dua pilihan. Menyerah pada konflik yang ada, atau melihat itu sebagai peluang untuk bertumbuh atau berkembang. Disinilah growth mindset berperan. Lantas apa itu growth mindset? Apa peran nya dalam sebuah hubungan pernikahan? Dalam artikel ini akan dibahas secara tuntas te ntang growth mindset, dan pengaruhnya terhadap sebuah hubungan pernikahan. Simak hingga tuntas ya!

Fixed Mindset & Growth Mindset

Growth Mindset merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog dari Stanford University bernama Carol Dweck. Dalam bukunya yang berjudul “Mindset : The New Psychology of Success”, ia menjelaskan bahwa ada dua pola pikir dasar yang manusia miliki, yaitu fixed mindset  dan growth mindset. Pola pikir ini bukan hanya tentang seberapa pintar kita, tetapi juga tentang bagaiman kita yakin dengan kemampuan diri dalam menghadapi tantangan, kritik, ataupun kegagalan.

Fixed Mindset memiliki arti yaitu pola pikir yang mendefinisikan bahwa kemampuan, bakat, dan kecerdasan adalah kemampuan bawaan sejak lahir, dan tidak bisa diubah. Mereka yang memiliki pola pikir seperti ini cenderung takut menghadapi tantangan, menghindari atau bahkan menolak kritik, tidak menyukai tantangan baru, dan cenderung memilih untuk menyerah dalam menghadapi rintangan baru. Seringkali mereka juga sering membandingkan diri dengan orang lain secara negatif, karena merasa tidak memiliki bakat dan kemampuan yang hebat sejak lahir. Mereka juga melihat bahwa kesuksesan orang lain merupakan ancaman, tidak dilihat sebagai motivasi yang mendorong mereka untuk menjadi lebih baik lagi.

Sedangkan growth mindset  memiliki arti yaitu pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan, kualitas, dan hubungan dapat terus berkembang melalui usaha, pembelajaran, dan ketersediaan untuk berubah. Mereka yang memiliki growth mindset yakin bahwa bakat dan kemampuan dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras. Kegagalan bukanlah akhir, tetapi merupakan sebuah awal. Mereka yang memiliki growth mindset  cenderung menghadapi tantangan dengan berani, menerima kritik dengan hati yang lapang dan belajar darinya, dan pantang menyerah. Mereka seringkali juga terinspirasi dari kesuksesan orang lain, dan tidak merasa terancam akan hal tersebut.

Pentingnya Growth Mindset Dalam Pernikahan

Melihat definisi tersebut, kita memahami bahwa growth mindset  memberikan dampak positif apabila diterapkan oleh pasangan. Di masa kini banyak pasangan yang cenderung terjebak dalam fixed mindset. Kebanyakan memilih untuk pasrah dalam menghadapi konflik dengan pasangan, atau menilai bahwa pasangan tidak akan bisa berubah dan memutuskan untuk menerimanya saja, bahkan menyerah dan kemudian mengakhiri hubungan pernikahan nya. Konflik yang muncul tidak diselesaikan secara bijak, tapi malah menjadi saling menyalahkan satu sama lain.

Pasangan yang memiliki growth mindset  justru memiliki pandangan yang lebih baik dalam menghadapi konflik pernikahan. Pasangan yang memiliki growth mindset justru akan :

  • Melihat konflik sebagai peluang bertumbuh. Perselisihan yang ada dilihat sebagai kesempatan untuk saling belajar memahami lebih baik satu sama lain, dan memperbaiki diri agar menjadi versi yang lebih baik.
  • Lebih sabar dan terbuka. Perubahan pada pasangan membutuhkan waktu, tidak bisa secara instan.
  • Fokus pada solusi, bukan kesalahan. Tidak melihat pada siapa pihak yang salah, tetapi lebih kepada solusi untuk menyelesaikan masalah atau perselisihan yang ada.

Cara Menerapkan Growth Mindset Dalam Pernikahan

  1. Ubah cara pandang terhadap perbedaan. Perbedaan dengan pasangan bukanlah halangan untuk pasangan saling mencintai atau menyayangi, tetapi merupakan peluang untuk saling melengkapi satu sama lain.
  2. Hargai proses, tidak hanya hasil. Berikan apresiasi pada setiap upaya pasanganmu. Hargai usahanya saat ia mencoba menjadi pendengar yang lebih baik, memberimu waktu untuk hobi yang kamu suka, atau menunjukkan perhatian kecil seperti membuatkan makanan.
  3. Gunakan bahasa yang membangun. Gunakan kalimat yang mendorong untuk tumbuh bersama-sama. Tidak dengan “Kamu memang selalu begitu.”, tetapi “Aku hargai usahamu, terima kasih ya. Yuk kita coba cara lain bersama-sama.”
  4. Belajar dari kesalahan. Setiap kesalahan bisa menjadi pelajaran. Bukan sebuah bukti kegagalan. Jangan pernah takut untuk salah, karena dari kesalahan tersebut bisa menjadi pelajaran untuk bersama-sama menjadi versi diri yang lebih baik lagi.
  5. Rayakan pertumbuhan kecil. Apresiasi setiap pertumbuhan dan perubahan kecil yang ada pada pasangan. Sekecil apapun itu, akan memotivasi pasangan untuk terus bertumbuh.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Cinta Dewasa

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Cinta Dewasa | Dalam hubungan pernikahan, pasangan seringkali salah dalam memaknai cinta. Misalnya ketika istri mendapati suaminya yang menekuni hobi nya untuk berolahraga, istrinya dengan cepat menilai bahwa suaminya tidak lagi mencintainya. Terkadang juga pasangan masih salah memaknai perbedaan antara simpati dan empati, sehingga tidak bisa mencintai secara sehat dan dewasa. Makna cinta tidak sesederhana itu. Cinta memiliki pengertian yang lebih luas dan mendalam, dan bukan hanya berhubungan dengan perasaan romansa dengan lawan jenis. Artikel kali ini akan membahas tentang seputar cinta dan mencintai pasangan secara dewasa. Simak sampai habis ya!

Cinta Menurut Eric Fromm

Eric Fromm dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving  memandang cinta bukan sekedar perasaan spontan atau emosi belaka, melainkan sesuatu yang harus dipelajari dan dilatih. Sama seperti seni lainnya, seperti bermain musik, melukis, dan sebagainya. Cinta bukan hanya terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan disiplin, konsentrasi, kesabaran, dan dedikasi agar terus menerus berkembang dan hubungan menjadi terawat.

Terdapat empat elemen dasar dalam mencintai, antara lain :

  • Perhatian (Care). Cinta sejati berarti peduli secara aktif terhadap kehidupan dan perkembangan orang yang dicintai
  • Tanggung jawab (Responsibility). Cinta berarti memiliki rasa tanggung jawab terhadap kebutuhan orang lain.
  • Respek (Respect). Menghargai orang lain apa adanya dan tidak ingin mengubahnya sesuai keinginan kita,
  • Pengetahuan (Knowledge). Mengenal orang yang dicintai secara mendalam, bukan hanya sekedar permukaannya saja. tetapi sampai memahami perasaan, keinginan, dan ketakutannya.

Cinta yang Dewasa

Fromm mengklasifikan cinta dengan beberapa macam jenis, antara lain :

  • Cinta persaudaraan (Brotherly Love), Bentuk cinta yang paling mendasar – rasa kasih terhadap sesama manusia.
  • Cinta ibu (Motherly Love), Cinta yang bersifat tanpa syarat dan memberi, biasanya dari ibu ke anak.
  • Cinta erotik (Erotic Love), Cinta romantis antara dua individu, yang melibatkan hasrat dan keintiman, tapi perlu dengan elemen-elemen cinta lainnya agar tidak dangkal.
  • Cinta terhadap diri sendiri (Self-Love), yakni bentuk cinta terhadap diri sendiri dengan cara yang sehat, sebagai dasar untuk mencintai orang lain. Bukan berarti egois ya.
  • Cinta terhadap Tuhan (Love God), Cinta spiritual dan transendental, tergantung pada orientasi religius atau filosofis seseorang.

Menurut Fromm, seseorang bisa mencintai secara dewasa apabila orang tersebut mampu mengintegrasikan seluruhnya. Misalnya, suami/istri cinta dengan pasangan nya tapi ia juga menghargai nya dan menghormatinya sebagai seorang suami/istri. Selain bisa menghargai dan menghormatinya, ia juga bisa memberikan sesuatu kepada pasangannya tanpa merasa keberatan. Ia bisa memberikan waktu, energi, tenaganya, tanpa merasa berat, selayaknya seorang ibu yang menyayangi anaknya dengan tulus dan rela mengorbankan tenaga, waktu, dan pikiran nya untuk anaknya. Ia juga memiliki keintiman yang kuat terhadap pasangannya, namun juga tidak lupa untuk menghargai diri sendiri, sehingga bisa mencintai pasangannya secara sehat. Meski mencintai pasangannya, ia juga tidak lupa untuk menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa.

Cinta yang dewasa bukan sekedar perasaan romantis atau gairah sesaat, tetapi merupakan perpaduan antara kasih sayang, tanggung jawab, komitmen, rasa hormat, dan kestabilan emosional. Itu tumbuh melalui kesadaran, pilihan, dan usaha aktif untuk membentuk hubungan yang sehat.

Bagaimana Dengan Cinta Bersyarat?

Beberapa orang menganggap memberikan syarat kepada pasangan merupakan cara untuk menjamin pasangan agar tetap mencintainya. Contohnya, suami mengatakan kepada istrinya bahwa ia akan mencintai istrinya apabila istri menuruti perkataan suami. Masih banyak individu memberlakukan cara ini kepada pasangannya, dan hal tersebut bukanlah bentuk cinta yang dewasa. Ini bisa terjadi karena beberapa faktor, misalnya faktor trauma masa lalu, kekhawatiran kepada pasangan yang tidak lagi cinta atau akan meninggalkannya, faktor ego yang terlalu tinggi , budaya/tekanan sosial, dan masih banyak lagi.

Cinta yang bersyarat bukanlah cinta yang dewasa. Menurut Eric Fromm, cinta bersyarat merupakan cinta yang egois, karena pasangan harus memenuhi syarat tertentu untuk mendapatkan balasan cinta. Bagi Eric Fromm, cinta dewasa itu adalah menerima pasangan secara utuh, bukan menerima pasangan dengan syarat. Jika seseorang harus memenuhi syarat tertentu untuk mendapatkan cinta dari pasangannya, maka itu lebih seperti hubungan transaksi daripada hubungan romansa. John Gottman, pakar pernikahan, menemukan melalui risetnya bahwa pasangan yang menuntut cinta dengan syarat kaku lebih rentan mengalami konflik dan perceraian. Cinta semacam ini bukan tentang membangun hubungan, melainkan tentang “mengendalikan pasangan”.

Lalu, Bagaimana Cara Mencintai Dengan Dewasa?

Maka dari itu, terdapat cara lain agar kita bisa mencintai pasangan secara dewasa. Salah satu caranya adalah dengan membuat kesepakatan bersama. Baik pihak suami dan istri sama-sama bersepakat terhadap keputusan tertentu, atas dasar kesadaran satu sama lain. Bukan karena tuntutan, atau keterpaksaan agar pasangan membalas cintanya. Landasannya adalah :

  • Eric Fromm menekankan cinta dewasa adalah tanggung jawab aktif untuk kesejahteraan pasangan. Artinya, dalam mencintai secara dewasa ada kepedulian dan tanggung jawab. Membuat kesepakatan merupakan bagian dari tanggung jawab, supaya tidak ada salah satu pihak yang tersakiti.
  • Robert Sternberg turut menjelaskan bahwa komitmen (commitment) membutuhkan aturan bersama dan pasangan juga melakukannya bersama-sama. Membuat kesepakatan itu sendiri merupakan jalan untuk membentuk komitmen itu sendiri. Misalnya, terdapat kesepakatan dalam pembagian tugas rumah tangga. Suami bagian memasak dan mencuci piring, istri bagian membersihkan rumah dan menjaga anak. Suami dan istri yang sama-sama melakukan kesepakatan pembagian tugas rumah tangga tersebut pada akhirnya mampu memperkuat komitmen satu sama lain dalam menjalani rumah tangga bersama-sama, Tanpa kesepakatan bersama-sama, komitmen bisa menjadi kabur dan mudah dilanggar.
  • Menurut John Bowbly, dalam konsep Attachment, terdapat penjelasan tentang secure attachment, yang artinya pasangan merasa nyaman karena adanya batasan sehat. Kesepakatan membentuk rasa aman satu sama lain, karena masing-masingnya mengetahui apa yang bisa mereka harapkan, dan apa yang bisa mereka toleransikan kepada pasangannya.

Cinta yang dewasa memiliki manfaat yang baik apabila diterapkan dalam sebuah hubungan, terlebih hubungan pernikahan. Cinta yang dewasa dapat membuat pasangan baik pihak suami maupun istri tumbuh bersama-sama secara sehat, belajar bersama secara dewasa menjalani rumah tangga yang dibangun, menuju rumah tangga yang penuh rahmat dan kebajikan.

Mau mengetahui berbagai tips menjalani hubungan pernikahan? Simak artikel  kami selainnya di blog kami ya! Jangan takut juga ya untuk tuntaskan masalah pernikahanmu segera, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan! Hubungi kami  untuk booking jadwal konsultasimu ya!

 

Bimbingan Pernikahan Online

Bimbingan Pernikahan Tangerang : Pasangan yang BPD

Bimbingan Pernikahan Online

Bimbingan Pernikahan Tangerang : Istri yang BPD | Tidak selalu konflik yang muncul dalam hubungan pernikahan itu adalah hasil kesalahan suami yang kurang memperlakukan istrinya dengan baik. Bisa jadi, ada kemungkinan yang lain yang menjadi faktor konflik diantara keduanya muncul. Salah satu kemungkinan nya adalah istri yang menginap BPD. Pasangan yang memiliki gangguan BPD memerlukan perlakuan dan penyikapan khusus, sehingga tidak bisa sembarangan untuk dihadapi. Dalam artikel ini akan membahas seputar tentang BPD, dan tips-tips untuk menghadapi pasangan yang memiliki BPD.

Tentang BPD (Borderline Personality Disorder)

Psikolog mendefinisikan BPD atau Borderline Personality Disorder, yang dalam Bahasa Indonesia disebut Gangguan Kepribadian Ambang, sebagai salah satu jenis gangguan kepribadian yang ditandai oleh ketidakstabilan emosi, hubungan interpersonal, citra diri, dan kontrol impuls. Menurut Marsha M. Linehan selaku pakar psikolog klinis, Para ahli menggambarkan BPD sebagai gangguan dalam regulasi emosi, di mana individu menunjukkan sensitivitas emosional ekstrem, bereaksi sangat kuat terhadap rangsangan emosional, dan kesulitan mengembalikan diri ke kondisi emosi yang stabil. Kondisi ini tidak sekadar mencerminkan kepribadian buruk, melainkan muncul dari kombinasi faktor biologis dan pengalaman lingkungan yang invalidatif seperti trauma masa kecil, pelecehan, atau pengabaian.

Menurut Paul T. Mason dan Randi Kranger, memiliki pasangan BPD bisa sangat membingungkan karena mereka seringkali menunjukkan :

  • Perubahan suasana hati yang ekstrim
  • Perilaku penuh kemarahan atau ledakan emosi yang tampak “tak masuk akal”
  • Ketakutan intens akan ditinggalkan
  • Tuduhan palsu atau menyudutkan pasangan secara emosional

Hal tersebut bukanlah hasil dari karakter buruk atau niat jahat, tetapi reaksi dari luka emosional mendalam dan ketidakstabilan emosi yang serius.

Dalam buku Loving Someone with Borderline Personality Disorder karya Shari Y. Maning juga menjelaskan secara rinci tentang Borderline Personality Disorder itu sendiri.

1.  Pola Pikir penderita BPD

They Feel Everything More Intensely“. Mereka tidak hanya mudah terluka, tetapi juga kesulitan memproses dan menenangkan emosi tersebut. Pasangan dengan BPD bisa menafsirkan hal kecil seperti nada suara, mimik wajah, atau sedikit penolakan sebagai ancaman besar terhadap hubungan. Mereka tidak bermaksud bersikap manipulatif, tetapi merasakan ketakutan mendalam bahwa pasangan tidak mencintai mereka atau akan meninggalkan mereka.

2. Perbedaan Antara Simpati, Empati, dan Validasi

Simpati, Empati, dan Validasi memiliki arti yang berbeda. Simpati lebih ke “Aku kasihan sama kamu.”, kalau empati yaitu “Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu.”. Kalau validasi contohnya adalah “Apa yang kamu rasakan masuk akal karena apa yang kamu alami.”. Validasi adalah kunci membangun komunikasi yang baik dengan pasangan BPD. Tetapi, tidak sama dengan menyetujui perilaku destruktif ya.

3. Menghindari Perilaku “Mengatur” atau “Memperbaiki”

Banyak orang kerap melakukan kesalahan terhadap pasangan dengan BPD, yaitu terlalu berusaha memperbaiki atau menyelamatkan mereka. Pada akhirnya ini dapat membuat hubungan terasa tidak setara, dan semakin memperparah ketergantungan emosional dari pasangan BPD. Berhantilah untuk menjadi terapis bagi pasangan. Sebaliknya, jadilah pasangan yang hadir, memahami, namun tetap memiliki batasan.

4. Mengelola Ledakan Emosi (Emotional Dysregulation)

Pasangan BPD sering sekali mengalami ledakan emosi (Emotional Dysregulation). yakni kesulitan mengatur dan mengelola emosi nya ketika sedang marah, sedih, atau takut. Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan menurut Manning antara lain :

  • Tetap tenang, tidak ikut untuk meledak-ledak.
  • Validasi emosi, bukan perilaku.
  • Gunakan suara netral dan tenang.
  • Tunda diskusi jika situasi terlalu panas.
  • Beirkan waktu dan ruang untuk menenangkan diri.

5. Membangun dan Memelihara Batasan Yang Sehat

Batasan bukan berarti menjauh, tapi cara menjaga diri agar tetap sehat dalam hubungan. Ciri batasan yang sehat menurut Manning :

  • Jelas dan konsisten
  • Disampaikan dengan tenang dan penuh kasih
  • Tidak bersifat ancaman, tapi konsekuensi

Tips-tips Yang Bisa Dilakukan Dalam Menghadapinya

1. Terapkan Komunikasi Yang Menenangkan

Terapkan komunikasi yang menenangkan. Tidak dengan nada suara yang keras dan dihentak-hentak, tetapi dengan nada suara yang lembut dan stabil. Hindari juga perdebatan ketika pasangan sedang merasakan emosional yang tinggi. Gunakan bahasa “Aku merasa”, bukan “Kamu selalu” agar pasangan tidak merasa disalahkan.

2. Validasi Perasaan, bukan Perilaku

Akui dan hargai perasaan pasangan, tetapi tidak setuju dengan perilaku atau tindakannya kalau memang tidak benar. Adanya validasi membuat pasangan merasa dihargai dan dipahami.

3. Tetapkan Batasan Yang Sehat

Tujuannya agar hubungan yang dibangun dengan pasangan tetap sehat dan berjalan baik. Contohnya, “Kalau kamu mulai berteriak, aku akan keluae sebentar dan kita bicara nanti.”

4. Dorong dan Dukung Pengobatan

Ajak pasangan untuk menjalankan terapi, seperti terapi DBT (Dialectical Behavior Therapy) yang terbukti efektif untuk penderita BPD. Pasangan bisa mendukung proses ini dengan mengikuti sesi konseling pernikahan atau keluarga bersama-sama.

5. Apresiasi Pasangan

Jangan lupa untuk turut memberikan apresiasi kepasa pasangan, karena pasangan yang menderita BPD seringkali merasa kurang cukup untuk dicintai. Apresiasi kecil yang diberikan dapat membantu menumbuhkan rasa aman dalam hubungan.

Mau tahu lebih banyak lagi tips-tips dalam menyelesaikan masalah-masalah pernikahan? Yuk langsung simak artikel kami yang lainnya.

Mau booking jadwal konsultasimu? Hubungi kami untuk booking slot jadwalmu segera ya, sebelum kehabisan slotnya!

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Open Relationship

Bimbingan Pernikahan
Bimbingan Pernikahan : Open Relationship

Bimbingan Pernikahan : Open Relationship | Tahukah kamu bahwa beberapa pasangan, meskipun sudah menikah, memilih menjalani hubungan terbuka (open relationship)? Menurut Dossie Easton dan Janet W. Hardy dalam The Ethical Slut, hubungan ini bersifat non-eksklusif secara seksual namun tetap didasari kejujuran, kesepakatan, dan komunikasi terbuka. Konsep ini memberi kebebasan bagi pasangan untuk membangun relasi dengan orang lain di luar pernikahan. Karena itu, open relationship menantang konsep tradisional pernikahan yang bersifat monogami. Tapi, apakah hubungan seperti ini layak diterapkan? Apa saja risikonya? Artikel ini akan mengulasnya lebih dalam. Yuk, simak sampai akhir!

Tentang Open Relationship

Open Relationship menurut Veaux dan Rickert adalah salah satu konsep atau bentuk dari non-monogami etis (ethical non-monogamy), yakni sebuah struktur hubungan di mana pasangan bebas terlibat dalam hubungan romantis dan/atau seksual dengan lebih dari satu orang, dengan persetujuan sadar dan komunikasi terbuka dari semua pihak yang terlibat. Sehingga, walaupun pihak suami atau pihak istri menjalin hubungan dengan orang lain, mereka tidak bisa menyebut hal tersebut sebagai perselingkuhan. Karena keduanya telah bersepakat, telah mengkomunikasikan nya bersama-sama dan jujur. Prinsipnya yakni :

  • Etika sebagai fondasi. Maksudnya adalah etika dalam menjaga otonomi masing-masing individu, atau bagaimana cara memperlakukan mereka.
  • Transparansi Total (Radical Honesty). Mereka menganggap menyembunyikan informasi dari pasangan sebagai bentuk ketidaksetiaan, meskipun niat dan tujuannya adalah untuk menjaga perasaan pasangan. Setiap orang berhak tahu posisi dan konteksnya dalam relasi. Contohnya, apabila kamu memiliki pasangan baru, maka pasangan utama perlu tahu, juga memberikan kesempatan untuk memprosesnya secara emosional.
  • Hubungan berdasarkan Kesetaraan, bukan Hirarki Kaku. Mereka tidak menempatkan pasangan utama—dalam konteks pernikahan seperti suami atau istri—sebagai prioritas utama jika hal itu merendahkan hubungan mereka dengan individu lain. Sebaliknya, mereka membangun relasi dengan individu lain berdasarkan komitmen yang mereka sepakati bersama, tanpa harus mengikuti urutan tertentu. Mereka juga memberi setiap individu hak untuk menentukan sendiri batas dan kedalaman relasinya
  • Hubungan = Tanggung Jawab. Artinya, mereka harus menjalani setiap relasi atau hubungan dengan penuh tanggung jawab. Mereka bertanggung jawab untuk menjadi pasangan yang baik, misalnya dengan mendengarkan pasangan dengan sungguh-sungguh, berkomunikasi secara terbuka tanpa menyembunyikan apa pun, memproses kecemburuan dan ketakutan dengan kesadaran, serta membangun struktur yang mendukung semua pihak yang terlibat.

Pada konsep ini, kecemburuan merupakan hal yang valid. Tetapi, mereka tidak memahami kecemburuan sebagai alasan untuk membatasi kebebasan pasangan. Sebaliknya, mereka justru menganggap kecemburuan sebagai sinyal yang perlu mereka eksplorasi. Mereka mencoba memahami apakah kecemburuan muncul dari ketakutan akan ditinggalkan, perasaan tidak dihargai, dan sebagainya. Mereka tidak menghindari rasa cemburu, melainkan menggali dan memprosesnya melalui empati dan dialog.

Open Relationship Dalam Agama

Pada umumnya, konsep Open Relationship pada umumnya bertentangan dan tidak selaras dengan mayoritas agama di seluruh dunia. Dalam Islam, hubungan pernikahan antara laki-laki dan perempuan hanya dibenarkan dalam kerangka pernikahan yang sah. Dalam surah Al-Mukminun ayat 5-7 Allah mengatakan bahwasanya :

“Dan orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”

Allah juga mengatakan, bahwa hubungan seks harus disalurkan dengan cara yang halal agar terhindar dari zina serta perbuatan haram lainnya, sebagaimana dalam Surat An-Nur ayat 32 yang berbunyi :

Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Allah juga menjelaskan bahwasannya apabila ada keinginan memiliki lebih dari satu pasangan, hal tersebut diperbolehkan asal dinikahi, sebagaimana yang tercantum dalam Surat An-Nisa ayat 3 yang berbunyi :

Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim.

Konsekuensi Menerapkan Konsep Open Relationship

1. Kecemburuan, tidak ada eksklusifitias.

Manusia mendambakan cinta yang eksklusif. Menurut psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth, manusia sejak bayi memiliki kebutuhan biologis untuk terikat secara emosional pada sosok tertentu. Kalau dikontekskan dengan orang dewasa, kebutuhan ini sering diwujudkan melalui pasangan romanis sebagai “figura utama” tempat bergantung secara emosional. Ketika seseorang mengetahui bahwa ia adalah satu-satunya, maka akan muncul rasa :

  • Berharga dan istimewa
  • Percaya diri
  • Aman dari ancaman kehilangan atau perbandingan

2. Tidak sesuai fitrah karena menimbulkan kerusakan sosial.

Manusia secara naluriah atau fitrahnya menghindari bencana dan open married tentu tidak sesuai dengan kebutuhan fitrah tersebut, karena bergonta- ganti pasangan seksual bisa rentan terhadap penyakit menular seksual yang bisa membawa bencana bagi kehidupan pergaulan sosial.

3. Nahsab nya gak jelas (anaknya siapa, bapaknya siapa).

Menghilangkan tujuan pernikahan yaitu sakinah (mendapatkan ketenangan), rahmah (kasih sayang), zariyah (mendapatkan keturunan yang baik). Para ahli biologi juga menjelaskan bahwa tubuh perempuan bukan untuk memiliki banyak pasangan seksual. Saat berhubungan seksual, bagian tertentu dari otak perempuan mengaktifkan pelepasan hormon oksitosin, yang membuatnya cenderung jatuh cinta kepada pasangannya Jika berganti-ganti parner seksual maka ini akan merusak naluriah itu dan mengakibatkan ketidakpastian bagi perempuan untuk bersandar secara emosional.

Open relationship sekilas memang membahagiakan, tidak mengekang kebebasan masing-masing untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Akan tetapi, dampak dan konsekuensi yang timbul bisa dikatakan cukup serius. Menjalani hubungan pernikahan merupakan komitmen seumur hidup. Tantangan dan rintangan pasti akan muncul, tetapi kita tetap bisa menyelesaikannya

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Bimbingan Pernikahan Indonesia

Bimbingan Pernikahan Indonesia : Financial Abuse

Bimbingan Pernikahan Indonesia

 

Bimbingan Pernikahan Indonesia : Financial Abuse | Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan seringkali diasosiasikan dengan fisik atau verbal. Namun, ada satu bentuk kekerasan yang jauh lebih tersembunyi namun sama merusaknya: financial abuse atau kekerasan finansial. Kekerasan ini sering terjadi pada pasangan, keluarga, bahkan rekan kerja, dan bisa menyebabkan korban terjebak dalam ketergantungan ekonomi yang berbahaya. Artikel ini akan membahas secara menyeluruh apa itu financial abuse, bentuk-bentuknya, data-data yang ada, perspektif Islam, dan caara menyikapi dan mengatasinya

Apa Itu Financial Abuse?

Financial abuse adalah bentuk kekerasan yang terjadi ketika seseorang menggunakan kendali terhadap aspek keuangan orang lain sebagai alat untuk menguasai, mengintimidasi, atau memanipulasi. Tujuannya adalah untuk melemahkan dan membuat ketergantungan korban secara ekonomi agar sulit untuk mandiri secara finansial. Pelaku sering mengemas kekerasan finansial sebagai “perlindungan”, “kepemimpinan”, atau “tanggung jawab ekonomi”, sehingga banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalaminya.

Bentuk-Bentuk Kekerasan Finansial

Mengontrol Total Akses Keuangan

Pelaku melarang korban memiliki rekening bank atau bahkan memegang uang sendiri secara tunai.

Melarang Bekerja atau Menempuh Pendidikan

Dengan alasan “biar kamu nggak capek”, pelaku memaksa korban untuk tetap di rumah dan tidak boleh bekerja, padahal mereka bertujuan mengendalikan penghasilan korban.

Memberi Uang Secara Bersyarat

Uang hanya diberikan jika korban memenuhi permintaan tertentu, seperti tunduk pada kontrol atau melayani kebutuhan pelaku.

Mengambil Penghasilan atau Aset Korban

Pelaku mengambil gaji korban, menjual barang milik korban, atau memakai namanya untuk mengambil pinjaman.

Membuat Korban Bertanggung Jawab atas Utang

Pelaku meminjam uang atas nama korban tanpa persetujuan atau memaksanya menanggung utang rumah tangga sendirian.

Seberapa Serius Kekerasan Finansial?

Menurut Center for Financial Security (University of Wisconsin), 94% korban KDRT juga mengalami kekerasan finansial. National Network to End Domestic Violence (NNEDV) mencatat bahwa financial abuse adalah hambatan utama korban untuk meninggalkan pelaku. Di Indonesia, Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan 2023 melaporkan peningkatan kekerasan berbasis ekonom, terutama pada perempuan dalam relasi rumah tangga dan pernikahan.

Mengapa Kekerasan Finansial Sering Dianggap Wajar? Dalam masyarakat patriarki, kontrol keuangan oleh satu pihak, biasanya laki-laki, sering dianggap sebagai bentuk tanggung jawab atau “kepemimpinan”. Padahal jika kontrol ini dilakukan tanpa persetujuan atau dengan memanipulasi, itu adalah kekerasan.

Perbedaan antara “kepemimpinan” dan “kekuasaan yang menindas” harus dipahami dengan cermat.

Banyak perempuan (dan sebagian laki-laki) menganggap tidak memiliki penghasilan adalah hal biasa. Ketika seseorang menggunakannya untuk menekan, menahan, dan merendahkan, maka kita sudah masuk ke wilayah kekerasan finansial.

Apakah Financial Abuse Bertentangan dengan Syariat?

Kewajiban Suami Memberi Nafkah

Islam mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri tanpa mengontrol secara tidak adil.

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita… dan mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

(QS. An-Nisa: 34)

Kepemimpinan di sini bukan berarti kontrol mutlak, tapi amanah dan tanggung jawab.

Larangan Mengambil Harta Tanpa Hak

“Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…”

(QS. Al-Baqarah: 188)

Mengambil atau mengontrol harta pasangan tanpa izin termasuk perbuatan batil.

Islam Mendorong Kemandirian Ekonomi Perempuan

Khadijah RA adalah seorang pengusaha sukses dan mandiri. Rasulullah SAW menghargai kemandiriannya.

Artinya, Islam tidak melarang perempuan bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, selama sesuai syariat.

Cara Menyikapi dan Mengatasi Financial Abuse

  1. Kenali Tanda-Tandanya Sadari jika ada kendali keuangan yang tidak sehat, terutama jika Anda tidak bisa mengambil keputusan ekonomi sendiri.
  2. Bangun Kemandirian Finansial. Mulailah dengan menabung, mengikuti pelatihan keterampilan, atau mencari pekerjaan sampingan.
  3. Bicarakan Secara Terbuka (Jika Aman). Diskusikan isu keuangan secara terbuka dengan pasangan. Bila tak aman, cari bantuan pihak ketiga yang tepercaya.
  4. Simpan Dokumen Keuangan. Pastikan Anda punya salinan dokumen penting seperti KTP, KK, buku tabungan, BPJS, dan aset lain.
  5. Cari Bantuan Profesional. Hubungi lembaga bantuan hukum, psikolog, atau Komnas Perempuan jika mengalami tekanan berat.

Orang sering mengabaikan kekerasan finansial meskipun itu adalah bentuk penindasan yang nyata. Dalam Islam dan hukum negara, tindakan ini bertentangan dengan nilai keadilan dan kasih sayang dalam relasi manusia.

Jangan diam jika kamu atau orang terdekatmu mengalami financial abuse. Edukasi diri, bangun keberanian, dan cari dukungan. Karena setiap orang berhak atas kehidupan yang adil, bermartabat, dan bebas dari kekerasan, termasuk kekerasan dalam bentuk keuangan. Bisa juga dengan menghubungi konsultan pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan itu Butuh Untuk Diperjuangkan! Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!