Bimbingan Pernikahan Indonesia : Financial Abuse

Bimbingan Pernikahan Indonesia

 

Bimbingan Pernikahan Indonesia : Financial Abuse | Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan seringkali diasosiasikan dengan fisik atau verbal. Namun, ada satu bentuk kekerasan yang jauh lebih tersembunyi namun sama merusaknya: financial abuse atau kekerasan finansial. Kekerasan ini sering terjadi pada pasangan, keluarga, bahkan rekan kerja, dan bisa menyebabkan korban terjebak dalam ketergantungan ekonomi yang berbahaya. Artikel ini akan membahas secara menyeluruh apa itu financial abuse, bentuk-bentuknya, data-data yang ada, perspektif Islam, dan caara menyikapi dan mengatasinya

Apa Itu Financial Abuse?

Financial abuse adalah bentuk kekerasan yang terjadi ketika seseorang menggunakan kendali terhadap aspek keuangan orang lain sebagai alat untuk menguasai, mengintimidasi, atau memanipulasi. Tujuannya adalah untuk melemahkan dan membuat ketergantungan korban secara ekonomi agar sulit untuk mandiri secara finansial. Pelaku sering mengemas kekerasan finansial sebagai “perlindungan”, “kepemimpinan”, atau “tanggung jawab ekonomi”, sehingga banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalaminya.

Bentuk-Bentuk Kekerasan Finansial

Mengontrol Total Akses Keuangan

Pelaku melarang korban memiliki rekening bank atau bahkan memegang uang sendiri secara tunai.

Melarang Bekerja atau Menempuh Pendidikan

Dengan alasan “biar kamu nggak capek”, pelaku memaksa korban untuk tetap di rumah dan tidak boleh bekerja, padahal mereka bertujuan mengendalikan penghasilan korban.

Memberi Uang Secara Bersyarat

Uang hanya diberikan jika korban memenuhi permintaan tertentu, seperti tunduk pada kontrol atau melayani kebutuhan pelaku.

Mengambil Penghasilan atau Aset Korban

Pelaku mengambil gaji korban, menjual barang milik korban, atau memakai namanya untuk mengambil pinjaman.

Membuat Korban Bertanggung Jawab atas Utang

Pelaku meminjam uang atas nama korban tanpa persetujuan atau memaksanya menanggung utang rumah tangga sendirian.

Seberapa Serius Kekerasan Finansial?

Menurut Center for Financial Security (University of Wisconsin), 94% korban KDRT juga mengalami kekerasan finansial. National Network to End Domestic Violence (NNEDV) mencatat bahwa financial abuse adalah hambatan utama korban untuk meninggalkan pelaku. Di Indonesia, Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan 2023 melaporkan peningkatan kekerasan berbasis ekonom, terutama pada perempuan dalam relasi rumah tangga dan pernikahan.

Mengapa Kekerasan Finansial Sering Dianggap Wajar? Dalam masyarakat patriarki, kontrol keuangan oleh satu pihak, biasanya laki-laki, sering dianggap sebagai bentuk tanggung jawab atau “kepemimpinan”. Padahal jika kontrol ini dilakukan tanpa persetujuan atau dengan memanipulasi, itu adalah kekerasan.

Perbedaan antara “kepemimpinan” dan “kekuasaan yang menindas” harus dipahami dengan cermat.

Banyak perempuan (dan sebagian laki-laki) menganggap tidak memiliki penghasilan adalah hal biasa. Ketika seseorang menggunakannya untuk menekan, menahan, dan merendahkan, maka kita sudah masuk ke wilayah kekerasan finansial.

Apakah Financial Abuse Bertentangan dengan Syariat?

Kewajiban Suami Memberi Nafkah

Islam mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri tanpa mengontrol secara tidak adil.

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita… dan mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

(QS. An-Nisa: 34)

Kepemimpinan di sini bukan berarti kontrol mutlak, tapi amanah dan tanggung jawab.

Larangan Mengambil Harta Tanpa Hak

“Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…”

(QS. Al-Baqarah: 188)

Mengambil atau mengontrol harta pasangan tanpa izin termasuk perbuatan batil.

Islam Mendorong Kemandirian Ekonomi Perempuan

Khadijah RA adalah seorang pengusaha sukses dan mandiri. Rasulullah SAW menghargai kemandiriannya.

Artinya, Islam tidak melarang perempuan bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, selama sesuai syariat.

Cara Menyikapi dan Mengatasi Financial Abuse

  1. Kenali Tanda-Tandanya Sadari jika ada kendali keuangan yang tidak sehat, terutama jika Anda tidak bisa mengambil keputusan ekonomi sendiri.
  2. Bangun Kemandirian Finansial. Mulailah dengan menabung, mengikuti pelatihan keterampilan, atau mencari pekerjaan sampingan.
  3. Bicarakan Secara Terbuka (Jika Aman). Diskusikan isu keuangan secara terbuka dengan pasangan. Bila tak aman, cari bantuan pihak ketiga yang tepercaya.
  4. Simpan Dokumen Keuangan. Pastikan Anda punya salinan dokumen penting seperti KTP, KK, buku tabungan, BPJS, dan aset lain.
  5. Cari Bantuan Profesional. Hubungi lembaga bantuan hukum, psikolog, atau Komnas Perempuan jika mengalami tekanan berat.

Orang sering mengabaikan kekerasan finansial meskipun itu adalah bentuk penindasan yang nyata. Dalam Islam dan hukum negara, tindakan ini bertentangan dengan nilai keadilan dan kasih sayang dalam relasi manusia.

Jangan diam jika kamu atau orang terdekatmu mengalami financial abuse. Edukasi diri, bangun keberanian, dan cari dukungan. Karena setiap orang berhak atas kehidupan yang adil, bermartabat, dan bebas dari kekerasan, termasuk kekerasan dalam bentuk keuangan. Bisa juga dengan menghubungi konsultan pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan itu Butuh Untuk Diperjuangkan! Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *