Bimbingan Pranikah Online

Bimbingan Pranikah Online : Wedding Blues

Bimbingan Pranikah Online

Bimbingan Pranikah Online : Wedding Blues | Tidak jarang beberapa orang yang hendak menghadapi fase selanjutnya dalam hubungan, yaitu pernikahan, akan mengalami berbagai macam dinamika perasaan dalam dirinya. Sebagian orang melihat mereka sedang berbahagia, tetapi bisa jadi yang mereka rasakan sebenarnya berbagai macam. Mulai dari rasa takut, cemas, hingga sedih yang berlebihan, sampai pada terlintas dalam pikiran untuk membatalkan semuanya. Fenomena ini bisa disebut sebagai Wedding Blues. Pada artikel kali ini kita akan membahas lebih detil tentang Wedding Blues, penyebab munculnya, dan cara-cara yang bisa dilakukan calon pasangan untuk mengatasinya.

Tentang Wedding Blues

Menurut Lauren AueR, ia menjelaskan bahwa Post-Wedding Blues merupakan titik terendah emosional yang bisa dialami individu atau pasangan setelah mengalami kegembiraan dan antusiasme yang tinggi menjelang upacara pernikahan. Wedding Blues sendiri lebih berakar pada perubahan besar dalam  hidup dan hilangnya identitas lama. Beberapa tanda yang menunjukkan seseorang mengalami Wedding Blues antara lain :

  • Rasa ragu yang mendominasi. Mereka mendadak berpikir dan mempertanyakan keputusan menikah dengan pasangan, walaupun hubungan keduanya sebelumnya sudah berjalan dengan baik.
  • Perubahan Mood drastis. Seseorang bisa menjadi mudah marah, tersinggung, atau menangis tanpa alasan yang jelas.
  • Insomnia. Individu tersebut mengalami perubahan pola tidur yang drastis, karena overthinking akan masa depan yang dihadapi nantinya bersama dengan pasangan setelah menikah.
  • Kehilangan minat. Mereka menjadi merasa tidak bersemangat terhadap upaya upaya untuk mempersiapkan pernikahan, yang mana seharusnya mereka bersemangat untuk itu.

Penyebab Munculnya Wedding Blues 

1. Ketakutan terhadap Komitmen dan Perubahan identitas

Salah satu ketakutan terbesar seseorang pada fase transisi menuju pernikahan adalah rasa takut menjalani komitmen ke depannya, karena merasa hilangnya otonomi dan kebebasan mengambil keputusan sendiri yang bisa dilakukan ketika masih lajang. Perasaan tersebut kemudian juga mendorong ketakutan yang muncul akan perubahan identitas yang terjadi nantinya setelah menikah, karena masih meratapi identitas sebelumnya yang masih lajang dan cenderung bebas memilih sendiri dengan keputusan sendiri. Pernikahan pada akhirnya dimaknai sebagai ‘ikatan’ yang tertutup.

2. Tekanan Ekspektasi yang Tidak Realistis

Pernikahan adalah momen sakral satu kali seumur hidup. Tidak sedikit pasangan ingin mempersembahkan yang terbaik dalam merayakannya. Karena itu, banyak pasangan yang mencoba mewujudkan ekspektasi mereka yang terkadang sebetulnya tidak realistis. Ada beberapa faktor hal ini bisa terjadi. Bisa karena faktor keluarga yang memiliki harapan atau keinginan tertentu, terpengaruh budaya media sosial yang menciptakan standar yang tinggi, takut mengecewakan tamu undangan yang datang, dan lainnya.

3. Kelelahan Emosional dan Fisik

Biasanya ini bisa terjadi ketika calon pengantin merencanakan proses pernikahan yang memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika calon pasangan pengantin ini sama sama bekerja. Hal ini kemudian menjadi sebab keduanya burnout (kelelahan akut). Stres yang berkepanjangan ini membuat emosi menjadi tidak stabil. Stres akan persiapan pernikahan yang dijalani ini dapat ‘meledakkan’ konflik-konflik kecil yang sebelumnya diabaikan.

Tips Menghadapi Wedding Blues 

  1. Komunikasi terbuka dengan pasangan. Buatlah keputusan atau momen bersama untuk berbicara satu sama lain dengan terbuka. Gunakan kalimat yang fokus pada diri sendiri dibandingkan dengan menuduh.
  2. Ambil Jeda Total. Gunakan satu hari penuh dengan pasangan untuk tidak membahas persiapan pernikahan (seperti catering, dekorasi, fitting baju, dll). Gunakan untuk menghabiskan waktu berdua dengan kegiatan lain, seperti liburan, hiking, dan lain-lainnya.
  3. Batasi Informasi dan Saran. Saran-saran dari keluarga atau kerabat dekat boleh menjadi pertimbangan, akan tetapi calon pasangan tetap perlu untuk mem-filternya. Tetapkan batasan agar tidak terasa berat untuk menanggung semuanya.
  4. Melibatkan pihak ketiga/konselor berpengalaman. Melibatkan konselor pernikahan juga dapat menjadi opsi untuk calon pasangan dalam mempersiapkan pernikahan. Calon pasangan bisa memahami seputar pernikahan secara mendalam, bagaimana menghadapi dinamika masalah pernikahan yang muncul dengan cara-cara yang benar.

Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling

Zaman saat ini tersedia layanan konsultasi pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konseling Pranikah Online

Konseling Pranikah : Ciri-ciri Pasangan Tidak Setia

Konseling Pranikah Online

Ketidaksetiaan dalam sebuah hubungan romansa dapat memunculkan rasa kekecawaan yang tinggi, serta luka emosional yang mendalam. Tidak jarang pada akhirnya turut menimbulkan trauma, hingga sulit untuk percaya dengan orang lain, dan cenderung menutup diri. Agar hal tersebut tidak terjadi, menjadi hal yang penting untuk kita agar mengenali pasangan kita dengan baik sebelum memutuskan melanjutkan hubungan yang terjalin pada pernikahan. Pada artikel ini akan dibahas mengenai ciri-ciri pasangan yang tidak setia, agar kita dapat melakukan tindakan preventif sejak dini.

Ciri-ciri Pasangan Tidak Setia

1. Perubahan Pola Komunikasi

Komunikasi merupakan fondasi utama dalam sebuah hubungan. Perubahan pola komunikasi menjadi tanda yang paling umum. Ciri-cirinya adalah :

  • Menghindari percakapan. Pasangan yang tidak setia cenderung memberikan jawaban singkat dan menghindari pembahasan penting.
  • Sering terjadi pertengkaran. Hal ini karena kurangnya keterbukaan satu sama lain, sehingga justru memicu perselisihan dalam komunikasi yang dilakukan.

2. Perubahan Rutinitas

Ciri-cirinya antara lain :

  • Hilangnya minat pada kegiatan bersama. Pasangan yang tidak setia cenderung menghindari aktivitas yang biasanya dilakukan bersama-sama. Biasanya oasangan menghindari kegiatan bersama tersebut dengan alasan-alasan tertentu yang bisa jadi tidak masuk di akal.
  • Perubahan jadwal Yang Tidak Biasanya. Biasanya jadwal untuk menjalani kegiatan bersama telah ditentukan. Namun bagi pasangan yang tidak setia, perubahan jadwal yang tidak setia seringkali terjadi tanpa disertai penjelasan yang jelas.

3. Kedekatan atau Intimasi Yang Menurun

Ciri-cirinya yakni :

  • Tidak ada lagi perasaan emosional yang mendalam satu sama lain. Biasanya ketika menghabiskan waktu bersama akan ada perasaan yang membuncah. Namun bagi pasangan yang tidak setia, mereka dapat merasakan hal tersebut dengan orang lain tanpa ada komitmen yang kuat.
  • Kurangnya rasa keinginan untuk lebih dekat dan mengenal satu sama lain. Pasangan yang tidak setia tidak lagi memiliki keinginan untuk lebih mengenal secara mendalam satu sama lain untuk memperkokoh hubungan.

4. Sering Membuat Alasan Yang Tidak Masuk Akal

Ciri-cirinya adalah :

  • Membatalkan rencana untuk menjalani kegiatan bersama tanpa memberikan alasan yang jelas. Pasangan yang tidak setia cenderung memberikan alasan-alasan yang tidak masuk akal demi menghindari kegiatan bersama tersebut.
  • Penjelasan yang diberikan cenderung tidak konsisten. Jawaban yang diberikan seringkali tidak konsisten, dan berputar-putar tanpa ke arah yang pasti.

Konsultasi dengan Konselor Ahli dan Berpengalaman

Mengonsultasikan diri kepada konselor ahli dapat menjadi alternatif solusi yang dapat Anda lakukan untuk memahami dengan lebih baik ciri-ciri pasangan yang tidak setia. Konsultasi ini juga dapat menjadi tindakan preventif sebelum menikah agar dapat memahami seputar membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis Saat ini telah banyak konselor yang ahli dan berpengalaman dalam memberikan konsultasi terkait masalah pernikahan. Salah satunya adalah Reda Konseling yang siap membantumu menyelesaikan masalah-masalah pranikah ataupun pernikahan secara mendalam dan mendetail.

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!