Konsultasi Pranikah : Tuntutan Pernikahan Agar Bahagia | Kita semua dibesarkan dengan dongeng yang sama: “Cintailah pasanganmu apa adanya.” Kalimat ini terdengar sangat romantis, dan banyak digunakan dalam lirik-lirik lagu, puisi dan bahkan drama korea. Kedengarannya seperti sebuah pelabuhan terakhir di mana kita bisa menjadi versi terburuk diri kita tanpa takut dihakimi. Tapi mari kita bicara jujur di dapur rumah tangga yang sebenarnya. Dalam pernikahan, konsep “mencintai apa adanya” sering kali menjadi racun yang dibungkus madu. Kok bisa? Karena narasi ini sering digunakan sebagai tameng untuk kemalasan, pengabaian, dan stagnasi. Pernikahan bukan sekadar perasaan; ia adalah proyek pertumbuhan seumur hidup. Cinta yang sejati orang yang dicintainya menjadi lemah,lumpuh dan tidak berdaya. Cinta yang sejati itu menuntut, karena ia ingin memajukan. Artikel kali ini akan membahas secara detail tentang tuntutan pernikahan yang seharusnya dengan menggunakan berbagai sudut pandang. Simak sampai tuntas ya!
Konsultasi Pranikah : Tuntutan Pernikahan Agar Bahagia
Cinta adalah Pengasuhan (Norturing)
Ada miskonsepsi besar jika menuntut pasangan berarti kita egois. Padahal, jika kita melihat bentuk cinta yang paling suci adalah cinta orang tua kepada anaknya, Orang tua mencintai anaknya tanpa syarat, namun menuntut anak tersebut untuk tumbuh dengan standar yang tinggi. Mengapa orang tua menuntut anaknya belajar, bersosialisasi, dan mandiri? Itu dilakukan karena orang tua tahu bahwa suatu saat mereka akan tiada, dan anak tersebut harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidupnya sendiri. Inilah esensi Nurturing dalam pernikahan. Mencintai seseorang berarti memiliki tanggung jawab untuk memastikan orang tersebut menjadi lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih mandiri selama bersamamu.
Jangan Takut, Manusia Adalah Makhluk Pembelajar Alami
Mungkin ada ketakutan: “Bagaimana jika tuntutanku malah membebani dia?” Di sinilah kita harus percaya pada hakikat manusia. Jangan khawatir pasanganmu akan selamanya menjadi ‘anak kecil’. Manusia itu adalah pembelajar alami. Ingatlah proses seorang anak manusia: dulu dia tidak bisa jalan, tidak bisa bicara, bahkan tidak mampu berpikir mandiri. Namun, melalui proses pengasuhan yang tepat, anak kecil itu kini telah mampu mendebat kita di saat kita salah, dan mampu menopang kita di saat kita lemah. Logika yang sama berlaku dalam pernikahan. Saat kita menuntut pasangan untuk bertumbuh, baik secara fungsional, emosional, maupun spiritual, kita sebenarnya sedang memberi mereka ruang untuk mempraktikkan kodrat mereka sebagai pembelajar. Ingat bahwa kita tidak mengubah mereka menjadi orang lain; tapi kita sedang membantu mereka menemukan kekuatan yang sudah ada di dalam diri mereka.
Tiga Pilar Tuntutan : Bahan Bakar Pertumbuhan
Tuntutan Fungsional : Membangun Kemandirian Survival
Pernikahan adalah organisasi terkecil. Ada anggaran yang harus diatur dan roda domestik yang harus berputar. Jika Anda membiarkan pasangan tidak memiliki skill bertahan hidup karena alasan “aku terima kamu apa adanya”, Anda sebenarnya sedang melumpuhkannya. Cinta yang nurturing menuntut pasangan untuk fungsional agar jika badai hidup datang, dia tidak akan hancur lebur karena tidak tahu cara bertahan. Pasangan harusnya seperti sayap burung, sama lebarnya, sama kuatnya sehingga burung itu bisa terbang ke atas langit.
Tuntutan Emosional : Menciptakan “Secure Base”
Kita menuntut pasangan untuk dewasa secara emosional bukan karena kita ingin mengatur perasaannya, tapi karena kita ingin dia menjadi pribadi yang stabil. Pasangan yang sanggup mengelola emosinya adalah pasangan yang kelak bisa menjadi sandaran yang kokoh bagi kita. Bayangkan jika disaat suami sedang terpuruk karena PHK, jika istri tidak memiliki kekuatan untuk menopang secara finansial dan emosional maka yg terjadi cinta begitu menyakitkan. Dan begitu sebaliknya, bayangkan jika istri dalam kondisi lemah setelah melahirkan, suami tidak memiliki keterampilan untuk ganti popok anak, membantu menyiapkan botol susu itu akan membuat pernikahan seperti neraka.
Tuntutan Spiritual : Visi untuk Melampaui Diri Sendiri
Cinta harusnya memajukan. Jika keberadaan Anda di sisi pasangan tidak membuatnya menjadi orang yang lebih bijak atau lebih bervisi, maka Anda gagal dalam tugas “pengasuhan” tersebut. Kita menuntut agar nilai-nilai hidup kita selaras agar kita bisa berjalan ke arah yang sama. Kita sering terjebak dengan kalimat “Aku itu istrinya bukan ibunya” atau “Aku ini suaminya bukan Ayahnya”. Padahal ketika akad sudah diucapkan ikatan pernikahan itu ditulis dilangit sebagai ikatan yg Agung. Secara otomatis tanggung jawab orang itu kemudian dilimpahkan ke pasangannya atau suaminya atau istrinya. Surah At-Tahrim ayat 6 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (Yā ayyuhallażīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nāran) Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Tujuan Akhir Cinta : Memandirikan, Bukan Penjara
Cinta dan penerimaan bukanlah tujuan akhir dari pernikahan, akan tetapi tujuan pernikahan itu adalah kebahagiaan dunia dan juga akhirat, bagaimana orang yang kita cintai bahagia dan sentosa dalam ridho Allah SWT. Banyak orang terjebak dalam cinta yang posesif, di mana mereka merasa senang jika pasangannya sangat bergantung padanya. Itu bukan cinta, itu adalah kebatilan. Cinta yang nurturing justru merasa bangga melihat pasangannya bersinar secara mandiri. Kita menumbuhkan mereka bukan agar mereka pergi, tapi agar hubungan ini diisi oleh dua orang yang memilih untuk bersama karena cinta, bukan karena terpaksa bersama karena ketidakmampuan untuk berdiri sendiri.
Penutup
Mencintai seseorang berarti mencintai potensinya. Pernikahan yang hebat adalah pertemuan dua orang yang saling berkata:
- Aku mencintaimu, dan karena aku mencintaimu, aku akan menuntutmu untuk terus tumbuh.
- Aku percaya kamu adalah pembelajar alami.
- Aku menuntutmu menjadi mandiri agar suatu saat, ketika aku lemah, kamulah yang berdiri tegak mendebat keputusasaanku dan menopang pundakku.”
Jadi, berhentilah merasa bersalah karena memiliki ekspektasi. Tuntutan dalam pernikahan bukan tanda bahwa cintamu kurang, melainkan bukti bahwa kamu sedang mengasuh masa depan yang lebih kuat.
Konseling Pernikahan dengan Konselor Berpengalaman, Reda Konseling
Zaman saat ini tersedia layanan konseling pernikahan yang dapat membantu berbagai pasangan yang memiliki kendala, masalah, atau konflik dalam hubungan pernikahannya. Telah banyak layanan konsultasi pernikahan dan keluarga profesional dan berpengalaman di Indonesia, salah satunya adalah
Reda Konseling. Yuk obrolin aja masalahmu, karena kebahagiaan itu butuh untuk diperjuangkan!
Jenis Layanan Konsultasi
Konsultasi Sendiri (Private)
Konsultasi private adalah proses di mana seseorang melakukan konsultasi sendiri tanpa pasangan. Sebelum melakukan konsultasi bersama pasangan, konsultasi sendiri dapat menjadi ruang yang aman sehingga mampu memahami perasaan dan pikiran diri sendiri
. Ini memungkinkan individu mendapatkan perspektif baru dan mempersiapkan diri untuk dialog yang lebih produktif.
Konsultasi Pasangan
Konsultasi pasangan adalah proses di mana pasangan melakukan konsultasi bersama. Dengan konsultasi pasangan, suami istri dapat belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain dan menemukan cara untuk berkompromi. Hal ini akan membantu mereka membangun hubungan yang lebih bahagia dan harmonis. Yuk tuntaskan masalah hubunganmu sekarang juga, agar tidak menjadi bom waktu di kemudian hari. Hubungi
kami untuk reservasi jadwal konsultasimu ya!
Leave A Comment