
Bimbingan Pernikahan Depok : Mengelola Emosi Diri | Pernikahan sering melibatkan emosi karena merupakan ikatan intim dua individu dengan latar belakang emosional berbeda. Interaksi, keputusan, tantangan, dan kebahagiaan memunculkan beragam emosi (positif: waktu bersama, hobi, pencapaian, kejutan; negatif: kehilangan, kecewa, cemas). Lumrah terjadi, namun penting bagi pasangan mengelola emosi agar tidak berdampak buruk (contoh: suami marah berlebihan membuat istri takut/tidak dihargai; suami terlalu gembira hingga abai istri). Pada arrtikel kali ini membahas pentingnya dan cara mengelola emosi dalam hubungan.
Pentingnya Mengelola Emosi Diri
Dalam buku The Seven Principles for Making Marriage Work karya John M Gottman dan Nan Silver, pengelolaan emosi diri merupakan kemampuan setiap individu untuk beberapa hal berikut ini.
Mengidentifikasi dan Menyadari Emosi Diri.
Maksudnya adalah mengenali emosi apa yang terasa, apakah emosi positif atau emosi negatif, serta juga memahami pemicu emosi tersebut muncul ketika berinteraksi dengan pasangan.
Mengatur Reaksi Emosional.
Belajar untuk tidak berlebihan atau impulsif dalam merespon emosi yang muncul. Dalam hal ini, kemampuan pengendalian diri sangat berperan penting, terlebih ketika situasinya sedang menghadapi konflik dengan pasangan.
Bertanggung Jawab Atas Emosi.
Artinya adalah mengakui emosi tersebut adalah emosi milik diri sendiri dan tidak menyalahkan pasangan yang memicu emosi tersebut muncul.
Merespon Dengan Cara Yang Konstruktif.
Yakni, pasangan mengekspresikan emosi yang mereka rasakan dengan cara yang sehat, seperti menggunakan komunikasi yang asertif dan menghindari empat Penunggang Kuda (menahan diri, kritik, penghinaan, dan defensif).
Hendrix (“Getting The Love You Want”/IRT) menekankan pengelolaan emosi sebagai respons interaktif pasangan yang membangun koneksi dan menyembuhkan, bukan memecah belah Ini melibatkan :
- Kesadaran Diri (Self-Awareness) : Memahami emosi diri sendiri dengan baik, seperti pemicu nya ketika berinteraksi dengan pasangan, dan bagaimana emosi tersebut dapat memengaruhi respon diri. Ini juga mencakup mengenali luka masa kecil (Childhood Wounds) yang mungkin saja tidak sadar terpancar.
- Empati dan Validasi : Pasangan menghargai dan memahami emosi masing-masing, meskipun adakalanya salah satu pihak tidak setuju dengan perspektif yang dimiliki pasangannya. Validasi artinya mengakui bahwa perasaan pasangan itu penting dan nyata.
- Regulasi Emosi Diri (Self-Regulation) : Belajar untuk mengelola reaksi emosional diri, terutama ketika sedang terjadi konflik dengan pasangan. Yang dimaksud adalah bukan menekan atau menahan emosi, tetapi merespon dengan cara yang konstruktif dan tidak merusak hubungan.
- Komunikasi Yang Aman dan Terhubung : Mengungkapkan emosi dengan cara yang jelas, jujur, dan tidak menyerang, serta mendengarkan emosi pasangan dengan empati dan tanpa menghakimi.
- Menggunakan Konflik Sebagai Peluang Pertumbuhan : Melihat konflik sebagai sarana atau kesempatan untuk lebih memahami pasangan, seperti kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, luka masa kecilnya, sehingga dapat bekerja sama untuk menyembuhkannya bersama-sama.
Dari penjabaran di atas, kita dapat memahami bersama bahwa pengelolaan emosi diri memiliki arti penting untuk melanggengkan hubungan dengan pasangan. Suami dan istri yang mampu mengelola emosi dengan baik akan meminimalisir keretakan dan kehancuran pernikahan mereka. Suami dan istri dapat menyelesaikan dengan baik emosi-emosi negatif yang muncul jika keduanya memiliki pengendalian emosi yang baik. Begitu pula dengan emosi positif, jika suami dan istri mampu mengendalikan emosi mereka dengan baik, masing-masing tetap bisa berempati terhadap kondisi dan perasaan pasangan saat itu, dan tidak mengabaikan situasi dan kondisi yang terjadi kala itu.
Penerapan Pengendalian Emosi Diri Dalam Keseharian
Menurut Gottman dan Silver, beberapa bentuk penerapan pengendalian emosi diri dalam keseharian antara lain :
- Memelihara Kehangatan dan Kekaguman (Nurture Your Fondness and Admiration). Seseorang yang mengelola emosinya mampu mengarahkan perhatian pada hal-hal yang disukai dan dihargai dari pasangan, bahkan saat ada masalah atau konflik. Dengan begitu emosi positif dapat menjadi penyangga terhadap emosi negatif.
- Berbalik Ke Arah Pasangan, Bukan Menjauh (Turn Toward Each Other Instead Of Away). Pengelolaan emosi diri memungkinkan seseorang merespons secara positif, alih-alih mengabaikan atau merespons negatif karena suasana hati yang buruk.
- Untuk menyelesaikan masalah yang dapat diselesaikan (Solve Your Solvable Problems), pasangan suami istri perlu memulai komunikasi secara terbuka dengan lembut dan tidak saling menyalahkan. Kemudian, mereka mempertimbangkan perspektif dan perasaan masing-masing. Selanjutnya, setiap pihak memperbaiki diri agar memahami kapan emosi mulai memanas dan mengidentifikasi tindakan yang dapat mereka lakukan untuk mengatasinya. Selain itu, suami dan istri perlu memahami langkah-langkah untuk meminimalisir stres dan ketegangan emosional saat konflik agar tetap berpikir jernih.
- Menghindari “Empat Penunggang Kuda”. Jangan biarkan diri untuk menghindar. Kendalikan kritik, tahan diri dari penghinaan, hindari untuk menarik diri, dan tidak bersikap defensif.Agar seperti itu, maka biasakan diri sendiri untuk dapat meregulasi emosi dengan baik.
Konsultasi Dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling
Pasangan dapat memilih berkonsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman agar lebih memahami cara-cara spesifik untuk mengendalikan emosi dalam hubungan pernikahan. Di zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah dengan Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!
Jenis Layanan Konsultasi
Konsultasi Sendiri (Private)
Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.
Konsultasi Pasangan
Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.
Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!









Masalah Dalam Pernikahan : KDRT dan Penyebabnya | Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan permasalahan serius yang dihadapi masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Lebih dari itu, KDRT tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga pada anggota keluarga lainnya, terutama bagi keluarga yang telah memiliki anak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan mental dan psikologis mereka.


