Konseling Pernikahan Bogor

Konseling Pernikahan Bogor : Pasangan Dengan Gangguan Mental

Konseling Pernikahan Bogor

Konseling Pernikahan Bogor : Pasangan Dengan Gangguan Mental | Menikah adalah keputusan seumur hidup. Sebuah hubungan pernikahan bukanlah hubungan yang dapat diakhiri dengan mudahnya jika terdapat rasa ketidaknyamanan. Pernikahan merupakan hubungan yang sakral, memuat komitmen kuat untuk bersama selamanya, hingga maut memisahkan. Namun, apabila diketahui terdapat pasangan yang memiliki gangguan mental, tantangan pernikahan mungkin akan sedikit lebih kompleks. Karena gangguan mental itu sendiri berpengaruh terhadap cara seseorang dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan pasangan dan orang terdekat, cara merespon atau memberikan tanggapan, kebiasaan dalam menjalani rutinitas sehari-hari, cara memaknai atau mengelola emosi dalam menghadapi masalah dan tantangan pernikahan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan membahas tentang gangguan mental itu sendiri serta cara mengelola pernikahan dengan pasangan yang memiliki gangguan mental.

Arti dari Gangguan Mental

Menurut APA (American Psychiatric Association) mendefinisikan gangguan mental sebagai suatu sindrom yang menunjukkan gangguan klinis yang signifikan dalam kognisi, regulasi emosi, atau perilaku, yang mencerminkan disfungsi dalam proses psikologis, biologis, atau perkembangan yang mendasari fungsi mental. Artinya, gangguan mental tidak hanya membahas tentang merasa sedih atau cemas. Kondisi tersebut serius dan tidak bisa kita anggap sepele, karena dapat menganggu kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan orang lain secara sehat.

WHO (World Health Organization) mendefinisikan gangguan mental sebagai kondisi kesehatan yang menunjukkan adanya gangguan signifikan dalam pikiran, emosi, atau perilaku, yang berkaitan dengan gangguan fungsi psikologis, biologis, atau perkembangan. WHO juga menegaskan bahwa gangguan mental tidak berasal dari kelemahan pribadi, melainkan muncul akibat kombinasi berbagai faktor, seperti faktor genetik, biologis, lingkungan, dan psikososial.

Dari dua referensi tersebut, dapat kita pahami bahwa gangguan mental merupakan kondisi yang serius, nyata, dan kompleks sehingga memengaruhi fungsi kognitif, emosional, dan sosial seseorang. Pun juga dalam pernikahan, kita tidak bisa menangani pasangan yang memiliki gangguan mental secara sembarangan.. Pasangan harus menerapkan cara-cara tertentu agar hubungannya dengan pasangan tidak berangsur memburuk.

Cara Mengelola Pernikahan Dengan Pasangan Gangguan Mental

Menurut Rebecca Woolis dalam bukunya yang berjudul “When Someone You Love Has A Mental Illness”, beberapa cara dalam mengelola pernikahan dengan pasangan yang memiliki gangguan mental antara lain sebagai berikut :

  1. Menerima Kenyataan dan Meningkatkan Pemahaman.Kita perlu menerima bahwa pasangan kita memiliki gangguan mental tertentu dan secara aktif menambah wawasan tentang gangguan mental yang mereka alami. Dengan memahami hal tersebut, kita dapat menghindari definisi yang keliru terhadap perilaku pasangan dan menyadari bahwa mereka tidak melakukannya karena kemauan buruk, melainkan karena kondisi medis yang mereka alami.
  2. Menjaga Komunikasi Yang Realistis dan Terbuka. Dalam berkomunikasi, gunakan bahasa yang tenang dan jelas, tanpa adanya indikasi untuk menyudutkan pasangan, bahkan membuat mereka tertekan. Jika pasangan dalam keadaan tidak stabil, kita tidak memaksa untuk diskusi emosional demi kondisi pasangan agar tetap baik. Kita juga perlu untuk menyusun pola komunikasi yang sesuai dengan kondisi mental pasangan kita.
  3. Membuat Rencana Perawatan dan Kontingensi. Pasangan dengan gangguan mental juga perlu untuk memiliki rencana perawatan jangka panjang untuk kedepannya. Bisa dengan membuat jadwal yang terstruktur dan konsisten untuk konsultasi dan terapi pada tenaga profesional dan berpengalaman.
  4. Menjaga Hubungan Emosional dan Intim. Woolis menekankan bahwa gangguan mental bukanlah akhir dari segalanya. Kita bisa menjaga keintiman pernikahan dengan menciptakan momen positif, menghindari konflik tidak produktif, dan konsisten menunjukkan kasih sayang serta penghargaan setiap hari.
  5. Membangun Sistem Dukungan Sosial. Tidak perlu sungkan untuk membuka diri terhadap bantuan, baik dari segi emosional maupun logistik seperti bantuan mengurus anak ketika pasangan dalam keadaan tidak stabil, melibatkan orang-orang terdekat dan tenaga profesional sebagai sistem dukungan dari eksternal. Pasangan dapat bergabung dalam komunitas untuk memperluas pengetahuan tentang gangguan mental dan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Konsultan Pernikahan Berpengalaman, Reda Konseling

Melibatkan konsultan pernikahan berpengalaman merupakan pilihan strategi yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan hubungan pernikahan tersebut selamanya. Pada masa kini telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah dengan Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk persiapkan sejak dini membangun hubungan keluarga penuh harmonis dan bahagia. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Masalah Pernikahan Bogor

Konsultasi Masalah Pernikahan Bogor

Konsultasi Masalah Pernikahan Bogor

Konsultasi Masalah Pernikahan Bogor | Hubungan pernikahan tidak hanya berorientasi mempersatukan dua individu dengan berlandaskan rasa cinta, tetapi juga berlandaskan visi, misi, dan komitmen keduanya untuk hidup bersama dalam keadaan suka maupun duka. Komitmen dalam hubungan pernikahan itu lantas melibatkan hubungan emosional, fisik, ataupun dua individu. Di tengah upaya pasangan pada fase hubungan pernikahan itu, tentunya beragam macam konflik dan masalah akan menyertai. Baik itu konflik dengan kategori ringan dan mudah untuk diselesaikan, maupun konflik besar dan kompleks, hingga membutuhkan bantuan profesional untuk menyelesaikannya.

Konflik yang sudah terlanjur besar terkadang membuat sebagian individu meninggalkan pasangannya meskipun tidak ada perubahan status perkawinan. Tindakan tersebut pada akhirnya semakin memperkeruh konflik yang sudah terjadi, dan semakin menambah tingkat kerumitan konflik yang belum tuntas tersebut. Pada artikel ini akan membahas mengenai faktor yang menjadi sebab, dampak yang timbul dengan meninggalkan pasangan sebelum bercerai, dan pencegahan yang dapat dilakukan.

Sebab Terjadinya Meninggalkan Pasangan Sebelum Bercerai

1. Komunikasi Yang Buruk

Komunikasi merupakan fondasi utama dalam sebuah hubungan. Apabila komunikasi berjalan buruk, hal tersebut hanya akan memicu perselisihan untuk terjadi terus menerus. Hal tersebut mengakibatkan individu tidak lagi merasa nyaman dengan pasangan nya, dan memutuskan untuk mencari pelarian agar mengurangi rasa tertekan yang muncul karena pasangan.

2. Konflik Terus Menerus

Konflik yang terus menerus terjadi dan berkepanjangan tentunya akan membuat siapa saja merasa lelah secara emosional, muak, ataupun frustasi. Karena konflik yang memuakkan tersebut, membuat individu memutuskan untuk pergi meninggalkan pasangan sekalipun status hubungan nya belum bercerai.

3. Adanya Pihak Ketiga

Kehadiran pihak ketiga juga dapat memicu seseorang meninggalkan pasangannya lebih dulu sebelum bercerai. Adanya kebahagiaan dan kenyamanan yang diinginkan pada akhirnya menjadi faktor mereka berani untuk meninggalkan pasangan sebelum adanya perceraian.

Baca Juga : Konsultasi Pernikahan Online, Solusi Praktis Untuk Menyelesaikan Masalah Pernikahan

Dampak Yang Timbul Dari Meninggalkan Pasangan Sebelum Bercerai

  • Trauma Emosional. Individu yang menjadi korban yang ditinggalkan dapat mengalami rasa sakit yang mendalam, hingga berujung trauma. Sangat mungkin akhirnya berujung depresi, kehilangan kepercayaan diri, dan sulit untuk terbuka dan percaya dengan orang lain dan lebih memilih untuk menutup diri.
  • Anak. Bagi pasangan suami istri yang telah memiliki anak, hal ini juga dapat berdampak pada anak. Dimana mereka juga merasakan luka, dan kehilangan rasa aman akibat kehilangan salah satu orang tuanya.
  • Finansial. Untuk pasangan yang ditinggalkan bisa jadi juga akan mengalami kesulitan finansial apabila pasangan yang ditinggalkan tersebut tidak memiliki penghasilan, lantaran yang meninggalkan itulah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Pencegahan Yang Dapat Dilakukan

  • Perbaiki Komunikasi. Komunikasi merupakan fondasi dasar dalam sebuah hubungan. Maka dari itu, perbaikilah cara komunikasi dengan pasangan agar dapat menjadi lebih baik. Coba untuk lebih menghargai dan berempati kepada pasangan, dan gunakan kata-kata yang tidak membuat pasangan menjadi sakit hati ketika berkomunikasi. Ungkapkan pula secara jujur uneg-uneg yang ingin disampaikan, agar komunikasi dapat berjalan efektif.
  • Hindari Campur Tangan Orang Ketiga. Orang ketiga disini adalah orang luar yang tidak seharusnya terlibat, seperti teman kerja, sahabat dekat, tetangga, dan sebagainya. Justru jika ada campur tangan dari orang ketiga, situasi yang terjadi sangat mungkin akan menjadi lebih rumit.
  • Konsultasi Pernikahan. Mengikuti konsultasi pernikahan tidak harus ketika masalah atau konflik yang ada telah menjadi kompleks dan rumit. Walaupun konflik yang ada merupakan konflik ringan, tidak salah juga jika mendaftarkan diri untuk mengikuti konsultasi pernikahan sebagai tindakan preventif. Konselor akan membimbing pasangan untuk memahami akar permasalahan atau konflik yang ada, dan cara-cara yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan konflik tersebut. Tentunya, pasangan juga akan mendapatkan insight atau pandangan baru seputar hubungan pernikahan.

Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Reda Konseling

Agar mendapatkan manfaat yang maksimal, tentunya pasangan suami dan istri harus memilih jasa konsultasi berpengalaman dan profesional. Salah satunya adalah dengan Reda Konseling yang merupakan konsultan pernikahan dan keluarga berpengalaman dalam menangani permasalahan-permasalahan pernikahan dan keluarga. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Reda Konseling menyediakan jenis layanan konsultasi :

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses konsultasi bersama pasangan. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah rumah tanggamu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu.