
Bimbingan Pernikahan : Open Relationship | Tahukah kamu bahwa beberapa pasangan, meskipun sudah menikah, memilih menjalani hubungan terbuka (open relationship)? Menurut Dossie Easton dan Janet W. Hardy dalam The Ethical Slut, hubungan ini bersifat non-eksklusif secara seksual namun tetap didasari kejujuran, kesepakatan, dan komunikasi terbuka. Konsep ini memberi kebebasan bagi pasangan untuk membangun relasi dengan orang lain di luar pernikahan. Karena itu, open relationship menantang konsep tradisional pernikahan yang bersifat monogami. Tapi, apakah hubungan seperti ini layak diterapkan? Apa saja risikonya? Artikel ini akan mengulasnya lebih dalam. Yuk, simak sampai akhir!
Tentang Open Relationship
Open Relationship menurut Veaux dan Rickert adalah salah satu konsep atau bentuk dari non-monogami etis (ethical non-monogamy), yakni sebuah struktur hubungan di mana pasangan bebas terlibat dalam hubungan romantis dan/atau seksual dengan lebih dari satu orang, dengan persetujuan sadar dan komunikasi terbuka dari semua pihak yang terlibat. Sehingga, walaupun pihak suami atau pihak istri menjalin hubungan dengan orang lain, mereka tidak bisa menyebut hal tersebut sebagai perselingkuhan. Karena keduanya telah bersepakat, telah mengkomunikasikan nya bersama-sama dan jujur. Prinsipnya yakni :
- Etika sebagai fondasi. Maksudnya adalah etika dalam menjaga otonomi masing-masing individu, atau bagaimana cara memperlakukan mereka.
- Transparansi Total (Radical Honesty). Mereka menganggap menyembunyikan informasi dari pasangan sebagai bentuk ketidaksetiaan, meskipun niat dan tujuannya adalah untuk menjaga perasaan pasangan. Setiap orang berhak tahu posisi dan konteksnya dalam relasi. Contohnya, apabila kamu memiliki pasangan baru, maka pasangan utama perlu tahu, juga memberikan kesempatan untuk memprosesnya secara emosional.
- Hubungan berdasarkan Kesetaraan, bukan Hirarki Kaku. Mereka tidak menempatkan pasangan utama—dalam konteks pernikahan seperti suami atau istri—sebagai prioritas utama jika hal itu merendahkan hubungan mereka dengan individu lain. Sebaliknya, mereka membangun relasi dengan individu lain berdasarkan komitmen yang mereka sepakati bersama, tanpa harus mengikuti urutan tertentu. Mereka juga memberi setiap individu hak untuk menentukan sendiri batas dan kedalaman relasinya
- Hubungan = Tanggung Jawab. Artinya, mereka harus menjalani setiap relasi atau hubungan dengan penuh tanggung jawab. Mereka bertanggung jawab untuk menjadi pasangan yang baik, misalnya dengan mendengarkan pasangan dengan sungguh-sungguh, berkomunikasi secara terbuka tanpa menyembunyikan apa pun, memproses kecemburuan dan ketakutan dengan kesadaran, serta membangun struktur yang mendukung semua pihak yang terlibat.
Pada konsep ini, kecemburuan merupakan hal yang valid. Tetapi, mereka tidak memahami kecemburuan sebagai alasan untuk membatasi kebebasan pasangan. Sebaliknya, mereka justru menganggap kecemburuan sebagai sinyal yang perlu mereka eksplorasi. Mereka mencoba memahami apakah kecemburuan muncul dari ketakutan akan ditinggalkan, perasaan tidak dihargai, dan sebagainya. Mereka tidak menghindari rasa cemburu, melainkan menggali dan memprosesnya melalui empati dan dialog.
Open Relationship Dalam Agama
Pada umumnya, konsep Open Relationship pada umumnya bertentangan dan tidak selaras dengan mayoritas agama di seluruh dunia. Dalam Islam, hubungan pernikahan antara laki-laki dan perempuan hanya dibenarkan dalam kerangka pernikahan yang sah. Dalam surah Al-Mukminun ayat 5-7 Allah mengatakan bahwasanya :
“Dan orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
Allah juga mengatakan, bahwa hubungan seks harus disalurkan dengan cara yang halal agar terhindar dari zina serta perbuatan haram lainnya, sebagaimana dalam Surat An-Nur ayat 32 yang berbunyi :
“Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.“
Allah juga menjelaskan bahwasannya apabila ada keinginan memiliki lebih dari satu pasangan, hal tersebut diperbolehkan asal dinikahi, sebagaimana yang tercantum dalam Surat An-Nisa ayat 3 yang berbunyi :
“Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim.“
Konsekuensi Menerapkan Konsep Open Relationship
1. Kecemburuan, tidak ada eksklusifitias.
Manusia mendambakan cinta yang eksklusif. Menurut psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth, manusia sejak bayi memiliki kebutuhan biologis untuk terikat secara emosional pada sosok tertentu. Kalau dikontekskan dengan orang dewasa, kebutuhan ini sering diwujudkan melalui pasangan romanis sebagai “figura utama” tempat bergantung secara emosional. Ketika seseorang mengetahui bahwa ia adalah satu-satunya, maka akan muncul rasa :
- Berharga dan istimewa
- Percaya diri
- Aman dari ancaman kehilangan atau perbandingan
2. Tidak sesuai fitrah karena menimbulkan kerusakan sosial.
Manusia secara naluriah atau fitrahnya menghindari bencana dan open married tentu tidak sesuai dengan kebutuhan fitrah tersebut, karena bergonta- ganti pasangan seksual bisa rentan terhadap penyakit menular seksual yang bisa membawa bencana bagi kehidupan pergaulan sosial.
3. Nahsab nya gak jelas (anaknya siapa, bapaknya siapa).
Menghilangkan tujuan pernikahan yaitu sakinah (mendapatkan ketenangan), rahmah (kasih sayang), zariyah (mendapatkan keturunan yang baik). Para ahli biologi juga menjelaskan bahwa tubuh perempuan bukan untuk memiliki banyak pasangan seksual. Saat berhubungan seksual, bagian tertentu dari otak perempuan mengaktifkan pelepasan hormon oksitosin, yang membuatnya cenderung jatuh cinta kepada pasangannya Jika berganti-ganti parner seksual maka ini akan merusak naluriah itu dan mengakibatkan ketidakpastian bagi perempuan untuk bersandar secara emosional.
Open relationship sekilas memang membahagiakan, tidak mengekang kebebasan masing-masing untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Akan tetapi, dampak dan konsekuensi yang timbul bisa dikatakan cukup serius. Menjalani hubungan pernikahan merupakan komitmen seumur hidup. Tantangan dan rintangan pasti akan muncul, tetapi kita tetap bisa menyelesaikannya
Konsultasi dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling
Konsultasi dengan konselor pernikahan berpengalaman dapat membantu kita untuk memahami lebih baik cara menjalani hubungan pernikahan yang harmonis dengan pasangan serta menghadapi berbagai tantangan di dalamnya. Zaman saat ini telah banyak layanan konsultasi pernikahan profesional dan berpengalaman, salah satunya adalah Reda Konseling. Yuk Obrolin Aja Masalahmu, Karena Kebahagiaan Itu Butuh Untuk Diperjuangkan!
Jenis Layanan Konsultasi
Konsultasi Sendiri (Private)
Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.
Konsultasi Pasangan
Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.
Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!





