Konseling Pernikahan Indonesia

Konseling Pernikahan Indonesia : Memperbarui Janji Pernikahan

Konseling Pernikahan Indonesia

Konseling Pernikahan Indonesia : Memperbarui Janji Pernikahan | Ternyata, di beberapa negara memiliki tradisi untuk memperbarui janji pernikahan mereka dengan cara yang berbeda-beda. Ada pasangan yang membuat acara yang hanya diisi oleh anggota keluarga atau kerabat dekat, ada juga yang memilih berwisata dan menghabiskan waktu berdua saja. Beberapa selebriti dalam negeri juga telah melakukan ritual ini dengan cara dan keyakinan mereka sendiri. Konsep ini bisa bermanfaat untuk meningkatkan keharmonisan hubungan dengan pasangan kita, apabila melihat dari perspektif psikologi dan sosiolog, lho. Mengapa demikian? Simak pembahasan artikel berikut ini hingga tuntas ya!

Tentang Wedding Vows Renewal

Pasangan yang sudah menikah kembali mengucap janji pernikahan mereka, seolah memulai ulang perjalanan cinta mereka. Dari sudut pandang psikologi, para ahli menganggap perbaruan janji pernikahan sebagai intervensi terapeutik yang kuat dan simbolis untuk hubungan.

Perspektif Psikologi

Sebagian ahli memandang bahwa terdapat manfaat psikologis dari wedding vow renewal  ini, antara lain :

  • Penyegaran Komitmen. Perbaruan janji pernikahan bisa menjadi ‘tombol reset’ untuk pasangan yang telah membangun rumah tangga bersama dengan beragam tantangan dan rintangan, atau mungkin konflik. Hal ini sangat memungkinkan pasangan untuk secara sadar mengingat kembali alasan mereka memilih satu sama lain, serta kembali mempertegas komitmen tersebut di tengah kondisi kehidupan mereka saat ini.
  • Pengakuan dan penghargaan. Upacara atau perayaan ini merupakan wujud cara bagi pasangan untuk mengakui atau menghargai semua yang telah mereka lalui bersama. Ini bisa menjadi upaya untuk pasangan agar merasa dihargai atas upaya yang telah mereka berikan dalam hubungan.
  • Penguatan Identitas Pasangan. Identitas pasangan bisa memudar ketika masing-masingnya sibuk menjalani berbagai aktivitas dan rutinitas, seperti mengurus anak, tekanan pekerjaan dan karir, dan sebagainya. Maka dari itu, memperbarui janji pernikahan akan membantu pasangan kembali mengingatkan mereka sebagai sebuah tim dan menguatkan ikatan unik mereka.

Perspektif Sosiologi

Dalam perspektif sosiologi, para ahli melihat perbaruan janji pernikahan sebagai refleksi dari perubahan sosial yang lebih luas. Penilaian dari sebagaian sosiolog antara lain :

  • Pernikahan sebagai “Proyek” Yang Berkelanjutan. Pernikahan tidak lagi dilihat sebagai peristiwa satu kali statis, tetapi merupakan “proyek” yang membutuhkan investasi dan pemeliharaan terus-menerus. Perbaruan janji merupakan salah satu cara untuk mewujudkan investasi tersebut. Ini menunjukkan bahwa hubungan harus terus dikerjakan, bukan hanya dipertahankan.
  • Simbol Status dan Kesejahteraan. Orang-orang juga dapat melihat perbaruan janji pernikahan sebagai simbol status sosial. Pasangan yang sukses secara finansial menggunakan cara ini untuk menunjukkan pencapaian mereka dan merayakan hidup yang telah mereka bangun bersama di hadapan teman dan keluarga.

Dari penjelasan berikut dapat terpahami bahwa memperbarui janji pernikahan memiliki manfaat yang positif untuk kembali meningkatkan keharmonisan hubungan dengan pasangan. Ini bukan kembali mengulang pernikahan secara hukum, tetapi sebuah tindakan simbolis yang berharga untuk kesehatan dan kelanggengan hubungan. Cara-cara untuk memperbarui janji pernikahan tersebut bisa dengan berbagai macam. Pasangan bisa melakukan berbagai cara untuk memperbarui janji pernikahan, misalnya bertamasya bersama ke suatu tempat, membuat acara kecil bersama keluarga atau kerabat dekat, atau kembali menggelar resepsi pernikahan. Semua cara ini bisa menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Mau tau tips lainnya seputar pernikahan? Simak artikel kami lainnya ya. Jangan lupa untuk obrolin masalahmu ya, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan! Hubungi kami untuk booking jadwal konsultasimu segera ya!

 

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Cinta Dewasa

Bimbingan Pernikahan

Bimbingan Pernikahan : Cinta Dewasa | Dalam hubungan pernikahan, pasangan seringkali salah dalam memaknai cinta. Misalnya ketika istri mendapati suaminya yang menekuni hobi nya untuk berolahraga, istrinya dengan cepat menilai bahwa suaminya tidak lagi mencintainya. Terkadang juga pasangan masih salah memaknai perbedaan antara simpati dan empati, sehingga tidak bisa mencintai secara sehat dan dewasa. Makna cinta tidak sesederhana itu. Cinta memiliki pengertian yang lebih luas dan mendalam, dan bukan hanya berhubungan dengan perasaan romansa dengan lawan jenis. Artikel kali ini akan membahas tentang seputar cinta dan mencintai pasangan secara dewasa. Simak sampai habis ya!

Cinta Menurut Eric Fromm

Eric Fromm dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving  memandang cinta bukan sekedar perasaan spontan atau emosi belaka, melainkan sesuatu yang harus dipelajari dan dilatih. Sama seperti seni lainnya, seperti bermain musik, melukis, dan sebagainya. Cinta bukan hanya terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan disiplin, konsentrasi, kesabaran, dan dedikasi agar terus menerus berkembang dan hubungan menjadi terawat.

Terdapat empat elemen dasar dalam mencintai, antara lain :

  • Perhatian (Care). Cinta sejati berarti peduli secara aktif terhadap kehidupan dan perkembangan orang yang dicintai
  • Tanggung jawab (Responsibility). Cinta berarti memiliki rasa tanggung jawab terhadap kebutuhan orang lain.
  • Respek (Respect). Menghargai orang lain apa adanya dan tidak ingin mengubahnya sesuai keinginan kita,
  • Pengetahuan (Knowledge). Mengenal orang yang dicintai secara mendalam, bukan hanya sekedar permukaannya saja. tetapi sampai memahami perasaan, keinginan, dan ketakutannya.

Cinta yang Dewasa

Fromm mengklasifikan cinta dengan beberapa macam jenis, antara lain :

  • Cinta persaudaraan (Brotherly Love), Bentuk cinta yang paling mendasar – rasa kasih terhadap sesama manusia.
  • Cinta ibu (Motherly Love), Cinta yang bersifat tanpa syarat dan memberi, biasanya dari ibu ke anak.
  • Cinta erotik (Erotic Love), Cinta romantis antara dua individu, yang melibatkan hasrat dan keintiman, tapi perlu dengan elemen-elemen cinta lainnya agar tidak dangkal.
  • Cinta terhadap diri sendiri (Self-Love), yakni bentuk cinta terhadap diri sendiri dengan cara yang sehat, sebagai dasar untuk mencintai orang lain. Bukan berarti egois ya.
  • Cinta terhadap Tuhan (Love God), Cinta spiritual dan transendental, tergantung pada orientasi religius atau filosofis seseorang.

Menurut Fromm, seseorang bisa mencintai secara dewasa apabila orang tersebut mampu mengintegrasikan seluruhnya. Misalnya, suami/istri cinta dengan pasangan nya tapi ia juga menghargai nya dan menghormatinya sebagai seorang suami/istri. Selain bisa menghargai dan menghormatinya, ia juga bisa memberikan sesuatu kepada pasangannya tanpa merasa keberatan. Ia bisa memberikan waktu, energi, tenaganya, tanpa merasa berat, selayaknya seorang ibu yang menyayangi anaknya dengan tulus dan rela mengorbankan tenaga, waktu, dan pikiran nya untuk anaknya. Ia juga memiliki keintiman yang kuat terhadap pasangannya, namun juga tidak lupa untuk menghargai diri sendiri, sehingga bisa mencintai pasangannya secara sehat. Meski mencintai pasangannya, ia juga tidak lupa untuk menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa.

Cinta yang dewasa bukan sekedar perasaan romantis atau gairah sesaat, tetapi merupakan perpaduan antara kasih sayang, tanggung jawab, komitmen, rasa hormat, dan kestabilan emosional. Itu tumbuh melalui kesadaran, pilihan, dan usaha aktif untuk membentuk hubungan yang sehat.

Bagaimana Dengan Cinta Bersyarat?

Beberapa orang menganggap memberikan syarat kepada pasangan merupakan cara untuk menjamin pasangan agar tetap mencintainya. Contohnya, suami mengatakan kepada istrinya bahwa ia akan mencintai istrinya apabila istri menuruti perkataan suami. Masih banyak individu memberlakukan cara ini kepada pasangannya, dan hal tersebut bukanlah bentuk cinta yang dewasa. Ini bisa terjadi karena beberapa faktor, misalnya faktor trauma masa lalu, kekhawatiran kepada pasangan yang tidak lagi cinta atau akan meninggalkannya, faktor ego yang terlalu tinggi , budaya/tekanan sosial, dan masih banyak lagi.

Cinta yang bersyarat bukanlah cinta yang dewasa. Menurut Eric Fromm, cinta bersyarat merupakan cinta yang egois, karena pasangan harus memenuhi syarat tertentu untuk mendapatkan balasan cinta. Bagi Eric Fromm, cinta dewasa itu adalah menerima pasangan secara utuh, bukan menerima pasangan dengan syarat. Jika seseorang harus memenuhi syarat tertentu untuk mendapatkan cinta dari pasangannya, maka itu lebih seperti hubungan transaksi daripada hubungan romansa. John Gottman, pakar pernikahan, menemukan melalui risetnya bahwa pasangan yang menuntut cinta dengan syarat kaku lebih rentan mengalami konflik dan perceraian. Cinta semacam ini bukan tentang membangun hubungan, melainkan tentang “mengendalikan pasangan”.

Lalu, Bagaimana Cara Mencintai Dengan Dewasa?

Maka dari itu, terdapat cara lain agar kita bisa mencintai pasangan secara dewasa. Salah satu caranya adalah dengan membuat kesepakatan bersama. Baik pihak suami dan istri sama-sama bersepakat terhadap keputusan tertentu, atas dasar kesadaran satu sama lain. Bukan karena tuntutan, atau keterpaksaan agar pasangan membalas cintanya. Landasannya adalah :

  • Eric Fromm menekankan cinta dewasa adalah tanggung jawab aktif untuk kesejahteraan pasangan. Artinya, dalam mencintai secara dewasa ada kepedulian dan tanggung jawab. Membuat kesepakatan merupakan bagian dari tanggung jawab, supaya tidak ada salah satu pihak yang tersakiti.
  • Robert Sternberg turut menjelaskan bahwa komitmen (commitment) membutuhkan aturan bersama dan pasangan juga melakukannya bersama-sama. Membuat kesepakatan itu sendiri merupakan jalan untuk membentuk komitmen itu sendiri. Misalnya, terdapat kesepakatan dalam pembagian tugas rumah tangga. Suami bagian memasak dan mencuci piring, istri bagian membersihkan rumah dan menjaga anak. Suami dan istri yang sama-sama melakukan kesepakatan pembagian tugas rumah tangga tersebut pada akhirnya mampu memperkuat komitmen satu sama lain dalam menjalani rumah tangga bersama-sama, Tanpa kesepakatan bersama-sama, komitmen bisa menjadi kabur dan mudah dilanggar.
  • Menurut John Bowbly, dalam konsep Attachment, terdapat penjelasan tentang secure attachment, yang artinya pasangan merasa nyaman karena adanya batasan sehat. Kesepakatan membentuk rasa aman satu sama lain, karena masing-masingnya mengetahui apa yang bisa mereka harapkan, dan apa yang bisa mereka toleransikan kepada pasangannya.

Cinta yang dewasa memiliki manfaat yang baik apabila diterapkan dalam sebuah hubungan, terlebih hubungan pernikahan. Cinta yang dewasa dapat membuat pasangan baik pihak suami maupun istri tumbuh bersama-sama secara sehat, belajar bersama secara dewasa menjalani rumah tangga yang dibangun, menuju rumah tangga yang penuh rahmat dan kebajikan.

Mau mengetahui berbagai tips menjalani hubungan pernikahan? Simak artikel  kami selainnya di blog kami ya! Jangan takut juga ya untuk tuntaskan masalah pernikahanmu segera, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan! Hubungi kami  untuk booking jadwal konsultasimu ya!

 

Bolehkah Pasangan Memiliki Sahabat Lawan Jenis

Bolehkah Pasangan Memiliki Sahabat Lawan Jenis?

Bolehkah Pasangan Memiliki Sahabat Lawan Jenis

Bolehkah Pasangan Memiliki Sahabat Lawan Jenis? | Pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat zaman sekarang adalah bolehkah seseorang yang sudah menikah memiliki sahabat lawan jenis? Secara umum, ini bukan hanya persoalan hak individu, tetapi juga menyangkut etika, keharmonisan rumah tangga, serta potensi fitnah yang mungkin timbul. Sebagian menganggapnya bukanlah masalah karena hubungan yang dijalin hanyalah sekedar hubungan pertemanan. Namun apakah itu bisa dibenarkan ketika situasinya adalah pihak laki-laki/perempuan itu sudah berstatus menikah? Dalam artikel ini akan dibahas secara tuntas dengan menggunakan sudut pandang psikologi dan islam.

Pandangan Islam

Islam sangat menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

(QS. Al-Isra: 32)

Meski persahabatan tidak sama dengan zina, tapi “mendekati zina” dapat dimulai dari interaksi emosional yang intens antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Rasulullah SAW juga bersabda:

“Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah syaitan.”

(HR. Ahmad, Tirmidzi)

Hal ini menunjukkan bahwa interaksi yang terlalu dekat, bahkan dalam konteks “persahabatan”, bisa menimbulkan celah bagi godaan setan dan akhirnya membawa kepada kemaksiatan, baik secara fisik maupun emosional.

Perspektif Psikologi : Emosi Tidak Netral

Dalam psikologi sosial, hubungan emosional yang mendalam antara dua orang yang berbeda jenis kelamin berisiko menimbulkan ketertarikan romantis. Menurut studi dari Journal of Social and Personal Relationships (Bleske & Buss, 2000), banyak hubungan persahabatan antara pria dan wanita berpotensi berkembang menjadi hubungan romantis, terutama jika salah satu pihak sedang mengalami krisis dalam hubungannya yang resmi. Dalam pernikahan, kehadiran “teman dekat lawan jenis” bisa memicu kecemburuan, mengganggu kepercayaan, dan dalam jangka panjang merusak ikatan emosional antara suami dan istri.

Stabilitas Rumah Tangga Dalam Islam

Tujuan utama pernikahan dalam Islam adalah sakinah, mawaddah, dan rahmah (lihat QS. Ar-Rum: 21). Jika keberadaan sahabat lawan jenis mulai merusak ketenangan rumah tangga atau membuat pasangan merasa tidak nyaman, maka hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai pernikahan itu sendiri.

Antara Kebutuhan Sosial dan Etika Islam

Sebagian orang menganggap bahwa memiliki sahabat lawan jenis adalah bentuk kebebasan sosial di zaman modern. Namun, kebebasan dalam Islam tidak lepas dari tanggung jawab. Alih-alih mendekati zona abu-abu, Islam mengajarkan kita untuk menjaga pandangan, menjaga hati, dan membangun hubungan sosial yang jelas batasannya.

Kesimpulan: Batasan Itu Perlindungan, Bukan Larangan Semata

Memiliki sahabat lawan jenis setelah menikah tidak dianjurkan dalam Islam karena lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Potensi fitnah, ketergelinciran emosi, hingga gangguan rumah tangga menjadi risiko yang nyata. Islam bukan agama yang mengekang, tetapi melindungi dari kehancuran yang tidak kasat mata di awal.

Jadi, jawabannya adalah: Tidak boleh. Karena pernikahan menuntut kesetiaan, keterbukaan, dan penjagaan terhadap perasaan pasangan. Jika ingin menjalin hubungan sosial, hendaknya dilakukan secara ma’ruf, melibatkan pasangan, serta menghindari keintiman emosional dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Daripada terus mengganggu pikiran, yuk langsung obrolin aja masalahmu dengan yang ahlinya, salah satunya adalah Reda Konseling. Karena, kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!

Konsultasi Pernikahan Indonesia

Konsultasi Pernikahan Indonesia : Mengelola Harga Diri

Konsultasi Pernikahan Indonesia

Konsultasi Pernikahan Indonesia : Mengelola Harga Diri | Harga diri merupakan salah satu variabel penting yang mampu memengaruhi kemajuan atau kemunduran sebuah pernikahan. Jika tidak mengelola harga diri dengan baik, pasangan bisa mengalami kemunduran dalam hubungan pernikahan. Artikel ini membahas pentingnya menjaga harga diri dalam pernikahan, yang akan menjadi fondasi kuat dalam sebuah hubungan pernikahan.

Pentingnya Mengelola Harga Diri

Dalam buku Love & Low Self-Esteem : How to Help and Support a Partner Struggling with Self-Esteem in a Relationship, harga diri memiliki pengaruh yang kuat terhadap kelanggengan sebuah hubungan pernikahan. Hal-hal yang berpengaruh dalam aktivitas pernikahan sebuah pasangan antara lain :

Menentukan Seseorang Mencintai dan Dicintai

Bagaimana seseorang mengelola harga dirinya akan berpengaruh dengan bagaimana ia mencintai pasangannya. Seseorang dengan harga diri yang rendah seringkali meragukan pasangannya, selalu mencoba mencari validasi dari pasangannya, atau seringkali merasa takut dikhianati atau ditinggal oleh pasangannya, meskipun ketakutan tersebut tidaklah nyata atau benar terjadi. Orang tersebut pada akhirnya mudah merasa cemburu, defensif, memiliki ketergantungan emosional yang tinggi dengan pasangan yang akan menjadi sangat melelahkan untuk kedepannya.

Menghambat Komunikasi Yang Sehat

Seseorang dengan harga diri yang rencah cenderung sulit untuk menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan yang terasa, karena takut akan memicu konflik. Mereka cenderung menyimpan dan memendam rasanya sendiri, yang lama kemudian meledak dalam bentuk kemarahan pasif atau frustasi. Seseorang dengan harga diri yang rendah seringkali juga menilai bahwa kritik merupakan serangan terhadap nilai diri mereka.

Mempengaruhi Keintiman dan Kedekatan

Seseorang dengan harga diri yang rendah akan merasa tidak pantas mendapatkan cinta atau kasih sayang. Karena merasa begitu justru mereka hendak menjaga diri secara emosional dari pasangan karena takut disakiti, cenderung menolak pujian atau kasih sayang, bahkan dalam beberapa kasus mereka menggunakan seks untuk mencari validasi, bukan sebagai ekspresi cinta.

Harga Diri Membentuk Dinamika Kekuatan dalam Hubungan

Seseorang dengan harga diri yang rendah bisa menjadi terlalu penakut, sehingga selalu menuruti pasangannya, karena ia takut pasangannya akan meninggalkannya. Atau bisa juga sebaliknya, ia akan sangat mengontrol pasangannya untuk menutupi rasa tidak aman yang ia rasakan. Tentunya kedua-keduanya akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam hubungan, sehingga memicu ketegangan jangka panjang.

Membangun Harga Diri = Membangun Fondasi Pernikahan

Penulis menjelaskan bahwa kunci dalam hubungan pernikahan kuat dengan pasangan adalah pengelolaan harga diri yang baik. Pengelolaan harga diri yang baik akan mampu meminimalisir konflik-konflik pernikahan yang seringkali terjadi, yaitu komunikasi. Pengelolaan harga diri yang baik tidak akan membuat komunikasi antara satu dengan yang lainnya menjadi terhambat. Pasangan bisa menyampaikan semua pikiran dan perasaannya tanpa hambatan. Saat mereka mengelola harga diri dengan baik, kualitas hubungan pun tumbuh. Keduanya jadi lebih mengenal diri sendiri dan pasangannya karena membangun komunikasi yang terbuka tanpa menyembunyikan apa pun. Mereka juga mampu mengelola rasa sungkan atau perasaan inferior dengan lebih sehat. Pengelolaan harga diri yang benar juga mampu menumbuhkan rasa saling menghargai satu sama lain tanpa saling bergantung, atau rasa aman tanpa harus membuktikan cinta setiap saat.

Konsultasi Pernikahan Indonesia, Reda Konseling

Di Indonesia telah banyak layanan konsultasi pernikahan dengan konselor profesional dan berpengalaman. Salah satunya adalah Reda Konseling yang merupakan layanan konsultasi pernikahan dan keluarga berpengalaman. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!

Jenis Layanan Konsultasi

Konsultasi Sendiri (Private)

Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.

Konsultasi Pasangan

Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis.

Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!